
Oleh
Ada momok bergentayangan di seluruh dunia—momok Sosialisme. Seluruh penguasa dan pemodal di dunia bertolak dan menghantamnya dengan segenap kekuatan. Menantangnya dengan segala cara; merapal mantra kebijakan, mengusirnya dari gubuk-gubuk reyot, dari rumah-rumah ibadah yang dibangun bersama, serta menembakkan meriam atasnya. Mereka (penguasa dan pemodal–borjuis) mewariskan ketakutan pada generasi terbaiknya.
Namun, kenyataan berkata lain. Penistaan yang selama ini dilakukan para borjuis menemui jalan buntu. Sebuah tembok besar menghadang, tidak hanya di depannya, tetapi juga di sekilingnya. Sementara dari dalam tembok tersebut, merayap sebuah aib. Penyakit laten (krisis) dari momok yang sesungguhnya,–kapitalisme – yang telah lama, dan berulang kali dibela atas kekejiannya.
Saat ini, sebuah bencana sedang mengancam kehidupan umat manusia dan masa depannya. Di mana doa-doa yang selama ini dipanjatkan para borjuis dijungkirbalikan oleh kehidupan nyata, yang benar-benar terjadi, dan yang tak bisa dihindari. Sendi-sendi penopang kehidupan manusia mengalami kekacauan, bahkan ada yang terlepas dari persambungannya. Kerugian dalam jumlah besar segera meluas, kebangkrutan menjadi potensi. Bersamaan dengannya, pasar saham bersiap melepaskan ledakan yang telah lama dikandungnya. Para ekonom borjuis dan spekulan1 terjun bebas dengan mata terbuka. Kepanikan merasuk ke dalam gedung-gedung mereka. Sementara barisan pekerja bersiap bebas dari pasungannya.
Adalah Coronavirus Disease (Covid 19), krisis global yang saat ini menjangkiti kehidupan seluruh manusia, tidak terkecuali para borjuis. Ia datang secara mendadak. Bahkan tahun kemarin, mayoritas penduduk dunia belum mengenalnya. Krisis ini bersiap mencegat krisis sistemik (krisis yang terjadi akibat berbagai masalah pada tiap bagian penyusun sebuah sistem yang, pada akhirnya merusak sistem itu sendiri) dalam kapitalisme. Menabraknya dan bersamaan dengannya, meluluhlantakkan perhitungan-perhitungan sakral ekonomi.
Pada titik inilah kita dipaksa untuk mengambil perhatian atasnya. Terhadap dampak nyata dari pandemi Covid-19. Sementara itu, adalah rahasia umum bahwa kita, mayoritas dari bagian penduduk dunia, yang akan terkena imbas paling besar dari krisis ini. Dan masih pada posisi yang sama, kita melihat tidak ada pilihan yang bisa diambil mengingat kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah kita juga bukan merupakan sebuah solusi berarti. Bersamaan dengannya, terdapat fakta bahwa sistem yang saat ini, dan telah lama diterapkan, justru berpotensi menciptakan wabah-wabah yang lebih ganas yang, di dalam potensi tersebut, kita juga menemukan kenyataan bahwa sistem tersebut sangat berbakat dalam memasifkan penyebaran wabah, bencana dan sejenisnya.
Di tengah kondisi demikian, nampaknya tidak ada harapan bagi umat manusia untuk bisa lolos dari krisis ini tanpa kehilangan banyak pencapaian di berbagai bidang; ekonomi, politik, budaya, sains, seni dan tentunya populasi.
Bertolak dari kenyataan itulah, kita selanjutnya dihadapkan pada pertanyaan umum yang berkaitan dengannya; Apa yang harus kita lakukan untuk bisa menang dalam perang melawan pandemi saat ini? Lebih jauh, upaya apa yang bisa kita tempuh untuk mengantisipasi adanya ancaman serupa (wabah, bencana, dan sejenisnya) yang berpotensi datang di masa depan?
Dari sini, agaknya kita juga perlu melihat kemungkinan yang ada di depan mata, yang merupakan akibat atas keputusan yang kita ambil sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut. Bukan untuk meramalkan masa depan, tetapi untuk menelaah dampak yang memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya, yang sangat mungkin untuk terjadi.
