Imperialisme, penyangkalan kedaulatan yang menopang kapitalisme global, adalah kontradiksi pokok

Imperialisme adalah kontradiksi pokok

Esai ini didasarkan pada kuliah yang disampaikan oleh Bikrum Gill untuk Unit kedua kurikulum People’s Academy. Kamu dapat memperoleh program lengkapnya — termasuk rekaman kuliah tersebut — dengan mendaftar di The People’s Academy.

Pendahuluan

Apa itu imperialisme? Apa artinya memikirkannya sebagai kontradiksi pokok? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk memahami konjungtur kita saat ini1 — genosida di Palestina, perluasan perang imperialis terhadap Iran — dan untuk menempatkan konflik-konflik tersebut dalam perjuangan historis yang lebih luas.

Penting bagi kita untuk memikirkan imperialisme secara khusus dalam bentuk kapitalisnya, sebagaimana diteorikan oleh Vladimir Lenin. Namun kita juga harus memahaminya dalam kerangka yang disebut Samir Amin sebagai perjuangan kelas dalam skala dunia. Mengapa ini penting? Karena kita tidak dapat memahami imperialisme semata-mata sebagai sistem yang bergerak dengan daya dorongnya sendiri. Di sinilah barangkali kita menemui batas pada yang disampaikan Lenin, atau perlu memperluas pendekatannya.

Jika membaca Lenin, tampaknya imperialisme muncul dari dorongan internal kapital di negara inti, berubah menjadi imperialisme, lalu bergerak semakin jauh ke luar. Tetapi apa artinya memikirkan imperialisme sebagai sesuatu yang terletak di dalam perjuangan kelas skala dunia — sebagai respons terhadap anti-imperialisme, terjerat dalam perebutan kepemilikan alat-alat produksi secara global, sebuah konflik antara bangsa-bangsa penindas atau bangsa inti dan bangsa-bangsa tergantung?2

Kolonialisme, Imperialisme, dan Penyangkalan Kedaulatan

Bagaimana kita memahami konsep imperialisme, dan bagaimana membedakannya dari kolonialisme? Keduanya berlandaskan penyangkalan kedaulatan terhadap rakyat yang ditundukkan. Ini adalah premis kunci: bangsa-bangsa inti, bangsa-bangsa imperialis, bangsa-bangsa kolonial, semuanya berpijak pada penyangkalan kedaulatan. Melalui penyangkalan ini, mereka mengarahkan ulang rakyat yang ditundukkan beserta tanah dan wilayahnya — yang disebut Lenin sebagai wilayah ekonomi — agar melayani kepentingan entitas perampas.

Kolonialisme dapat dipahami sebagai hubungan satu-lawan-satu antara penjajah dan terjajah: kolonialisme Prancis di Aljazair, misalnya, atau kolonialisme Inggris di India.3 Imperialisme, sebaliknya, beroperasi dalam skala sistem-dunia, atau setidaknya dalam skala regional yang lebih luas dan melibatkan banyak unit, melampaui hubungan satu-lawan-satu. Imperialisme bahkan tidak perlu melibatkan penguasaan wilayah secara langsung. Sebagaimana dikemukakan Kwame Nkrumah, sebuah wilayah dapat memiliki kedaulatan formal — tidak berada langsung di bawah kekuasaan teritorial — namun tetap terjerat dalam sistem dunia imperialisme yang lebih luas, yang dengannya kedaulatannya secara efektif disangkal dan sumber dayanya diarahkan ke negara inti.

Pembedaan ini penting karena sebuah bangsa bisa mengakhiri penjajahan, tetapi tetap berada di dalam sistem imperialis yang membatasi kedaulatan. Sebuah negara dapat memenangkan kemerdekaan dan memiliki uranium di wilayahnya, tanpa sarana untuk mengolahnya — tanpa sarana untuk mengubah sumber dayanya menjadi barang jadi atau barang industri yang dengannya ia dapat membangun kekuatan keras yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan. Perang besar abad kedua puluh belum tentu merupakan perang antarkekuatan Eropa dalam dua perang dunia, melainkan perjuangan pembebasan nasional yang lebih panjang di tanah-tanah jajahan.4 Kemenangan mungkin telah diraih oleh bangsa-bangsa terjajah atas hubungan satu-lawan-satu kolonialisme, tetapi struktur sistem-dunia yang lebih luas tetap bertahan.

