
Oleh
Akhir Januari lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menyatakan keadaan darurat nasional dan menuduh pemerintah Kuba melakukan tindakan luar biasa yang merugikan Amerika Serikat (AS), serta mendukung sejumlah negara musuh, kelompok teroris internasional, dan aktor jahat seperti Rusia, Tiongkok dan Iran yang merugikan AS. Tuduhan lainnya mengatakan bahwa Kuba menganiaya lawan politik, menekan kebebasan berbicara dan melanggar hak asasi manusia. Dengan tuduhan-tuduhan tersebut, AS kembali melakukan embargo ekonomi dan blokade sumber bahan bakar pada Kuba, sehingga membawa negara dengan hampir 11 juta penduduk itu pada krisis yang amat dalam.
Kuba sebenarnya mampu memproduksi bahan bakar sendiri, namun hanya 40% dari kebutuhan nasional dan sisanya adalah impor yang sebagian besar berasal dari Venezuela dan Meksiko. Dengan kemampuannya yang terbatas itu Kuba tidak akan mampu memenuhi permintaan, dan jaringan listrik terus memburuk. Venezuela terpaksa berhenti mengirim minyak setelah Nicolas Maduro diculik. Sedangkan Meksiko tak mampu mengirim karena di bawah ancaman tarif AS. Hingga awal tahun 2026, tidak setetes pun minyak masuk ke Kuba.

Akibat kelangkaan bahan energi, Kuba mengalami krisis kemanusiaan yang terus meningkat; sering terjadi pemadaman listrik, ribuan pasien tidak tertangani oleh layanan medis rumah sakit kecuali dalam keadaan darurat, banyak sekolah dan perguruan tinggi terpaksa tutup, dan tempat kerja baik milik negara maupun swasta mengurangi jam kerja secara drastis. Kelangkaan gas, bensin, dan solar berdampak pada beban transportasi, pasokan makanan, dan kebutuhan domestik lainnya. Inflasi melonjak tajam, harga pangan naik, dan nilai tukar peso merosot. Sementara pendapatan nasional pemerintah Kuba terus menurun, termasuk maskapai penerbangan yang dibatasi sehingga tidak ada kunjungan pariwisata. Apa yang terjadi pada Kuba sekarang adalah krisis paling dalam sepanjang sejarah akibat perilaku Washington.
Meski banyak yang menentang, Trump tetap teguh pada pendiriannya dengan alasan yang penuh dusta. Trump sendiri mengatakan “saya yakin saya akan mendapatkan kehormatan untuk mengambil alih Kuba.” Sebenarnya mudah bagi kita untuk menebak mengapa Trump menciptakan krisis kemanusiaan sebegitu besar di Kuba. Ini adalah kelanjutan sejarah lama yang ingin menjatuhkan kekuasaan revolusioner Kuba.
Blokade Panjang
Sikap AS dengan mengambil langkah blokade untuk Kuba adalah peristiwa kesekian kalinya, setidaknya hampir tujuh dekade. Tak lama setelah pasukan revolusioner Fidel Castro berhasil menggulingkan kekuasaan diktator sayap kanan tahun 1959, kemudian pada Juli 1960 Presiden AS Dwight D. Eisenhower menggunakan Undang-Undang Pengendalian Ekspor untuk memangkas ekspor gula Kuba ke AS sebagai tanggapan atas nasionalisasi pabrik gula. Pemutusan hubungan diplomatik dan blokade AS untuk Kuba memuncak pada Januari 1961 melalui beragam Undang-Undang; melarang transaksi dagang, melarang bantuan untuk Kuba dan negara-negara yang membantunya, aset Kuba di AS dibekukan, semua transaksi keuangan dan komersial dilarang. Tidak terbatas secara ekonomi, AS juga menggunakan cara invasi langsung yang terjadi April 1961 di Pantai Selatan Kuba, Teluk Babi, yang berakhir memalukan bagi AS. John F. Kennedy kemudian melanjutkan hubungan ekonomi yang ketat pada Februari 1962, menerapkan larangan yang luas terhadap hampir semua hubungan komersial dan keuangan dengan Kuba.

Hubungan panas antara AS-Kuba terus terjadi selama Perang Dingin. Uni Soviet mengambil momentum dengan mempererat hubungan dengan Kuba sekaligus membantunya bernafas dalam membangun negara revolusioner yang baru berdiri. Sehingga keruntuhan Uni Soviet pada tahun 1991 secara otomatis berdampak besar. Pada saat yang sama AS memberlakukan sanksi baru, meningkatkan serangannya melalui Undang-Undang Torricelli 1992 dan Undang-Undang Helms-Burton 1996, yang masing-masing memperketat hubungan ekonomi terhadap Kuba. Dengan runtuhnya sekutu strategis dan blokade ekonomi yang semakin diperketat, Kuba mengalami krisis terparah. Alih-alih hancur, di tengah krisis itu rakyat Kuba justru mengembangkan inovasi bertahan hidup. Mereka merancang untuk terus menjaga agar rumah sakit tetap beroperasi, memprioritaskan distribusi sumber daya yang tersisa kepada yang paling rentan, memastikan bahwa angka kematian bayi tetap rendah, dan menciptakan inovasi pertanian perkotaan organik dan konservasi energi skala besar.
