
Oleh
Pada Mei 2026, para pemikir anti-imperialis terkemuka dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Pakistan untuk membahas beragam persoalan yang, meskipun berbeda bentuknya, terasa begitu serupa dalam menghambat pembangunan yang berdaulat di berbagai wilayah Global South, serta membahas peran imperialisme dan neokolonialisme sebagai pelaku utama keterbelakangan di negeri-negeri pinggiran (periferi). Konferensi ini diselenggarakan oleh partai politik kiri jauh di Pakistan, Haqooq-e-Khalq Party (HKP), dengan dukungan People’s Academy of the Progressive International. Tema-tema utama yang mengemuka kemudian mengkristal menjadi apa yang kini disebut sebagai Deklarasi Lahore, sebuah pernyataan politik yang menempatkan perjuangan Global South dalam satu kerangka anti-imperialis yang sama.1
Konferensi ini berpusat pada kontradiksi utama zaman kita: di satu sisi kapitalisme dunia, neo-kolonialisme, dan imperialisme; di sisi lain kekuatan-kekuatan yang melawannya. Jarang sekali seminar semacam ini memiliki kejelasan tujuan yang demikian tajam mengenai persoalan tersebut. Terlalu sering, kritik terhadap bentuk-bentuk perlawanan yang dianggap tidak sempurna terhadap tiga kekuatan jahat yang saling bertaut itu justru menjadi pusat perhatian, sementara para akademisi lebih sibuk menguliahi gerakan-gerakan di negeri-negeri pinggiran ketimbang terlibat bersama mereka. Yang juga patut dicatat adalah momen geopolitik ketika konferensi ini berlangsung, yakni di tengah perang imperialis terhadap Iran, yang dalam banyak hal dapat dipandang sebagai kelanjutan dari proyek genosida di Gaza.
Siapa pun yang tertarik dengan isi konferensi ini dapat menyaksikan rekamannya secara daring, dan sejumlah ringkasan yang baik mengenai acara tersebut telah diterbitkan. Di sini saya ingin memusatkan perhatian pada dampak dari peristiwa yang berpotensi menjadi momen bersejarah ini. Sebagian dampaknya telah tampak di permukaan, sementara sebagian lainnya belum terlihat, tetapi mungkin akan membawa pengaruh yang jauh lebih luas.
Pertemuan Bersejarah di Negeri Pinggiran
Tempat penyelenggaraan konferensi ini memiliki makna tersendiri. Konferensi tersebut berlangsung di Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan berdasarkan jumlah penduduk maupun luas wilayah, sekaligus pusat industri dan ekonomi tertua kedua di negara itu. Lahore juga merupakan salah satu kota dengan kehadiran militer paling besar. Jika ada satu hal yang diketahui banyak orang mengenai politik Pakistan, maka itu adalah bahwa kemapanan militer beserta aparat birokrasinya merupakan kekuatan paling merasuk dan paling koersif dalam menentukan, mengarahkan, sekaligus mengendalikan negara Pakistan—sebuah negara yang “terlalu berkembang” dalam kapasitas aparatusnya, namun justru memimpin masyarakat yang mengalami keterbelakangan.2
Perlu diingat bahwa sepanjang sejarah Pakistan, hampir tidak pernah ada masa ketika kemapanan militer tidak memperlakukan kesadaran politik dan intelektual kiri sebagai suatu kejahatan berpikir (thought-crime) pada tingkat yang paling serius.3 Selama sebagian besar keberadaan Pakistan sebagai negara, elite penguasa kompradornya lebih sering menjalankan kepentingan imperialisme Amerika Serikat di kawasan, sekaligus menghancurkan gerakan-gerakan dalam negeri yang berupaya melakukan sosialisasi ekonomi, membangun pembangunan yang berdaulat, serta mendorong reformasi kebudayaan.
Dengan latar belakang seperti itu, fakta bahwa sebuah partai kiri-jauh mampu menjadi tuan rumah bagi sejumlah pemikir anti-imperialis terkemuka dari berbagai belahan dunia untuk mendiskusikan kapitalisme, imperialisme, neo-kolonialisme, pembangunan yang timpang, dan berbagai topik lain yang sama-sama tidak nyaman; mengiklankan acara tersebut secara terbuka; serta menyelenggarakannya di lokasi yang sangat sentral di Lahore tanpa menghadapi penolakan dari negara, sungguh membuat kita perlu merenungkan kontradiksi-kontradiksi yang sedang berlangsung. Saya memilih berhati-hati untuk tidak terlalu banyak berspekulasi sebelum pola yang lebih jelas benar-benar tampak.
