Rayo Vallecano! Petir Kelas Pekerja yang Mengguncang Final Eropa

Rayo-Vallecano

Pagi hari sebelum pertandingan leg kedua semifinal UEFA Conference League yang mempertemukan antara Rayo Vallecano dan RC Strasbourg dari Prancis, media olahraga terbesar di Spanyol, Marca, mengeluarkan berita di halaman depan berjudul Toda España Es Hoy Del Rayo yang artinya seluruh Spanyol hari ini adalah pendukung Rayo. Marca menyebutkan bahwa mimpi distrik Vallecas untuk memainkan final Eropa pertamanya bergantung pada upaya mempertahankan (keunggulan) 1-0 dari leg pertama, dan sebanyak 1.600 penggemar akan ikut ke Perancis mendukung mereka.

Tak banyak yang tahu jika Rayo Vallecano merupakan klub yang berasal dari kota yang sama dengan Real Madrid dan Atletico Madrid. Disebut-sebut klub ketiga Madrid, tapi lebih sering mendapat perhatian bukan karena keterlibatannya dalam derby ibu kota yang menyita jutaan penonton layar televisi seluruh dunia, melainkan atas segala macam aktivitas revolusioner di dalam dan luar lapangannya.

Halaman depan MARCA
Halaman depan MARCA menampilkan judul tentang Rayo Vallecano, sumber: Instagram @marca

Berasal dari lingkungan Villa de Vallecas, hanya sekitar lima belas menit dari jantung kota Madrid dengan menggunakan metro, Rayo Vallecano merupakan representasi kelompok kelas pekerja keras kepala yang akarnya bisa dilacak ke masa Perang Saudara dan kediktatoran Jendral Franco.

Distrik yang Bangkit dari Bombardir Fasisme

Selama tiga tahun Perang Saudara (1936-1939), Jenderal Franco menginstruksikan tentaranya mengepung Vallecas. Mereka mengebom habis-habisan wilayah itu. Vallecas adalah gerbang keluar dari Madrid menuju Valencia di sebelah Tenggara, dan merupakan kota republik terpenting kedua di Spanyol setelah Madrid. Bangunan-bangunan yang hancur dan bekas peluru di tembok, jejaknya masih bisa ditemukan hingga hari ini. Ketika Franco memenangkan perang, lingkungan sayap kiri ini dibiarkan terbengkalai. Kemudian diisi kembali oleh pekerja migran, kaum gipsi, dan penduduk lokal. Mereka berjuang melawan kemiskinan, represi, dan penyakit sosial lain seperti kriminalitas dan narkoba.

peironcely-robert-capa
Puente_de_Ventas_en_1930_small

Distrik Vallecas semasa perang saudara (1936-1939) Sumber: madridnofrills.com

Selama beberapa generasi Vallecas terus melawan dan menyuarakan tuntutan perbaikan hidup. Meskipun sebagiannya telah dipenuhi pemerintah secara minimum seperti perbaikan jalan, pembuangan limbah dan beberapa fasilitas dasar, tapi tuntutan yang lebih modern agar standar lingkungan bisa setara dengan sekitarnya terkesan berhenti di pembahasan birokrasi. Itulah sebabnya, hari ini masih bisa dijumpai jalanan setapak yang sunyi dan bergaya pedesaan, juga rumah-rumah satu lantai yang dihuni orang tua dan anak muda lingkungan tersebut. Gedung-gedung yang hancur karena perang tak kunjung dibangun ulang, kemudian segera diambil alih oleh kelompok Anarkis dan dijadikan markas. Mereka hidup berdampingan dengan restoran imigran Maroko atau toko susu berusia satu abad, seniman bohemian, punk, penyair, dan kelompok-kelompok marjinal lainnya.

vallecas-comunidad-desarollo
Kontras distrik Vallecas dan gedung-gedung pencakar langit kota Madrid di kejauhan. Sumber: madridnofrills.com

Pada tahun 1950, pemerintah Spanyol melakukan perluasan kota dan mencoba “menghilangkan” Villa de Vallecas secara adminsitratif dengan memasukkannya dalam naungan Madrid. Meski demikian, warga Vallecas merasa bahwa lingkungan mereka adalah sesuatu yang lain dan berbeda dengan Madrid yang glamor. Ini merupakan perasaan kolektif yang lahir dari keterikatan sejarah dan budaya bahwa Vallecas sebagai sebuah lingkungan yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya, bukan oleh pemerintah. Konsep ini dalam buku ¡A las armas! karya Enrique Peinado Moro disebut sebagai Barrionalismo atau nasionalisme lingkungan/distrik. Disebutkan juga bahwa Vallecas adalah satu-satunya distrik di Madrid di mana partai sayap kanan (Partido Popular) tidak pernah menang.

