Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026: Kategori Novel & Cerpen

Daftar Panjang KSK 2026: Kategori Novel & Cerpen

Berikut adalah Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 untuk kategori Cerpen dan Novel yang disadur dari halaman kusala.id.
Pengumuman resminya, termasuk daftar dalam kategori puisi, dapat kamu lihat di sini.

✧*̥˚ Kategori Novel *̥˚✧

  • Alok
    Rp80.000

Pertiwi kehilangan Santoso, kakaknya yang ditelan Laut Selatan.
Terlalu cepat, jauh sebelum waktunya. Dalam duka, Pertiwi menemukan dirinya memiliki kemampuan gaib yang menghubungkannya dengan dunia yang berbeda. Kemampuan yang menuntunnya dalam tahun-tahun pencarian sisa jasad kakaknya, juga untuk mengenal diri dan keluarganya.

Santoso adalah satu dari nama yang bertambah, dan bertambah, yang kemudian menjadi angka, dan dunia terus saja berjalan. Namun bagi Pertiwi—dan semua yang ditinggalkan—mereka yang pergi lebih dari sekadar nama, apalagi angka. Mereka tetap melekat sebagai rindu, pendambaan, dan cerita yang belum dituturkan.

Dengan alunan gending dari masa lalu dan bisikan dari ruang tak kasat mata, Arie Saptaji mengajak kita untuk menyimak cerita mereka dengan lebih dekat, lebih saksama.

Sebuah novel yang menceritakan kisah sekumpulan anak yang mencari orang tua mereka dengan cari memancing ikan di Kedung Mayit, tapi hanya seorang yang mendapatkannya, anak itu bernama Makmur. Sayangnya, menjelang menjelma “bapak-ibu”, kedua ikan itu hilang. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu apa yang dilakukan Makmur demi menemukan bapak ibunya?

Di dalam sana, ruang mengambangkan nafas sang maharaja yang bertelekan dan geraklakunya lamban: Juna, rajadiraja segala rajatunda. Dialah sang raja kelembaman, raja perfeksionis pesimistis, raja pelindung kungkang Jawa dan segala fauna lamban, juga fauna dalam inersia dan hibernasi. Sedangkan singa, macan tutul, burung alap-alap, dan segala elang—segenap hewan yang bergerak gesit dan penuh laga— niscaya mati dan punah tanpa ampun di sana. Tidak ada tempat lain yang lebih terjanjikan dengan banyak kemungkinan dan capaian. Tetapi di ruang itu semua gerak-gerik, tindakan, dan kejadian berlangsung lama seperti adegan slow-motion di film-film. Niatan tebersit tiba-tiba secara impulsif, gagasan berlimpah-ruah seperti letus kembang api warna-warni di langit malam benaknya. Segala sesuatu selalu dilatari pemikiran pelik, rencana rumit.

Taufan Samudera seorang remaja yang tumbuh di Surabaya selepas Orde Baru tumbang. Setelah berkenalan dengan sastra— terutama karya Marquez dan Murakami, ia seolah menemukan suatu kubangan yang mengasyikkan. Dan di dalam kepalanya mulai tumbuh penangkaran aneka hewan: rajawali, harimau, dan lumba-lumba.

Pertemuannya dengan pelaut poliglot, gadis eksentrik di toko buku, dan siswi manis kawan sekelasnya membawa Taufan pada petualangan janggal sekaligus menggetarkan. Kenangan masa silam, detik yang baru saja terlewat, dan masa depan yang misterius menjadi gelanggang sabung bagi hewan-hewan dalam penangkaran di kepalanya.

Jagat Rajawali menghadirkan kisah akil balig yang penuh tanda tanya dan petualangan.

Desa Trunuh, Oktober 1965

Tiga hari setelah suaminya raib menghilang, Katri ditembak. Ia tengah hamil anak pertama. Usia kandungannya tujuh bulan saat peluru dimuntahkan dari jarak amat dekat agar hidupnya benar-benar tamat. Katri mengira, delapan belas tahun hidupnya telah berakhir di titik itu.

Keindahan masa remajanya lenyap dalam sekejap. Kegiatan kesenian yang disenanginya ternyata ancaman bagi sekelompok orang yang ingin ia ditangkap.

Sejak saat itu, rentetan kemalangan datang susul-menyusul. Ia dibawa dari satu kamp ke kamp lain, dari satu penjara ke penjara lain. Bagi Katri, hidup tak memberikan pilihan selain bertahan.

Pertanyaannya, untuk siapa Katri bertahan?

Semut untuk koloni, koloni untuk semut.

Di dunia semut yang super sibuk dan penuh strata, tujuan perkawinan cuma satu: mempertahankan kelangsungan koloni. Dua ekor semut ratu —Ratu Gegana dan Ratu Darojak— bersaing menjadi alfa; yang tua menolak turun, yang muda memperebutkan kuasa. Pertempuran dua kubu ini tak terelakkan, mengguncang koloni hingga ke akar-akarnya.

