oleh

Layar laptop tua itu memantulkan bayangan wajah Rini yang kusam. Jam dinding di sudut ruang tengah berdenting dua kali, menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Di sekelilingnya, rumah kontrakan mereka yang beratap seng sudah hening, memantulkan sisa panas siang hari.
Di kamar, Bayu terlelap. Suaminya itu pulas dengan mendengkur halus, mengenakan kaos singlet yang bagian ketiaknya mulai menipis. Rini memandangi telapak tangan Bayu yang kapalan akibat mengangkat kardus-kardus di gudang logistik sepanjang hari. Tadi malam, sebelum tertidur, Bayu sempat menatapnya dengan mata merah kelelahan dan berkata, “Maaf ya, Rin, lemburan bulan ini dipotong. Manajemen bilang pabrik lagi sepi.” Bayu tidak malas, Rini tahu betul itu. Namun, peluh yang diperas suaminya sepuluh jam sehari tetap tidak sanggup mengejar kenaikan harga beras dan kontrakan yang saban tahun naik tanpa kompromi.
Rini mengusap punggungnya yang ngilu. Seharian ini tubuhnya tak berhenti bergerak: mengucek popok kain Arka, memasak sayur bening, menenangkan si bungsu yang rewel karena tumbuh gigi, dan mendampingi Kinan yang merajuk minta dibelikan pensil warna baru. Bagi Rini, saat anak-anak memejamkan mata dan Bayu tertidur, hari bukannya usai—melainkan jam kerjanya yang lain baru saja dimulai.
Jari-jarinya yang kasar bergerak ketik demi ketik di atas papan ketik, merapikan data stok barang sebuah toko pakaian daring milik orang lain. Imbalannya tiga ratus ribu rupiah per minggu. Uang yang sangat berarti untuk menambal kaleng susu Arka yang tinggal tersisa dua sendok lagi.
Tiga tahun lalu, Rini adalah staf administrasi perusahaan retail. Ia berhenti setelah melahirkan Kinan karena tak ada yang bisa menjaga si bayi. Ibu mertuanya tinggal jauh di pulau sebelah, sementara ibunya sendiri sudah sepuh dan sering sakit-sakitan.
Bulan lalu, saat tabungan mereka benar-benar berada di titik kritis, Rini diam-diam mencoba melamar kerja kembali. Ia merapikan riwayat hidupnya dan mengirimkannya ke belasan perusahaan via surel. Namun, sebagian besar membentur syarat yang ditulis tebal-tebal: Usia maksimal 25 tahun. Di usianya yang menginjak 32 tahun, jeda tiga tahun mengasuh anak dianggap sebagai celah kosong yang merusak nilainya. Pengalamannya mengatur keuangan rumah tangga di masa krisis atau ketelatenannya membagi waktu dianggap tidak ada artinya di lembar kualifikasi kerja.
”Kenapa tidak coba pakai pengasuh atau titip di daycare saja, Rin? Kamu kan bisa fokus kerja lagi,” saran Lastri, sesama ibu muda, saat mereka bertemu di posyandu minggu lalu.
”Nggak berani, Mbak,” jawab Rini pelan saat itu, sambil memangku Arka. “Kemarin lihat berita di grup WA, ada daycare yang pengasuhnya main tangan ke balita. Ngeri bayanginnya.”
”Ya cari yang bagus lah, yang ada CCTV-nya,” sahut Lastri ringan.
Rini hanya tersenyum pahit. Di kepalanya, jemari Rini otomatis berhitung. Jika ia diterima kerja dengan gaji UMR kota mereka—sekitar tiga setengah juta—biaya daycare berfasilitas bagus dan tepercaya akan menyedot dua juta sendiri. Belum ongkos bensin, makan siang, dan potongan sanksi kalau ia terlambat karena anak mendadak demam. Sisa uangnya mungkin tak sampai lima ratus ribu. Rini merasa seolah-olah ia harus bekerja hanya untuk membayar orang lain agar mau menjaga anaknya.
