10 Buku yang Wajib Dibaca Setiap Pembelajar

10 Buku yang Wajib Dibaca Setiap Pembelajar

Pengetahuan seseorang tentang realitas di sekitarnya tidak pernah berhenti terbentuk, dan proses itu mengambil banyak rupa. Ada yang mendapatkannya lewat bangku kuliah, ada yang mengasahnya lewat pengalaman kerja bertahun-tahun, namun pada dasarnya setiap orang belajar dari gesekan-gesekan kecil kehidupan sehari-hari.

Kami mengajak seluruh pembaca untuk mencari bacaan yang mampu memperluas cakrawala, mengusik cara berpikir lama, dan menajamkan perspektif terhadap dunia.

Entah Kamu baru saja memulai perjalanan belajar ini atau sudah lama menekuninya sebagai pembelajar seumur hidup, inilah kumpulan buku yang akan membantu Kamu memahami asal-mula kapitalisme, cara ia meresap ke dalam hampir seluruh sisi kehidupan kita, serta jalan-jalan untuk melawannya.

  • Genealogi Kapitalisme-FC

Buku ini menunjukan apa sebenarnya kapitalisme itu, apa prinsip-prinsip dasarnya, bagaimana cara kerjanya, dan menelusuri sejarah perkembangannya serta pranata-pranata yang menopangnya. Kapitalisme tidak dilihat sekedar sebagai sistem ekonomi, melainkan relasi sosial yang sudah merasuk ke relung-relung kehidupan kita. Hal inilah kenapa pendekatan antropologi yang digunakan dalam kajian ini menjadi pisau analisis yang tajam untuk membedah anatomi kapitalisme.

Dengan gaya penulisan yang tajam dan pendekatan kritis, Engels menjelaskan bagaimana perubahan sosial dalam bentuk sosialisme hanya dapat dicapai melalui perjuangan kelas dan transformasi struktur ekonomi–sesuatu yang tidak ditekankan dalam sosialisme utopis. Sebagai panduan komprehensif, buku ini tidak hanya mengkritik pandangan romantis para pemikir utopis, tetapi juga menawarkan landasan teoritis yang solid bagi gerakan sosialisme.

Dewasa ini, kian banyak orang meyakini bahwa kemerosotan sistem daya dukung kehidupan di bumi tengah menuntun kita ke arah bencana. Baik aktivis lingkungan maupun bukan, makin banyak orang yang peduli akan lingkungan dan mengambil langkah-langkah kecil dalam hidup keseharian guna melindungi planet ini. Namun seiring semua itu, kerusakan lingkungan nyatanya juga semakin parah. Bagaimana men­jelaskan kontradiksi ini?

Buku Kebohongan Kemakmuran Global karya Seth Donnelly berupaya untuk menguliti kepalsuan di balik angka statistik. Donnelly memaparkan bagaimana institusi keuangan global, khususnya Bank Dunia, membingkai ulang kemiskinan ekstrem sedemikian rupa sehingga dunia tampak lebih makmur daripada yang sebenarnya. Bagi pembaca Indonesia, kritik ini terasa relevan, sebab fenomena serupa terjadi di negeri ini: garis kemiskinan resmi pemerintah, meski dihasilkan melalui metode yang terdengar ilmiah, kerap kali terlalu rendah sehingga menghapus jutaan orang yang sesungguhnya hidup dalam kemiskinan dari laporan resmi pemerintah.