Potensi: Sebuah Badai yang Lebih Besar
Setiap periode, betapapun dalamnya akar periode tersebut ditanamkan, pada mulanya, mesti mengaitkan dirinya dengan periode-periode sebelumnya. Menghubungkannya dengan ilmu pengetahuan, gagasan-gagasan, dan fakta-fakta ilmiah materiil (yang nyata) di dalamnya yang, selanjutnya dibawa ke masa atau kehidupan berikutnya. Ini adalah suatu kepastian (keniscayaan), atau setidaknya terdapat premis yang menyatakan bahwa; kehidupan sekarang, memiliki hubungan dengan kehidupan sebelumnya, dan akan menjadi penghubung – sekaligus membawa karakter umumnya –dengan kehidupan di masa mendatang.2
Berkaitan dengan pandemi ini, Harari (sejarawan dan profesor di Universitas Ibrani Yerusalem) misalnya, dalam penjelasannya memberitahukan kepada kita melalui titik berangkat; sebuah keputusan yang diambil pada periode tertentu dalam menghadapi “keadaan darurat” —situasi khusus karena perang, bencana, dan sejenisnya–yang, dalam hal ini adalah pandemi yang menjadi krisis global, akan banyak berdampak pada kehidupan pasca pandemi.3
Pada “keadaan darurat”, segala hal dapat dilakukan, atau tepatnya diberlakukan, meskipun pada “keadaan normal” hal tersebut tidak mungkin atau bahkan ditentang. Pada situasi khusus tersebut, ia (beberapa hal yang diberlakukan) menjadi perlengkapan kehidupan manusia.4 Sebagaimana dapat kita saksikan, beberapa negara melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Seperti melakukan upaya nasionalisasi industri-industri yang menjadi sektor penting dalam penanganan pandemi ini.5 Fenomena demikian juga pernah terjadi pada periode Perang Dunia I, yang mana dalam “keadaan darurat”, negara-negara kapitalis memberlakukan kebijakan yang mereka sebut “Sosialisme Militer”, yakni pengambilalihan seluruh sektor-sektor industri yang berkaitan dengan perang oleh pemerintah kapitalis dengan tujuan meningkatkan output persenjataan.6
Bersamaan dengannya, kita juga melihat di berbagai negara melakukan antisipasi penyebaran Covid-19 dengan memberlakukan lockdown; sebuah protokol darurat yang tujuannya untuk membatasi/mencegah masyarakat atau informasi meninggalkan suatu wilayah/area. Bahkan di Tiongkok sendiri, yang merupakan tempat pertama munculnya Covid-19, pemberlakuan lockdown juga disusul upaya peningkatan/pengetatan pengawasan untuk menekan penyebaran pandemi ini.
Pemerintah Tiongkok bekerja sama dengan beberapa perusahaan di sana untuk membuat sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence –AI) dengan cara melakukan pengembangan “sensor deteksi suhu tubuh” menkombinasikannya dengan “sistem pendeteksi wajah”. Tidak sampai di situ, sistem ini juga menuntut partisipasi rakyat Tiongkok untuk memasukkan data pribadinya secara sahih ke dalam sistem basis data bersekala besar (Big data).7 Dengan perpaduan antara AI dan Big data yang cepat, setiap rakyat Tiongkok dapat diketahui/dilacak pergerakannya. Sehingga antisipasi kemungkinan atas terjadinya kontak secara tidak sengaja dengan pasien atau pembawa Covid-19 bisa dilakukan. Dengan demikian, potensi penyebaran Covid-19 dapat ditekan, lebih lanjut pandemi ini dapat dikalahkan.
Mengenai fenomena dalam “keadaan darurat” tersebut kita kembali melihat pada premis di awal bagian ini. Sebagaimana yang juga disampaikan oleh Harari, bahwa penangangan demikian; pengawasan dengan ketat yang, bahkan sampai ke ranah privat, pada satu sisi memang bisa digunakan untuk menghadapi pandemi ini. Namun, ibarat pedang bermata dua, yakni di sisi yang lain, ia dapat menjadi ancaman bagi kehidupan manusia pasca pandemi8. Dengan sistem ekonomi politik yang diterapkan saat ini, yang seluruh sistem produksi reproduksi kehidupan didasarkan pada profit/laba, tidaklah sulit untuk membayangkan apa yang terjadi dengan data pribadi setiap manusia yang digenggam oleh penguasa. Pemberlakuan pengawasan secara ketat pada “keadaan darurat”, kemungkinan bisa menjadi titik tolak atas lahirnya rezim pengawasan totaliter pasca-keadaan darurat. Hal itu nampaknya sulit untuk di hindari ketika data telah bertransformasi menjadi senjata.
