Film baru Annemarie Jacir bukan sekadar pelajaran sejarah. Dengan menjelaskan perjuangan rakyat Palestina melawan kolonialisme Inggris, film ini membantu kita memahami apartheid Israel.

Oleh
Kita mulai dengan cuplikan gambar Palestina pada tahun 1930-an. Yerusalem, Jaffa, serta kota dan pemukiman lainnya ramai dengan kehidupan. Kita melihat para pedagang pasar, dan para penggembala kambing serta unta. Namun ini bukanlah daerah pedalaman yang terpencil. Kita juga melihat para kuli pelabuhan yang bekerja di dermaga. Cuplikan gambar tersebut—sebagian adalah rekaman arsip sepia lama, sebagian dibuat khusus untuk film ini—membantu membantah mitos bahwa Palestina sebelum 1948 adalah padang pasir atau tanah tanpa penduduk. Siapa pun yang berpendapat sebaliknya, ia keliru atau sedang menyebarkan propaganda jahat.

Beralih ke sebuah kereta yang tiba di stasiun Yerusalem. Para penjual koran meneriakkan berita utama yang sudah dikenal: “Ketegangan di Nablus!”, “Inggris bertindak keras terhadap unjuk rasa!” Seorang pemuda, Yusuf, tiba dari desa Al Basam. Hampir seketika, tentara Inggris bersenjata meminta untuk melihat surat-suratnya. Yusuf menuju ke sebuah rumah besar di mana dia, dan kita, pertama kali bertemu Kholoud—seorang perempuan yang sibuk, mengenakan peci fez dan setelan jas pria, serta asyik menekan tuts mesin tik tua.
Kholoud adalah seorang jurnalis lulusan Oxford. Dia menulis untuk surat kabar yang dimiliki dan dikelola oleh suaminya, Amir, tetapi dia harus memakai nama laki-laki: Ahmed Canaani. Dia bertanya kepada Yusuf apa yang orang-orang bicarakan di desa-desa. Gejolak sedang terjadi di seluruh Palestina, dan hal itu menginspirasi Kholoud. Amir kaya raya, dan tampaknya tidak sekritis istrinya (nanti dia akan berkata kepadanya: “Aku mencintaimu meski kita tidak selalu sepakat dalam banyak hal”). Dia memberi Yusuf pekerjaan sebagai sopir pribadinya dan menyuruhnya membersihkan mobil.

Kita beralih ke Ramallah, ke sebuah acara terbuka di mana Amir, Kholoud, dan kalangan mereka telah berdandan rapi. Ini adalah pesta peluncuran Layanan Penyiaran Palestina, stasiun radio nasional kedua di dunia Arab setelah Kairo. Komisaris Tinggi Sir Arthur Wauchope1 sangat bangga dengan proyek ini, yang mungkin dia anggap sebagai caranya membawa peradaban kepada penduduk pribumi yang masih biadab. Setelah mengumumkan bahwa “sebuah lembaran baru dalam sejarah ditulis hari ini,” Wauchope mengundang seorang rabi Ortodoks dan seorang imam untuk berpidato.
Orang Inggris tidak digambarkan sebagai orang baik dalam film Palestina 36—dan memang seharusnya begitu. Wauchope, yang diperankan oleh Jeremy Irons, mengingatkan pada penggambaran Peter Cook terhadap Harold Macmillan dalam Beyond the Fringe. Dia adalah seorang bangsawan yang tidak mampu menerima kemunduran Kekaisaran Inggris. Dia bersikap merendahkan penduduk setempat, mengatakan kepada mereka bahwa “bersama kita dapat menciptakan Tanah Suci yang bersatu dan damai.” Bukan berarti Wauchope memandang rendah rakyat Palestina. Karena mereka bukan orang Inggris, dia nyaris tidak menyadari keberadaan mereka.