Lenin tentang Kapitalisme Monopoli

Bagi Lenin, imperialisme adalah kapitalisme pada tahap monopolinya.5 Ia menelaah cara kapitalisme berkembang secara kontradiktif: pada satu tahap di awal abad kesembilan belas, ia adalah sistem persaingan pasar bebas, dengan perusahaan-perusahaan kapitalis saling bersaing, mengembangkan kekuatan-kekuatan produktif, dan mengeksploitasi tenaga kerja. Tetapi melalui persaingan antarperusahaan ini, persaingan pasar bebas pada akhirnya berubah menjadi kebalikannya: monopoli. Nasib kapitalisme adalah kapitalisme monopoli. Ia bukanlah persaingan pasar bebas yang terus-menerus melahirkan inovasi dan gerak maju masyarakat, betapapun eksploitatifnya. Sepanjang abad kesembilan belas, produksi menjadi dikuasai oleh kartel dan trust.

Ambil contoh sebuah pasar tempat sepuluh perusahaan bersaing memproduksi suatu barang: setelah putaran-putaran persaingan yang berurutan, tersisa dua. Produksi kini terkonsentrasi pada satu perusahaan lebih besar daripada sebelumnya, dan perusahaan-perusahaan yang bertahan menyerap ke dalam dirinya semakin banyak cabang produksi — misalnya, sebuah perusahaan tekstil dapat menjadi produsen tidak hanya pakaian, tetapi juga sebagian bahan baku yang dipakai untuk membuat pakaian.

Maksud Lenin bukan sekadar bahwa kapitalisme berubah menjadi sistem monopoli para industrialis yang memusatkan produksi pada perusahaan-perusahaan yang lebih besar. Ia secara khusus menjadi apa yang disebutnya kapitalisme monopoli finansial. Kepemilikan monopoli itu dipegang bukan oleh kapitalis industri, melainkan oleh kapital perbankan, oleh kapital finansial — mereka yang menyalurkan modal dan pinjaman kepada para kapitalis industri. Para kapitalis finansial tidak berupaya menghasilkan laba dari produksi nyata; mereka mencari laba dari pinjaman yang mereka berikan, dari pembayaran bunga — apa yang disebut Lenin sebagai “memotong kupon” (clipping the coupons).6

Ada sesuatu yang sekaligus parasitik dalam proses ini, tetapi juga sesuatu yang berpotensi progresif, dalam arti bahwa ia semakin menyosialisasikan produksi. Dengan memusatkan lebih banyak tenaga kerja ke dalam perusahaan-perusahaan tunggal, produksi menjadi tersosialisasi. Syarat-syarat bagi transisi menuju sosialisme sudah tersedia: orang hanya perlu mengambil perusahaan-perusahaan besar ini dan mengubah kepemilikannya yang terkonsentrasi dari privat menjadi sosialis. Tetapi hal itu tidak terjadi — karena imperialisme.

Pada tahap kapitalisme monopoli finansial, kapital mengalami krisis profitabilitas atau akumulasi berlebih. Karena kepemilikan monopoli, laba terkonsentrasi di tangan yang lebih sedikit. Surplus kapital menumpuk, tetapi perusahaan monopoli tidak dapat menemukan bidang baru untuk investasi ulang yang menguntungkan, sebab sektor-sektor lain dikuasai monopoli yang tak dapat disaingi. Jika ada kelebihan surplus kapital, kapital itu pada prinsipnya dapat dipakai untuk tujuan-tujuan sosial: membangun infrastruktur, berinvestasi dalam pendidikan, layanan kesehatan, transportasi, menaikkan upah, mengangkat taraf hidup. Tetapi tujuan kapital bukan hanya laba, melainkan juga pemeliharaan kekuasaan atas kelas pekerja, dan langkah-langkah [sosial] semacam itu akan mengurangi kekuasaan tersebut.

Di sinilah Lenin berargumen bahwa kapital finansial monopoli mendorong pencarian bidang-bidang baru untuk investasi ulang yang menguntungkan, yang mengarah pada ekspor kapital ke tanah-tanah jajahan. Apa yang semestinya dapat menuju sosialisme — para pekerja di perusahaan-perusahaan monopoli yang terkonsentrasi berjuang merebut bagian lebih besar dari surplus yang terakumulasi — ditunda, karena surplus itu diarahkan ke luar, menuju apa yang disebut Lenin sebagai “bangsa-bangsa terbelakang”. Surplus itu membangun jalur kereta api di tanah-tanah jajahan yang menguras sumber daya, memberi akses ke tenaga kerja yang lebih murah, dan, dengan memaksakan kondisi ketergantungan, memaksa negara-negara tergantung untuk menyediakan tenaga kerja murah dan sumber daya murah bagi negara inti. Ekspor kapital dan finansial dari inti ke periferi ini memperdalam hubungan ketergantungan, memaksa negara-negara penerima kapital ekspor untuk mengarahkan ulang ekonomi mereka demi melayani negara inti. Hal ini menghasilkan laba super (super-profits) bagi kapital yang berakumulasi berlebih, membuat periferi terbelakang, dan membeli kesetiaan lapisan-lapisan tertentu kelas pekerja di negara inti lewat perbaikan taraf hidup yang sederhana.

