
Oleh
Saat ini ditulis, rakyat Indonesia tengah menyambut kemerdekaan nasional yang ke-80. Di mana hiruk-pikuk penuh gembira, dan semangat nasionalis seolah terpancar di muka orang-orang yang telah dilucuti hak politiknya. Orang tua-orang tua yang mayoritas lemah, pemuda-pemudi canggung, serta anak-anak dengan masa depan buram, tumpah-ruah merayakan momen tersebut. Seruan provokatif bahwa “para pejuang telah susah payah merebut kemerdekaan dari penjajah, dan kita harus mengisinya!,” kerap menjadi pembenaran untuk merasionalkan kegiatan-kegiatan seremonial.
Bersamaan dengannya, persoalan sehari-hari masih akrab menyapa. Kebutuhan pokok yang sulit dijangkau. Pendidikan dengan biayanya yang tak pernah menjanjikan. Hutang di esok hari bahkan sudah mengintai. Dan hutang hari kemarin hanya menyisakan cerita memalukan. Kondisi tersebut campur aduk jika tak sekedar ruwet. Di tengah situasi demikian, tak ada orang waras yang tak mengumpat pada keadaan. Pada rusaknya sendi-sendi kehidupan. Sayangnya, cukup jarang yang mempertanyakan dari mana kehidupan sekarang ini berasal[?]. Dan jika gugatan itu dilontarkan, maka kita harus melihat periode penting yang dirangkum dalam terma “sejarah”.
Sejarah, dalam pemahaman mainstream selalu berkaitan dengan masa lalu. Itu tidak sepenuhnya keliru. Namun tepatnya, sejarah adalah peristiwa yang mana di dalamnya terdapat pelaku/saksi (aktor), yang terikat dengan waktu dan tempat. Dari pengertian tersebut, sejarah adalah masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Itu juga yang menyebabkan umat beragama mengenal riwayat pasca-kematian (sejarah akhirat)—padahal belum mengalaminya. Dan pemahaman selanjutnya; bahwa masa sekarang, ditentukan oleh masa lalu. Juga masa depan ditentukan oleh masa sekarang. Sehingga dalam perkembangannya, sejarah cenderung tidak alami. Ia diintervensi. Digerakkan dan cenderung terikat dengan periode sebelumnya. Sebagaimana kondisi ekonomi, sosial, dan politik kita hari ini.
Kemajuan cara produksi kebutuhan hidup (cara-cara membuat makanan, pakaian, kendaraan, rumah, dan seterusnya) yang kita alami hari ini, tidak terjadi karena perkembangan teknologi semata. Atau sekedar karena pembukaan jalur-jalur perdagangan. Kemudian ditemukannya benua-benua baru. Daratan-daratan baru. Tidak. Tapi kemajuan tersebut karena aktivitas manusia yang disengaja lewat pertempuran, pertikaian, dan perjuangan. Baik di medan perang, jalanan, bengkel-bengkel kecil, pun pabrik-pabrik besar. Dalam pamfletnya yang terkenal, sosiolog Jerman, Karl, mendefinisikan sejarah perkembangan manusia sebagai sejarah pertentangan kelas. Yakni kelas tuan vs kelas budak. Kelas tuan-tanah vs kelas hamba. Kelas majikan vs kelas pekerja.
Dan jika kita melihat sejarah masa sekarang, maka (secara simplifikasi) penderitaan kehidupan yang dialami oleh mayoritas orang Indonesia merupakan konsekuensi dari kekalahan dalam pertempuran di masa lalu1. Dalamnya kekalahan itu bahkan belum bisa ditebus oleh pencapaian-pencapaian2 yang sudah diraih.***
Berkaitan dengan sejarah, saya ingin mengajak pembaca, terutama yang berada di Kediri, untuk mengambil perhatian pada monumen Simpang Lima Gumul. Ya, orang Kediri mana yang tak tahu. Sebuah monumen yang terinspirasi Arc de Triomphe-nya Paris. Menurut pemerintah, tujuan pembangunannya untuk memperingati sejarah dan budaya Kediri, selain juga sebagai pusat rekreasi.
Sementara Arc de Triomphe yang asli, awalnya dibangun untuk memuja Napoleon dan memperingati kemenangannya dalam perang Austerlitz. Setelah Republik Ketiga Prancis menjadi pemerintahan permanen, narasinya diubah menjadi monumen untuk rakyat Prancis, bukan Napoleon. Serta citranya diubah dari simbol perang menjadi simbol budaya dan republikanisme.
Tahun-tahun sebelum Republik Ketiga Prancis menjadi permanen, terdapat sebuah gerakan sosial yang dikenal dengan Komune Paris (Komune). Sebuah gerakan yang menentang pemerintah Prancis saat itu karena tidak memihak rakyat Paris. Baik dalam kebijakannya, pun dalam perang melawan Prusia. Komune nantinya akan dilumat oleh pemerintah Prancis di bawah pimpinan Adolphe Thiers (Si Setan Cebol3) yang kelak menjadi presiden kedua dan pertama Prancis.~
Kembali ke replika Arc de Triomphe. Pemerintah mengklaim bahwa monumen tersebut mengandung “nilai budaya”. Hal itu terasa sangat kosong. Apalagi jika yang dimaksud nilai budaya adalah gambar-gambar di sekeliling monumen. Tamparan Anatole France, seniman asal Prancis, tampaknya telah mendapatkan tempatnya; “Aku telah melihat aliran seni baru ini di negara lain, tapi tak seburuk di sini. Malangnya, hanya di tempat kita inilah bisa diratapi seni arsitektur yang paling jelek dengan model kejelekan baru yang paling jelek pula. Model penjiplak!”.4
Dan tanpa mengerdilkan, klaim kegagahan monumen itu juga berbanding lurus dengan “keakuan” para kelas menengah yang keterlaluan dalam mengagungkan atau bahkan mengkultuskan “Kediri dan sejarahnya”. Kemudian diperparah dengan relasi klientelisme5. Hal itu menghadirkan dan melanggengkan ketidakpercayaan-diri masyarakat serta menegaskan kelemahan mereka yang di bawah. Dan di sisi lain mempertebal hegemoni mereka yang di atas. Ya, sama seperti wilayah lainnya, Kediri juga dicengkeram oleh politik dinasti dan oligarki.