Pada titik inilah, sebuah pertanyaan sederhana terbesit; Apakah kita hendak melepaskan kebebasan yang berharga ini hanya demi kehidupan, atau setidaknya kesehatan yang sesaat?***
Sementara itu, pada sektor ekonomi, potensi kebangkrutan sejumlah perusahaan ataupun industri saat ini tepat berada di depan mata. Berbagai upaya pemerintah kapitalis pun dilakukan. Salah satunya, dan yang menjadi sandaran, adalah memotong pajak sementara untuk menutupi kerugian atau potensi kebangkrutan perusahaan. Hal ini berarti memangkas anggaran untuk jaminan sosial atau bahkan menangguhkannya. Di negara kita misalnya, ancaman ambruknya perekonomian negara tampaknya lebih mengerikan daripada genosida massal oleh Covid-19.
Pada dua bulan yang lalu misalkan, presiden kita menyetujui subsidi pusat ke Pemerintah Daerah (Pemda) sebesar Rp3.3 triliun yang nantinya akan digunakan untuk membebaskan pajak hotel dan restoran.9 Selain itu, beberapa paket kebijakan untuk memberikan insentif ke sektor-sektor bisnis, juga rencananya akan diputuskan dalam rangka mengambil momentum krisis di Tiongkok akibat Covid-19 yang juga berimbas pada pemasukan negara dan industri-industri kapitalis. Lebih lanjut, ketika Covid-19 telah nyata masuk ke Indonesia. Presiden kita mengumumkan penambahan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp405.1 triliun, yang mana hampir 50% dari total anggara tersebut akan digunakan untuk menalangi kerugian di sektor ekonomi.10 Di Amerika Serikat (AS) sendiri, kiblat negara kita, Trump – presiden AS – telah menandatangani rencana stimulus sebesar $2 triliun dalam rangka mengatasi dampak Covid-19.11
Berkaitan dengan apa yang terjadi tersebut, Naomi Klein (aktivis dan penulis asal Kanada), memberikan analisisnya tentang fenomena krisis dan keterkaitannya dengan kemungkinan ambruknya ekonomi, atau justru terpusatnya kekuatan ekonomi pada segelintir kapitalis. Klein dalam bukunya The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism12, menyebut kapitalisme, tepatnya “Kapitalisme Bencana”, memiliki keterkaitan erat dengan berbagai krisis-krisis ekonomi, politik dan teror yang terjadi. Dalam hal ini, industri kapitalis, cenderung mengambil keuntungan dari krisis skala besar. Klein menggunakan istilah “Doktrin Kejut” (Shock Doctrine) untuk merujuk pada strategi politik yang menggunakan krisis skala besar tersebut untuk mendorong melalui kebijakan yang sistematis pada upaya memperdalam ketidaksetaraan, memperkaya para elit dan melemahkan orang lain. Dengan demikian, Covid-19 adalah bencana yang sempurna bagi sebagian kecil industri-industri kapitalis untuk mengambil kesempatan dalam persaingan bebas.13
Pada kasus ini, ketimpangan akan menjadi semakin lebar. Hal tersebut sejajar dengan perkembangan kapitalisme itu sendiri, dan sesuai dengan karakter persaingan bebas yang diorientasikan pada laba. Sehingga pada perkembangannya, industri-industri kecil akan dilumat oleh industri-industri besar/mapan yang, selanjutnya membawanya pada pemusatan modal/kekayaan (konsentrasi kapital) dan produksi ke segelintir kapitalis. Di titik inilah proses konsentrasi tersebut mendorong perubahan dari kuantitas ke kualitas (dari jumlah ke kapasitas). Sehingga industri-industri besar tersebut mampu memanipulasi dan mengambil peran melalui monopoli-monopoli; kartel-kartel, sindikat-sindikat, dsj., secara signifikan, yang di dalam dirinya sendiri juga terdorong pada konsentrasi kapital dan bersamaan dengannya paksaan penumpukan modal/kekayaan (keharusan akumulasi kapital).14
Dengan demikian, sebuah krisis bisa jadi adalah sebuah momen yang dihindari oleh mayoritas kapitalis sekaligus ditunggu dengan cemas atau bahkan sengaja diciptakan oleh segelintir kapitalis yang lebih besar. Inilah momen yang mana mereka dapat mempercepat proses, atau bahkan melewati hambatan/masalah melalui “keadaan darurat”. Yang dalam kenyataannya, dalam keadaan normal, hambatan tersebut tidak dapat dilewati atau setidaknya memakan waktu bertahun-tahun untuk melampauinya. Dari sini semakin jelas, gambaran umum potensi dunia pasca Covid-19 jika serangkaian hal tersebut atau hal lain yang memiliki karakter umum sama dengannya diberlakukan.
