Membaca “Lelaki Malang, Kenapa Lagi?”: Refleksi Nasib Pekerja Indonesia Hari Ini

Membaca Lelaki Malang

“Karyawan,” kata Morschel. “Kalian berpikir bahwa kalian lebih baik daripada kami para buruh.”

Kutipan tersebut mengingatkan saya pada peristiwa 1 Mei lalu, ketika gerakan kelas pekerja Indonesia tampak semakin terbelah. Di satu sisi, ada faksi buruh yang memilih mendekat pada kekuasaan. Di sisi lain, ada mereka yang tetap melawan kebijakan pro pemodal. Ironinya, perpecahan itu justru melemahkan solidaritas yang semestinya menjadi fondasi gerakan buruh.

Tentang Penulis
Cahya Putra Alim adalah Pekerja Serabutan.

Perpecahan tersebut mirip kisah dalam buku Lelaki Malang, Kenapa Lagi?(judul asli: Kleiner Mann – was nun?) karya Hans Fallada. Yakni tentang kondisi pekerja Jerman pada awal 1930-an yang terpecah secara ideologis antara Sosial Demokrat, Komunis, dan faksi lain yang akhirnya dimanfaatkan oleh fasisme dan kapitalis. Fallada merekam secara presisi bagaimana absennya kesadaran kelas yang utuh hanya akan membuat kaum pekerja semakin mudah diremukkan oleh mesin kapitalisme.

​Buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Tiya Hapitiawati dan diterbitkan Moooi Pustaka ini menceritakan perjuangan kehidupan Johannes Pinneberg dan istrinya, Emma atau yang akrab dipanggil “Lämmchen”. Karya ini jelas bukan sekadar novel roman tragis yang menguras air mata. Lebih jauh dari itu, buku ini merupakan literatur perburuhan klasik yang secara luar biasa membongkar kerentanan kelas pekerja kerah putih. Pinneberg mewakili jutaan pekerja muda yang terjebak dalam ilusi kelas menengah. Pekerja model ini sering kali enggan menyamakan diri dengan buruh kasar, serta sangat percaya bahwa kerja keras dan kepatuhan absolut pada atasan akan menyelamatkan mereka dari jurang kemiskinan. Kenyataannya, sistem tidak berjalan seperti itu. Terutama pada kondisi ekonomi yang cenderung menurun. Ia (baca: sistem kapitalis) memiliki cara kerja yang jauh lebih sistematis dan kejam dalam menyingkirkan manusia yang tidak lagi menghasilkan keuntungan.

Jika kalian tidak asing dengan tulisan-tulisan Realisme Sosialisnya Pram, akan sangat mudah untuk mencerna buku ini. Karena Hans Fallada menulis karya ini menggunakan corak New Objectivity (Objektivitas Baru)1 yang berkembang pada era Republik Weimar. Aliran sastra ini memotret penderitaan ekonomi secara faktual dan menolak segala bentuk romantisasi kemiskinan menjadi melodrama. Fallada membedah realitas kelas pekerja dengan menyajikan rincian keseharian—seperti ketatnya perhitungan anggaran rumah tangga, fluktuasi harga kebutuhan pokok, hingga tekanan kuota penjualan—secara observasional dan lugas. Pendekatan yang menurut saya hampir menyerupai laporan jurnalistik ini memiliki fungsi sebagai instrumen analitis yang tajam untuk memperlihatkan bagaimana struktur ekonomi kapitalis secara sistematis mengeksploitasi dan menghancurkan kehidupan pekerja di bawahnya.