Belajar dari Komune, gerakan tersebut tak pernah mendaku sebagai role model gerakan. Tapi ia dipelajari di berbagai gerakan, di penjuru dunia. Kelebihan-kelebihannya merupakan “penemuan” oleh gerakan pekerja. Dan kekurangannya adalah pelajaran berharga dalam sejarah pergerakan.
Dalam Komune, pemerintahan mandiri dibangun dan dirumuskan oleh para pekerja. Bukan oleh para pebisnis. Tak ada “orang terkenal”, ataupun seleb, yang menduduki jabatan tinggi. Mereka orang-orang biasa. Tapi mereka bukan “bungkusan kosong”. Sehingga Komune bersifat “universal, dan tidak sektarian”. Komune tidak menggantungkan nasibnya pada ramalan raja-raja dan mitos sejarah terdahulu. Cita-cita Komune mulia. Cita-cita emansipasi ekonomi-politik yang meyeluruh dari para pekerja. Cita-cita Komune abadi dan dilanjutkan oleh pekerja di manapun di seluruh dunia. Meskipun dikalahkan, kerja-kerja komune mewariskan pada kita bentuk politik yang bahkan lebih emansipatoris dari pada saat ini. Sementara pemerintahan kita dengan “kemerdekaan” 80 tahunnya hanya mampu meliberalisasi ekonomi dan mengkomodifikasi kehidupan. Itupun dalam bentuk tiruan yang terburuk[!].**


Sejarah kehidupan kita yang getir saat ini adalah akumulasi kekalahan struktural dalam pertempuran ekonomi politik. Perkembangan ekonomi kita yang selalu dependen dan terbelakang membuat krisis semakin dalam dan terasa. Monumen-monumen megah hanyalah fetis arsitektur6 untuk menutupi kegagalan industri nasional yang mandiri. Ironisnya, justru di momen “kemerdekaan” inilah ketergantungan modal luar negeri mencapai puncaknya. Sementara pendapatan riil terus tergerus inflasi.
Dengan demikian, pelajaran dari sejarah Komune menjadi sangat relevan secara politik. Dan jika pemerintah menduplikat monumennya, maka kita tunjukkan pergerakan rakyatnya;
Pada Mei 1871, Komune merobohkan Pilar Vendôme. Sebuah monumen yang lain. Yang merupakan simbol imperialisme Napoleon. Dan Komune mengganti nama tempatnya menjadi Place Internationale. Bukan Place Nationale. Bukan pula Place de France. Yang demikian menunjukkan visi Komune yang tidak terbatas oleh sekat nasionalisme yang picik. Dan selama berdirinya Komune, mereka merapatkan secara bersama, proposal-proposal tentang pendidikan, estetika, metode dan organisasi. Inilah pelajaran berharga yang kemudian diwariskan pada berbagai gerakan pekerja, pun di Indonesia. Sayangnya, dalam periode sejarah kita, warisan itu kemudian dihancurkan oleh kelas berkuasa sejak September ‘65.
Tugas sejarah kita saat ini adalah mengambil pelajaran tersebut. Dengan rendah hati dan menghilangkan keakuan, memungut nilai-nilai berharga dari puing-puing yang tersisa. Untuk selanjutnya secara bersama, mengakurasi kembali pekerjaan-perlawanan yang telah dilakukan selama ini. Bukan sekedar untuk meraih kemenangan. Tapi untuk mencapai kehidupan yang lain. Yang dari kehidupan itu sendiri, dapat tumbuh dan berkembang secara bersama, corak produksi kebutuhan hidup yang lebih adil emansipatoris.
Kawan, tidak tertarikkah engkau bergabung bersama kami, bersama orang-orang kalah untuk mewarisi dan mewujudkan tujuan tersebut?
❃°•°❀°•°❃•
Catatan
- Adalah Orde Baru, kelas berkuasa dan yang paling bertanggung jawab dalam mempreteli kekuatan progresif di Indonesia.
- Berbagai pencapaian sempat diraih, seperti reformasi ‘98. Sayangnya 6 tuntutan reformasi ‘98 bahkan telah dilucuti secara bertahap oleh negara. Terakhir lewat restorasi Dwifungsi ABRI pada Maret 2025 lalu.
- Karl menyematkan julukan “Si Setan Cebol” untuk melaknat dan menunjukkan kekejaman Thiers.
- Anatole France, dalam novel satire sejarahnya berjudul Hikayat Penguin yang terbit pertama kali pada 1908.
- Klientelisme merupakan hubungan sosial-politik yang bersifat timbal balik dan tidak setara (dengan kecenderungan relasi feodal) antara pihak yang kuat (patron) dengan pihak yang lebih lemah (klien).
- Sebelum garuda IKN, deretan monumen dengan anggaran tak masuk akal telah mendahuluinya. Ya, salah satunya Simpang Lima Gumul.

