Tahun 2022 dalam 20 Buku

Dari teori radikal, analisis sosial hingga sastra satire, buku-buku berikut bisa menjadi opsi yang baik untuk memahami apa yang terjadi sepanjang tahun ini.

2022 dalam buku

Selebriti Covid-19 yang sempat naik daun perlahan terabaikan. Ia digantikan dengan yang lain. Mulai dari krisis lingkungan, kejahatan moral, babak belurnya spekulan, hingga perbudakan kuno yang ternyata langgeng di era modern dan perang terbuka antara warga negara dengan rezim pemerintah beserta aparaturnya.  Pahami apa yang melahirkan mereka dengan memperdalam pemahaman Anda tentang bagaimana cara kerja dunia modern saat ini.

Buku ini begitu cemerlang, dengan kedalaman, jangkauan dan keberanian pemikiran yang luar biasa. Rob Wallace memang unik. Dalam buku “Matinya Epidemiolog” memahami pandemi COVID-19 tidak seperti penelitian lain yang pernah saya temui. Buku ini ditulis dengan pemikiran radikal dalam arti yang paling baik. Ditulis dengan sempurna, dengan penuh kekesalan, kefasihan ala punk-rock, dan dengan amarah.
(Ben Ehrenreich, penulis buku “Desert Notebooks: A Road Map for the End of Time”)

Dibekali kelihaian sebagai seorang ahli sejarah, geografi, ekonomi dan sosiologi, McMichael mengemas telaah ikhtisar ini dengan konteks global dan kajian yang kekinian … buku ini adalah bacaan utama bagi siapa saja yang ingin memperdalam pengetahuan untuk memikirkan sistem pangan hari ini serta bagaimana cara mengubahnya.
—Raj Patel, penulis buku Stuffed and Starved: From Farm to Fork, The Hidden Battle for the World’s Food System

McMichael menyuguhkan suatu narasi begitu memikat yang memudahkan kita untuk memandang gambaran besar: dimensi-dimensi geopolitik dan ekonomi-politik dari pangan kita … memahami bagaimana rezim pangan dominan hari ini menyeruak—yang memosisikan sistem pertanian-pangan sebagai pelayan arus keuangan dan sirkuit komoditas transnasional—adalah langkah awal yang tak bias ditawar menuju pembaharuan.
—Olivier De Schutter, Pelapor Khusus United Nations untuk isu hak atas pangan

Pencaplokan lahan besar-besaran, harga-harga bahan pangan yang terus melambung, dan perlombaan menguasai sumber-sumber pasokan yang kian langka. Masih sanggupkah sektor pertanian memberi makan sembilan milyar penduduk dunia pada tahun 2050?

BEREBUT MAKAN melacak sejarah sistem pangan dunia dan penyebab dari gejolak mutakhir pasar bahan pangan. Sementara itu, sediaan dan pasokan pangan semakin menyusut, dan media massa kian heboh dengan apa yang mereka sebut sebagai ‘Krisis Pangan Dunia’. Buku ini mengungkap banyak fakta di balik semua gonjang-ganjing sistem pangan dunia yang cenderung kian mengarah pada kekacauan dan konflik. Namun, buku ini juga menawarkan harapan besar dan saran tindakan-tindakan yang dapat dilakukan ke arah suatu sistem pangan dunia yang lebih adil dan lebih berkelanjutan.

Pornografi sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Papirus Mesir dari masa 1150 SM telah menggambarkan berbagai adegan yang bisa dipersamakan dengan foto-foto di majalah porno era 1970an. Saat reruntuhan kota Pompeii yang ditelan oleh letusan Gunung Vesuvius pada 79 M ditemukan kembali, berbagai artefak dengan gambaran yang sangat seksual juga turut dijumpai di sana.

[…]

Buku dengan gaya penulisan populer namun bertungkus lumus dengan teori-teori besar ini adalah semacam ajakan untuk berdialog secara dewasa tentang seksualitas, pornografi, dan kecabulan masa kini. Dari halaman pertama buku ini, Anda akan diajak menyusuri jejak pornografi dan seks dalam beragam bentuk, menganalisis berbagai imajinasi hingga pada akhirnya Anda “dipaksa” untuk melihat dan menyadari betapa kompleksnya seksualitas manusia dan manusia itu sendiri yang tidak bisa diberangus dalam satu dua kategori begitu saja seperti yang dikehendaki oleh wacana dominan.

