Pengantar Mengenal Paman Hồ dan Gerakan Pembebasan Vietnam

Hồ Chí Minh (1890-1969) duduk di sebuah meja di taman Istana Kepresidenan, Hanoi, Vietnam, 1957
Hồ Chí Minh (1890-1969) duduk di sebuah meja di taman Rumah Kepresidenan, Hanoi, Vietnam, 1957.

Hồ Chí Minh (paman Hồ), lahir 19 Mei 1890, Hoang Tru, Vietnam, Indochina Prancis, dan meninggal 2 September 1969 di Hanoi, Vietnam Utara. Sebagai pemimpin gerakan nasionalis Vietnam selama hampir tiga dekade, paman Hồ adalah salah satu penggerak utama gerakan antikolonial pasca-Perang Dunia II di Asia dan salah satu pemimpin komunis paling berpengaruh pada abad ke-20.

Di masa muda, paman Hồ belajar di sekolah tata bahasa di Huế. Ia juga pernah menjabat sebagai kepala sekolah di Phan Thiết dan kemudian magang di institut teknik di Saigon. Pada 1911, paman Hồ menjadi pelaut muda dan menjabat sebagai juru masak di kapal uap Prancis. Selama itu, ia mengunjungi berbagai pelabuhan di Afrika dan kota-kota Amerika di Boston dan New York.

Pada 1915 hingga 1917 paman Hồ sempat tinggal di London di mana kemudian ia berpindah ke Prancis dan mengerjakan apa pun untuk hidup. Ia pernah menjadi tukang kebun, tukang sapu, tukang memperbaiki foto, tukang oven, dan pelayan.

Selama di Prancis (1917–23) paman Hồ menjadi seorang sosialis aktif dan mengorganisir sekelompok orang Vietnam yang tinggal di sana. Pada Konferensi Perdamaian Versailles (1919), paman Hồ menyampaikan petisi yang menuntut pemerintah kolonial Prancis agar memberikan hak yang sama bagi rakyat Indochina dengan penguasa. Namun petisi tersebut tidak ditanggapi oleh para wakil di konferensi yang ada di sana.

Tahun berikutnya, terinspirasi keberhasilan revolusi di Rusia dan ajaran anti-imperialisme Lenin, paman Hồ bergabung dengan Komunis Prancis ketika ia dan kawan-kawannya menarik diri dari Partai Sosialis pada Desember 1920. Akhir 1923, ia berangkat ke Moskow. Dan pada 1924 setelah meninggalnya Lenin, dengan emosional paman Hồ menerbitkan surat perpisahan. Enam bulan kemudian paman Hồ mengambil bagian aktif dalam Kongres Dunia Kelima Komunis Internasional (Komintern) di mana ia mengkritik Komunis Prancis karena tidak melawan kolonialisme dengan lebih radikal. Pernyataan-pernyataanya menjadi penting karena memuat rumusan pertama yang menaruh perhatian atas kekuatan revolusioner petani tertindas.

 

Pada 1924, paman Hồ pergi ke Kanton (Guangzhou, Tiongkok) di mana ia merekrut kader pertama gerakan nasionalis Vietnam (“Hội Việt Nam Cách mạng Thanh niên” yang berarti “Asosiasi Pemuda Revolusioner Vietnam”) atau lebih dikenal Thanh niên. Di Kanton, Tiongkok, mayoritas mereka adalah eksil Vietnam karena melawan kolonialisme Prancis. Sehingga Kanton adalah rumah pertama nasionalisme Indochina.

Ketika Chiang Kai-Sek menjadi pemimpin tentara Tiongkok, ia mengusir komunis Tiongkok dari Kanton pada April 1927. Paman Hồ melarikan diri ke Uni Soviet. Selanjutnya pada 1928 paman Hồ pergi ke Brusel dan Paris, kemudian ke Thailand (saat itu Siam) dan ia menjadi wakil Komintern di Asia Tenggara, sementara pengikutnya (Thanh niên) menetap di Tiongkok Selatan.