Lebih lanjut, dengan berbagai perkembangan teknologi dan pengetahuan yang ada sekarang, dan yang sebelumnya terhambat atau setidaknya dibatasi karena ketiadaan akses ataupun modal yang memadai. Maka pada “keadaan darurat”, akses/modal tersebut bisa dengan mudah didapatkan. Sehingga, bahkan dengan fasilitas yang cacat atau diragukan sekalipun, adalah sebuah potensi, untuk lahirnya sebuah rezim pengawasan totaliter, yakni sebuah periode kehidupan di mana segelintir kapitalis yang berhasil keluar dengan selamat dari krisis ini, – atau justru karena krisis ini ia berhasil selamat – dan selanjutnya bersama aristokrat (elit; ningrat) dan pemuka agama, bersatu padu dalam persekutuan suci untuk mengontrol dunia, mengontrol kita, mengontrol umat manusia dengan dalih kemanusiaan dalam kehidupan yang penuh dengan ketimpangan.
Sains dan Solidaritas Antar Manusia
Pada krisis global yang terjadi saat ini, kita juga menemukan berbagai fenomena lain, yang di dasarkan pada ketidakpahaman terhadap kehidupan nyata, yang mana berbagai unsur di dalam kehidupan tersebut memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Sehingga hal tersebut cenderung membawa pada kegagalan memahami proses-proses dalam kehidupan, atau dengan kata lain membawa pada cara pandang yang tidak “ilmiah”. Secara sederhana atau mungkin juga ekstrem; pembangkangan – dan iklim di dalamnya –terhadap pengetahuan ilmiah (sains) berpotensi membuat kita keliru/gagal dalam memahami kehidupan yang dapat menyeret pada pengingkaran atas perkembangan sejarah, dan dengannya secara paralel (sejajar) terhubung pada kecenderungan anti-sains.15
Di negara kita sendiri terdapat berbagai respon yang berkembang, mulai dari awal sebelum, hingga akhirnya pandemi ini diketahui masuk ke Indonesia. Para politisi kita, dan selanjutnya cenderung diikuti oleh para tokoh publik (aktris, aktris-kyai, aktris-pendeta dan berbagai kerabatnya), menunjukkan ketidakminatannya untuk berpikir ilmiah. Bahkan sejumlah peneliti dan pakar kesehatan yang mengklaim tentang kemungkinan adanya kasus Covid-19 di Indonesia, justru direspon dengan marah oleh para pejabat di Jakarta.16 Akibatnya ketika tsunami17 itu datang, solusi-solusi yang dilakukan untuk mengatasinya pun tidak matang. Hal tersebut bukanlah suatu kebetulan, akan tetapi ia dengan jelas menunjukan karakter ganda dari sistem di negara kita.
Kapitalisme sebagai sebuah sistem memang membawa sains, teknologi dan berbagai penemuan modern, mengalami kemajuan secara pesat. Namun, di dalamnya membawa juga – secara bersamaan – ancaman kehancuran yang dapat melemparkan kita, umat manusia, mundur jauh ke belakang, bahkan ke periode “barbarisme” (kondisi ketika umat manusia saling menikam, menjatuhkan dan memakan yang lainnya dengan sifatnya yang individualistik, dan dengannya terdapat kecenderungan anti-kemajuan, bahkan anti-sains yang bersamaan atasnya berbagai kekacauan dan kesalahan menjadi perlengkapan kehidupan sehari-hari). Dengan demikian, kita perlu mempelajari dan memilah antara yang bisa diambil kemudian dikembangkan, dan yang harus ditinggalkan serta dihancurkan karena menghambat perkembangan itu sendiri. Dan pada “keadaan darurat” inilah kesempatan kita untuk mempelajarinya, untuk mendapatkannya. Karena pada situasi khusus ini, beberapa lompatan besar kemungkinan akan dan bisa tejadi.
