10 Buku untuk May Day Mu! // Hari Buruh Sedunia 2024

10 Buku untuk May Day Mu!
May Day 2024 Reading List

*¨¨*:·.❀ ⋆⋅☆ Selamat Hari Buruh Sedunia! ☆⋅⋆•❀.·:*¨¨*

Mari majukan kekuatan produktif dengan belajar dan berorganisasi! Bergabunglah dengan serikat, organisasi progresif; forum-forum belajar bersama dan sibukkan diri dengan aktiviti yang membuatmu mengerti tentang bagaimana dunia kita berjalan dan, apa yang harus kita lakukan.

Kami telah merilis daftar buku untuk menemani mu merayakan May Day!
Selamat memperingati hari buruh sedunia. Selamat menambah semangat belajar!
Berikut daftar tersebut yang tak ingin kamu lewatkan:

Gerakan buruh independen di Indonesia bangkit kembali pada 1990-an setelah puluhan tahun penindasan. Aktivis mahasiswa dan LSM tampil di garda depan, mengorganisir buruh industri serta bersuara atas nama mereka. Serikat buruh mengemuka ke tengah gelanggang pergerakan pada 1998 ketika rezim otoriter Orde Baru tumbang. Tetapi, aktivis LSM perburuhan serta mahasiswa terus memainkan peran penting—dan acap diperdebatkan—dalam pembentukan kembali gerakan buruh. […]

Jalan ke Demokrasi Rakyat bagi Indonesia memuat tulisan-tulisan sejak masa tradisi baru 1951 sampai dengan Kongres Nasional V Partai tahun 1954 serta terlaksananya Pemilihan Umum yang pertama di Indonesia tahun 1955 untuk DPR dan Konstituante.

Mari menyelami lika-liku pekerja media di Indonesia.

Citra Maudy menemui jurnalis digital muda untuk berbincang tentang pengalaman kerja sehari-hari, tantangan pekerjaan, perasaan-perasaan, sampai kesulitan dan kerentanan personal maupun profesional menghadapi dunia kerja digital hari ini di Indonesia. Alih-alih mencari solusi individual bagi setiap kerentanan yang dihadapi jurnalis digital muda; misalnya anjuran memperbanyak rekreasi, bersantai, atau bahkan bersyukur, buku ini menawarkan pemahaman ekonomi-politik kritis yang lebih komplit terkait kompleksitas kerentanan kerja digital, jurnalisme, peran negara, dan kondisi serikat buruh.

“Di tengah kepungan narasi tentang kerja digital yang serba menggiurkan, buku ini menawarkan akal sehat yang jernih.”
– Benny H. Juliawan, SJ. Ph.D, Akademisi Isu Perburuhan

Banyak perbincangan tentang pekerja, seringkali lebih banyak membahas hubungan mereka dengan negara beserta pilihan politik yang mereka ambil. Masih jarang yang membahas relasi pekerja dengan majikannya, yang dalam konteks kapitalisme kontemporer, para majikan itu telah mengambil bentuk sebagai kelas kapital. Buku ini menawarkan ‘tinjauan awal’ terhadap relasi kelas pekerja dan kapital di berbagai sektor ekonomi Indonesia.

Berbagai ilustrasi relasi kelas pekerja dan kapital pada buku ini sedikit banyak menyingkap bentuk-bentuk pengontrolan kapital dan perlawanan pekerja yang menyertainya. Sebagai suatu ‘tinjauan awal’ terhadap relasi kelas pekerja dan kapital di Indonesia, buku ini diharapkan mampu menyediakan ilham, seberapa pun kecilnya, bagi studi-studi yang lebih menyeluruh di kemudian hari.

  • Original price was: Rp215.000.Current price is: Rp208.550.

