
Daftar rekomendasi bulan Juni ini menghadirkan sepuluh judul yang merekam beragam bentuk kegelisahan, keberanian, dan imajinasi politik. Ada pidato yang membakar di pinggir sungai, catatan perjalanan seorang pemuda dengan sepeda motor butut, dan fiksi spekulatif tentang masa depan dari tengah reruntuhan. Ada pula yang ditulis dari kemiskinan, dari balik jeruji, atau dari hasrat membangun negeri yang pernah bermimpi besar. Dengan gaya bertutur yang khas, kadang gerundel, kadang puitis, kadang dingin seperti data, buku-buku ini tidak menawarkan jawaban instan. Mereka lebih suka memberi ruang untuk bertanya ulang apa yang selama ini dianggap wajar.
Berikut sepuluh bacaan yang dapat menjadi teman untuk kamu yang merasa ada yang tidak beres, namun masih mencari bahasanya.
1945Β Begitu kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, revolusi rakyat pecah di Brebes, Tegal, dan Pemalang. Digerakkan oleh seorang tukang cukur yang juga jawara lokal (lenggaong) bernama Kutil, rakyat bergerak melucuti kekuasaan feodal-kolonial dari para birokrat lama dengan akibat yang sungguh berdarah-darah.
1998Β Gejolak ketidakpuasan terhadap Orde Baru sudah tak terbendung. Hasan Sukardi, seorang mahasiswa asal Tegal, berada di inti pergolakan ini saat tentara mulai melakukan penculikan- penculikan aktivis demi mengamankan kekuasaan rezim.
Dua kisah perlawanan terhadap kekuasaan yang saling bertaut, dalam sebuah sejarah yang enggan berpihak kepada orang kecil.
Perdebatan dasar negara antara golongan Islam dan golongan Nasionalis Netral Agama sama tuanya dengan umur Republik Indonesia. Perdebatan tersebut kembali mencuat saat pidato Presiden Sukarno di Amuntai pada 27 Januari 1953. Membuat beberapa kalangan, terutama Islam, mempersoalkan pidato tersebut. Buku Menyulut Api di Padang Ilalang ini meneroka beragam protes yang dilancarkan berbagai pihak di beberapa media massa kala itu dan menghadirkan beberapa aktor yang pernah hadir langsung saat pidato akbar Sukarno yang terkenal itu.
Pada 1958, Sukarno menyatakan tegas penolakannya terhadap senjata nuklir: βTjara agar kita tidak mengΒalami peperangan dunia peperangan atom ialah semua senΒdjata atom dilemparkan ke dalam laut dan djangan membuat sendjata atom lagi!β Namun memasuki 1965, pandangan Sukarno berubah drastis. Proyek riset nuklir di Indonesia yang awalnya digunakan untuk tujuan-tujuan non-militer kini tampak diarahkan untuk persenjataan: βPersiapan Indonesia untuk meledakkan bom atomnja jang pertama berdjalan lantjar dan berdjalan terus tanpa menunggu kekuatΒan-kekuatan internasional dan iklim politik.β Memperkuat pernyataan Presiden, petinggi Angkatan Darat menyatakan bahwa 200 orang ilmuwan Indonesia sedang bekerja menggarap bom atom tersebut.
Apa yang sesungguhnya terjadi di balik perubahan pandangan ini? Buku tipis ini bermaksud mengeksplorasi gagasan Sukarno terkait teknologi nuklir dan manfaatnya bagi Indonesia dan dunia. Buku ini berargumen bahwa pemanfaatan teknologi nuklir membawa konsekuensi besar terhadap perubahan sosial dan politik di Indonesia pada 1960an. Negara-negara Barat menunjukkan sikap waspada terhadap ambisi nuklir Sukarno yang tampak diΒdukung kuat oleh Republik Rakyat Cina.
Melalui eksplorasi atas dokumen-dokumen dalam dan luar negeri, sedikit banyak buku ini berupaya untuk ikut serta meΒnyumbang sekelumit bahasan terkait alasan terjadinya gejolak politik September 1965, yang dipandang bukan semata-mata perihal perseteruan ideologi, meΒlainkan juga jegal-menjegal dalam persaingan penguasaan teknologi semasa Perang Dingin.
Gerundelan Penulis KereΒ merupakan terjemahan dariΒ Keep the Aspidistra Flying, novel Orwell yang ditulis sebelumΒ Animal FarmΒ dan 1984. Di sini, pembaca bakal menyimak gerundelan seorang penulis kere terhadap βDewa Uangβ dan iblis kapitalisme, yang barangkali adalah kepingan masa muda Orwell.