Penyelenggaraan diskusi sepenting ini di wilayah pinggiran memiliki arti yang jauh lebih besar dibandingkan jika acara serupa diadakan di pusat imperialisme. Kaum intelektual di negeri-negeri inti imperialisme, betapapun tulusnya mereka—yang sebagian besar tetap memiliki hubungan dengan akademi Barat, meskipun mereka mengakui menjaga independensi dari institusi-institusi tersebut maupun dari pengaruh apa yang lazim disebut Marxisme Barat—cenderung membahas persoalan-persoalan ini dari dalam dunia Barat dan untuk khalayak yang sebagian besar juga berada di Barat. Meskipun upaya semacam itu tidak sepenuhnya sia-sia karena turut membangun kesadaran, berbicara kepada audiens yang secara historis bukan merupakan subjek revolusioner bukanlah strategi yang paling mungkin melahirkan hasil-hasil nyata ataupun gerakan yang efektif dalam melawan imperialisme.
Jika ada satu pola yang tampak jelas dalam sejarah perjuangan revolusioner melawan kapitalisme dunia, maka pola itu adalah bahwa perjuangan tersebut, bertolak belakang dengan prediksi Marx, tidak muncul di negeri-negeri inti kapitalisme, melainkan justru lahir dari negeri-negeri pinggiran. Fakta bahwa konferensi ini berbicara kepada masyarakat yang dapat dikatakan memiliki potensi besar untuk menjadi subjek revolusioner menyentuh inti persoalan mengenai di mana sesungguhnya harapan revolusioner berada.
Hal ini bukan berarti membayangkan secara naif ataupun utopis bahwa sebuah gerakan revolusioner akan segera bergulir besar di Pakistan dalam hitungan bulan atau tahun setelah konferensi ini. Namun cukup masuk akal untuk membayangkan bahwa konferensi tersebut berpotensi memperkuat kesadaran yang memang sedang tumbuh di kalangan tani dan kelas proletar Pakistan; kesadaran yang lahir dari pengalaman putus asa mereka sendiri, serta memberi mereka rasa percaya diri melalui dukungan dan pengakuan dari para intelektual terkemuka yang memiliki pandangan politik yang sejalan dengan mereka.
Pakistan, Iran, dan Implikasi yang Lebih Luas
Sekarang saya akan beralih pada potensi dampak konferensi ini yang melampaui batas-batas nasional. Salah satu ciri paling langsung dan paling mencolok dari peristiwa ini, sebagaimana telah saya singgung di awal, adalah momentum penyelenggaraannya. Konferensi ini berlangsung ketika negara Pakistan tengah secara aktif memfasilitasi mediasi antara Iran dan Amerika Serikat. Momen ini merupakan peristiwa yang langka dalam sejarah, ketika negara Pakistan tidak sedang menjalankan kepentingan Amerika Serikat, bahkan, boleh saya katakan, justru menunjukkan kecenderungan berpihak kepada Iran melalui berbagai pernyataan resmi yang hangat serta dengan menyediakan pengawalan udara militer untuk melindungi delegasi Iran dari kemungkinan penyergapan oleh poros Amerika Serikat–Israel.4
Jika hal itu ditempatkan berdampingan dengan salah satu tema yang terus berulang sepanjang konferensi—yakni solidaritas tanpa syarat kepada negara Iran dan kekaguman terhadap respons tangguhnya menghadapi agresi imperialis Amerika Serikat dan Zionisme—maka muncullah sebuah kebetulan yang menarik: organisasi sosialis, bahkan dapat dikatakan komunis, paling populer di Pakistan, yakni HKP, dan negara Pakistan sendiri, untuk sesaat, berada di pihak yang sama.
