Oleh

Saya tidak mengenal Paulina Flores secara pribadi. Saya pertama kali bersentuhan dengan karyanya yang diterjemahkan oleh Marjin Kiri dari bahasa Spanyol berjudul Cerita-Cerita Hina sekitar tiga tahun lalu. Itu adalah masa ketika saya juga mulai mengeksplorasi tema-tema baru dalam proses kreatif menulis saya sendiri. Tak ada alasan pasti mengapa saya begitu terpukau dengan gairah bercerita yang dipancangkannya sejak kisah pertama, Hina Sekali —tentang seorang ayah pengangguran yang terpaksa mengajak kedua anak perempuannya yang masih kecil berjalan kaki, pergi mencoba peruntungan dengan ikut audisi bintang iklan—sampai judul terakhir Berutungnya Aku. Dan tak butuh waktu lama setelah menutup buku tersebut, saya sudah bisa mendapatkan gambaran samar mengapa cerita-ceritanya bisa menyentuh saya secara personal.
Paulina Flores lahir di Chile, 30 Desember tahun 1988, tiga tahun sebelum saya lahir. Jadi bisa dibilang kami lahir di zaman yang sama. Dalam wawancaranya dengan The Rumpus, Paulina mengakui bahwa ia tumbuh besar pada tahun 90-an dan melihat sendiri bagaimana sisa-sisa kediktatoran Pinochet belum sepenuhnya hilang dalam kehidupan masyarakat. Saat pemerintah yang baru, mencoba melakukan transisi menuju demokrasi, mereka tetap tak bisa lepas dari bayang-bayang pemerintahan yang lama. Paulina melihat masalahnya pada rakyat Chile yang kesulitan menerima sejarahnya sendiri sehingga warisan masa lalu itu masih terasa dalam hubungan antar manusia. Ia menambahkan, bahwa penggambaran karakter ayah-ayah yang menganggur dalam ceritanya adalah wajah kekecewaan zaman itu. Chile sampai saat itu dibentuk oleh neoliberalisme lalu tiba-tiba runtuh oleh krisis ekonomi yang bermula di Asia.
Saya sendiri juga menyaksikan bagaimana krisis masa itu dari kacamata seorang siswa kelas dua sekolah dasar. Guru-guru di sekolah kami membicarakan koran pagi di kantor kepala sekolah sambil menyebut-nyebut tentang krismon, istilah yang belum begitu saya pahami waktu itu. Di rumah, saya bertanya kepada ayah, yang langsung menyuruh saya ke warung dan mendapati bahwa sebungkus mie instan yang beberapa minggu sebelumnya masih bisa saya beli seharga 500 rupiah tiba-tiba naik dua-tiga kali lipat. Ayah saya menjelaskan bahwa krismon adalah singkatan dari krisis moneter; semacam masalah ekonomi yang bikin harga-harga jadi mahal, sehingga sejak saat itu, keluarga kami yang punya sembilan kepala harus siap-siap berhemat. Puncaknya pada suatu pagi di tahun 1998, kami semua, para siswa berkumpul berdesakan dan berjinjit di luar jendela ruang guru untuk mengintip masuk pada sebuah televisi yang menayangkan presiden Soeharto membacakan pengumuman pengunduran dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, di universitas saya mulai mempelajari secara mendalam semua peristiwa ini, termasuk bagaimana Pinochet dan Soeharto mewakili wajah politik dari apa yang disebut rezim kediktatoran. Nasib mereka pun mirip; yang satu tumbang disusul yang lain. Kekuasaan Pinochet di Chile berakhir di tahun 1990 dan Soeharto menyusul delapan tahun kemudian.


Garis waktu ini adalah pintu masuk untuk memahami kesamaan nasib yang dialami oleh anak-anak muda di negara-negara selatan yang menjadi korban neoliberalisme seperti Paulina di Chile ataupun diri saya sendiri. Saya bisa saja mengatakan bahwa keterhubungan dengan Paulina karena kami berdua sama-sama menulis cerita pendek atau terpaut usia tiga tahun. Namun, belakangan saya menyadari perasaan keterhubungan itu lebih bersifat emosional; kami sama-sama belajar mengenali zaman yang kami hidupi saat ini dari kegelisahan-kegelisahan orang tua dan generasi sebelumnya yang diwariskan kepada kami untuk menjadikannya sebuah cerita. Paulina sering mengatakan bahwa Chile merupakan laboratorium pertama neoliberal. Kebijakan ekonomi yang diterapkan Pinochet sejak 1973 sampai 1990 telah mengubah stuktur sosial, pendidikan, sampai kesehatan di negara itu secara mendalam sehingga efeknya masih bisa dirasakan sampai hari ini. Dan di Indonesia nasibnya persis sama.