Sebagai orang Indonesia, yang negerinya, Republik Indonesia (diproklamasikan tahun 1945) termasuk negara pertama mengakui berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (1949), β¦ Aku pun ingin mengerti dan memahami sekitar pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan politik seperti apa yang ditempuh Tiongkok dewasa ini. Bukankah Ir. Soekarnoβsalah seorang pemimpin besar perjuangan kemerdekaan nasional bangsa Indonesia, Bapak Nasion, Proklamator Kemerdekaan Indonesia, serta Presiden pertama Republik Indonesiaβdengan tegas menunjukkan bahwa untuk tujuan keadilan, kemakmuran, dan kejayaan, Indonesia harus membangun negara yang sosialis. Kalau kita bertolak dari Undang-Undang Dasar dan dasar falsafah negara, yaitu Pancasila, maka jalan yang hendak ditempuh Indonesia, adalah jalan sosialisme. Oleh karena itu, seyogianya Indonesia menarik pelajaran dari negeri-negeri lain yang juga membangun sosialisme, a.l. dari Republik Rakyat Tiongkok. Untuk tujuan tersebut, selain menjenguk kawan-kawan seperjuangan lama orang-orang Tiongkok dan teman-teman Indonesia yang bermukim di Tiongkok, selama dua minggu, dari 26 Mei s.d. 8 Juni 2013, bersama Murti, aku berkunjung (lagi) ke Tiongkok. Terakhir kunjungan kami ke Tiongkok adalah 13 tahun yang lalu, yaitu tahun 1998. Undangan datang dari organisasi yang sama: Chinese Peopleβs Association for Friendship With Foreign Countries (CPAFFC). Adalah organisasi non-governmental ini juga yang mengundang kami sekeluarga untuk tinggal di Tiongkok dan aku bekerja di sana (1966β1986). […]
Buku kumpulan esai terbaik Orwell ini memuat:Β Why I Write, Books v. Cigarettes, Good Bad Books, Confessions of a Book Reviewer, Bookshop Memories, Literature and Totalitarianism, Politics and the English Language, Notes on Nationalism, My Country Right or Left, Shooting an Elephant, How the Poor Die, A Hanging, A Nice Cup of Tea.
Bulan Januari 1952, dua pemuda dari Buenos Aires berangkat menjelajah Amerika Selatan di atas sepeda motor yang sangat perkasa: Norton 500 cc. Salah satu dari mereka itu adalah Che Guevara yang berumur dua puluh tiga tahun. Ditulis delapan tahun sebelum Revolusi Cuba, inilah catatan harian Che yang penuh kemalangan, penemuan, peristiwa dramatis, komedi ringan, dan improvisasi bengal. Dalam perjalanannya melintasi Argentina, Chile, Peru, dan Venezuela, perhatian utama Che di manakah tempat minum berikutnya, di manakah tempat untuk tidur, dan dengan siapa lagi mereka akan berbagi cerita. Dalam satu dasawarsa berikutnya, seluruh dunia mengetahui namanya. Catatan harian ini mengungkap sisi-sisi manusiawi seorang yang kemudian menjadi legenda dunia.
Buku ini adalah bagian dari kisah lengkap tentang Revolusi Tiongkok dan kehidupan Mao Zedong (26 Desember 1893Β βΒ 9 September 1976) yang tak terpisahkan dari transformasi Tiongkok. Periode di dalam ANGIN MENERPA MENARA dimulai pada tahun 1949 ketika PKT dan Tentara Pembebasan Rakyat di bawah Mao berkuasa, dan menggambarkan perubahan-perubahan perjuangan serta kebangkitan spektakuler Tiongkok hingga 1976.
Kisah tentang Revolusi Kebudayaan, maknanya, dan visi Mao yang menciptakan fenomena ini, juga digambarkan secara utuh untuk pertama kalinya.
Ditulis pada 1926, menjelaskan seperti apa rencana revolusi yang diinginkan Tan Malaka. Meninjau kondisi Indonesia di masa penjajahan serta belajar dari perjuangan negara-negara terjajah lainnya, Tan Malaka menyampaikan bahwaΒ aksi massaΒ yang rapi dan terencana adalah solusi yang tepat untuk memperoleh kemerdekaan, bukannya perebutan kekuasaan secara radikal.
-
Gaza Luna
Rp85.000
…
Empat belas cerita pendek dalam antologi ini dengan imajinatif membawa pembaca menyelami pergulatan bangsa Palestina beserta diasporanya di seluruh dunia dalam pertarungan mereka merebut sejarah, kebebasan, dan masa depan.
Seorang cucu menerima warisan cip komputer berisi ingatan neneknya. Seorang teknisi berdiri di dermaga berharap bisa berkomunikasi dengan makhluk asing yang tinggal di laut. Para peziarah berkeliling meninggalkan jejak-jejak tumpukan batu dengan cahaya misterius terpancar dari dalamnya. Dua orang remaja Australia menggali terowongan menuju Yerusalem. Seorang ayah dan anak bercakap-cakap dipandu dengan kalimat-kalimat pilihan akal imitasi. Sesosok karakter figuran dalam suatu permainan simulasi memberontak ingin jadi karakter utama.