Nkrumah memperluas argumen Lenin. Ketika Lenin menulis, ekspor kapital terjadi melalui penegakan kendali teritorial secara langsung — perebutan Afrika (scramble for Africa), yang diresmikan dalam Konferensi Berlin, ketika kekuatan-kekuatan Eropa mengambil alih kendali berdaulat atas benua Afrika, dan penjajahan Asia pada abad kesembilan belas, terutama penjajahan India. Nkrumah berpendapat bahwa bahkan ketika negara-negara merebut kembali kedaulatan formal, keharusan kapitalisme untuk mempertahankan saluran imperialisnya mereproduksi dirinya tanpa kendali teritorial langsung. Negara-negara mungkin berdaulat secara formal, tetapi akses mereka terhadap kredit dan kapital tetap berada di bawah kendali kekuatan-kekuatan imperialis, dan jika ingin berkembang, mereka harus menyetujui syarat-syarat perdagangan yang terus memungkinkan terkurasnya laba super dari periferi ke inti. Di sinilah kita melihat Nkrumah berbicara tentang neo-kolonialisme sebagai bentuk ketergantungan ekonomi.7

Imperialisme sebagai Kontradiksi Pokok

Apa artinya ini bagi pemahaman kita tentang imperialisme sebagai kontradiksi pokok? Baik Lenin maupun Nkrumah tampaknya mengisyaratkan bahwa kontradiksi-kontradiksi dalam hubungan kapital-tenaga kerja di negara inti — dalam persaingan antarperusahaan — melahirkan imperialisme. Ini tampaknya menjadikan imperialisme sebagai kontradiksi sekunder. (Konsep kontradiksi pokok dan sekunder berasal dari Mao, yang dalam On Contradiction berargumen bahwa pada suatu momen tertentu di Tiongkok, imperialisme adalah kontradiksi pokok — artinya kontradiksi yang menekan semua kontradiksi lainnya.)8 Pertanyaannya adalah apakah imperialisme merupakan kontradiksi yang mengarahkan kontradiksi kapital-tenaga kerja, ataukah sebaliknya.

Jika Lenin berargumen bahwa imperialisme muncul dari kontradiksi-kontradiksi di negara inti, maka ia belum tentu utama; yang perlu ditangani adalah relasi-relasi kepemilikan di negara inti. Seandainya para pekerja adalah kelas pemilik pada tahap kapitalisme monopoli finansial, tidak akan ada daur ulang kapital berakumulasi berlebih ke tanah-tanah jajahan, tidak akan ada ekspor kapital. Para pekerja akan mengambil surplus itu dan mendaur ulangnya ke dalam masyarakat mereka sendiri. Namun pada saat yang sama, Lenin berargumen bahwa revolusi di negara inti tidak akan terjadi selama imperialisme bertahan. Hanya ketika bangsa-bangsa tergantung mengatasi imperialisme — mengatasi pengurasan kekayaan yang dipaksakan oleh ekspor kapital — kontradiksi-kontradiksi kelas di negara inti akan menajam dan revolusi menjadi mungkin.

Hal ini mengajukan pertanyaan strategis bagi para pengorganisasi di negara inti. Apakah perjuangan di sana perlu menyasar, melalui perjuangan kelas, perusahaan-perusahaan monopoli Amerika Serikat — perusahaan-perusahaan senjata, perusahaan-perusahaan farmasi? Akankah melemahnya kekuasaan itu menciptakan ruang bagi bangsa-bangsa periferi untuk menantang imperialisme dengan lebih efektif? Dan apakah perlawanan dari periferi — kemampuan Iran bertahan menghadapi perang imperialis, kemampuan bangsa-bangsa lain menolak tuntutan AS — pada gilirannya menajamkan kontradiksi-kontradiksi di negara inti? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang dipaksakan oleh kerangka kontradiksi pokok dan sekunder kepada setiap strategi yang mengklaim bertindak dalam solidaritas dengan periferi.