Dalam buku ini, Dimitris Milonakis dan Ben Fine berargumen bahwa ilmu ekonomi telah menjadi monolitik, formalistik, dan autistik karena dominasi ortodoksi neoklasik, padahal dahulu kaya, beragam, multidimensi, dan pluralistik. Mereka melacak bagaimana political economy berubah menjadi economics melalui desosialisasi dan dehistorisasi, serta pemisahan dari ilmu sosial lain—terutama sejarah ekonomi dan sosiologi—sehingga upaya terbaru dari dalam arus utama untuk memasukkan aspek sosial-historis gagal mengakui debat lama dan menghasilkan konten historis-sosial yang miskin. Buku ini membahas pergeseran peran sejarah dan sosial dalam teori ekonomi, batas antara ekonomi dan non-ekonomi, serta sekolah dan tokoh yang terpinggirkan—seperti political economy klasik dan Marx, mazhab historis Jerman dan Inggris, institusionalisme Amerika, Weber dan Schumpeter dengan Socialökonomik, serta mazhab Austria—sekaligus perkembangan arus utama dari marginalisme, Marshall, Keynes, hingga teori keseimbangan umum dan benturan antarkubu seperti Methodenstreit. Tujuan utamanya adalah mengembalikan political economy ke agenda dengan memperlakukan ekonomi sebagai ilmu sosial, bukan ilmu positif, melampaui batas ilmu sosial tetapi berlawanan arah dengan “imperialisme ekonomi”, agar aspek sosial dan historis dapat diintegrasikan kembali ke dalam korpus utama political economy.

Apakah kapitalisme lahir akibat revolusi industri atau justru hasil dari revolusi borjuis di Prancis? Apakah kapitalisme muncul dari daerah perkotaan? Apakah kapitalisme telah ada sejak manusia ada dan kemudian menunjukkan wujudnya ketika terjadi peningkatan skala perdagangan komersial?

Sesudah Uni Soviet runtuh, kapitalisme sempat disanjung sebagai keniscayaan sejarah. Namun krisis demi krisis di abad ke-21 menyadarkan banyak orang bahwa cita-cita sosialisme tidak berakhir dengan Uni Soviet. Semangat Revolusi Oktober nyatanya terus menginspirasi perjuangan demi dunia yang lebih adil. Inilah revolusi yang membuktikan bahwa kelas bu­ruh dan tani bisa menggulingkan pemerintah auto­kratik dan membentuk pemerintahan sendiri dalam rupa gambarannya.

Buku ini bukan kajian komprehensif, melainkan buku kecil dengan harapan besar: menjelaskan kekuatan Revolusi Oktober bagi emansipasi negara-negara jajahan.

Berbagai ilustrasi relasi kelas pekerja dan kapital pada buku ini sedikit banyak menyingkap bentuk-bentuk pengontrolan kapital dan perlawanan pekerja yang menyertainya. Sebagai suatu ‘tinjauan awal’ terhadap relasi kelas pekerja dan kapital di Indonesia, buku ini diharapkan mampu menyediakan ilham, seberapa pun kecilnya, bagi studi-studi yang lebih menyeluruh di kemudian hari.

Buku ini menggali kaitan antara ideologi neoliberalisme dan gerakan sosial di Indonesia pasca Soeharto melalui perspektif “totalitas”. Penulis menghadirkan gambar utuh tentang operasi neoliberalisme – dari kebijakan efisiensi negara, institutionalisasi demokrasi liberal yang menguntungkan elite, peran aktor global, hingga penundukan gerakan masyarakat sipil. Pendekatan komparatif dengan pengalaman negara lain, memperkaya imajinasi dan pengetahuan pembaca, akan alternatif pembangunan di luar ideologi neoliberalisme. Buku yang sangat penting dibaca khalayak umum, akademisi, aktivis, dan rakyat kebanyakan.
—Amalinda Savirani, Guru Besar Ilmu Politik Pemerintahan Fisipol UGM

Dunia yang Hendak Kita Wujudkan adalah sebuah buku yang lugas, yang menyerukan perlunya gerakan internasional yang dapat mengalahkan tatanan dunia ini, dalam rangka untuk mengajukan sebuah dunia yang lebih baik. Analisis Samir Amin yang tegas membenkan basis yang kokoh untuk memajukan tujuan-tujuan revolusioner di abad ini.