KOLONI adalah fabel dengan latar di dunia serangga di bawah tanah, sebuah dunia yang kecil, nyaris dianggap tak ada, tak terlihat di permukaan, tapi sebenarnya masif, terstruktur, dan sistematis. Tak ubahnya mesin dengan surat cinta untuk budak korporat. Tak ubahnya intrik perebutan kekuasaan di dunia manusia.

Nyi Sadikem merekam kisah hidup Elizabeth van Kirk, seorang perempuan Indo-Belanda yang lahir dari rahim seorang gundik. Kecantikan dirinya menjadi berkat sekaligus kutukan yang melahirkan banyak tragedi. Ritme hidup yang tak pasti mengempaskannya ke dalam sumur kehidupan yang kelam. Korban kekerasan seksual, yang dengan penuh amarah meredam identitas Belandanya untuk menonjolkan kejawaannya, perempuan yang mempertahankan hidup dan martabatnya dengan menjadi pengajar kedewasaan bagi para perjaka…

Sofia protes kepada ibunya yang selalu mengalah, dan membiarkan ayahnya perlahan-lahan merusak kenyamanan rumah. Sofia kabur untuk hidup sendiri di kota lain. Selama hidup jauh dari rumah, Sofia diingatkan akan banyak hal. Perihal makna keluarga dan ikatan keluarga yang tampak tipis dan mudah koyak, tetapi sejatinya susah untuk dipisahkan.

“Referensi penulis tentang ke-bissu-an dengan latar Bugis sangat kuat sehingga mampu mengeksplorasi nilai lokal dengan kental.” -Prof. Dr. Agus Nuryatin

“Dalam novel Seratus Tahun Kebisuan, karakterisasi tokoh disajikan dengan lugas.” -Dr. Seno Gumira Ajidharma

Di hamparan tanah matrilineal pedalaman Sumatra, seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi. Tradisi itu kemudian menuntun si lelaki kepada obsesi dan kegilaan; melemparkannya kepada situasi asing dan baru; menjumpai mitos yang dikultuskan masyarakat setempat; dan menguak peristiwa pembantaian di masa silam. Di antara gegar budaya dan kegagalan beradaptasi, si lelaki juga berupaya menjawab dilema dari makna cinta yang sesungguhnya.

✧*̥˚ Kategori Cerpen *̥˚✧

Antara Doa dan Debu merupakan kumpulan cerita pendek yang menelusuri batas tipis antara kenyataan dan spiritualitas, menghadirkan perjumpaan halus antara kehidupan sehari-hari dan absurditas yang lembut. Dengan alur yang mengalir senyap namun sarat resonansi, setiap cerita membuka celah kecil tempat pengalaman manusia bergerak antara yang tampak dan yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan.

Gaya penceritaan Yetti A.KA sangat khas: melankolis namun tak cengeng, puitis namun tetap tajam, penuh detail psikologis yang memikat. Setiap cerpen seperti fragmen kehidupan yang dibidik dalam fokus liris dan disusun dengan dialog internal yang mengendap. Ada keheningan yang bekerja seperti gema—panjang dan menghunjam. Kekuatan buku ini terletak pada cara narasinya mengolah trauma dan keintiman dalam bahasa yang bersahaja namun emosional. Setiap kisahnya mengajak kita masuk dan duduk bersama para tokohnya—dalam ruang hampa yang rawan, penuh kenangan, dan selalu berusaha mencari cara paling manusiawi untuk menerima: bahwa kehilangan tak harus selalu disembuhkan. Ia cukup dihadapi.

Seorang perempuan hanya ingin memasak mi instan tanpa gangguan. Pekerja restoran yang kurang apresiasi menemukan cara balas dendam. Duka seorang ibu menenggelamkannya perlahan ke dalam paranoia. Mantan sahabatmu yang mati mewariskan barang bekas. Tiap karakter terasing dalam dunianya sendiri, berulang-alik dalam perjalanan mereka mencari kebahagiaan yang langka di tengah dunia yang hampir kiamat.

Cerita-cerita Ratri Ninditya dalam Hantu Ulang-Alik akan menyeretmu masuk ke dalam lika-liku kehidupan manusia kota yang selalu tersesat dengan ironinya sendiri. Bisa jadi kau tokoh dalam satu cerita, bisa jadi pula kau ada di semua cerita.