This book steps into this moment to offer a clear, accessible, informative, and irreverent guide to socialism for the uninitiated. Written by young writers from the dynamic magazine Jacobin, alongside several distinguished scholars, The ABCs of Socialism answers basic questions, including ones that many want to know but might be afraid to ask (“Doesn’t socialism always end up in dictatorship?”, “Will socialists take my Kenny Loggins records?”). Disarming and pitched to a general readership without sacrificing intellectual depth, this will be the best introduction an idea whose time seems to have come again.

Asia Tenggara memiliki sejarah gerakan kiri yang panjang dan kaya. Gerakan kiri dan para aktivisnya ini berjuang melawan kolonialisme, berkontribusi bagi kemerdekaan dan pembangunan negeri, dan meng­hadirkan perubahan dalam konfigurasi politik di kawa­san. Walau kontribusi sosial-politik para aktivis kiri ini telah banyak diteliti, tetapi karya-karya tulis mereka belum banyak dikaji. Buku ini mengulas sejumlah karya dari sosok-sosok yang pernah aktif dalam gerakan kiri di Asia Tenggara sebagai cara untuk memikirkan kembali kemajuan politik dan identitas nasional di luar sejarah resmi negara-negara.

Sebelum dikenal sebagai gerakan politik, anarkisme lebih dulu dikenal sebagai gerakan moral, bahkan hingga hari ini. Para anarkis adalah orang-orang yang menjadikan nurani dan kebebasan mutlak sebagai pijakannya. Mereka tidak menoleransi gerakan yang berorientasi kekuasaan, karena bagi mereka keinginan berkuasa menjadi awal dominasi, manipulasi, dan eksploitasi satu kelompok atas kelompok lain.

Ketika Orde Baru berada di senja kala kekuasaan, ada banyak elemen prodemokrasi yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD), termasuk kelompok-kelompok anarkis. Namun, keberadaan kelompok tersebut tidak berlangsung lama karena PRD gagal menampung berbagai varian politik dan mengalami problem yang tak bisa dikompromikan dengan nilai-nilai anarkisme. Blok Pembangkang merekam kelompok dan afinitas yang muncul di berbagai momen penting. Di Indonesia, gerakan anarkisme tak benar-benar mati. Ia tumbuh, berganti generasi, sembari menunggu waktu bersemi kembali.

“Truthful to its title, the book is a guide to Chinese socialism, both comprehensive and incisive … most importantly, as a framework and guide for social practice. … For those who wonder whether China is still socialist or suspect that Chinese Communist Party abandoned Marxism, the book provides a lot of material on which to base their answers. In fact, anyone who wants to engage seriously and extensively with ‘socialism with Chinese characteristics’ should read the book.”
-Tamara Prosic, socialistchina.org, June 20, 202

  • KapitaQl-Pada-Abad-ke-21-FCover

    Kapital

    Author(s)

    3% off!
    Original price was: Rp225.000.Current price is: Rp218.250.

[…] Buku terlaris Harvard University Press ini melacak akar-akar kesenjangan ekonomi dan menawarkan alternatif solusi secara global dan sistemik. Tanpa tindakan berarti, ekonom Perancis ini memprediksi kesenjangan akan semakin parah dan berujung pada krisis multidimensi. Buku bestseller versi The New York Post ini mengubah wajah ilmu ekonomi. […]

“Academic and public libraries in the West should expand their collections with Revolutionary Education. It delves into the history and educational praxis of North Korea in a way that is rarely studied in the US as this work counters many of the western media narratives against North Korea. As librarians, it is our duty to build collections with a wide range of ideas and the research in this book presents a challenge to our current institutionalized education systems. Through the study of a socialist pedagogy can we really see that the education of the working class is paramount to our collective liberation.”
—Stephen Lane, Reference and Outreach Archivist, Indiana University-Purdue University of Indianapolis

Temukan daftar bacaan lainnya yang direkomendasikan dan disusun berdasarkan tren, kategori, tema hingga daftar yang secara pribadi diberikan kepada Kamu dalam Reading List.