Jurnalis investigasi Lydia Cacho menelusuri jalur perdagangan manusia global, bepergian dari Meksiko ke Turki, Thailand ke Israel, Jepang ke Spanyol, untuk menguak kaitan tersembunyi jaringan perdagangan manusia ini dengan bisnis wisata dan hiburan malam, pornografi, penyelundupan narkoba dan organ tubuh, pencucian uang, bahkan terorisme. Cacho juga menggugat keras bagaimana perdagangan bebas yang digencarkan oleh negara-negara maju justru memperkuat jaringan kriminal dan perekonomian bawah tanah ini.

Didasarkan pada riset lapangan yang intens dan panjang, buku ini menyuguhkan analisis  komprehensif mengenai hubungan yang berubah antara kelompok-kelompok ini dengan pihak berwenang dan kekuasaan politik pasca Orde Baru. Dalam mengonsolidasi kuasa kewilayahan mereka di tingkat lokal, kelompok-kelompok ini pada taraf tertentu berhasil merebut legitimasi yang tidak semata-mata dilandaskan pada tindak pemalakan dan kekerasan. Dalam konteks demokrasi elektoral di Indonesia, mereka pun berhasil menjadi perantara antara politik informal jalanan dengan politik formal parlemen. Bagaimana mereka memanfaatkan posisi ini untuk meningkatkan daya tawar mereka, dan bagaimana dunia politik formal memanfaatkan “layanan” mereka akan sangat memengaruhi masa depan kehidupan sosial-politik di Indonesia.

Odessa tak hanya sebuah tempat. Ia kisah tentang Benya “Sang Raja” Krik, Froim Grach Si Mata Satu, Lyubka Kazak, serta para gangster, polisi, prajurit, hingga aktor panggung dari Italia. Kisah mereka yang memiliki cara pandang tersendiri tantang apa itu keadilan. Ia juga kisah tentang kaum Yahudi miskin, para pengemis penghuni tanah permakaman, yang dengan senang hati berbagi kisah tentang mereka yang telah dikuburkan. Mereka yang harus kehilangan tempat tinggal dan kehidupan oleh kebengisan pogrom, sebagaimana juga kisah bocah kecil pembohong. Cerita-cerita abadi yang lahir dari tangan Isaak Babel, salah satu warisan kesusastraan dunia dari Rusia abad kedua puluh.

Kesehatan memang mahal. Ongkos obat dan rumah sakit membumbung tanpa kontrol. Adanya penyakit membuat banyak pihak mendapat untung. Sudah biayanya mahal, setiap kesalahan medis sangat sulit untuk diadili. Mahalnya ongkos masih juga diperuncing oleh beredarnya obat palsu.

Soal kesehatan yang tak beres membuat bangsa ini rutin dikunjung wabah. Dari demam berdarah, malaria, TBC, bahkan hingga AIDS. Toh, penyakit ternyata jadi alat pelindung bagi para koruptor. Tiap sidang akan digelar, dengan cepat mereka sodorkan surat dokter ke para hakim. Surat dokter bagi para koruptor, nilainya seperti surat pengampunan.

Orang Miskin-lah yang jadi korban dari sistem kesehatan yang diktator ini. Buku ini meluapkan kembali kemarahan kita akan sistem kesehatan yang tak adil dan diskriminatif. Bagi Anda yang pernah menjadi korban penanganan dokter atau rumah sakit, buku ini menjadi teman berjuang yang tepat. Ayo kita lawan sistem kesehatan yang menindas ini!

Veronika yang berumur 24 tahun seakan memiliki kehidupan sempurna––muda dan cantik, punya kekasih, keluarga yang menyayanginya, pekerjaan yang disukainya. Namun ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Maka, pada suatu pagi bulan November yang dingin, Veronika menenggak segenggam pil tidur dan berharap tidak akan bangun lagi. Tapi dia terbangun––di rumah sakit jiwa, dan diberitahu hidupnya tinggal beberapa hari lagi.

Terinspirasi dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Coelho sendiri, Veronika Memutuskan Mati mempertanyakan arti kegilaan dan merayakan individu-individu yang dianggap tidak normal berdasarkan standar yang berlaku di masyarakat. Berani dan mencerahkan, kisah ini menggambarkan wanita muda yang berada di persimpangan, antara putus asa dan keinginan untuk bebas, serta apresiasi atas setiap hari yang membawa harapan baru.