Sebagian besar cerita dalam buku ini menyodorkan kepada para pembaca kisah-kisah dengan latar sosiokultural Nusa Tenggara Timur, sebagai respons sadar penulis atas kisah-kisah realisme magis yang dikerjakan para penulis Amerika Latin seperti Juan Rulfo dan Gabriel García Márquez. Respons sadar, sebab dalam beberapa cerpen, meski menggunakan kalimat-kalimat majemuk seperti strategi bentuk yang digunakan García Márquez, melalui narator dalam sejumlah cerpen, penulis secara sadar menekankan secara eksplisit kisah-kisah adikodrati, siasat yang dalam kisah-kisah realisme magis Amerika Latin disampaikan secara wajar dan tanpa penekanan eksplisit secara berlebihan. Kesadaran tersebut berasal dari keengganan penulis melepaskan secara penuh latar sosiokultural tersebut, termasuk pandangan tradisi dan Gereja Katolik di Nusa Tenggara Timur, dua otoritas yang membentuk wacana dan memengaruhi kebiasaan masyarakat setempat. [. . .]

Jose telah lama mengubur masa lalunya—hingga suatu hari, seorang pemuda datang membawa pesan dari seseorang yang nyaris ia lupakan. Ali Mundini, mantan serdadu berpangkat kopral, lelaki yang merenggut segalanya dari Jose kecil. Invasi militer Indonesia ke Timor Timur telah memisahkan dirinya dari keluarga, menghanguskan kampung halamannya, dan menggiringnya ke kehidupan tanpa kepastian di tanah asing. Janji manis Ali tentang tempat tinggal dan pendidikan layak di Indonesia hanyalah omong kosong. Yang tersisa hanyalah luka batin dan keterasingan yang terus menghantui. Mampukah seorang korban perang menemukan kedamaian di antara reruntuhan kenangan? Ataukah luka lama memang tak pernah benar-benar bisa sembuh?

Membawakan empat cerita dengan masing-masing lika-liku, gerak, dan problemanya, kumpulan cerpen Kebaya Merah di Tebing Kanal merupakan karya Martin Aleida yang tak pelak mengantarkan kita kepada wilayah batin yang sadar, jeri, sekaligus dekat. Lebih dari sekadar muatan tengarai zaman yang menggetarkan batas-batas kebenaran, buku ini tidak hanya menunjukkan sosok Martin Aleida dan karya-karyanya yang tak pernah surut menggugat ketidakadilan, tetapi juga menunjukkan sikap terhadap keputusasaan. Sebuah karya yang mewakili dinamika manusia Indonesia di masa kini, dan berangkat darinya; menentukan masa depan.

Akhirnya Slobodon belajar menyusun kalimat dengan rumus, “Kamu selalu punya aura yang enggak bisa dijelaskan.” Itu jawaban aman. Tidak terlalu jujur, tidak terlalu bohong. Seperti diplomasi antarnegara di wilayah konflik. Suatu kali, mereka memutuskan adopsi hewan. Norma ingin kucing. Slobodon ingin kura-kura.

Ada dunia macam apa bagi manusia yang berupaya melampaui luka?

Kumpulan cerpen Misi Menggagalkan Doa menghadirkan tokoh-tokoh yang berani bertaruh hidup untuk menemukan jawabannya.

Dari seorang anak yang berusaha lolos dari doa ibunya sendiri, perempuan yang mengundang hantu demi mengobati kehilangan, penjual jasa pemuas rindu yang diganggu masa lalu, sampai mereka yang mencari Tuhan di kapal luar angkasa.

Meski kebanyakan getir dan kadang absurd, 13 kisah dalam buku ini lahir dari dugaan bahwa setelah luka, barangkali ada bahagia.

S. Permata mengarang cerita tentang para kekasih yang tidak biasa. Kekasih, dalam konteks ini, bukan sekadar sosok, melainkan wujud dari suatu abstraksi—yakni pengalaman mencintai dalam relasi antarsubjek yang penuh teka-teki dan prasangka. Dalam Tata Cara Menikmati Kekasih, S. Permata menghadirkan cinta sebagai sesuatu yang getir dan menyakitkan; ia mengolahnya dalam cerita yang masam, membawa pembaca ke dalam jurang sengsara. Cerita dibangun dengan sentimen kuat dan pandangan sinis terhadap kemungkinan-kemungkinan dalam sebuah hubungan—yang obse-sif, gila, dan menyiksa bukanlah hal yang dikecualikan. S. Permata tidak hanya mengaburkan batas antara yang-feminin dan yang-maskulin, tetapi juga merevisi ulang peran, konsep, dan pandangan stereotipikal tentang cinta dan luka. Tata Cara Menikmati Kekasih tidak hanya tentang memahami siapakah subjek, sekaligus tentang penjelmaannya sebagai objek yang dipertarungkan dalam narasi keberdayaan: mencintai dengan intensitas yang celaka.

Dalam berbagai lakon dan gelaran yang riuh nan ricik, kelindan nasib tak urung membuat para tokoh kita bertanya dan menggugat hal-hal yang dipahami sebatas kebetulan belaka, keberuntungan, atau malah nestapa. Disajikan dengan cermat seperti tracklist dalam piringan hitam, setiap cerita tak urung membuat Anda meredupkan gegap gempita dunia dan bergelung dalam waktu sendiri.

Baca juga, Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 di sini.