volver-almodovar-vallecas_small
shawarma-vallecas-kebab

Multikutralisme dalam keseharian di distrik Vallecas. Sumber: madridnofrills.com

Rayo Vallecano sebagai Working Class Hero

Kemenangan away 1-0 melawan RC Strasbourg pada leg ke dua tak hanya sekedar memantapkan satu tempat Rayo Vallecano di final menghadapi Crystal Palace dari Inggris. Keunggulan dua gol yang dikantongi klub Spanyol itu juga menghidupkan kembali romantisme yang telah lama terkubur hiruk-pikuk industri sepakbola hari ini. Beberapa pengamat menyebutnya sebagai keajaiban. Bagaimana tidak, RC Strasbourg adalah klub yang berada di bawah naungan konsorsium besar, BlueCo; Perusahaan investasi raksasa yang juga mengambil alih kepemilikan Chelsea. F.C di Inggris tahun 2022.

Sebagai klub kelas pekerja, Rayo Vallecano melihat Strasbourg tak hanya sekedar lawan di atas lapangan, tapi juga merupakan simbol nilai-nilai yang selama ini mereka tentang: Komersialisasi. Ted Boehly, salah satu pemilik BlueCo memiliki visi untuk membangun kepemilkan multi klub seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Manchester City. Dalam praktiknya, mereka akan membeli beberapa klub dari negara berbeda untuk dijadikan tim satelit. Tujuannya adalah menjadikan klub tersebut sebagai tempat pengembangan pemain muda. Nantinya, pemain berbakat di klub tersebut akan ditarik ke klub utama dan sebaliknya, pemain yang tidak mendapat jam terbang di klub utama dipinjamkan ke tim satelit. Keputusan ini sempat membuat marah suporter Strasbourg sendiri yang tak ingin melihat klub yang mereka cintai menjadi klub pelapis bagi Chelsea.

Pengucuran dana besar-besaran untuk belanja pemain dilihat Rayo Vallecano sebagai simbol dari mentalitas sepak bola modern. Mentalitas tersebut telah mengubah olahraga rakyat menjadi murni bisnis. Hal itu berlawanan dengan nilai-nilai komunitas atau sejarah yang menjadi fondasi klub mereka. Pada musim pertama BlueCo di Chelsea, mereka mengeluarkan uang sekitar 1 miliyar Euro. Uang tersebut untuk memboyong nama-nama besar seperti Joao Felix, Enzo Fernandez (yang memecahkan rekor transfer Inggris saat itu, sekitar 121 juta Euro) Kalidou Koulibaly, dan Wesley Fofana, sampai-sampai ruang ganti Chelsea penuh sesak. Ini berbanding terbalik dengan situasi “kacau” di internal Rayo Vallecano sendiri.

Jangankan mendapatkan uang berlimpah untuk mendatangkan pemain bintang atau menyusun program pembinaan pemain muda, Rayo Vallecano adalah klub miskin yang bahkan tak mampu menyediakan infrastruktur memadai untuk menggelar pertandingan skala Eropa. Stadion kebanggan mereka, Estadio de Vallecas, hanya mampu memuat maksimal 15.000 penonton. Letaknya yang berada di tengah-tengah pemukiman kelas pekerja membuat bangunanya hanya memilki tiga buah tribun. Di belakang salah satu gawangnya hanya ada sebuah tembok tinggi yang berbatasan langsung dengan apartemen warga.

img_9954-1

Campo de Fútbol de Vallecas selalu terisi penuh setiap kali Rayo bertanding. Sumber: tripadvisor

Di dalam stadion, situasi tak kalah mengenaskan; pemanas pancuran air di ruang ganti yang sering rusak, tidak ada wifi di ruang konferensi pers, toilet tanpa pintu, rumput stadion yang tergenang air saat hujan, tikus yang berlarian ke sana-kemari dan tersorot kamera pertandingan, sampai-sampai beberapa orang menjulukinya ladang kentang. Kejadian lucu baru-baru ini menunjukkan betapa stadion kebanggaan warga Vallecas itu sudah terlalu surealis jika tak ingin disebut tak masuk akal. Di La Liga, mungkin Rayo Vallecano satu-satunya klub yang menyiksa penggemarnya untuk mengantri berblok-blok dan berkemah semalaman hanya demi mendapatkan tiket kertas Semifinal leg-1 yang hanya tersedia di loket stadion. Itu terjadi di tahun 2026, ketika segala sesuatu bisa diselesaikan secepat menjentikkan jari lewat internet dan ponsel pintar. Ini mengingatkan pada banyak praktik salah urus lainnya, seperti ketika seorang jurnalis yang ingin mengecas laptopnya mencabut sebuah colokan kabel di dekat tempat duduknya dan boom… lampu tiba-tiba mati. Ternyata dia mencabut colokan yang sangat krusial untuk mengaliri pencahayaan satu stadion.