Kuba mendapatkan jaringan baru sejak akhir tahun 1990-an. Kedekatan ide politiknya dengan Venezuela membawa dampak yang cukup berarti bagi Kuba yang sedang terisolasi. Hubungan yang terjalin antara dua negara itu memiliki dampak yang saling menguntungkan. Havana mendapatkan akses cadangan minyak dengan harga lebih rendah yang memungkinkan untuk bertahan, sementara Caracas mendapatkan bantuan tenaga kerja untuk menunjang program sosial seperti kesehatan, perumahan, dan pendidikan. Sebagai hasil dari kerja sama yang semakin erat, Kuba dan Venezuela membangun organisasi regional, seperti blok perdagangan yang berorientasi politik yang disebut Alianza Bolivariana para los Pueblos de Nuestra América (ALBA). Hingga akhir tahun 2025, Venezuela memasok Kuba dengan 70.000 barel minyak mentah per hari dan produk olahan senilai sekitar $1,3 miliar, tapi berhenti dibawah tekanan AS sejak awal tahun kemarin ketika Nicolas Maduro diculik.
Pada tahun 2015, Obama sempat melonggarkan hubungan dengan Kuba; kedutaan dibuka, dihapus dari daftar negara sponsor terorisme, komisi bilateral dibentuk, pemulihan penerbangan regular dan layanan pos, melonggarkan pembatasan perjalanan warga AS, dan pelonggaran transaksi keuangan. Meski demikian, pemulihan itu masih sangat terbatas dan tidak mampu sepenuhnya memulihkan kondisi Kuba, embargo ekonomi tidak sepenuhnya dicabut karena tidak mendapatkan persetujuan dari Kongres AS. Sejak 2017, Trump membalikkan upaya kelonggaran dengan menerapkan sanksi keras dan menempatkan kembali Kuba dalam daftar negara pendukung teroris. Langkah yang terbaru bulan lalu adalah kelanjutan kebijakan Trump dengan cara yang lebih kejam sehingga menghasilkan krisis energi dan krisis kemanusiaan yang parah.
Dengan semua tindakan–embargo AS–itu Kuba menjadi korban blokade terpanjang dalam sejarah negara modern. Pada tahun 2025, Kuba pernah memberikan laporan kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menghitung biaya kerugian kumulatif selama blokade AS berlangsung, kerugiannya mencapai lebih dari $170 miliar. Angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun, hanya dari Maret 2024 hingga Februari 2025 telah mencapai $7,6 miliar. Sejak awal seluruh cara yang digunakan AS adalah untuk menciptakan kehidupan ekonomi yang lemah, kelaparan massal, keputusasaan, dan ujung-ujungnya adalah perubahan rezim–yang dikehendaki AS.
Revolusioner yang Tahan Banting
Presiden Kuba Miguel Diaz Canel telah membantah semua tuduhan yang disampaikan oleh rezim Trump. Namun karena kondisi rakyatnya semakin memburuk, Miguel secara terbuka ingin dialog bersama perwakilan pemerintah AS untuk mencari solusi. Namun Miguel sangat tegas bahwa akan berpartisipasi “atas dasar kesetaraan dan penghormatan terhadap sistem politik, dan terhadap kedaulatan penentuan nasib sendiri pemerintahan kami.” Itu menunjukkan posisi revolusioner Kuba; membuka dialog dengan lawan yang tak sepadan tidak berarti menunjukkan kekalahan. Secara prinsip Kuba tetap bertahan dengan “penghormatan dan kedaulatan sebuah bangsa.” Warisan yang telah lama tumbuh sebagai sebuah bangsa seturut sanksi yang mereka terima bertubi-tubi.

Kuba punya pengalaman panjang yang tak bisa diremehkan untuk bertahan dari blokade. Sebagai negara yang mengalami perubahan radikal sejak 1959, faktanya Kuba mampu memberikan penghidupan yang layak untuk rakyatnya, melalui pembangunan yang berpusat pada kesejahteraan dibawah perencanaan fitur sosialis. Kuba membawa sistem kesehatan publik gratis secara universal yang dianggap salah satu terbaik di dunia, khususnya dalam hal aksesibilitas dengan rasio dokter per kapita tertinggi di dunia, sehingga menurunkan angka kematian bayi yang sangat rendah dan meningkatkan harapan hidup yang tinggi.