Paulina sekiranya benar ketika mengatakan bahwa kita hari ini merupakan generasi Spectator atau penonton pasif, yang merujuk pada posisi kita secara sosiologis dalam melihat event (peristiwa—ed) di masa lalu. Kita berbeda dengan generasi orang tua kita yang mengalami langsung trauma dan kekerasan yang dilakukan militer. Kita juga mungkin belum cukup umur untuk memahami kehadiran tentara di jalan-jalan atau ketakutan akan diculik atau dibunuh penembak misterius sebagai realitas horor sehari-hari. Kita tumbuh besar dalam transisi demokrasi dan berperan sebagai penonton yang menyaksikan sisa-sisa trauma itu dari kejauhan atau melalui cerita-cerita orang tua kita dulu. Kondisi ini menciptakan semacam beban emosional yang aneh. Mereka mewariskan kepada kita sebuah negara yang ‘rusak’ tapi kita tak punya pengalaman langsung untuk dijadikan semacam validasi bahwa inilah kita hari ini, anak-anak yang dikutuk untuk menanggung beban sejarah.
Hal inilah yang kemudian tergambar jelas dalam cerita-cerita Paulina Flores. Tokoh-tokohnya hidup dalam pergulatan untuk keluar dari masalah hidup sehari-hari, dan seringkali tak berdaya di hadapan kuasa yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Saya bisa merasakan betapa hilang arahnya anak-anak seperti narator dan kawan-kawannya dalam cerita Talcahuano, yang juga menjadi nama lingkungan kumuh tempat mereka tinggal; digambarkan sebagai kota pelabuhan yang tidak disukai siapa pun, selalu berlangit gelap akibat asap jelaga pabrik dan udaranya berbau amis. Berlatar musim panas tahun 1997, narator dan kawan-kawannya merencanakan untuk mencuri alat-alat musik dari sebuah gereja lokal, setelah bosan hanya duduk-duduk seharian memakan semangka di tangga rumah. Si narator sendiri menjadikan kenakalan bersama kawan-kawannya sebagai pelarian dari kondisi rumahnya yang penuh pertengkaran antara ayah dan ibunya. Dulu ia mengingat jika hidup penuh kebanggaan, karena sang ayah merupakan satu-satunya yang memiliki pekerjaan sebagai tentara di lingkungannya. Lalu semuanya berubah ketika ayahnya membuat masalah di tempat kerja dan kehilangan pekerjaannya. Ayahnya kemudian menghabiskan banyak waktu di rumah dengan pekerjaan serabutan, sementara monster bernama kemiskinan mulai mencari cara untuk menciptakan pertengkaran-pertengkaran kecil dan kian membesar. Di akhir cerita, rencana pencurian alat musik mereka yang nyaris sempurna itu terinterupsi oleh tragedi. Ayah si tokoh utama didapati pingsan akibat meminum cairan pemutih pakaian, setelah tahu istri dan anak-anak perempuannya pulang ke kampung mertuanya.
Dalam cerpen berjudul Liburan Terakhir, Paulina bercerita tentang seorang remaja laki-laki bernama Nicolas, yang sedang berlibur ke La Serena bersama keluarga bibinya. Si bibi adalah simbol kerja keras dan motivasi, yang berhasil keluar dari lingkungan kumuh mereka dan mendaki tangga karir dan hidup makmur. Alasan ia mengajak keponakannya adalah hendak secara perlahan memengaruhinya agar keluar dari bayang-bayang lingkungannya yang tanpa masa depan; saudara laki-laki jadi preman, ibunya pemabuk dan suka menghilang, nenek dan semua hal yang tak akan membuatnya kemana-mana. Namun, liburan yang awalnya sangat dinikmati oleh Nicolas berubah menjadi perasaan terhina yang melukai hatinya. Hanya butuh satu kalimat dari seorang teman baru yang dikenalnya di pantai untuk meruntuhkan semua optimisme itu. Pada akhirnya Nicolas menyadari bahwa ia tak akan pernah benar-benar bisa meninggalkan ibu kandungnya sendiri.
Bukan sebuah kebetulan jika Paulina memilih anak-anak dan remaja sebagai protagonis ceritanya. Anak-anak ini bukanlah penanggung jawab atas kemalangan sejarah yang menimpa mereka. Mereka tidak menciptakan kemiskinan yang dialami, bukan juga penyebab orang tua mereka kehilangan pekerjaan, atau ibu yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Mereka juga tidak memilih untuk lahir di lingkungan miskin yang langitnya selalu berwarna abu-abu. Sama seperti di Indonesia, kita generasi belakangan ini mewarisi segala kemalangan dan bentuk dunia yang sudah begini adanya, yang merupakan hasil keputusan-keputusan politik generasi di atas kita. Saya, Paulina, dan mungkin Anda sekalian merupakan generasi pertama setelah kediktatoran tumbang dan sekaligus menjadi generasi pertama yang harus hidup dengan akibat-akibat sosial dan ekonominya.

