
Oleh
Pada awalnya saya tertarik untuk membaca buku ini karena sebelumnya menyukai cerpen karya Ruhaeni Intan dalam antologi Museum Teman Baik. Saat itu bagi saya tulisan Ruhaeni Intan yang berjudul Semalam Lagi di Bianglala berhasil membawa perenungan yang melegakan tentang pertemanan. Sejak itu karya Ruhaeni Intan masuk menjadi salah satu wishlist bacaan. Gayung bersambut, saya melihat beberapa akun bookstagram merekomendasikan buku barunya yang berjudul Seakan Bisa Dipisahkan. Akhirnya buku ini menjadi bacaan pembuka perjalanan membaca saya di tahun ini.
Seakan Bisa Dipisahkan berhasil menyentuh hati dan membawa refleksi yang cukup emosional bagi saya. Kali ini tentang keluarga.

Buku ini menceritakan tentang seorang wanita muda bernama Sofia yang menjalani hidup pas-pasan di perantauan. Bolak balik masuk dan resign dari berbagai jenis pekerjaan dan berpindah-pindah kosan tapi nampaknya bagi Sofia itu tetap lebih baik daripada hidup dengan keluarganya di kampung halaman. Sebab, Sofia membenci ayahnya dan lebih lagi Ibunya.
Sofia bukan membenci tanpa alasan. Awalnya dia merasa dekat dan mengasihi Ibunya. Hanya saja rasa tersebut berubah menjadi kebencian yang mengakar karena Sofia merasa Ibunya berubah sejak ayahnya membuat kondisi ekonomi keluarga terpuruk. Ibu Sofia akhirnya mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga dengan berjualan kue pastel.
Beban hidup itu, entah bagaimana, mengubah sosok sang ibu. Ibunya seolah menjadi begitu kejam dalam membesarkan Sofia dan adiknya. Sering marah, memaksa, juga mengatai anak-anaknya. Ibunya mencekoki Sofia setiap hari dengan jus wortel dengan alasan yang dibuat-buat supaya matanya bagus dan betah membaca lalu jadi pintar. Sejak itu selain membenci Ibu, wortel jadi hal kedua yang paling dibencinya. Di lain sisi Ibunya seolah tetap bersikap baik dan menerima Ayah Sofia yang semakin tidak jelas perilakunya setelah menjadi pengangguran. Sofia marah kenapa Ibunya tidak membawa dia dan adiknya pergi saja meninggalkan ayahnya, bahkan dia mengibaratkan kondisi keluarganya bagai telur busuk. Sejak itu keinginannya hanya satu yaitu pergi sejauh mungkin dari rumah dan tidak kembali.
Setelah berhasil bertahun-tahun tidak pulang, Sofia terpaksa kembali ke rumahnya saat Novia, adiknya, membuat drama kabur dari rumah menyusul Sofia. Mau tak mau Sofia terpaksa mengantar adiknya kembali ke rumah. Di sinilah Sofia seolah kembali bertemu dengan hantu yang selalu berusaha dia hindari. Ibunya, ayahnya, masakan ibunya, wortel dan pastel. Dia kembali berseteru dengan Ibunya yang mempertanyakan kenapa dia tak pernah pulang dan kenapa semua orang ingin pergi meninggalkan rumah.
Merasa begitu tak betah Sofia hanya bertahan 3 hari di rumah lalu kembali ke perantauan. Berharap bisa kembali dengan kesehariannya di kosan bersama Pak Kaslan, pria tua tetangga kamar yang akhir-akhir ini sering mengobrol dengannya. Sofia ternyata harus menemukan Pak Kaslan sudah mati berhari-hari seorang diri dalam kamarnya selama dirinya pulang kampung.
Pak Kaslan meninggalkan banyak tumpukan barang-barang yang berakhir disimpan Sofia karena merasa tak tega membuangnya. Di antara barang-barang tersebut dirinya menemukan sebuah surat Pak Kaslan yang tidak pernah terkirim. Dari surat tersebut ternyata Pak Kaslan juga seorang yang lari meninggalkan keluarganya hanya untuk hidup dalam penyesalan lalu mati tanpa sempat memperbaiki apapun.
Cerita berlanjut dengan Sofia yang berusaha kembali menjalani hidupnya. Menekuni pekerjaan baru, berusaha menjalin hubungan cinta dan bergaul dengan teman-temanya yang tidak banyak. Hingga pada suatu hari saat Sofia merasa hidupnya mulai sedikit lebih baik, dia kembali teringat pada Ibunya. Dipicu oleh perkataan temannya yang bilang bahwa dia mirip Ibunya yang pintar membuat kue. Ternyata telur busuk itu masih ada. Sofia menyadari bahwa mungkin benar dirinya terlalu mirip Ibunya. Dan semuanya itu menjadi jelas bahwa ia takut berakhir menjadi seperti Ibunya. Cerita ini ditutup dengan kunjungan Novia berikutnya ke kosan Sofia dengan membawa pastel buatan Ibunya. Entah mengapa saat itu Sofia merasa ingin mencoba pastel tersebut. Saat memakannya Sofia menangis menyadari tak ada wortel di pastelnya.