Di samping sistem pelayanan kesehatan, negara itu juga sukses meningkatkan gizi rakyatnya. Kuba menjadi negara yang mampu memproduksi makanan paling bersih di dunia, bebas dari pupuk kimia, racun pestisida, dan zat kimia lainnya. Dalam bidang pendidikan, revolusi literasi yang dimulai sejak awal 1960-an berhasil menghapus buta huruf hampir sepenuhnya, menjadikan pendidikan sebagai hak dasar yang gratis secara universal. Bahkan di tengah blokade panjang, Kuba tetap mampu mengembangkan sektor bioteknologi dan farmasi sendiri, sesuatu yang jarang dimiliki negara berkembang.
Kuba juga termasuk yang terdepan dalam mengirim ratusan ribu tenaga medis ke berbagai penjuru dunia. Sejak tahun 1960, lebih dari 600.000 tenaga medis Kuba telah bertugas di lebih dari 180 negara, menyelamatkan jutaan nyawa, terutama bagi penduduk di negara-negara miskin. Kuba menunjukkan komitmen dalam bentuk internasionalisme kesehatan yang tidak berorientasi pada laba, melainkan karena solidaritas kemanusiaan. Dan masih banyak capaian lain yang bisa ditunjukkan selama hampir tujuh dekade, dan tentu saja dengan kekurangannya.
Apa yang ditunjukkan Kuba bukan sekedar kemampuan bertahan, tetapi bukti bahwa pembangunan yang berpusat pada manusia mampu menghasilkan standar hidup yang layak bahkan dalam kondisi isolasi ekstrem. Dengan blokade yang terus berlanjut dan krisis yang makin mendalam belakangan ini, apakah Kuba dengan segera bergeser pada sistem lama sayap kanan dan menjadi negara boneka AS–seperti keyakinan Trump dan banyak media barat? Bukanlah hal yang mustahil Kuba bisa kembali stabil dan longgar di tengah serangan-serangan brutal AS.
Kuba mendapatkan banyak dukungan internasional, termasuk melalui Majelis Umum PBB. Dalam pemungutan suara terakhir pada Oktober 2025, 165 dari 193 negara anggota memilih untuk mengakhiri blokade. Meski resolusi ini tidak mengikat, dukungan konsisten dunia internasional menunjukkan konsensus yang kuat bahwa AS telah bertindak secara illegal.
Memang tidak ada lagi Uni Soviet seperti masa Perang Dingin atau seperti Venezuela di masa Chavista. Tapi dunia sekarang seperti akan berbalik mengarah pada multipolar, model yang secara terbuka menentang hegemoni oleh satu negara seperti ambisi imperialisme AS. Dalam hal ini, terlihat dari kecaman untuk AS dan dukungan langsung untuk Kuba dari pelbagai negara; Tiongkok dengan tegas mendukung Kuba dan menentang keras tindakan Washington. Dalam beberapa minggu terakhir, Beijing bahkan secara nyata telah memberikan bantuan 90.000 ton beras ke Kuba dan pembentukan jalur bantuan keuangan darurat sebesar 80 juta dolar AS. Jumlah itu tambahan dari bantuan sebesar 100 juta dolar yang diberikan pada tahun 2024. Rusia juga mengecam tindakan AS dan sangat mungkin akan mendukung Kuba dengan memberikan bantuan bahan bakar, Kanada telah berjanji akan memberikan bantuan pangan. Kapal Angkatan Laut Meksiko telah berlayar membawa ribuan ton pangan menuju Havana, dan akan terus mengalir. Belum lagi organisasi rakyat internasional yang tidak sedikit. Mereka memobilisasi massa dan mengumpulkan bantuan langsung puluhan ton makanan, perlengkapan medis, dan peralatan panel surya untuk Kuba.
Secara internal, politik kontra revolusioner Kuba tidaklah signifikan, tidak ada figur dan massa dominan yang mendukung apa yang diinginkan oleh AS. Mereka yang telah lama terdidik secara radikal dan tidak mudah dikalahkan sebagai pejuang Kuba yang tetap berdiri setia. Perjuangan yang akan dilakukan hingga akhir untuk membela masa depan dan martabat mereka. Dalam siklus blokade yang panjang, mereka telah terlatih dan berhasil memunculkan kreativitas dan inovasi mereka sendiri dalam bertahan. Kekuatan rakyat itulah yang menjadi alasan terpenting bahwa Kuba sulit untuk dikalahkan.
Tentang penulis
A.F Hamdhani adalah mahasiswa magister Hukum Universitas Brawijaya. Bergiat di organisasi massa pemuda KP-Alternatif











