May Day 2022: Kelas Buruh Sedunia, Bacalah!

Buku-buku pilihan diskon 23% untuk merayakan May Day!

May Day 2022: Reading List

Gerakan buruh memiliki sejarah yang panjang. Di Indonesia sendiri, setelah sempat menjadi kekuatan yang diperhitungkan dunia, ia dihancurkan dan dipasung selama lebih dari 3 dekade oleh rezim Orde Baru. Kini setelah rezim Orde Baru tumbang, generasi berikutnya mulai mengambil—-dari puing-puing reruntuhan—berbagai pelajaran berharga. Serikat-serikat buruh pun menjamur. Forum-forum diskusi dibuka. Mesin-mesin cetak diputar untuk memproduksi bacaan-bacaan radikal. Sementara para agresor dan penguasa yang terjebak hukum gerak kapital, mulai menampakkan kepanikan karena tak paham dengan apa yang sedang terjadi.

Di bawah ini adalah daftar bacaan tentang sejarah gerakan buruh, dinamika perjalanannya, serta teori-teori kritik ekonomi politik untuk mempersenjatai perjuangan pengorganisasian gerakan buruh untuk masa depan bersama.

Selamat Hari Buruh 2022! Untuk merayakannya, semua buku dalam tema kritik ekonomi politik, gerakan sosial dan perburuhan, diskon 23% sampai 20 Mei 2022 pukul 00.00 WIB.

“Ditulis dalam gaya yang jernih dan tegas, serta kaya wawasan empiris dan konseptual mengenai bentuk perkebunan, Hidup Bersama Raksasa adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang tertarik akan lingkungan dan masyarakat tropis, hubungan agraria, rezim-rezim kapitalis-kolonial, serta ekonomi politik sistem-sistem perkebunan.”
—Sophie Chao, Inside Indonesia

“Sepanjang lebih dari dua dasawarsa terakhir, Chandra Talpade Mohanty telah menghasilkan gugusan tulisan yang luar biasa mengenai feminisme transnasional, secara radikal mengubah cara berpikir kita tentang kategori-kategori seperti ‘perempuan Dunia Ketiga,’ ‘perempuan kulit berwarna ,’ dan ‘globalisasi.’ Buku ini memadukan esai-esai klasiknya dengan tulisan-tulisan baru yang menekankan sentralitas teori dan praktik feminis antikapitalis.” — Angela Y. Davis

“Misi Mohanty tentang solidaritas feminis lintas budaya dan lintas bangsa sangatlah penting belakangan ini…” — Women’s Review of Books

“Ini adalah buku yang luar biasa penting. Ringkas namun komprehensif, dengan memadukan sekaligus bertolak dari banyak perspektif dari berbagai disiplin keilmuan, mudah dibaca bagi berbagai kalangan, kokoh secara penulisan, dan lebih dari itu semua, orisinal dalam analisis dan jangkauan pada bidang-bidang yang baru, buku ini menjadi kontribusi luar biasa bagi pemikiran dan praktis pembangunan.”
—Robert Chambers, Institute of Development Studies, University of Sussex

“Ian Scoones mengulas gagasan-gagasan tentang penghidupan berkelanjutan dan penerapannya, secara komprehensif, jelas, dan berharga. Di sini ia mengemukakan argumen yang kokoh untuk menata ulang perspektif tentang penghidupan yang berpandangan luas, yang diperkuat oleh ekonomi-politik perubahan agraria.”
—Henry Bernstein, University of London

“Ini adalah buku dengan keseimbangan sempurna: amat berguna; menantang; cerdas secara teoritis, sehingga mudah dibaca; kaya secara historis, tapi juga berpandangan ke masa depan, dengan mengajukan serangkaian agenda bagi para pembelajar maupun praktisi.”
—Anthony Bebbington, Clark University dan University of Manchester