Bisa dibilang akhir cerita ini sedikit menggantung. Tidak ada kejelasan bagaimana akhir hubungan Sofia dengan Ibunya. Ini membuat saya sebagai pembaca yang lebih menyukai akhir yang jelas merasa sedikit kecewa. Tapi mungkin Mbak Ruhaeni Intan ingin memberi ruang bagi pembaca untuk merenungkan, menentukan sendiri akhirnya dan menangkap maknanya. Bagi saya mungkin akhirnya Sofia mengerti bahwa Ibunya memilih berjualan pastel karena itu adalah jajan kesukaan Sofia. Karena bagi Ibu membuat makanan yang disukai anak memberi rasa senang meski juga meletihkan.
Dari kisah Pak Kaslan yang mati seorang diri hingga membusuk, Sofia mungkin juga dapat memahami mengapa Ibunya memilih bertahan dengan ayahnya, ingin Sofia pulang dan tidak ingin Novia ikut pergi dari rumah. Mungkin Ibunya sekedar tidak ingin berakhir hidup sendirian. Mungkin hidup seorang diri bisa jadi lebih menakutkan dijalani dibandingkan menjadi tulang punggung keluarga.
Dari buku ini saya merenungkan beberapa hal. Keadaan ekonomi suatu keluarga sepertinya memang sebegitunya mempengaruhi keadaan sebuah keluarga. Tidak hanya masalah soal cukup tak cukup, miskin atau kaya, tapi juga bagaimana hubungan antara suami istri, orang tua, dan anak. Sering kali kita temui faktor ekonomi menjadi pemicu adanya KDRT dan perceraian. Sedikit banyak saya teringat akan apa yang dialami oleh almarhum Ibu saya. Saya seolah bisa memahami kebencian Sofia sebab saya pernah mempertanyakan hal serupa. Tuntutan Ibu Sofia kepada Sofia dan adiknya juga seperti gambaran banyaknya orang tua yang seolah mendikte dan merasa paling tau apa yang terbaik untuk anaknya. Yang mana itu lahir dari rasa penyesalan diri mereka sendiri dan keinginannya semata supaya anak-anak tak berakhir sama dengan kondisi yang dialaminya.
Dari cerita Sofia saya merenungkan kembali makna sebuah keluarga. Kita tidak pernah dapat memilih lahir di keluarga seperti apa. Seorang anak tidak punya kuasa menentukan lahir dari benih dan rahim siapa. Pun orang tua tidak dapat menentukan melahirkan anak yang bagaimana. Dan sesungguhnya suami istri, orang tua, dan anak, saling membentuk dan membesarkan satu sama lain. Keluarga bisa menjadi tempat untuk selalu pulang sekaligus alasan untuk pergi menjauh. Arti keluarga seringkali diremehkan, hanya karena memandang seseorang sebagai suami, istri, ibu, ayah, ataupun anak, seringkali masing-masing individu merasa bebas berbuat sesuka hati kepada satu sama lain. Bisa jadi karena merasa keluarga adalah tempat di mana apa saja dapat diterima dan dimaklumi. Mungkin wajar jika kita selalu punya kenangan menyakitkan atau sesuatu yang dibenci dari orang tua. Walaupun demikian mungkin ada baiknya untuk tidak terlalu membenci. Sebab saat makin membenci maka kita akan menemukan bahwa ternyata kita lebih mirip mereka, lebih dari yang kita kira.
Keluarga adalah sesuatu yang akan tetap ada dalam batin kita sekalipun kita berkeras menjauh. Ada sesuatu yang tidak dapat diingkari, tak dapat diputuskan karena itulah yang membentuk kita. Akar kita.
Yang terakhir, dari cerita ini saya belajar tentang berharganya waktu. Kita manusia mungkin berpikir bahwa kita selalu punya waktu. Hidup ini sepertinya panjang tapi sebenarnya tidak. Betapa sia-sianya hidup dalam penyesalan seperti Pak Kaslan, berpikir suatu saat ada waktu yang tepat untuk bisa kembali pada keluarganya, putrinya untuk memperbaiki hubungan mereka tanpa sekalipun memiliki keberanian untuk menemui dan mengucapkan permintaan maafnya. Tak ada yang bisa dilakukan jika waktu telah berlalu. Oleh karena itu selagi bisa bertukar kabar, mengucap sayang, melepas rindu dan meminta maaf, semoga di hati kita tidak ada benci dan takut yang terlalu menghalangi.
Secara keseluruhan, saya menyukai buku ini dan merekomendasikannya sebagai salah satu referensi bacaan ringan tentang kompleksitas hubungan keluarga. Bagian favorit saya dalam buku ini adalah kutipan di halaman awal buku yang diambil dari sebuah lagu.
I see your face with a trace of life Being a wife and woman If I ever hurt you, please remember I wanted us to be happy Nobody Sees Me Like You Do – Japanese Breakfast
Informasi buku yang diulas

Buku yang sedang diulas berjudul Seakan Bisa Dipisahkan. Ditulis oleh Ruhaeni Intan dan diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada Juni 2025. Memiliki ketebalan sekitar 128 halaman.
Tentang penulis
Steffi Yuni Tania, biasa dipanggil Steffi. Lahir, besar dan tinggal di Pare, Kediri. Mengaku menyukai makan dan membaca. Saat ini sehari-hari menjadi tukang kopi, tukang kue, dan tukang masak di Sio Punci Coffee. Baru-baru ini juga membuka toko buku. Bisa dihubungi lewat Instagram @steffiytania / @siopuncicoffee / @siobookshop.