Sulit untuk memastikan apakah sikap Pakistan yang cenderung pro-Iran didorong oleh kebutuhan strategis, tekanan kawasan, kedekatan budaya, atau perubahan yang lebih mendasar dalam cara negara Pakistan membaca tatanan global yang sedang berubah. Pakistan tidak mampu menghadapi permusuhan di perbatasan baratnya sementara pada saat yang sama sedang terlibat ketegangan dengan tetangga barat lautnya, Afghanistan, dan hubungan dengan tetangga di sebelah timur, India, baru saja meningkat menjadi konfrontasi terbuka yang setiap saat dapat kembali meledak.
Pakistan juga sepanjang sejarahnya menikmati hubungan yang relatif stabil dengan Iran, yang ditopang oleh ikatan keagamaan, kebudayaan, dan kedekatan regional. Pada saat yang sama, mungkin pula memang sedang terjadi perubahan suasana di dalam negara Pakistan ketika ia menyaksikan dunia yang semakin multipolar (setidaknya bergerak menuju suatu keseimbangan baru) bersamaan dengan merosotnya dominasi unipolar Amerika Serikat. Dalam situasi seperti itu, Pakistan mungkin menyadari bahwa ia akan memperoleh manfaat yang lebih besar dengan menjalin aliansi, atau setidaknya tidak bermusuhan, dengan negara-negara yang melawan tatanan imperial melalui berbagai cara, meskipun bentuk perlawanan tersebut sebatas usaha untuk melepaskan diri (delinking) dari struktur ketergantungan. Apa pun motivasinya, alasan di balik perubahan sikap ini masih belum pasti dan kemungkinan merupakan perpaduan dari semua faktor tersebut.
Apabila disebarluaskan secara strategis, konferensi ini berpotensi menimbulkan gema yang menjangkau berbagai perjuangan penting yang sedang berlangsung maupun yang baru tumbuh di seluruh Global South. Ia dapat mendorong gerakan-gerakan lain untuk menyelenggarakan diskusi serupa. Hal ini bukan berarti gerakan-gerakan tersebut belum melakukannya; sebaliknya, banyak di antaranya telah mengadakan pembahasan yang sangat serius, bahkan sebagian telah melangkah jauh melampaui diskusi menuju tindakan nyata. Namun memperluas diskusi-diskusi tersebut dan menyelenggarakannya secara terpadu lintas batas negara memiliki nilai strategis yang besar bagi pembentukan sebuah kader yang luas, yang anggotanya berasal dari sebanyak mungkin negeri di Global South. Strategi ini masuk akal karena gerakan-gerakan di Global South pada dasarnya telah terhubung oleh persoalan-persoalan yang sama, yakni instrumen-instrumen neokolonial yang menciptakan ketergantungan dan pengendalian melalui kehadiran militer imperialis di kawasan masing-masing.
Dalam kaitan ini, sebuah kritik yang ringan dapat diajukan terhadap konferensi tersebut. Meskipun peserta datang dari berbagai belahan dunia, termasuk sejumlah negara Global South, akan lebih baik apabila mayoritas panelis bukan berasal dari akademi-akademi Barat. Kritik ini sama sekali bukan penilaian terhadap kapasitas mereka—komitmen anti-imperialis mereka tidak diragukan, dan sumbangan mereka bagi perjuangan sungguh tak ternilai. Namun kehadiran lebih banyak pemikir dan organisator dari negeri-negeri pinggiran yang secara langsung terlibat dalam perjuangan yang juga didukung HKP akan memperbesar dampak konferensi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, sekaligus membantu memajukan tujuan membangun kader Global South. Saya cukup mempercayai HKP untuk mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa keadaan ini bukanlah sesuatu yang disengaja, bukan pula akibat perlakuan istimewa terhadap akademisi Barat, apalagi merupakan penolakan terhadap para pemikir dari Global South.
Menuju Horizon Baru Anti-Imperialisme Regional
Imperialisme merupakan kekuatan paling destruktif (jahat) di dunia dewasa ini. Meskipun Iran berhasil menghadapinya dengan efektif, keberhasilan itu harus dibayar dengan lebih dari 3.500 korban jiwa, termasuk banyak warga sipil yang tidak bersalah serta sejumlah tokoh paling penting dalam aparatus negara Iran, belum lagi kerugian ekonomi dan militer yang sangat besar. Sebaliknya, Amerika Serikat dilaporkan kehilangan kurang dari lima belas personel militernya.5
Pelajaran utama yang dapat dipetik ialah bahwa, sembari mengakui pentingnya respons strategis dan manuver taktis dalam menghadapi serangan imperial, cara paling efektif untuk meruntuhkan imperialisme adalah membangun gerakan lintas batas yang melibatkan seluruh, atau setidaknya sebagian besar, negeri-negeri pinggiran.