img_5046

Bukaneros (fans garis keras Rayo) dan mural kreatifitas mereka di pintu masuk ruang ganti stadion. Sumber: bukaneros.org

Di luar stadion, sudah lama disebut-sebut bahwa penggemar Rayo sendiri sangat membenci presiden klub mereka saat ini, Martin Presa, yang lebih senang saling lempar tanggung jawab dengan pemerintah Madrid soal pemeliharaan stadion. Fans garis keras mereka yang terkenal menamai diri Los Bukaneros (Sang Bajak Laut) meskipun Vallecas berjarak sekitar 300 kilometer dari laut. Mereka secara terang-terangan mengaku diri sebagai penganut ideologi sayap kiri, Anti-fasis, persatuan kelas pekerja, Anti-rasis, Anti-xenophobia. Pada tahun 2017, Bukaneros menyatakan perang kepada klub yang hendak meminjam pemain Ukraina, Roman Zozulya dari Real Betis. Mereka menuduh si pemain sebagai Neo-Nazi setelah melihat foto dirinya berdampingan dengan simbol sayap kanan. Bukaneros berhasil menekan klub untuk mengembalikan si pemain tanpa sekali pun bermain untuk Rayo.

Aksi suporter ini bukan hal baru. Lima tahun sebelumnya terjadi sabotase ketika pertadingan melawan Real Madrid harus diundur ke minggu malam demi menyesuaikan jadwal TV. Beberapa menit sebelum kick-off lampu stadion tiba-tiba mati. Investigasi menemukan puluhan kabel utama terpotong, dan Bukaneros (yang paling marah karena pertandingan yang harus didikte klub besar) dituduh berada di balik aksi ini. Namun, satu yang paling memukau dan menunjukkan sisi humanis Rayo sebagai sebuah keluarga dan komunitas adalah ketika klub, Bukaneros, dan fans Rayo lainnya bahu-mambahu menolong Carmen Martinez Ayuzo, seorang nenek berusia 85 tahun yang pada 2014 ternacam diusir dari apartemennya. Rayo menyumbang 5 Euro dari setiap tiket pertandingan melawan Sevilla, hingga dana yang terkumpul begitu besar dan si nenek mendapatkan apartemen baru. Sisa uang itu digunakan untuk program amal lainnya.

Nenek Carmen Martinez Ayuzo, simbol solidaritas warga Vallecas. Sumber: marca.com

Kembalinya Sepakbola Tradisional ke Final Eropa

Orang-orang tentu bisa memperdebatkan apa itu ‘tradisional’. Beberapa penikmat sepakbola mungkin akan menganggap simpatisan Rayo terlalu meromatisasi aksi mengantre tiket berjam-jam sebagai sebuah keunikan, dan bukannya inkompetensi pengurus yang tidak cocok dengan ekosistem sepakbola modern yang terus maju dan menyesuaikan diri dengan industri. Namun bagi warga Vallecas, tradisi adalah benang pengikat mereka dengan klub kebanggaan. Ketika Rayo melangkahkan kaki masuk ke arena sejak fase liga hingga berhasil mencapai final Eropa, mereka telah menyadari siapa diri mereka di antara klub-klub pesaingnya.

Dibanding lawan mereka di final nanti–Palace yang diisi pemain-pemain seperti kiper Dean Henderson, duo gelandang Adam Wharton dan Daichi Kamada, sampai penyerang Jean-Philip Mateta,—para pemain Rayo bukanlah nama-nama tenar yang sering menghiasi halaman depan pemberitaan. Isi Palazon, pemain terbaik mereka, memulai debutnya di kasta tertinggi ketika berusia 27, setelah beberapa tahun sebelumnya dia merasa bahwa karirnya telah tamat dan memutuskan pulang kampung dan menjadi pemetik buah. Dalam perbandingan harga squad, satu pemain termahal Crystal Palace bisa menanggung tiga gaji pemain Rayo. Namun, ketimpangan dari segala sisi ini ditambah fakta perjalanan mereka ke final di Leipzig setelah melewati lawan-lawan yang tak mudah, semakin memperjelas peluang bagi terciptanya dongengan indah tentang tim distrik yang menguasai Eropa.