Berkaitan dengan hal tersebut, pandemi Covid-19 memaksa kita untuk membuka mata. Yang mana pengetahuan ilmiah pada akhirnya dapat membantu kita meraih kemenangan dalam perang terhadapnya, meskipun dengan menyisakan berbagai kerusakan di mana-mana. Dalam sejarah misalnya, berulang kali umat manusia berhasil menang melawan wabah, virus dan bencana dengan memanfaatkan sains.18 Meskipun dalam perjalanannya, hal tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Bahkan dengan keterbatasannya sekalipun, para ilmuwan terdahulu setidaknya mampu mengumpulkan informasi yang berkaitan langsung dengan wabah yang terjadi secara ilmiah.
Kini, dengan sains yang telah jauh berkembangan dan melampaui keterbatasannya, hanya dibutuhkan beberapa minggu untuk mengetahui sumber pandemi ini, yaitu dengan menganalisis dan menguraikan urutan genetik yang berkaitan dengan hasil mutasi19 dari Virus Corona Baru (Novel Coronavirus-2019–nCov).20 Temuan ini di awal-awal sangat membantu dalam melacak pergerakan Covid-19 yang kemudian, dalam minggu-minggu berikutnya penelitian untuk melawan pandemi ini juga mulai menemukan beberapa informasi – meskipun juga terbatas – terkait pencegahan terhadap Covid-19. Melalui bidang biologi anti-corona, para peneliti setidaknya telah menemukan cara pencegahan dan penanganan sementara terhadap Covid-19 secara ilmiah.21
Dari sini, paling tidak, sains –beserta teknologi dan sebagainya – adalah sebuah pencapaian luar biasa bagi sejarah manusia. Dengan memanfaatkannya, informasi yang berkaitan dengan penemuan terbaru yang berhubungan dengan Covid-19 tersebut juga lebih mudah disampaikan. Lebih lanjut segala upaya pencegahan dapat segera dilakukan; penyemprotan disinfektan, peningkatan kebersihan, dan pemberlakukan prosedur khusus dalam kehidupan adalah bukti nyata yang disingkap lewat krisis Covid-19 bahwa kita membutuhkan sains.
Namun, sains sendiri memiliki jangkauan-jangkauan (hukum) yang pada kondisi tertentu ia terhambat atau bahkan tidak berlaku. Dalam penanganan krisis sekarang ini misalnya, kita tidak bisa hanya menunggu22 hasil dari sains yang juga belum dapat dipastikan kapan hasil itu diperoleh. Sehingga, pada kondisi yang mana seakan-akan terdapat kevakuman bahkan stagnasi (depresi; kemandekan), beberapa keputusan yang paling mungkin, yang terdekat dan tercepat harus segera diambil.
Adalah solidaritas antar manusia (kemanusiaan) yang merupakan pilihan terdekat untuk menjadi senjata mutakhir dalam perang melawan berbagai wabah, bencana bahkan pandemi Covid-19 ketika sains belum membuahkan hasilnya. Pada fase di mana kita musti bertahan dengan kondisi tanpa perlengkapan pertahanan –secara kejam –, maka seluruh penemuan sains terdahulu tidak akan berarti tanpa adanya solidaritas yang meluas. Dan hal ini nampaknya telah ditempuh oleh beberapa kalangan di dunia.
Di negara kita sendiri misalnya, yang mana pemerintah menolak untuk pemberlakukan kebijakan lockdown, dapat kita temui berbagai kampanye solidaritas, penggalangan dan penyaluran kebutuhan oleh masyarakat/swasta, meskipun dalam jumlah yang sangat minim dan terbatas. Berangkat dari sini, solidaritas bukan berarti selesai dengan saling membantu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi lebih lanjut, di dalam solidaritas kita dituntut untuk saling percaya secara kritis dan jujur di antara manusia, di antara lingkungan sekitar. Percaya bahwa informasi yang diterima adalah benar, logistik tersalurkan dengan tepat dan aman digunakan, serta secara jujur memberikan informasi, baik informasi kesaksian menyangkut dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan.