Di sini kita harus beralih kepada Samir Amin, Patnaik, dan tradisi sistem-dunia, yang menambahkan sesuatu yang krusial.9 Amin berargumen bahwa imperialisme selalu menjadi komponen kapitalisme — tidak pernah ada kapitalisme tanpa imperialisme. Ini membantu kita memikirkan kontradiksi pokok dengan cara yang berbeda. Jika kita membaca Amin dan khazanah kajian sistem-dunia dengan cermat, kapitalisme tidak mungkin muncul dan stabil tanpa landasan imperialis. Sejak abad keenam belas yang panjang hingga abad kesembilan belas, kemunculannya sendiri selalu bergantung pada imperialisme.10

Mengapa? Patnaik berargumen dalam Capital and Imperialism bahwa kapitalisme tidak dapat eksis pada titik mana pun tanpa imperialisme, karena tanpanya sistem ini hanya dapat melakukan reproduksi sederhana — ia tidak dapat melakukan akumulasi yang diperluas, akumulasi tanpa akhir. Hubungan kapital-tenaga kerja sepenuhnya merampas tenaga kerja: kelas kapitalis menghasilkan surplus dari kelas pekerja yang terampas, tetapi kelas pekerja ini hanya dapat mereproduksi dirinya melalui pasar. Kapital berupaya menekan upah, tetapi para pekerja juga harus menjadi konsumen. Di sinilah Lenin mengambil salah satu komponen dari apa yang disebut Marx sebagai hukum nilai: persaingan/kompetisi menekan upah para pekerja dan biaya barang, namun para pekerja tetap harus mampu berfungsi sebagai konsumen untuk mereproduksi kehidupan mereka sendiri. Bagaimana upah dapat ditekan dan pasar tumbuh sekaligus? Ada kontradiksi yang melumpuhkan antara laba, penekanan upah, dan kebutuhan akan kelas yang mengonsumsi. Inilah yang berulang kali melahirkan masalah akumulasi berlebih, produksi berlebih, dan apa yang oleh Patnaik disebut sebagai ancaman terhadap nilai uang.

Kontradiksi ini secara historis diselesaikan melalui imperialisme — bukan sebagai tahap tertinggi, melainkan sebagai fondasi kapitalisme itu sendiri. Hubungan kapital-tenaga kerja tidak akan pernah mengonsolidasikan diri tanpa landasan imperialis. Yang memungkinkan para pekerja untuk sekaligus dieksploitasi dan berfungsi sebagai konsumen adalah kemampuan menarik input/masukan murah dari tanah-tanah jajahan dan periferi imperialis. Selain kapital dan tenaga kerja, ada kategori-kategori tenaga kerja dan sumber daya di luar negara inti yang dapat dirampas tanpa memperhitungkan kondisi reproduksinya. Harga dipaksakan kepada para petani di tanah-tanah jajahan karena mereka telah kehilangan kedaulatan — apa yang disebut Patnaik sebagai kategori tenaga kerja “penerima harga” (price-taking). Ini bukan para pekerja dan serikat buruh yang menawar upah; ini adalah pemaksaan harga melalui penyangkalan kedaulatan.

Ketika Lenin berbicara tentang “bangsa-bangsa terbelakang” yang menerima ekspor kapital, muncul pertanyaan: mengapa bangsa-bangsa ini terbelakang? Bagaimana mereka bisa tertinggal dari negara-negara kapitalis Eropa? Jawabannya terletak pada relasi-relasi imperialisme kolonialis yang sudah ada sejak abad keenam belas, ketujuh belas, kedelapan belas, dan kesembilan belas — relasi-relasi yang menjadikan negara-negara periferi tergantung dan menundukkan mereka pada pengurasan kekayaan sejak kapitalisme bermula. Jadi imperialisme selalu menjadi fondasi kapitalisme. Kamu tidak dapat memiliki hubungan kapital-tenaga kerja yang eksis pada titik mana pun tanpa landasan imperialis. Karena itu, imperialisme adalah kontradiksi pokok. Penyangkalan kedaulatan terhadap rakyat, yang melaluinya harga dipaksakan, kuasa penetapan harga dijalankan, dan posisi penerima harga dipaksakan kepada periferi, memungkinkan perpindahan input murah ke industri negara inti dan barang murah bagi para pekerja untuk dikonsumsi. Di bawah kapitalisme, imperialisme didefinisikan pada tingkat yang paling mendasar sebagai kuasa berdaulat atas aliran kapital ekonomi melintasi ruang.