Dalam beberapa tahun ke depan kita mungkin akan masih melihat Rayo Vallecano yang terus bergulat dengan tikus-tikus di stadion atau keluhan terhadap fasilitas ruang ganti dari pemain-pemain cum selebriti milik Real Madrid atau Barcelona. Rayo merupakan anomali di tengah klub-klub kecil yang mencoba beradaptasi dengan menyerap nilai-nilai baru yang dibawa industri kapitalisme ke dalam sepakbola. Bahkan St. Pauli dari Jerman sekali pun, yang sering dianggap saudara ideologis Rayo sebagai klub distrik dan beraliran kiri-progresif kini bertransformasi menjadi brand yang dikenali secara global dengan kerja sama produk ternama seperti Levi’s.

Rayo Vallecano sampai saat ini tetap di jalur akar rumput. Bukaneros dan warga Vallecas seperti paham bahwa membiarkan kapitalisme masuk terlalu jauh ke jantung komunitas mereka adalah tindakan yang perlahan akan menyerahkan diri mereka pada mekanisme pasar, yang berarti mengkompromikan semua nilai-nilai yang selama ini menjadi nafas perjuangan mereka. Rayo adalah klub distrik dengan sejarah panjang melawan fasisme. Rayo dan pendukungnya tahu bahwa sepakbola adalah alat perjuangan identitas dan itu mutlak bersifat politis.

Kiri: pemain sayap Rayo, Ilias Akhomach membentangkan bendera Palestina pada leg-1 semifinal UEFA Conference League, Kanan: Bukaneros dengan bendera Palestina dan banner bertuliskan “Tidak ada yang bisa menduduki/mengambil alih akar dari sebuah impian.” Diambil dari berbagai sumber.

Ada kesan naif dalam pendapat ini, harus diakui. Pada puncak pesimisme bisa dikatakan bahwa tim seperti Rayo tinggal menunggu waktu saja untuk tergilas roda kapitalisme sepakbola yang semakin terang-terangan menunjukkan wajah culasnya; jadwal kompetisi yang padat dan menyiksa pemain demi pemasukan hak siar, intervensi politik para elit korporasi terhadap apa yang boleh dan tidak dikatakan oleh sebuah klub terkait isu sosial seperti masalah genosida Palestina, hingga peraturan FIFA yang memaksa klub kecil terus mencari cara untuk tetap kompetitif tanpa menyerahkan diri sepenuhnya pada industri.

Mungkin itu juga kekhawatiran yang dirasakan sekitar seribu fans Rayo Vallecano dalam laga away ke Athena pada babak 16 besar, sebagaimana digambarkan jurnalis dan fans Rayo, Carlos Sanchez Blas. Saat itu Rayo telah unggul 3-0 di kandang, namun AEK Athena dengan mudah menyamakan agregat dengan mencetak tiga gol sehingga optimisme segera berpindah ke tangan lawan. Dengan dukungan penuh suporter tuan rumah, AEK Athena serasa di atas angin dan berpeluang besar untuk membalikkan keadaan. Saat itu Rayo terus terkurung serangan AEK dan tak bisa melewati setengah lapangan selama 30 menit. Beberapa fans Rayo mulai pesimis dan merasa bahwa beginilah akhirnya. Perjalanan yang seperti mimpi indah itu hanya sampai di sini saja.

Lalu tiba-tiba, pada satu momen, entah siapa yang pertama, seseorang mulai meneriakkan chant yang segera disusul lainnya, “Di Vallecas kami tak pernah menyerah!” Seribu mulut menyambut sorakan itu. Seribu orang kembali berteriak dan melompat bersama.

Hanya butuh waktu lima menit setelah seruan pembakar semangat itu, Isi Palazon mencetak gol dan kembali membuat harapan itu tumbuh. Seperti yang kita tahu bersama, Rayo berhasil mempertahankan aggregat 4-3 hingga peluit akhir dibunyikan dan melaju ke semifinal.

Kini kita hanya berjarak dua minggu dari final di Leipzig. Rayo Vallecano akan datang dengan semangat bukan sekedar untuk menuntaskan misi meraih trofi Eropa pertama mereka, tapi juga untuk memperlihatkan ke seluruh dunia bahwa kerendahan hati orang-orang di distrik Vallecas mampu menantang kemapanan industri global yang selalu melihat sepakbola dari kacamata bisnis. Dunia akan melihat sisi Madrid yang lain pada malam 27 Mei; bukan warna putih El Real atau garis-garis merah Atletico. Dunia akan menyaksikan sebelas orang yang menjadi wajah sebuah klub tradisional, dibangun dari keringat kelas pekerja dan kaum terbuang, berlari di atas lapangan dengan selempang merah yang terbuat dari petir di dadanya.

Ayo, Si petir kecil! Vamos Rayito!

Share your thoughts