Melalui gaya realisme tersebut, Fallada menelanjangi mitos meritokrasi yang sering kali masyarakat modern agungkan bagai agama baru. Dalam tatanan kapitalisme, terdapat narasi manipulatif bahwa siapa pun yang bekerja cukup keras pasti akan berhasil mencapai kesuksesan finansial. Namun, melalui tokoh Pinneberg, saya melihat seorang pekerja yang sudah mematuhi semua aturan main. Ia bekerja melebihi jam kerja normal, berpakaian rapi layaknya pekerja kantoran terhormat, patuh pada perintah atasan, dan selalu menunduk menghindari konflik. Meskipun demikian, kepatuhan total tersebut tidak menyelamatkannya dari kehancuran ekonomi yang bersifat struktural. Sistem ekonomi yang memprioritaskan akumulasi modal di tangan segelintir elite akan selalu menjadikan pekerja rendahan sebagai bantalan pelindung dan tumbal pertama saat perusahaan terancam krisis. Fakta naratif ini memberikan pukulan telak pada diskursus “kurang kerja keras” atau tuduhan “mental tempe” yang sering kali kelas elit lemparkan kepada pekerja miskin hari ini.

​Inti penderitaan Pinneberg bermuara pada eksploitasi gila-gilaan di tempat kerjanya. Saat ia pindah ke Berlin dan mendapat pekerjaan di sebuah toko pakaian raksasa, ia harus menghadapi majikan yang manipulatif dan manajer personalia bernama Mandel yang sama sekali tidak memiliki empati kemanusiaan. Perusahaan menetapkan sistem kuota penjualan harian yang sangat mustahil untuk dicapai oleh para stafnya. Pinneberg dan rekan-rekannya terpaksa harus saling sikut, saling curiga, dan saling menjatuhkan satu sama lain demi memenuhi target tersebut dan menghindari ancaman pemecatan. Kondisi ini mencerminkan secara langsung konsep keterasingan atau alienasi pekerja. Pinneberg terasing dari produk pakaian yang ia jual, ia terasing dari sesama pekerja yang kini ia pandang sebagai musuh bersaing, dan puncaknya, ia terasing dari nilai kemanusiaannya sendiri. Di mata perusahaan, ia bukan lagi manusia utuh yang memiliki keluarga, melainkan sekadar instrumen pencetak laba yang nilainya perusahaan tentukan murni berdasarkan angka penjualan hari itu.

Realita eksploitatif ini memiliki cerminan yang sangat nyata dalam lanskap ketenagakerjaan Indonesia masa kini, terutama ketika berbagai regulasi pro-pemodal semakin melucuti hak-hak dasar pekerja. Manajemen perusahaan sering kali membungkus budaya kerja eksploitatif dengan dalih “fleksibilitas” atau “pengembangan diri”, padahal perusahaan secara leluasa memeras sisa tenaga pekerja dengan mematok beban kerja harian yang mustahil diselesaikan dalam waktu normal. Memaksa mereka lembur tanpa dibayar sepeser pun. Situasi ini diperparah oleh masifnya penerapan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang tak berujung dan praktik alih daya (outsourcing), yang secara sistematis merampas kepastian kerja para pemuda. Layaknya Pinneberg di Berlin sembilan dekade silam, pekerja Indonesia hari ini berangkat kerja di bawah teror ancaman PHK sepihak yang prosesnya kini semakin dipermudah oleh aturan negara. Ketiadaan perlindungan hukum yang berpihak pada kelas bawah, ditambah minimnya kesadaran pekerja kantoran untuk mengorganisasi diri dalam serikat buruh, membuat mereka tidak memiliki alat perlawanan kolektif apapun untuk menghadapi kesewenang-wenangan pemilik modal.

​Selain krisis dan eksploitasi di tempat kerja, Fallada juga dengan sangat tajam menyoroti krisis ruang hidup yang menyiksa kelas pekerja. Pinneberg dan Lämmchen harus menghitung dan mencatat setiap peser uang receh hanya untuk membayar sewa kamar yang sempit, membeli makanan pokok yang paling murah, dan merawat bayi mereka yang baru lahir. Mereka terus-menerus terpinggirkan dari pusat kota dan harus hidup berpindah-pindah dalam kondisi perumahan yang memprihatinkan akibat mahalnya biaya sewa properti. Segala hal yang esensial dan menjadi hak dasar untuk hidup manusia telah berubah menjadi komoditas pasar yang harganya tidak terjangkau.