Melalui pujiannya terhadap keberhasilan Iran mempertahankan diri dan hampir melumpuhkan agresi imperialis, serta melalui kehadiran seorang cendekiawan Iran yang penting dalam konferensi ini, tercipta prasyarat bagi lahirnya aliansi intelektual dan ideologis yang lebih mendalam antara formasi-formasi perlawanan di kedua negara. Aliansi semacam itu memiliki arti yang melampaui ranah teori. Sebuah gerakan perlawanan yang terhubung kuat antara Pakistan dan Iran, yang bertumbuh secara organik melalui perjuangan bersama melawan penundukan ekonomi neokolonial, pada akhirnya dapat mengembangkan kapasitas untuk memberikan tekanan politik yang cukup besar sehingga mendorong penyelarasan kebijakan di tingkat negara menuju kedaulatan ekonomi yang sejati dan penentuan nasib sendiri di tingkat kawasan.
Pakistan sangat bergantung pada, dan terus-menerus terperangkap dalam, siklus utang IMF. Melalui utang tersebut, IMF memaksakan kebijakan penghematan (austerity) dan program penyesuaian struktural (structural adjustment programs) sebagai syarat pemberian pinjaman—yang pada dasarnya merupakan eufemisme untuk menekan kelas pekerja dan kaum miskin melalui pemotongan layanan publik serta jaring pengaman sosial.6 Bersama dengan buruknya perencanaan ekonomi secara keseluruhan, kondisi ini menghambat pembangunan yang berkelanjutan.
Dalam konteks yang serupa, Iran, yang juga menghadapi banyak persoalan dalam perencanaan ekonomi domestiknya, masih harus menanggung beban tambahan berupa sanksi-sanksi yang keras, yang semakin membatasi ruang bagi pembangunannya. Walaupun kedua negara secara terpisah telah menjalin hubungan yang kuat dengan Tiongkok dalam bidang perdagangan maupun diplomasi, kemunculan sebuah poros bertiga—dengan kemungkinan negara-negara lain di kawasan bergabung setelah berhasil menyelesaikan perbedaan politik mereka—akan menjadi perubahan besar bagi kawasan ini.
Pada titik ini, ketiga negara tersebut telah saling mengakui kekuatan yang dimiliki masing-masing. Namun agar aliansi semacam itu dapat berkembang sepenuhnya, Pakistan perlu mengubah haluan secara radikal dengan menyadari bahwa negara itu tidak harus bergantung pada lembaga-lembaga keuangan global. Pakistan harus melihat lembaga-lembaga tersebut sebagaimana adanya, yakni sebagai instrumen kontrol neokolonial, lalu melepaskan diri dari model ekonomi yang sekarang dijalankannya beserta sikap tunduknya kepada imperium. Hal itu tidak serta-merta menuntut hubungan yang bersifat konfrontatif dengan imperium; hubungan yang jauh lebih mandiri sudah cukup memadai. Dalam beberapa hal, tanda-tanda ke arah itu telah tampak melalui peran Pakistan belakangan ini dalam kebijakan luar negeri dan hubungan internasionalnya terhadap Iran dan Amerika Serikat.
Front Persatuan dan Aliansi Taktis: Kekuatan dan Batasnya
Formasi-formasi kiri yang memperjuangkan pembebasan nasional dan kedaulatan ekonomi dalam menghadapi dominasi imperialis mungkin mendapati bahwa, pada waktu tertentu, mereka perlu menjalin aliansi dengan negaranya apabila negara itu juga memiliki kepentingan terhadap tujuan yang sama. Dalam keadaan demikian, arti penting dari aliansi yang tampak ganjil ini, betapapun ia mungkin terasa sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan kelas di dalam negeri, tidak dapat dilebih-lebihkan. Bahkan, aliansi semacam itu dapat menjadi prasyarat yang diperlukan untuk menciptakan ruang di mana perjuangan kelas internal justru dapat dijalankan. Salah satu kelemahan terbesar yang dihadapi gerakan-gerakan perubahan transformatif dewasa ini adalah kecenderungan mereka menolak mentah-mentah pentingnya front persatuan—suatu bentuk “penyakit kekanak-kanakan” dalam politik.