Dua Kaki Imperialisme

Bagaimana imperialisme ditegakkan? Amin menyediakan kerangka yang krusial. Ia mengatakan bahwa imperialisme berjalan dengan dua kaki — kaki militer dan kaki ekonomi. Sejak abad keenam belas dan seterusnya, fondasi imperialis kapitalisme ditegakkan melalui penerapan kekuatan militer dan kekerasan terhadap periferi. Melalui kekuatanlah kedaulatan disangkal, dan melalui penyangkalan itulah kekayaan ekonomi terkuras dari periferi ke inti, menciptakan kondisi bagi kaki kedua. Negara-negara periferi menjadi bergantung pada inti untuk akses terhadap kapital, dan ketergantungan dipertahankan tidak hanya melalui kekuatan militer tetapi juga melalui kekuatan ekonomi. Inilah sebabnya tatanan imperialis Barat berupaya mempertahankan kendali monopoli bahkan atas kekerasan militer — melalui NATO dan instrumen-instrumen lain — membatasi kedaulatan periferi.

Perang Opium pada abad kesembilan belas menggambarkan hal ini secara konkret. Tiongkok selama ribuan tahun berada di garis depan ekonomi dunia, dan Eropa kerap bergantung pada Tiongkok. Hubungan ini diubah melalui kekuatan militer. Sebuah aliansi kekuatan Eropa memerangi Tiongkok, menaklukkannya, dan membatasi kedaulatannya. Dengan merebut Hong Kong dan pelabuhan-pelabuhan lain, mereka mengendalikan harga yang dikenakan atas pergerakan barang keluar-masuk Tiongkok. Jika Inggris kalah bersaing dari Jerman dan Amerika Serikat, ia dapat menutup defisit itu dengan memaksa Tiongkok membeli barang-barang industrinya yang kian merosot. Kekayaan terkuras, dan setelah satu abad, Tiongkok mengalami defisit total kapital ekonomi. Dengan menerapkan kekuatan militer, imperialisme menciptakan ketergantungan ekonomi.

Amin menyampaikan poin yang krusial: jika imperialisme berjalan dengan dua kaki; kekuatan militer dan ekonomi, anti-imperialisme pun harus berjalan dengan dua kaki. Ini kunci untuk memahami momen kita saat ini. Berbagai kekuatan anti-imperialis pada paruh akhir abad kedua puluh hingga hari ini telah berjalan dengan satu kaki atau kaki yang lain. Tetapi bagaimana kita dapat membayangkan kedua kaki itu berjalan bersama?

Ketika kita memikirkan imperialisme dalam skala dunia dari sudut pandang perjuangan kelas, kita sedang memikirkan bagaimana rakyat di periferi berupaya merebut kembali kedaulatan dengan menantang basis militer dan ekonomi dari kekuasaan imperial. Ketika satu kaki ditantang, imperialisme menggunakan kaki yang lain untuk membendung tantangan itu. Revolusi Haiti adalah contoh yang jelas dari abad kesembilan belas: Haiti mengalahkan basis militer imperialisme, tetapi tidak mampu melawan serangan ekonomi.11 Blokade dijatuhkan, akses kapital [modal] dibekukan. Bisa ada ekspor kapital, tetapi bisa pula ada ancaman pembekukan kapital — penolakan akses ke pasar modal — yang memaksa negara yang tertundukkan itu masuk ke dalam kondisi terkepung terus-menerus, atau mengalah dan menerima syarat-syarat yang dipaksakan oleh kekuatan imperialis.

Pola ini berulang sepanjang abad kedua puluh. Rakyat di periferi berjuang merebut kembali kedaulatan, mengarahkan ulang sumber daya dan tenaga kerja mereka menuju pembangunan nasional, membangun infrastruktur dan program industri yang dengannya mereka dapat menjadi tuan atas nasib mereka sendiri. Tetapi setiap kali ada upaya merebut kembali kedaulatan — baik melalui kekuatan senjata maupun melalui program ekonomi berupa nasionalisasi dan pembangunan — selalu ada langkah kontra-revolusioner dari imperialisme untuk membendungnya. Iran adalah contoh konkret: pada 1953, Iran mencoba menasionalisasi minyaknya untuk menciptakan kondisi bagi pengatasan ketergantungan. Sebuah kudeta dipaksakan.12 Revolusi 1979 adalah upaya merebut kembali kendali atas sumber daya nasional negara itu. Ketika opsi militer — perang proksi yang dilancarkan Irak terhadap Iran — gagal memberlakukan kembali kekuatan militer, AS beralih ke sanksi, berupaya mengendalikan periferi melalui cara-cara ekonomi.