Perjuangan pasangan muda mengatur keuangan ini merupakan cermin presisi dari ketimpangan ekonomi masa kini. Di Indonesia, kelas pekerja terus bergulat dengan stagnasi upah minimum yang tidak pernah mampu mengejar lonjakan laju inflasi harga kebutuhan pokok. Kepanikan Pinneberg saat membalik-balik dompetnya yang kosong pada pertengahan bulan adalah representasi nyata dari keresahan kolektif generasi pekerja hari ini. Di samping itu, monopoli tanah memotong habis harapan pekerja muda untuk memiliki tempat bernaung yang aman secara permanen. Mereka terpaksa menyewa kos atau rumah kecil di daerah pinggiran, menghabiskan waktu berjam-jam menembus kemacetan, dan menyerahkan sebagian besar upah bulanan mereka hanya untuk menyewa ruang hidup. Tekanan ekonomi yang konstan ini tidak hanya menguras isi dompet, tetapi juga menghancurkan psikologis. Fallada menunjukkan dengan kejam bagaimana kemiskinan struktural secara perlahan-lahan mengikis rasa percaya diri dan martabat seorang manusia, terutama ketika institusi negara sepenuhnya abai dalam memberikan jaring pengaman sosial.

​Namun, di tengah realitas yang begitu gelap dan menghancurkan, novel ini menempatkan karakter Lämmchen bukan sekadar sebagai figur istri pelengkap penderitaan. Lämmchen tampil sebagai jangkar kesadaran yang melawan logika oportunistik dan individualis dari sistem ekonomi yang sedang membusuk. Ia berpikir sangat taktis, penuh solidaritas, dan terus menjaga nyala api kemanusiaan di dalam keluarga kecil mereka. Dalam dunia kapitalis yang secara brutal berusaha merampas segalanya dari kelas pekerja—mulai dari sisa tenaga, waktu luang, hingga harga diri—koneksi antarmanusia yang saling berempati adalah satu-satunya wilayah merdeka yang gagal dikuasai oleh sistem ekonomi tersebut.

Di tempat tidur, Lämmchen membiarkan suaminya merebahkan diri di lengannya, dia memeluk erat, saraf-saraf suaminya seolah terkulai lemas, lalu dia menangis.  Lämmchen mendekapnya dan terus menyemangatinya: “Junge, seandainya kau harus kehilangan pekerjaanmu, jangan sampai kau kehilangan keberanianmu, jangan pernah putus asa. Aku tak akan, tak akan, tak akan pernah mengeluh, aku bersumpah padamu!”

 

​Pada akhirnya, pertanyaan “Was nun?” (Kenapa lagi? atau Lalu apa sekarang?) yang menjadi penutup pahit dari buku ini tidak boleh kita jawab dengan kepasrahan buta. Membaca Lelaki Malang, Kenapa Lagi? hari ini adalah sebuah panggilan mendesak untuk membangun kesadaran kelas di kalangan pekerja muda. Nasib tragis Johannes Pinneberg membuktikan secara historis bahwa pekerja tidak bisa lagi mengandalkan solusi individualistik—seperti bekerja lebih keras dari rekan di sebelah meja—untuk melawan sistem yang secara struktural memang dirancang untuk mengeksploitasi mereka. Selagi sistem ekonomi masih berpusat pada penumpukan kekayaan di tangan segelintir elite dan terus mengorbankan kesejahteraan mayoritas, nasib kelas pekerja tidak akan pernah memiliki kepastian.

Buku terkait yang diulas

  • 02-lelaki-malang-kenapa-lagi
  • lelaki-malang
    Out of stock

Catatan

  1. Catatan editor: Neue Sachlichkeit atau Objektivitas Baru adalah gerakan seni dan sastra Jerman pada era 1920-an yang muncul sebagai reaksi terhadap ekspresionisme. Gerakan ini menekankan penggambaran realitas secara dingin, tajam, dan apa adanya, terutama terhadap kehidupan sosial, kemiskinan, birokrasi, perang, serta krisis masyarakat modern.

Share your thoughts