Namun kerangka seperti ini juga mengandung risiko. Dengan menjadikan imperialisme melawan anti-imperialisme sebagai kontradiksi utama, kita berisiko melupakan bahwa itu hanyalah separuh dari keseluruhan persoalan. Hubungan dialektis antara persatuan anti-imperialis dan perjuangan kelas di dalam negeri menuntut kaum kiri untuk memegang kedua keharusan tersebut secara bersamaan. Mereka harus menyadari bahwa aliansi yang hari ini diperlukan mungkin mengandung kontradiksi non-antagonistik yang kelak dapat berubah menjadi kontradiksi antagonistik. Mereka juga harus memahami bahwa bahkan di dalam front persatuan itu sendiri, perjuangan kelas internal tidak pernah berhenti; ia terus berlangsung berdampingan, selama tidak menghambat perlawanan terhadap ancaman eksternal yang bersifat eksistensial.
Saat ini Pakistan memang tidak menghadapi ancaman langsung berupa agresi imperialis Amerika Serikat. Akan tetapi, keadaan itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa Pakistan selama ini tetap berada dalam orbit kepentingan Amerika Serikat. Begitu Pakistan sungguh-sungguh berupaya melepaskan diri dari eksploitasi yang dilakukan negeri-negeri inti imperialisme dan/atau dari hukum nilai kapitalis, hampir dapat dipastikan negara itu akan menghadapi serangan sebagaimana yang kini dialami Iran, Venezuela, dan Kuba. Oleh karena itu, front persatuan memiliki dua fungsi sekaligus. Pertama, sebagai kendaraan politik untuk melepaskan perekonomian negara dari ketergantungan. Kedua, apabila proses pelepasan tersebut memicu pembalasan dari imperialisme, front persatuan menjadi kekuatan yang mampu menghadapinya.
Kita dapat merasa optimistis karena HKP memiliki pemahaman yang jelas mengenai hubungan dialektis tersebut. Partai itu memahami bahwa setiap aliansi dengan negara, apabila memang terbentuk, bersifat sementara dan terikat pada tujuan tertentu. Aliansi itu akan berakhir setelah kontradiksi utama pada suatu masa tertentu berhasil diselesaikan. HKP juga sepenuhnya menyadari banyaknya kontradiksi sekunder yang tajam di dalam negeri, dan tanpa kenal lelah terus memperjuangkannya.
Saya mengakui bahwa saya, seperti banyak orang di kalangan kiri, memiliki kecenderungan untuk terlalu bersemangat dan terlalu optimistis setiap kali melihat upaya serius dari unsur-unsur pelopor di Global South dalam menghadapi neo-kolonialisme dan imperialisme. Untuk membela diri kami, kecenderungan ini bukannya tanpa alasan yang baik. Ia lahir dari rasa putus asa terhadap tatanan dunia yang sekarang. Kami benar-benar telah muak dengannya. Optimisme ini juga merupakan sesuatu yang disengaja, dalam arti bahwa peristiwa-peristiwa seperti ini jarang sekali menjadi bersejarah dengan sendirinya; manusialah yang memberikan makna kepadanya. Jika dipandang secara terpisah, konferensi ini mungkin bukan suatu peristiwa yang luar biasa. Namun ia dapat ditafsirkan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga benar-benar menjadi peristiwa bersejarah. Sebuah peristiwa menjadi bersejarah ketika orang-orang mengenali kemungkinan yang dikandungnya, mengorganisasikan diri di sekitarnya, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih besar. Apakah konferensi ini pada akhirnya akan terbukti membawa konsekuensi besar atau tidak, masih harus dilihat. Namun arti pentingnya justru terletak pada berbagai kemungkinan yang dibayangkan sekaligus dibukanya.