Paling sedikit dua belas tahun waktu dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekadar mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas, dan sesekali bermain.

Sekolah memang bisa mencetak seseorang menjadi pejabat, tetapi juga penjahat.

Masihkah pantas sekolah mengakui diri sendiri sebagai pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan seseorang?

Pertanyaan sederhana ini dikedepankan kepada mereka yang terutama masih sangat percaya pada keampuhan satu lembaga yang bernama SEKOLAH!

Dengan berfokus pada seks, politik, dan agama, Nawal El Sadawi percaya bahwa patriarki, kapitalisme, dan imperialisme adalah sistem yang saling berkaitan yang menindas perempuan Arab dan membuat mereka tercegah dalam meraih potensi penuh mereka. Sebagian karya sastranya, termasuk cerpen-cerpen yang terdapat di buku ini, ditulis dalam upaya untuk melawan ketiga sistem tersebut. Ia mengkritik pandangan dunia Arab mengenai perkawinan, sunat anak perempuan, hubungan laki-laki dan perempuan, dan praktik budaya yang menindas perempuan. Di sisi lain, ia juga mengangkat wacana tentang betapa perempuan mampu mengguncang kekuasaan laki-laki, dan betapa tanpa perempuan, bahkan Revolusi Musim Semi Arab pun tidak akan pernah terjadi.

Buku ini memberikan gambaran yang relatif rinci, analitis, kritis, mengenai penanganan pemerintahan terhadap hoaks. Dengan menggunakan teori dan metode genealogis Rony melacak upaya pemerintah melakukan pengendalian terhadap hoaks melalui berbagai macam cara. Pertama, dengan menyebarkan pengertian khusus, yang bernada negatif, antara lain dengan mencampuradukkannya dengan pengertian “ujaran kebencian”, “fitnah”, dan sejenisnya. Kedua, dengan memobilisasi kaidah-kaidah jurnalisme konvensional atau cetak yang berbasis teknologi mekanik. Ketiga, dengan menetapkan sebuah perangkat peraturan khusus yang dinamakan Undang-Undang ITE. Semuanya itu dijalankan melalui sebuah proses yang panjang, lika-liku kontestasi, dan negosiasi yang rumit.
— Prof. Dr. Faruk

Dalam buku ini, Trotsky sungguh efektif dan militan dalam memperjuangkan gagasan moral di medan perjuangan rakyat. Pembelaan monumental atas moralitas revolusioner itu ditujukan Trotsky kepada kaum intelektual di zamannya yang merasionalisasi Marxisme revolusioner sebatas sebagai ide abstrak tentang moralitas demi menyalurkan kegenitan intelektual mereka dan bukan untuk memenuhi kebutuhan perjuangan kelas yang sesungguhnya.

Tribun belakang gawang adalah posisi terbaik bagi pencinta sepak bola. Di sanalah kita menyorakkan dukungan ke lini belakang klub kebanggaan, sekaligus—pada babak lain—mengintimidasi kiper lawan agar gentar menghadapi serangan pemain kita. Semua itu dari jarak yang dekat sekali. Dari belakang gawanglah kita terlibat langsung, sebagai pemain kedua belas, dalam pertandingan. Di luar stadion, di mana-mana, sepak bola tetap tidak sanggup menolak keterlibatan kita. Messi yang menggiring bola mengecoh para pemain lawan, Ronaldo yang melompat setinggi batas nalar, atau Neymar yang jatuh untuk kesekian kalinya, semuanya terasa dekat. Kita selalu merasa terlibat. Dan bukan hanya kita saja, tetapi juga bandar judi, jaringan mafia, industri media, korporasi, politisi, dan banyak lagi. Dalam kumpulan esai Dari Belakang Gawang ini, Darmanto Simaepa dan Mahfud Ikhwan mempertemukan kepekaan antropolog dan imajinasi sastrawan untuk menunjukkan betapa luas bentang persoalan sepak bola, suatu cabang olahraga yang, pada kenyataannya, tidak sesederhana 22 pemain berebut bola.