Kapten Orde Wingate, sebaliknya, berasal dari kelas baru yang sedang naik daun. Dia adalah seorang rasis yang membenci rakyat Palestina. Dia belajar cukup banyak kosakata bahasa Arab untuk bisa memberi perintah kepada mereka, tetapi dia juga tidak segan menembak mati mereka. Wauchope mungkin mewakili cara lama dalam menjalankan pemerintahan, tetapi wilayah ini akan semakin dijalankan dengan gagasan-gagasan yang disebarkan oleh orang-orang seperti Wingate. Pasukan Wingate memerintahkan rakyat Palestina untuk meninggalkan desa mereka, lalu meledakkan rumah-rumah mereka, baik mereka sudah pergi maupun belum.
Tokoh Inggris utama ketiga adalah Thomas Hopkins, sekretaris pribadi Wauchope. Hopkins adalah seorang yang liberal yang—membuat Wingate jengkel—telah mendalami budaya Arab. Kedekatannya dengan rakyat Palestina membuatnya berperan sebagai suara yang berbeda dalam memberikan pendapat di rapat. Pada suatu saat, dia menunjukkan:
“Kita telah menutup setiap percetakan Arab, kita melarang surat kabar, menyensor surat menyurat mereka, dan menyadap sambungan telepon mereka, kita mendirikan pos pemeriksaan dan jam malam, kita bahkan mengambil ternak sialan mereka.”
Namun meski Hopkins mampu menyuarakan perbedaan pendapat, dia tidak mampu mewujudkan perubahan. Penindasan yang dia gambarkan dalam luapannya itu bukanlah akibat dari keputusan yang buruk, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari proyek kolonial Inggris. Pada akhir film, Hopkins telah menyerahkan jabatannya dan siap pulang kampung, dalam keadaan merasa kalah. Ketika dia memberi tahu sahabatnya, Kholoud, tentang keputusannya untuk meninggalkan Palestina, Kholoud memahaminya, tetapi mengatakan bahwa sebagai perempuan Palestina, dia tidak punya pilihan itu. Tidak seperti Hopkins. “Aku bukan turis.”, kata Kholoud.
Palestina 36 adalah kecaman terhadap pendudukan Inggris atas Palestina dan menunjukkan bagaimana berbagai persoalan hari ini tidak lain merupakan kelanjutan dari apa yang telah terjadi selama 90 tahun atau lebih. Setelah serangan “teroris”, penduduk desa tetangga menghadapi hukuman kolektif, pos pemeriksaan digunakan untuk membatasi gerak dan mengintimidasi warga sipil, bendera dilarang, dan tembok dibangun untuk memisahkan serta memenjarakan orang. Israel mungkin telah mengintensifkan jenis penindasan ini, tetapi sebagian besarnya dimulai oleh Inggris.
Namun, ini bukan sekadar film tentang penjajah Inggris yang jahat. Film ini terutama tentang penduduk Palestina, bagaimana mereka melawan dan bagaimana mereka terdorong untuk melawan. Di awal, kita bertemu dengan para pekerja pelabuhan yang terutama tertarik untuk mendapatkan cukup uang agar bisa bertahan hidup. Kemudian, janji bayaran lembur tidak dibayarkan. Sebuah tong yang mereka angkut ke daratan terjatuh dan terbuka, memperlihatkan senjata yang akan digunakan melawan penduduk Palestina. Tidak semua tokoh dalam film ini dikisahkan sebagai seorang radikal dari awal. Namun penderitaan yang tak tertahankan, perlahan menjadikan mereka radikal.
Selanjutnya kita mendengar bahwa pemogokan umum telah diserukan. Para pekerja pelabuhan yang marah ikut serta dalam pemogokan. Dalam film yang sebagian besar sempurna ini, saya pikir bagian pemogokan umum bisa ditangani dengan lebih baik. Pemogokan itu berlangsung di latar belakang, dan kemudian, setelah beberapa bulan, pemogokan itu dihentikan. Kita tidak benar-benar tahu mengapa, dan kita juga tidak diperlihatkan sifat pemogokan itu. Apakah itu penarikan massal tenaga kerja yang bertujuan melumpuhkan ekonomi pendudukan, atau sekadar para pengusaha yang tidak masuk kerja? Pada kenyataannya, itu adalah kombinasi dari keduanya, tetapi saya berharap bisa melihat lebih banyak di sini.