“Prashad menulis buku sejarah dalam gaya sastrawi. Momen-momen dikerangkai dalam cara yang memudahkan untuk membayangkan latarnya […] efektif untuk menyampaikan poin utama buku ini: perjuangan demi perjuangan terhubung lintas ruang dan waktu manakala ada organisasinya.” — Citizens’ Press

 

“Brilian dan mengusik pikiran, titik awal penting untuk memahami kompleksitas komunisme internasional selama abad lalu.“ — Communist Review

Asia Tenggara memiliki sejarah gerakan kiri yang panjang dan kaya. Gerakan kiri dan para aktivisnya ini berjuang melawan kolonialisme, berkontribusi bagi kemerdekaan dan pembangunan negeri, dan meng­hadirkan perubahan dalam konfigurasi politik di kawa­san. Walau kontribusi sosial-politik para aktivis kiri ini telah banyak diteliti, tetapi karya-karya tulis mereka belum banyak dikaji. Buku ini mengulas sejumlah karya dari sosok-sosok yang pernah aktif dalam gerakan kiri di Asia Tenggara sebagai cara untuk memikirkan kembali kemajuan politik dan identitas nasional di luar sejarah resmi negara-negara.

Apakah kapitalisme lahir akibat revolusi industri atau justru hasil dari revolusi borjuis di Prancis? Apakah kapitalisme muncul dari daerah perkotaan? Apakah kapitalisme telah ada sejak manusia ada dan kemudian menunjukkan wujudnya ketika terjadi peningkatan skala perdagangan komersial?

Ellen Meiksins Wood dalam buku “Asal-usul Kapitalisme” menyatakan tidak untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas. Wood dalam buku ini menjelaskan secara kritis kelahiran kapitalisme, imperialisme, dan negara-bangsa modern. Ia secara presisi menunjukkan bahwa kapitalisme bukanlah konsekuensi alami yang tak terelakan dari kodrat manusia. Kapitalisme pada kenyataannya adalah produk dari kondisi sejarah yang spesifik, yang kemudian menciptakan transformasi besar dalam hubungan sosial dan hubungan antara manusia dengan alam. Corak produksi ini tidak lahir di perkotaan tetapi dalam kawasan pertanian di perdesaan Inggris. Oleh karena kapitalisme tidak selalu ada dalam kehidupan manusia, maka sistem ini tidaklah permanen.

Dibekali kelihaian sebagai seorang ahli sejarah, geografi, ekonomi dan sosiologi, McMichael mengemas telaah ikhtisar ini dengan konteks global dan kajian yang kekinian … buku ini adalah bacaan utama bagi siapa saja yang ingin memperdalam pengetahuan untuk memikirkan sistem pangan hari ini serta bagaimana cara mengubahnya.

—Raj Patel, penulis buku Stuffed and Starved: From Farm to Fork, The Hidden Battle for the World’s Food System

 

McMichael menyuguhkan suatu narasi begitu memikat yang memudahkan kita untuk memandang gambaran besar: dimensi-dimensi geopolitik dan ekonomi-politik dari pangan kita … memahami bagaimana rezim pangan dominan hari ini menyeruak—yang memosisikan sistem pertanian-pangan sebagai pelayan arus keuangan dan sirkuit komoditas transnasional—adalah langkah awal yang tak bias ditawar menuju pembaharuan.

—Olivier De Schutter, Pelapor Khusus United Nations untuk isu hak atas pangan

Pada 1776, Adam Smith menuliskan kutipan terkenal: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan-diri mereka sendiri-sendiri.” Bagi Smith, kepentingan-dirilah yang menggerakkan tindakan manusia, dan keyakinan tentang homo economicus ini (manusia sebagai makhluk yang memaksimalkan pemenuhan kepentingan-dirinya) akan melandasi seluruh bangunan ilmu ekonomi liberal sesudahnya. Namun benarkah?