Keranjingan Bola adalah memoar seorang penggemar sepakbola. Sebagian besar buku ini bicara tentang Arsenal, klub yang digilai oleh Nick Hornby, penulis buku ini, namun karena rentang waktu yang dicakupnya, yaitu dari akhir ’60an hingga awal ’90an, buku ini juga dianggap sebagai referensi penting bagi sepakbola Inggris, dan secara lebih luas juga sejarah sosial Inggris.

Telah terjual jutaan kopi, dan juga diadaptasi ke dalam dua film, buku ini memenangkan ajang penghargaan paling bergengsi buku olahraga, William Hill Sport Books of The Year, pada 1992, dan dianggap sebagai salah satu buku terpenting bagi kebangkitan kepenulisan sepakbola pada akhir abad ke-20.

Lorenzo Fioramonti membongkar “kandungan” PDB dan menguak kepentingan-kepentingan politik yang memungkinkannya mendominasi perekonomian dunia saat ini. Ia juga menunjukkan beragam alternatif yang tengah diuji oleh berbagai negara, lembaga, dan organisasi sebagai ganti PDB.

“Seraya ekosistem planet ini dan perekonomian lokal serta nasional memburuk, bergerak melampaui PDB menjadi suatu keharusan demi bertahan hidup […] Fioramonti memperkenalkan kita kepada inisiatif-inisiatif baru untuk mengukur kekayaan riil beserta kesejahteraan dan kebahagiaan.” — Vandana Shiva

Tochtli tinggal di dalam sebuah istana. Ia senang mengoleksi topi, membaca kamus, menonton film samurai, dan mengagumi orang-orang Prancis serta alat pemotong kepala. Ia bisa mendapatkan semua yang ia inginkan sebab ayahnya seorang bandar narkoba. Tapi yang paling Tochtli inginkan saat ini adalah kuda nil kerdil Liberia, dan sayangnya hewan itu tidak bisa dibeli di toko hewan piaraan, lebih-lebih Tochtli hidup di Meksiko, sebuah negara dunia ketiga yang celaka—meski terkadang juga luar biasa.

Esai-esai dalam buku ini, merupakan kolom mingguan Impian Nopitasari di Detik kurun Februari 2021-Januari 2022. Ditulis ketika pandemi mengepung kita dalam kecemasan dan ketegangan.

Ia menyuguhkan kisah keseharian yang diperoleh dari interaksi dunia nyata maupun dunia maya. Menawarkan cara pandang terhadap peristiwa dengan gaya penyampaian yang terkesan “julid” dan “humoris”, namun diam-diam kita nikmati dan ikut mengamini.

“Buku karya Wildan Sena Utama ini memberikan tinjauan terkini tentang studi mengenai KAA dan menempat­kannya dalam konteks historisnya. Yang lebih penting lagi, risetnya didasarkan pada penelitian arsip multinasional. Selain dokumen yang pernah diterbitkan, Wildan telah melakukan penelitian di Institut Internasional Sejarah Sosial di Belanda dan Arsip Nasional Republik Indonesia. Penggunaan dokumen-dokumen Indonesia secara khusus memberikan wawasan baru mengenai kebijakan negara tuan rumah—dan de­ngan demikian mengembalikan peran Indonesia dalam sejarah internasional abad ke-20.” — Jürgen Dinkel

Ibrahim Isa adalah salah seorang political dissident, yang termasuk dalam daftar hitam penguasa Orba. Ia tidak bisa pulang karena sikap dan perlawanan politiknya terhadap rezim Jenderal Soeharto. Ia diberi cap “Pengkhianat Bangsa”, karena kegiatannya selama Konferensi Trikontinental di Havana, Januari 1966. Dalam Konferensi itu Ibrahim Isa sebagai Ketua Delegasi untuk pertama kali, di muka Konferensi Internasional menjelaskan tentang situasi gawat di Indonesia setelah terjadi G30S, di mana Soeharto mulai melancarkan pembunuhan massal terhadap rakyat yang dituduh komunis, kiri, dan pengikut Bung Karno.

Dalam pertemuan dengan Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra di KBRI Den Haag 17 Januari 2000, Ibrahim Isa dengan resmi mengajukan tuntutan kepada pemerintah untuk mencabut TAP MPRS No.XXV/1966. Ibrahim Isa juga aktif di Amnesti Internasional Negeri Belanda dengan beberapa orang Indonesia lainnya.

Open chat
Hai PAPERBUK!
Ada yang bisa kami bantu?