Intinya, imperialisme tidak hanya bergerak dengan daya dorongnya sendiri; ia juga merespons perjuangan kelas dalam skala dunia. Sanksi diberlakukan bukan demi sanksi itu sendiri, melainkan untuk membendung perjuangan pembebasan dan upaya merebut kembali kedaulatan substantif atas sumber daya. Jika negara-negara seperti Iran atau Kuba menerima status neo-kolonial, mereka tidak akan dikenai perang dan sanksi terus-menerus — tetapi mereka pun tidak akan berdaulat.

Basis Kelas Kedaulatan

Ada komponen kedua dalam persoalan imperialisme dan perjuangan kelas. Ketika negara-negara di periferi berupaya merebut kembali kedaulatan, perjuangan kelas juga terjadi di dalam negara-negara tersebut. Wilayah terjajah tidak terdiri atas satu kelas tunggal: ada elite komprador, borjuasi yang baru tumbuh, kelas pedagang, pekerja, dan petani.13 Apa hubungan antara kontradiksi-kontradiksi kelas internal ini dengan upaya merebut kembali kedaulatan?

Lenin, dalam tesisnya tentang masalah nasional dan kolonial, berargumen bahwa mungkin perlu bersekutu dengan borjuasi di periferi, karena penyelesaian hubungan kolonial dan imperial harus didahulukan, dan revolusi proletar dapat menyusul.14 Hal ini masuk akal sebagai cara memikirkan imperialisme sebagai kontradiksi pokok, dengan kontradiksi-kontradiksi lain tetap sekunder hingga kelak menjadi utama. Tetapi seperti dikemukakan Fanon dan Amin, untuk benar-benar meraih kedaulatan diperlukan revolusi anti-imperial dan anti-kolonial yang berpusat pada kaum tani — revolusi yang kekuasaan kelasnya terletak pada kaum tani dan kelas-kelas pekerja, bahkan borjuasi tidak serta-merta disingkirkan. Sumber daya pembangunan nasional harus didaur ulang kembali ke dalam negeri, menghasilkan bentuk pembangunan yang lebih universal — bukan yang mengembangkan borjuasi melalui relasi neo-kolonial, melainkan yang mengembangkan seluruh negeri. Ada hubungan antara basis kelas dekolonisasi dan anti-imperialisme dengan pencapaian kedaulatan sejati: pembangunan negara kuat yang diperlukan untuk melawan imperialisme, bergerak bersama gerakan-gerakan dan perjuangan rakyat di akar rumput.

Imperialisme AS Hari Ini

Setelah Perang Dunia Kedua, imperialisme bertransformasi menjadi apa yang disebut Amin sebagai imperialisme kolektif. Amerika Serikat menegakkan dirinya sebagai kekuatan imperialis utama, dengan Eropa dan Jepang — yang disebut Amin sebagai “triad” — berada sebagai kekuatan subordinat. Eropa dan Jepang menerima hal ini karena mereka membutuhkan kepemimpinan AS untuk mengelola dan mengendalikan kebangkitan Selatan pada era dekolonisasi.15 Imperialisme AS dengan demikian beroperasi di dua front: menegakkan neo-kolonialisme atas periferi sembari mempertahankan kendali atas Eropa dan Jepang. Salah satu mekanisme kuncinya adalah mengendalikan aliran energi masuk dan keluar Eropa, mempertahankan ketergantungan Eropa pada Amerika Serikat dan menjaganya tetap patuh.

Imperialisme AS juga muncul pada era dekolonisasi dan mengonsolidasikan diri dengan menghadapi serangkaian tantangan tertentu. Amerika Serikat tidak memiliki akses ke tanah-tanah jajahan seperti yang dimiliki Inggris; ia harus merekonstruksi sistem imperialisme dengan syarat-syarat neo-kolonial yang digambarkan Nkrumah. Komponen kuncinya adalah hubungan yang dibangun antara minyak dan dolar — menautkan pembelian minyak di pasar internasional dengan dolar AS. Jika kita memikirkan analisis Lenin tentang hubungan antara kapital perbankan dan kapital industri, kita dapat memperluasnya ke kekuasaan dolar AS, yang berpijak pada keterkaitannya dengan minyak, hubungan AS-Arab Saudi, dan kendali AS atas Asia Barat.16 Hal ini menghasilkan kekuatan finansial yang dengannya Amerika Serikat memberlakukan kembali relasi-relasi ketergantungan atas Selatan setelah 1970-an.