Perbedaan kelas—dan bagaimana hal itu mempengaruhi hubungan orang dengan perlawanan—tetap dipertimbangkan. Sementara para pekerja pelabuhan kehilangan pekerjaan dan petani kehilangan rumah serta tanah mereka, para pemimpin masyarakat yang kaya raya mengadakan diskusi tentang bagaimana mereka bisa bekerja sama dengan Inggris. Amir, editor surat kabar, menentang pemogokan umum dan mulai menerbitkan kolom oleh seorang penulis Palestina fiktif. Ternyata artikel-artikel itu ditulis oleh kelompok Zionis yang dibentuk untuk tujuan ini. Semua rakyat Palestina menderita akibat kolonialisme, namun mereka tidak menderita secara setara.
Cerita ini diceritakan dari banyak sudut pandang—mungkin terlalu banyak sehingga penonton kesulitan mengikuti semuanya. Pastor Broulos adalah seorang pendeta Ortodoks yang mengajarkan stoikisme, alih-alih perlawanan. Broulos adalah salah satu dari banyak karakter yang berusaha—dan gagal—menemukan jalan tengah untuk keluar dari konflik. Keberadaannya membingungkan pihak Inggris, yang terbiasa mengkategorikan dan menganggap jahat rakyat Palestina sebagai teroris Muslim (tidak banyak perubahan di sini). Ketika sebuah kelompok perlawanan Kristen menghasilkan bendera dengan gambar salib di atasnya, kebingungan itu semakin menjadi.
Perlawanan Palestina bukan hanya milik laki-laki. Kita juga diceritakan kisah para perempuan dan anak-anak perempuan, terutama perlawanan Kholoud yang penuh amarah. Ada sebuah adegan di dalam bus di mana tentara Inggris menghabiskan begitu banyak waktu untuk melecehkan penumpang laki-laki sehingga para perempuan dapat menyembunyikan senjata yang dibawa seseorang ke dalam bus tersebut. Kita juga menghabiskan waktu bersama penduduk desa Rabab, yang tinggal bersama orang tuanya dan putrinya Afra. Baik Afra maupun Rabab jelas mewarisi ketangguhan nenek mereka, Hanan.
Film ini terus berfokus pada sosok Yusuf, saat dia bergerak antara desa dan kota. Awalnya, Yusuf tidak terlalu tertarik pada politik, tetapi seiring perkembangan situasi, dan keluarganya terkena dampak langsung, dia merasa dirinya tertarik pada gerakan perlawanan. Namun, Amir mencoba memenangkan hati Yusuf untuk bergabung dengan Asosiasi Muslim, yang didirikan oleh Komisi Zionis untuk melemahkan perlawanan Palestina. Pemimpin redaksi itu memberikan uang kepada Yusuf yang malang itu untuk membeli setelan jas. Tampaknya Yusuf akan memainkan peran kontra-revolusioner sampai kehidupan nyata ikut campur.
Lintasan Yusuf dicerminkan oleh lintasan Khalid, pekerja pelabuhan yang sama-sama tidak terlibat politik sampai tiba Ketika uang lemburnya tidak dibayarkan yang, kemudian memicu perselisihan di tempat kerja di awal film. Perkembangan politik Khalid lebih cepat daripada Yusuf, dan tidak lama kemudian dia menjadi pejuang perlawanan terkemuka, menaiki kereta dan mengumpulkan uang solidaritas dari para penumpang. Apa yang mungkin terdengar seperti pemerasan sebenarnya adalah cerminan betapa besarnya dukungan yang diterima gerilyawan Palestina dari masyarakat luas.