Pada Mei 1929, para anggota Thanh niên bertemu di Hong Kong dan membentuk Partai Komunis Indochina (PCI). Sementara yang lain di kota Hanoi, Hue dan Saigon di Vietnam, memulai kerja organisasi. Beberapa letnan paman Hồ tidak bergerak karena tidak adanya pemimpin. Sehingga paman Hồ kembali ke Vietnam dan pada 3 Februari 1930 memimpin pendirian Partai Komunis Vietnam yang kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indochina. Di fase inilah, paman Hồ lebih banyak sebagai organisatoris; menyelesaikan konflik antar fraksi, memerhatikan persoalan-persoalan yang terkadang dianggap sepele. Sehingga ia hampir tak pernah tampil sebagai pemrakarsa. Miliknya adalah kehati-hatian, kesadaran apa yang dicapai, dan kepeduliannya untuk tidak mengasingkan Moskow serta pengaruhnya pada Partai Komunis Vetnam.

Pembentukan PCI dibarengi dengan rangkaian pemberontakan yang penuh kekerasan di Vietnam. Penindasan yang dilakukan Prancis sangatlah brutal; paman Hồ sendiri dijatuhi hukuman mati in absentia. Pada 1938 paman Hồ kembali ke Tiongkok dan tinggal bersama Máo Zédōng (chairman Máo) selama beberapa bulan di Yenan. Ketika Prancis dikalahkan Jerman (1940), paman Hồ beserta para letnannya berencana menggunakan momentum ini untuk memajukan aksi perjuangan. Saat itulah ia dikenal dengan 𝗛ồ 𝗖𝗵í 𝗠𝗶𝗻𝗵 (Dia yang Mencerahkan).

Dengan menyeberangi perbatasan ke Vietnam, pada bulan Januari 1941, paman Hồ dan rekan-rekannya menyelenggarakan Việt Nam Độc lập Đồng minh (Liga Kemerdekaan Vietnam), atau Việt minh pada bulan Mei; hal ini memberikan penekanan baru pada nasionalisme khas Vietnam.

Paman Hồ kemudian melihat kekuatan di Asia dan sempat melihat pada Chiang Kai-shek. Namun bukannya mendapat bantuan, paman Hồ justru dijebloskan ke penjara karena menjadi seorang komunis. Selama 18 bulan di penjara Tiongkok, paman Hồ menulis buku catatan yang nantinya cukup terkenal, “Notebook from Prison”.

Pada 1945, Fasisme Jepang berhasil menguasai Indochina. Jepang menangkap juga mengeksekusi seluruh pejabat Prancis. Namun kekuasaan Jepang tak berlangsung lama. Enam bulan kemudian Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima yang menyebabkan kekalahan Jepang semakin telak. Serangkaian momen yang terjadi tersebut menyebabkan musuh-musuh utama Việt minh tersingkir. Paman Hồ memanfaatkan kesempatan ini dan gerilyawan Việt minh mulai bergerak. Mereka berperang melawan sisa pasukan Jepang di Tiongkok Selatan. Di momen yang sama, pada 19 Agustus pasukan komando yang dibentuk oleh Võ Nguyên Giáp (kelak menjadi menteri pertahanan Vietnam) di bawah arahan Paman Hồ bergerak menuju Hanoi, ibu kota Vietnam.

Akhirnya, pada 2 September 1945, di hadapan banyak orang yang berkumpul di lapangan Ba Đình, Paman Hồ mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam. Dengan kalimat yang secara ironi mengingatkan pada kemerdekaan semu Amerika Serikat; “All men are born equal: the Creator has given us inviolable rights, life, liberty, and happiness…”

Ho Chi Minh (Sung Man Cho), Penjara Victoria, 1930
Ho Chi Minh (Sung Man Cho), Penjara Victoria, 1930
Ho Chi Minh bersama para pelaut Jerman Timur di Pelabuhan Stralsund (1957)
Ho Chi Minh bersama para pelaut Jerman Timur di Pelabuhan Stralsund (1957)
Ho Chi Minh duduk di bawah pohon, merokok sebatang rokok dalam perjalanan. Kesederhanaannya, standar yang tinggi, dicintai dan dihormati oleh banyak orang. Ia memiliki gaya hidup bersih, mencintai alam dan dekat dengan sesama.
Ho Chi Minh (Kanan) dan Võ Nguyên Giáp (Kiri)
Program pertukaran pelajar Ho Chi Minh pada tahun 1950-an
Program pertukaran pelajar Ho Chi Minh pada tahun 1950-an
Presiden Ho Chi Minh sedang membaca koran di zona perang Viet Bac, 1951-48-1750319050-4-hcm-4
Presiden Ho Chi Minh sedang membaca koran di zona perang Viet Bac.
Paman Hồ sedang menyirami tanaman (sebelum tahun 1969)

Share your thoughts