Bagi Katrine Marçal, sungguh ironis bahwa pernyataan tersebut keluar dari Adam Smith yang hampir sepanjang hayat hidup bersama ibunya, dirawat dan disiapkan makan oleh kebaikan hati ibunya. Buku Marçal ini adalah serangan feminis yang tajam, cerdas, dan kocak terhadap konsepsi manusia ekonomi dan ideologi ekonomi dominan yang telah membawa dunia dari satu krisis ke krisis berikutnya.

Nominasi Augustpriset 2012 / Nominasi Bread and Roses Award for Radical Publishing 2016

Christian Fuchs dalam buku “Membaca Kembali Marx di Era Kapitalisme Digital” menggali gagasan Marx dalam tulisan-tulisannya yang paling berpengaruh. Fuchs kemudian menggunakan gagasan Marx tentang mesin, teknologi, komunikasi, dan ideologi untuk menganalisis kapitalisme kontemporer. Buku ini hadir dengan pertanyaan: Mengapa pemikiran Marx masih relevan hingga hari ini? Bagaimana kita dapat memahami Marx di era kapitalisme digital dan komunikatif?

Meskipun buku ini berangkat dari pengalaman hidup Tan Swie Ling, seorang eks tapol G30S, tetapi penulis tidak cerita sedikit pun tentang orangtua, tempat kelahiran, sekolah, aktivitas-aktivitas politiknya ketika masih muda, dsb. Riwayat hidupnya “dimulai” pada 1 Oktober 1965, ketika dia dapat berita tentang G30S. Saat dia harus mulai sembunyi dan membantu mencari tempat aman untuk Ketua PKI terakhir, Sudisman.

Lantas akhir tahun 1966, keduanya ditangkap karena dikhianati Ketua Komisi Verifikasi PKI dan anggota CC, Sujono Pradigdo yang takut disiksa. Selama 13 tahun, dia dipenjara sambil disiksa secara buas dan sadis. Setelah lepas, dia–seperti eks tapol lainnya–harus mengalami segala macam penghinaan, diskriminasi, ancaman dan pemerasan. Tetapi dia tak patah hati, otaknya tidak ambruk, semangat dan disiplinnya tetap utuh. Dan inilah refleksinya atas G30S, awal dari kehancuran nasionalisme Indonesia dan Indonesia itu sendiri.

“Ditulis dengan cermat, disajikan dengan gamblang dan didokumentasikan secara luas, buku ini merupakan karya cendekia yang brilian.”
– Gerald. S. Maryanov, Ahli Politik Northern Illinois University

 

“Karya yang memiliki otoritas besar dan tak ada keraguan sedikit pun akan kekuatan buku ini.”
– J.D. Legge, Sejarawan Monash university

“Seraya ekosistem planet ini dan perekonomian lokal serta nasional memburuk, bergerak melampaui PDB menjadi suatu keharusan demi bertahan hidup […] Fioramonti memperkenalkan kita kepada inisiatif-inisiatif baru untuk mengukur kekayaan riil beserta kesejahteraan dan kebahagiaan.” — Vandana Shiva

Jurnalis investigasi Lydia Cacho menelusuri jalur perdagangan manusia global, bepergian dari Meksiko ke Turki, Thailand ke Israel, Jepang ke Spanyol, untuk menguak kaitan tersembunyi jaringan perdagangan manusia ini dengan bisnis wisata dan hiburan malam, pornografi, penyelundupan narkoba dan organ tubuh, pencucian uang, bahkan terorisme. Cacho juga menggugat keras bagaimana perdagangan bebas yang digencarkan oleh negara-negara maju justru memperkuat jaringan kriminal dan perekonomian bawah tanah ini.

Buku-buku pilihan diskon 23% lainnya dalam tema:
Ekonomi Politik
Gerakan Sosial
Buruh

Temukan daftar bacaan lainnya di sini. Atau kunjungi bookmap untuk mencari bacaan lain yang direkomendasikan. Semua diurutkan berdasarkan tema dan topik yang tak ingin Anda lewatkan.

Open chat
Hai!
Ada yang bisa kami bantu?