Catatan penerjemah:
- Global South dipertahankan dalam bahasa Inggris karena istilah ini telah menjadi konsep baku dalam kajian politik internasional. Istilah ini tidak sekadar berarti “negara-negara di belahan bumi selatan”, melainkan merujuk pada negara-negara yang secara historis mengalami kolonialisme, ketergantungan ekonomi, dan posisi subordinat dalam sistem kapitalisme dunia.
- Thought-crime diterjemahkan sebagai kejahatan berpikir, merujuk pada gagasan tentang kriminalisasi keyakinan atau pandangan politik tertentu. Istilah ini dipopulerkan George Orwell dalam Nineteen Eighty-Four, tetapi di sini digunakan secara umum untuk menggambarkan represi terhadap pemikiran kiri.
- Delinking tidak diterjemahkan menjadi “memutus hubungan”. Dalam tradisi ekonomi politik, terutama melalui pemikiran Samir Amin, delinking merujuk pada upaya suatu negara melepaskan diri dari mekanisme ketergantungan dalam sistem kapitalisme global, bukan mengisolasi diri dari perdagangan internasional.
- Formations diterjemahkan sebagai formasi-formasi perlawanan, istilah yang lazim digunakan dalam kajian politik kiri untuk merujuk pada organisasi, jaringan, atau konfigurasi kekuatan politik yang terlibat dalam suatu perjuangan bersama.
- Front persatuan merupakan padanan dari united front, sebuah konsep klasik dalam tradisi Marxis dan gerakan komunis yang merujuk pada kerja sama taktis antara berbagai kekuatan politik untuk menghadapi musuh bersama, tanpa menghapus perbedaan ideologis maupun kepentingan kelas di antara mereka.
- Hukum nilai kapitalis menerjemahkan capitalist law of value. Istilah ini mengacu pada konsep dalam ekonomi politik Marxis bahwa produksi dan pertukaran dalam kapitalisme diatur oleh nilai yang ditentukan oleh kerja sosial yang diperlukan, dengan konsekuensi lahirnya eksploitasi, kompetisi, dan ketimpangan dalam sistem kapitalis.
- Istilah non-antagonistik dan antagonistik dipertahankan karena merupakan istilah konstan dalam tradisi Marxis, khususnya dalam pembahasan mengenai kontradiksi sosial. Kontradiksi non-antagonistik adalah pertentangan yang masih dapat diselesaikan tanpa konfrontasi terbuka, sedangkan kontradiksi antagonistik merujuk pada pertentangan yang pada akhirnya menuntut penyelesaian melalui konflik yang lebih mendasar.
Catatan
- Deklarasi Lahore, Partai Haqooq-e-Khalq, https://haqooqekhalq.com/international-antimperialist-conference/the-lahore-declaration.
- Hamza Alavi, “The State in Post-Colonial Societies: Pakistan and Bangladesh,” New Left Review I/74 (July–August 1972).
- Aasim Sajjad Akhtar, The Politics of Common Sense: State, Society and Culture in Pakistan (Cambridge: Cambridge University Press, 2018); Kamran Asdar Ali, Surkh Salam: Communist Politics and Class Activism in Pakistan, 1947–1972 (Karachi: Oxford University Press, 2015).
- “Pakistan Escorted Iran Negotiators Home amid Israel Concerns,” Dawn, April 18, 2026, https://www.dawn.com/news/1992758; “Iranian President Praises Pakistan’s Role for Regional Peace amid Stalled U.S. Talks,” Arab News, May 17, 2026, https://www.arabnews.com/node/2643933/pakistan; “Tehran Thanks Islamabad for Extending ‘Strong Solidarity’ with Iranian Govt, People Facing U.S.-Israeli Aggression,” Dawn, March 16, 2026, https://www.dawn.com/news/1982648.
- “U.S.-Israel Attacks on Iran: Death Toll and Injuries Live Tracker,” Al Jazeera, March 1, 2026, https://www.aljazeera.com/news/2026/3/1/us-israel-attacks-on-iran-death-toll-and-injuries-live-tracker.
- Ayesha Malik, “Economic Self-Determination, the IMF, and Pakistan,” Pakistan Institute of Development Economics, 2023, https://pide.org.pk/research/economic-self-determination-the-imf-and-pakistan/.