Suara langkah kaki yang tertatih memecah keheningan malam. Bayu terbangun, berjalan keluar kamar dengan mata setengah terpejam untuk mengambil air minum di dapur. Langkahnya terhenti saat melihat Rini masih bergelut dengan laptop di meja makan.
Bayu menghela napas panjang, lalu menghampiri Rini dan mengusap pundak istrinya. “Rin… belum tidur? Udah jam dua lewat.”
”Sikit lagi, Mas. Data dari klien harus dikirim sebelum jam lima pagi,” jawab Rini tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Bayu menarik kursi di sebelah Rini, lalu duduk sebentar. Matanya menatap berkas-berkas di layar laptop, lalu beralih menatap wajah Rini yang pucat. ada rasa bersalah yang mengendap di sorot mata suaminya. “Harusnya aku yang cari uang tambahan, Rin. Kamu kan siang udah capek ngurus anak-anak.”
Rini menoleh, menatap suaminya dengan lembut namun getir. “Mas mau lembur jam berapa lagi? Jam delapan pagi sampai jam tujuh malam udah di gudang. Mau melipat diri jadi dua?”
Bayu tertunduk, meremas jemarinya sendiri. “Tapi kalau kamu kurang tidur terus, nanti kamu sakit. Kita malah makin repot.”
”Aku cuma mau bantu, Mas. Susu Arka tinggal dua sendok. Lusa Kinan harus bayar uang buku TK,” bisik Rini. Suaranya gemetar, menahan beban yang selama ini ditanggungnya sendirian di balik senyuman.
Bayu tidak menjawab. Ia meraih tangan Rini, menggenggamnya erat selama beberapa detik. Tak ada solusi ajaib yang bisa ditawarkan Bayu malam itu. Mereka berdua sama-sama tahu, tidak ada pilihan yang benar-benar longgar bagi mereka.
”Aku balik ke kamar ya, Rin. Jangan subuh-subuh banget tidurnya,” kata Bayu pelan sebelum beranjak kembali ke kamar, meninggalkan keheningan yang kembali menggantung di udara.
Layar laptop Rini kembali memantulkan angka-angka stok barang. Punggungnya semakin pegal, dan matanya mulai berair menahan perih.
Di luar sana, media sosial sering menampilkan narasi tentang perempuan yang ‘hebat’—mereka yang bisa menjadi ibu yang baik sekaligus berkarier sukses. Namun malam ini, sambil menahan kantuk di atas meja makan yang berbau sisa kecap, Rini tahu realitanya tidak seindah itu. Kalau seorang ibu rumah tangga ingin mencari uang dari rumah, tidak ada keajaiban yang membantunya. Yang ada hanyalah waktu istirahat yang dipangkas dan tubuh yang dipaksa bekerja melebihi batas.
Ia memandang ke luar jendela dapur yang gelap. Di balik tembok-tembok rumah kontrakan di sepanjang gang tempatnya tinggal, Rini tahu ia tidak sendiri. Di balik jendela-jendela yang remang itu, mungkin ada ibu lain yang sedang menjahit baju pesanan hingga tengah malam, atau menggoreng adonan kue untuk dijajakan besok pagi. Mereka tidak masuk dalam laporan statistik ketenagakerjaan, tetapi tanpa malam-malam panjang yang mereka korbankan, dapur rumah tangga mereka akan mati angin.
Tombol kirim pada surel akhirnya diklik tepat saat suara azan subuh mulai berkumandang dari masjid ujung gang.
Rini memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Ia menutup laptop tua itu perlahan. Tanpa sempat membaringkan tubuhnya di kasur, Rini berjalan ke dapur, menyalakan kompor, dan mengisi panci dengan air untuk merebus air mandi Kinan dan Arka.
Hari yang baru sudah dimulai, dan jam kerjanya yang pertama kembali bergulir.
Tentang penulis
Decyana Wahyudin merupakan Ibu Rumah Tangga dan dapat dijumpai di media sosial instagram @nirmala_ant.





