Oleh

Kuba menghadapi tantangan untuk menjaga dan menyempurnakan capaian-capaian sosial yang telah diperjuangkan dengan susah payah, di tengah konteks yang sangat kompleks. Negara ini menghadapi kelangkaan bahan pokok, berlanjutnya permusuhan Amerika Serikat, serta perjuangan sehari-hari untuk menopang negeri di tengah krisis kelistrikan yang mendalam.
Dalam situasi ketegangan dan perlawanan ini, Kuba menegaskan kembali tekadnya untuk terus melangkah maju tanpa melepaskan prinsip-prinsipnya, dengan memprioritaskan pencapaian sektor-sektor esensial seperti pendidikan—pilar historis dan moral dari proyek sosial yang lahir bersama kemenangan Revolusi.
Tahun ini menandai satu abad kelahiran Fidel Castro Ruz dan peringatan ke-67 kemenangan Revolusi Kuba. Pendidikan muncul sebagai salah satu pilar paling kokoh dan bertahan lama dari pemikiran dan karya revolusionernya. Berakar dalam pada gagasan José Martí1, Fidel memahami pendidikan bukan hanya sebagai hak asasi manusia yang tak dapat dicabut, melainkan juga sebagai tanggung jawab sosial bersama: setiap orang yang lahir ke dunia memiliki hak untuk dididik sekaligus kewajiban moral untuk turut mendidik orang lain.
Kedekatan Fidel sejak usia dini dengan gagasan Martí, bersama dengan pendidikan keluarganya dan kesulitan yang ia alami selama masa sekolah, membangkitkan dalam dirinya semangat belajar yang tak terpuaskan. Sejak muda, ia memahami bahwa hanya rakyat yang berbudaya yang dapat menjamin masa depan yang sejahtera dan benar-benar merdeka bagi bangsanya. Keyakinan ini secara menentukan membentuk jalan politik dan revolusionernya.
Setelah kemenangan Revolusi pada 1 Januari 1959—tanggal yang dikenang dengan bangga oleh rakyat Kuba—dorongan untuk memperluas pendidikan segera diwujudkan. Fidel kerap menyatakan bahwa hal terburuk yang bisa dilakukan kepada seorang anak adalah merampas haknya untuk mendapat pendidikan. Sejalan dengan keyakinan itu, salah satu inisiatif besar pertama pemerintah revolusioner yang baru adalah Kampanye Pemberantasan Buta Huruf2.
Kampanye ini disusul oleh perjuangan untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pelatihan guru-guru sukarelawan, Reformasi Universitas 19623, serta perluasan sistem pendidikan yang berkelanjutan di seluruh negeri. Sebagaimana dicatat oleh spesialis Lesbia Cánovas, transformasi-transformasi ini merupakan sebuah prestasi sejati rakyat Kuba, yang senantiasa dipandu oleh visi Fidel yang tak terbantahkan.
Akses massal terhadap pengetahuan dan perkembangan pendidikan terkait erat dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Menurut Dr. Iván Barreto Gelles, direktur Perusahaan Informatika dan Media Audiovisual Cinesoft, kenyataan ini terwujud berkat visi jauh ke depan Fidel.
Bahkan di masa-masa paling sulit sekalipun—seperti Periode Khusus4 pada dekade 1990-an—ia tetap mempertahankan perlunya menanamkan sumber daya pada sains dan teknologi sebagai jalan menuju bangsa yang sejahtera dan berkelanjutan. Dari tahap itulah lahir Kutub Sains5 dan perluasan pengembangan teknologi ke seluruh universitas, yang menjamin bahwa hari ini, bahkan di sekolah-sekolah pegunungan yang paling terpencil sekalipun, televisi dan komputer telah hadir.
Berkat visi strategis itu, Kuba menjadi negeri para ilmuan, baik laki-laki maupun perempuan. Namun warisan pendidikan Fidel tidak terbatas pada struktur atau program; ia juga terungkap dalam relasinya yang dalam dan penuh perasaan dengan generasi muda. Ia senantiasa mencari ruang-ruang dialog dengan generasi baru, mengajak mereka untuk mengubah dan mencipta, untuk mempelajari sejarah sebagai jalan penting menjadi revolusioner melalui kesadaran mereka sendiri—bukan sekadar pengulang slogan-slogan kosong.
Di tahun peringatan seabad kelahirannya ini, kehidupan dan pemikiran Fidel Castro harus terus menjadi bagian integral dari ruang-ruang kelas Kuba, bukan sebagai sejarah yang jauh, melainkan sebagai rujukan yang hidup. Melalui kajian, refleksi, dan dialog, generasi baru dapat menemukan dalam warisannya sumber keyakinan etis, ketelitian intelektual, dan komitmen kemanusiaan. Dengan demikian, nama dan cita-citanya akan bertahan di tempat yang paling penting: dalam pendidikan, salah satu capaian paling mulia dan paling abadi dari Revolusi Kuba.
Catatan
- Catatan Penerjemah: José Martí (1853–1895) adalah pahlawan kemerdekaan nasional Kuba, penyair, dan pemikir yang gagasannya tentang pendidikan dan kemerdekaan menjadi rujukan ideologis utama bagi Revolusi Kuba, termasuk bagi Fidel Castro sendiri.
- Kampanye Pemberantasan Buta Huruf (Literacy Campaign) merujuk pada program nasional tahun 1961 yang mengerahkan ratusan ribu sukarelawan, sebagian besar pelajar muda, untuk mengajarkan baca-tulis ke pelosok negeri. Program ini dianggap sebagai salah satu keberhasilan sosial paling terkenal dari Revolusi Kuba.
- Reformasi Universitas 1962 adalah restrukturisasi menyeluruh sistem pendidikan tinggi Kuba pasca-revolusi, yang bertujuan menyelaraskan universitas dengan kebutuhan pembangunan sosialis negara.
- Periode Khusus (Special Period) adalah istilah resmi Kuba untuk krisis ekonomi berat pada 1990-an, yang dipicu runtuhnya Uni Soviet dan hilangnya bantuan serta perdagangan dari blok sosialis, sehingga Kuba mengalami kelangkaan bahan bakar dan pangan yang parah.
- Kutub Sains (Polo Científico) adalah jaringan lembaga penelitian ilmiah dan bioteknologi Kuba yang dikembangkan sejak akhir 1980-an, berpusat di Havana.