Namun, kemiripan Indonesia dan Chile sebagai bangsa yang tertatih-tatih menata hidup pasca rezim otoritarian tidak berhenti di situ. Dua puluh delapan tahun Reformasi di Indonesia dan lebih dari tiga dekade transisi pasca-Pinochet di Chile, keadaan keduanya tak pernah benar-benar mengarah ke demokrasi yang dicita-citakan. Dalam podcast Medianoche en Comala tiga bulan lalu, Paulina mengatakan kekecewaannya pada proses sosial dan politik Chile. Ia menyinggung soal Estallido Social, gelombang protes massal terbesar dalam sejarah Chile pada tahun 2019. Protes tersebut dipicu oleh kenaikan tarif biaya kereta bawah tanah (metro). Gerakan yang awalnya diinisiasi oleh pelajar itu dengan cepat meluas ke seluruh negeri dan melibatkan 1,2 juta orang di kota Santiago. Keterlibatan semua orang ini menunjukkan bahwa kenaikan tarif hanyalah pemantik, semacam bara yang membakar sekam kemarahan yang sudah lama menumpuk; kesenjangan pendapatan antara si kaya dan si miskin sampai mahalnya harga layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan sistem pensiun. Protes yang semula berfokus pada penolakan kenaikan tarif kereta menjadi 30 Peso, melebar lebih luas lagi menjadi, ‘Bukan 30 Peso, tapi 30 tahun.’ Slogan ini menggambarkan kekecewaan masyarakat Chile terhadap kondisi sosial yang tak berubah setelah tiga dekade tumbangnya Pinochet.
Namun, sebagaimana kata Paulina, gelombang protes besar-besaran itu karena satu dan lain alasan, berakhir tanpa adanya perubahan konstitusi yang berarti. Ia menambahkan, bahwa setelah gejolak sosial tersebut yang terjadi adalah kebalikannya; terpilihnya presiden dari golongan ‘Ultraderecha’, gerakan ultra kanan yang konservatif dan seringkali bertentangan dengan agenda-agenda demokrasi sosial.
Ini mengingatkan kita di Indonesia atas apa yang terjadi bulan Agustus tahun lalu. Gejolak sosial yang dipicu rasa muak atas korupsi dan gaya hidup mewah pejabat itu dengan cepat meluas ke kota-kota lain secara massif; penuh kekerasan dan penghancuran fasilitas publik yang melahirkan korban. Saat itu beberapa pengamat mulai melihat potensi lahirnya reformasi jilid dua dan beberapa lainnya mulai membicarakan kemungkinan untuk mengarahkan bangsa ini ke arah yang tak pernah dipikirkan sebelumnya dan sama sekali berbeda. Namun, seperti kita alami bersama, gejolak sosial ditumpas dengan mudah menggunakan kekerasan dan persekongkolan. Ribuan anak muda ditangkap dan dipukuli, enam ratusan lainnya dijebloskan ke penjara. Para koruptor akhirnya mengelap keringat dan menghela nafas lega sembari memperbaiki dasinya kembali, memulihkan kepercayaan dirinya. Di Jakarta, kekuasaan tertinggi belajar dari peristiwa dan mulai mengkonsolidasikan kekuatannya dengan rapi dan kuat, menempatkan semakin banyak tentara dan polisi di ruang publik dan jabatan strategis. Gerakan Agustus tinggal cerita dengan beberapa orang mati dan cacat yang akan mudah dilupakan. Generasi kita dan juga generasi setelah kita, yang baru terbuka pemikirannya soal politik, terhina sekali lagi dengan dipaksa melihat semua kegagalan dan perampokan demokrasi terang-terangan di depan mata sendiri.
Bisakah sastra menanggung rasa terhina generasi kita?
Kita sudah terlanjur percaya bahwa sastra dalam setiap periode sejarah selalu menggambarkan kegelisahan zamannya. Ini diaminkan oleh para akademisi sastra dan para penulis sendiri sehingga mereka melihat pentingnya periodisasi sastra. Ada suatu masa sastra kita bersimpati kepada para perempuan yang dipaksa tunduk lewat perkawinan yang tak mereka inginkan. Lalu masa selanjutnya, para sastrawan mulai merumuskan bentuk kebangsaan mereka di bawah bayang-bayang kolonialisme yang tidak kunjung mau pergi. Ada juga tahun-tahun panjang ketika dunia sastra kita terbelah menjadi kubu-kubu ideologis, bertengkar satu sama lain, saling sikut dan sensor, pemenjaraan, dan kekerasan politik. Memasuki reformasi, sastra menggunakan peristiwa 1998 dan 1965 sebagai poros moral untuk mendefinisikan siapa kita sebagai bangsa. Yang terakhir ini masih terus mempengaruhi dunia sastra kita sampai hari ini dan diperlakukan sebagai sebuah narasi besar.