Dengan runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat mampu memaksakan ketergantungan yang lebih besar lagi. Tetapi dua tantangan terhadap imperialisme AS, yang kerap kurang diperhatikan, yang dimulai pada 1980-an dan 1990-an. Tiongkok menghadirkan tantangan terhadap kaki ekonomi imperialisme AS; Republik Islam Iran, dan kemudian Rusia, memberikan tantangan terhadap kaki militernya. Hari ini, yang dipertaruhkan di Asia Barat dan sekitarnya adalah upaya AS untuk memberlakukan kembali basis militer dan ekonomi dari tatanan imperialisnya.

Amerika Serikat menyasar Tiongkok karena Tiongkok telah menantang kekuatan finansial kapitalisme monopoli finansial AS dengan menawarkan kepada negara-negara Global Selatan akses ke kapital dan surplus dengan cara yang membebaskan mereka dari pembangunan yang bergantung. Di Asia Barat, kekuatan militer yang dengannya Amerika Serikat menegakkan hubungan minyak-dolar — melalui proksi Zionis dan Saudi-nya — telah ditantang secara fundamental oleh Revolusi Islam di Iran, oleh Hizbullah, oleh Ansar Allah di Yaman.17 Ada sesuatu yang bersifat eksistensial yang dipertaruhkan bagi Amerika Serikat dalam menegakkan kembali supremasi militer yang mutlak, yang coba ditunjukkannya terhadap Iran — tetapi tidak berhasil.

Yang kita saksikan dalam perjuangan anti-imperialis adalah konvergensi antara tantangan-tantangan militer dan ekonomi ini. Kemampuan Iran menghadapi sanksi berkaitan dengan kemampuan Tiongkok menawarkan kepada Iran kedalaman ekonomi dan sebuah arsitektur ekonomi yang dengannya ia dapat mengatasi sanksi. Kemampuan Tiongkok melanjutkan program ekonominya tidak lepas dari kemampuan Iran melawan imperialisme AS secara militer di Asia Barat sejak 1980-an hingga hari ini, atau dari kemampuan Rusia menghalangi proyeksi kekuatan militer AS di perbatasannya. Seperti yang baru-baru ini dikatakan menteri luar negeri Tiongkok: kekalahan Rusia adalah sesuatu yang tidak dapat dibiarkan Tiongkok — itu akan menjadi bencana bahkan bagi proyek pembangunan Tiongkok.

Kuliah ini sebelumnya dipublikasi dalam bahasa Inggris di Progressive International dan Monthly Review. Dengan berkorespondensi (izin penerjemahan dan penyesuaian konteks untuk pembaca Indonesia), kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan di sini oleh redaksi PB sebagai bahan belajar.