Seiring berjalannya film, harapan rakyat Palestina akan keadilan sirna. Komisi Peel mengumumkan pembagian wilayah di mana negara Palestina tidak diberikan dan lebih dari separuh tanah Palestina diambil alih. Surat kabar Palestina ditutup dan mesin cetak mereka dihancurkan. Pejabat Inggris seperti Hopkins, yang setidaknya telah memberikan dukungan suara kepada rakyat Palestina, mulai menyadari ketidakberdayaan mereka sendiri. Berbagai karakter yang sebelumnya berusaha melihat kedua sisi konflik kini dipaksa untuk memilih.
Beberapa kritikus mengeluh bahwa pemukim Yahudi nyaris tidak muncul dalam film ini, tetapi ini bukanlah kisah mereka. Para pemukim menyerang desa dan membakar properti, tetapi mereka bukanlah bahaya utama bagi rakyat Palestina—setidaknya untuk saat ini. Film ini berlatar tahun 1936 dan 1937, ketika rakyat Palestina lebih takut pada kolonialisme Inggris daripada pada orang-orang yang belum menjadi Israel. Ada radikalisme tertentu dalam sudut pandang ini, yang melihat bahwa musuh utama rakyat Palestina bukanlah para pemimpin Israel, melainkan pendukung imperialis Barat mereka.
Annemarie Jacir menulis Pernyataan Direksi di mana dia berkata:
“Palestina 36 adalah film periode, tetapi saya tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu dari masa lalu. Film ini selalu aktual, relevan, dan hidup. Terkadang kritis, tak pernah bernostalgia, dan selalu mencari sesuatu. Berlatar pada masa yang tidak pernah saya jalani, Palestina 36 sangat personal. Kita tidak memilih keadaan hidup kita, kita tidak memilih perang atau sejuta momen menyakitkan yang kita pelajari untuk bisa bertahan. Kadang kita memilih cara kita bereaksi terhadapnya.”
Akhir-akhir ini sering terdengar pernyataan: “itu tidak dimulai pada tanggal 7 Oktober.” Ini sering diartikan bahwa penindasan hak-hak rakyat Palestina dimulai dengan Nakba pada tahun 1948. Tapi Palestina 36 memperlihatkan bahwa sebenarnya itu juga bukan awal segalanya. Campur tangan Inggris di Palestina pada tahun 1936 memungkinkan pengusiran dan pembunuhan yang terjadi setelahnya. Sementara koloni-koloni di Afrika dan Asia mampu menggulingkan tuan imperialis mereka, imperialisme Inggris (dan kemudian Amerika Serikat) mampu mempertahankan negara jajahan di kawasan minyak yang strategis ini.
Dua dedikasi tersembunyi dalam kredit akhir film. Yang pertama berbunyi: “Untuk rakyat kami di Gaza di tahun-tahun di mana dunia mengecewakan kalian”; yang kedua: “tidak ada minyak zaitun yang tumpah dalam pembuatan film ini”. Kombinasi pernyataan ini adalah tanda yang jelas dari kemampuan sutradara Jacir untuk menggabungkan politik radikal dengan selera humor yang baik. Di antara suara terakhir yang kita dengar adalah teriakan dalam bahasa Arab: “Hancurkan kolonialisme” dan “Revolusi.” Saat teriakan tersebut kembali sering terdengar hari ini, teriakan itu telah menemukan ekspresinya dalam film yang luar biasa ini.


Tentang penulis
Phil Butland adalah seorang sosialis asal Bradford, Inggris Utara. Ia mendirikan Berlin LINKE Internationals dan kini aktif di The Left Berlin serta Sozialismus von Unten (SvU). Di samping aktivitas politiknya, Phil juga bertindak sebagai kurator blog film CinePhil Berliner.
Baca juga
-
-
-
-
-
Gaza Luna
Rp85.000 -
-
-