Namun, setelah membaca Paulina Flores, saya mulai bertanya-tanya sendiri: jika setiap zaman memiliki masalah dan kegelisahannya sendiri, lalu apa kegelisahan zaman saya? Tidak adakah penanda bagi generasi kita yang lahir setelah dua peristiwa besar itu? Adakah pengalaman bersama yang bisa mengikat kita sebagai satu generasi? Dan jika memang ada, saya mungkin bisa bertanya, jika suatu hari nanti orang membaca sastra yang ditulis oleh sastrawan dari generasi saya, mereka akan menemukan zaman yang seperti apa?
Di titik ini, Paulina telah memberi saya inspirasi baru tentang bagaimana seharusnya sebuah generasi berbicara. Dalam Cerita-Cerita Hina, Paulina tidak menulis ulang jalannya kediktatoran Pinochet atau memberi ruang baginya sebagai tokoh utama. Ia membicarakan tentang zaman ia lahir, ketika anak-anak tumbuh setelah semua peristiwa itu terjadi. Anak-anak ini tidak mengalami kudeta, revolusi, penyiksaan sampai kerusuhan. Seperti kita di Indonesia, ini adalah sebuah generasi yang memiliki penandanya sendiri: kerja kontrak, tempat tinggal di apartemen subsidi, pendidikan mahal, musik pop MTV, kekerasan jalanan oleh geng, narkoba, kecemasan dan depresi, media sosial, pornografi, dan seterusnya. Saya tahu, Indonesia memiliki kompleksitasnya sendiri dibanding Chile. Penanda kita bisa jadi lebih beragam: dari banyaknya budaya di Nusantara, dan kecenderungan sastra beberapa tahun terakhir ini untuk mengksplorasi tema-tema lokalitas, sampai agama yang terlalu ikut campur dalam urusan publik kita.
Saya tidak sedang menyodorkan kecocokan antara Chile dan Indonesia sebagai rekomendasi. Saya hanya menyadari signifikasi Paulina Flores dalam lingkaran sastra Amerika Latin, yang dianggap oleh kritikus Javier Matteo, sebagai penulis muda yang berbeda dengan kanon penulis sebelumnya. Yang karyanya mampu memadukan budaya pop kontemporer dan kesunyian yang dialami generasi muda. Dua hal inilah yang menavigasi dunia kehidupan generasi pasca-Pinochet di Chile. Sementara Criticas Polares, platform ulasan budaya berbahasa Spanyol, memuji keberanian Paulina untuk menjauh dari tradisi Amerika Latin generasi sebelumnya (Realisme Magis Gabo atau Julio Cortazar). Gaya menulisnya dianggap lebih sederhana—berbau Amerika Serikat—dan menyangkut tema sehari-hari.
Barangkali itulah yang membuat saya jatuh cinta pada Paulina Flores. Saya mencoba belajar darinya, menulis bukan lagi untuk mengungkap masa lalu yang tak pernah saya alami. Paulina mengajarkan bahwa zaman yang saya hidupi saat ini memiliki kehinaanya sendiri. Sehingga jika kelak, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, ketika seorang ingin mencari tahu seperti apa rasanya hidup di masa pasca-reformasi, mereka akan menemukan bahwa meskipun hidup kita tak seberdarah generasi sebelumnya tapi kita menjalani hidup yang tak kalah malangnya. Nyatanya, kita tak hanya mewarisi krisis dan kegagalan ekonomi. Orang-orang itu tak puas hanya dengan melempar ke pundak kita segudang masalah. Mereka tak kunjung mati-mati juga dan masih di sana, tanpa rasa malu terus menancapkan kuku-kukunya yang berlumuran darah pada kekuasaan. Mereka menyiksa generasi kita untuk menanggung akibat-akibat sejarah yang tak pernah kita buat. Itulah bentuk kehinaan sesungguhnya bagi kita semua.[]
Tentang penulis

Kaisar Deem adalah penulis cerita-cerita pendek. Kumcer pertamanya Jose Kecil dalam Dirimu masuk dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Kumcernya yang lain diterbitkan Gramedia tahun 2026 berjudul Suara Dari Makam Tak Bernama.