Catatan

  1. Catatan penerjemah (Cp): “Konjungtur” (conjuncture) adalah istilah dalam tradisi Marxis (terutama Gramsci dan Althusser) untuk konstelasi khusus kekuatan-kekuatan politik, ekonomi, dan sosial pada suatu momen historis tertentu — bukan sekadar “situasi saat ini”. Istilah ini sudah lazim dipakai dalam literatur Marxis berbahasa Indonesia.
  2. Cp: Dalam esai ini, core diterjemahkan sebagai “inti” dan periphery sebagai “periferi” (atau “pinggiran”), mengikuti kosakata teori ketergantungan dan sistem-dunia (Wallerstein, Amin, Frank). “Inti” merujuk pada negara-negara kapitalis maju (Amerika Utara, Eropa Barat, Jepang), sedangkan “periferi” merujuk pada negara-negara bekas jajahan dan negara berkembang. Dependent nations diterjemahkan “bangsa-bangsa tergantung”, merujuk pada teori ketergantungan (dependency theory).
  3. Cp: Bagi pembaca Indonesia, kolonialisme Belanda di Hindia Belanda (Nusantara) termasuk dalam pola hubungan satu-lawan-satu ini: satu kekuatan penjajah atas satu wilayah jajahan.
  4. Cp: Penulis menyiratkan bahwa perang-perang pembebasan nasional di tanah jajahan — contohnya di Asia, Revolusi Nasional Indonesia (1945–1949) — lebih menentukan arah sejarah abad ke-20 daripada Perang Dunia I dan II. Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955) adalah salah satu momen penting dalam arus sejarah ini.
  5. Cp: Argumen Lenin ini terutama dikembangkan dalam Imperialism, the Highest Stage of Capitalism (1916), yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Imperialisme, Tahap Tertinggi Kapitalisme.
  6. Cp: “Memotong kupon” (clipping the coupons) merujuk pada praktik pemegang obligasi memotong kupon dari surat obligasi untuk menukarkannya dengan pembayaran bunga. Lenin memakainya sebagai metafora bagi golongan rentier, yakni kelompok yang hidup dari bunga dan dividen tanpa terlibat dalam produksi.
  7. Cp: Kwame Nkrumah (1909–1972), presiden pertama Ghana, mengembangkan konsep ini dalam Neo-Colonialism: The Last Stage of Imperialism (1965). Pembaca Indonesia mungkin mengenal gagasan serupa dalam istilah “Nekolim” (neo-kolonialisme, kolonialisme, dan imperialisme) yang dipopulerkan Presiden Sukarno pada era Demokrasi Terpimpin.
  8. Cp: Esai Mao Zedong “Tentang Kontradiksi” (On Contradiction, 1937) membedakan kontradiksi pokok (yang menentukan perkembangan suatu proses pada tahap tertentu) dari kontradiksi sekunder. Dalam konteks Tiongkok pada masa itu, Mao menilai kontradiksi antara bangsa Tiongkok dan imperialisme (khususnya Jepang) sebagai kontradiksi pokok.
  9. Cp: “Patnaik” mengacu pada Utsa Patnaik dan Prabhat Patnaik, pasangan ekonom Marxis India yang menulis bersama Capital and Imperialism: Theory, History, and the Present (2021). Samir Amin (1931–2018) adalah ekonom Marxis Mesir-Prancis, tokoh utama teori ketergantungan dan sistem-dunia.
  10. Cp: “Abad keenam belas yang panjang” (the long sixteenth century) adalah istilah sejarawan Fernand Braudel dan kemudian Immanuel Wallerstein untuk periode kira-kira 1450–1640, ketika ekonomi-dunia kapitalis mulai terbentuk bersamaan dengan ekspansi Eropa ke Amerika, Afrika, dan Asia — termasuk kedatangan Portugis dan kemudian Belanda di Nusantara.
  11. Cp: Revolusi Haiti (1791–1804) adalah revolusi budak yang melahirkan republik merdeka pertama yang dipimpin mantan budak. Setelah merdeka, Haiti diisolasi oleh kekuatan-kekuatan Barat dan pada 1825 dipaksa Prancis membayar ganti rugi besar sebagai “kompensasi” atas hilangnya koloni dan budak, sebuah beban utang yang menjerat ekonominya selama lebih dari satu abad.
  12. Cp: Kudeta 1953 menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh, yang menasionalisasi industri minyak Iran yang saat itu dikuasai perusahaan Inggris (kini BP—British Petroleum). Kudeta ini didalangi CIA dan MI6 dan mengembalikan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan oleh Revolusi 1979.
  13. Cp: “Komprador” (dari bahasa Portugis comprador, “pembeli”) adalah golongan borjuasi pribumi yang menjadi perantara dan kaki-tangan kepentingan modal asing, dan kepentingannya bergantung pada kekuatan imperialis.
  14. Cp: Mengacu pada “Tesis-tesis Awal tentang Masalah Nasional dan Kolonial” yang diajukan Lenin pada Kongres Kedua Komunis Internasional (1920). Perdebatan tentang aliansi dengan borjuasi nasional ini juga bergema dalam gerakan kiri Indonesia, misalnya dalam pidato Tan Malaka di Komintern pada 1922.
  15. Cp: “Selatan” di sini merujuk pada Global Selatan, yakni negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang umumnya bekas jajahan dan berada pada posisi periferi dalam ekonomi dunia.
  16. Cp: “Asia Barat” (West Asia) adalah istilah yang dipakai kalangan kritis dan akademisi non-Barat sebagai pengganti “Timur Tengah” (Middle East), yang dianggap berpusat pada sudut pandang Eropa. Dalam bahasa Indonesia sehari-hari, istilah yang lazim adalah “Timur Tengah”; “Asia Barat” dipertahankan di sini sesuai pilihan penulis. Hubungan minyak-dolar yang dimaksud lazim disebut sistem “petrodolar”.
  17. Cp: Ansar Allah (“Pendukung Allah”) adalah nama resmi gerakan yang di media Barat dan Indonesia lebih dikenal sebagai Houthi di Yaman. Hizbullah adalah gerakan politik dan bersenjata Syiah di Lebanon. Istilah “Zionis” dipakai penulis untuk merujuk pada Israel.