Sayangnya, serangkaian hal tersebut – percaya pada sains dan solidaritas antar manusia – agaknya tidak dapat dilakukan dengan maksimal, atau justru mustahil untuk dilakukan. Penggunaan sains pada berbagai sektor kehidupan justru lebih sering menemui kesalahpahaman atau disalahartikan. Hal tersebut berbanding lurus dengan sistem kehidupan yang selama ini kita jalani. Yang mana sains dikembangkan bukan untuk tujuan membantu kehidupan manusia atau bahkan kemanusiaan. Melainkan untuk dikonversi menjadi laba, atau setidaknya sebagai instrumen untuk mengintensifkan tingkat laba. Hal tersebut pada akhirnya mempengaruhi kehidupan kita, termasuk di dalamnya cara kita melihat dan memikirkan sesuatu.
Pada sektor yang paling dekat misalnya yakni pangan, penggunaan sains justru bertumpu pada hal negatif, seperti pengawet buatan berbahaya, pewarna makanan berbahaya, penambah rasa dan aroma yang juga berbahaya, serta berbagai zat lainnya yang juga menciptakan segudang masalah di berbagai sektor. Sementara bersamaan dengannya, yakni paksaan penumpukan modal/kekayaan, mengakibatkan industri pangan – dan industri-industri lainnya – harus terus melakukan ekspansi (memperluas serta memperbanyak dirinya). Dengan demikian, ketika ruang-ruang di sekitarnya telah habis, ia akan mengambil ruang-ruang lain dengan segala cara, bahkan jika perlu, dengan mendesak ruang hidup manusia, ataupun makhluk lainnya. Bersamaan dengannya, berbagai perkembangan sains dan teknologi untuk memaksa meningkatkan produksi pangan yang, juga dilakukan oleh mayoritas industri, mendorongnya juga pada lompatan perubahan, yakni penyeragaman pangan.
Pada fase inilah, kita mengonsumsi pangan yang sama, sementara pada titik tertentu, ia juga mengalami lompatan perubahan dari kuantitas ke kualitas. Pangan yang tersedia pun mengalami penurunan secara kualitas (tidak layak atau bahkan berbahaya jika dikonsumsi). Sehingga kita pun cenderung memiliki stuktur pertahanan tubuh/kekebalan (antibody) yang sama.
Sementara itu, terdapat fakta bahwa mikroba/bibit penyakit (patogen) di sekitar kita, sudah ada bersamaan dengan ada dan berkembanganya kehidupan di planet bumi. Selama berabad-abad patogen ini hidup dan memiliki “jarak” atau “batas” dengan kita. Namun dengan perkembangan berbagai industri, akhirnya batas tersebut pun dihancurkan. Ruang hidup mereka dirampas, atau bahkan diubah bentuknya.
Akibatnya, kita semakin akrab dengan patogen tersebut, karena mereka kehilangan ruang hidupnya dan akhirnya masuk ke ruang hidup kita, atau justru kita yang telak masuk ke ruang hidup mereka. Dengan demikian membuat patogen tersebut menjadi rekan hidup kita sehari-hari. Pada titik inilah kita, manusia, menjadi semakin rawan untuk sakit. Terlebih jika terdapat patogen yang mengalami mutasi dan kemudian berevolusi23 yang juga diakibatkan oleh dampak dari masifnya industrialisasi dan aktivitas produksi reproduksi, ia bisa menjadi patogen yang sangat ganas.
Dengan demikian, periode-periode selanjutnya adalah masa ketika manusia harus memanen bencana, dengan kondisi tubuh yang rentan dan cenderung seragam. Lebih lanjut, desakan ekspansi yang dilakukan oleh berbagai industri, akhirnya merusak, atau setidaknya merubah struktur atom, molekul, sel organel, …, hingga ekosistem, bioma bahkan biosfer24. Sehingga badai bencana adalah hari-hari yang siap menjemput kita.
Tidak hanya itu, tuntutan untuk menciptakan pasar bagi industri-industri kapitalis, akhirnya turut serta menyeret sains menjadi senjata yang mematikan. Berbagai penemuan sains yang awalnya ditujukan untuk kemanusiaan, berubah menjadi alat untuk menghilangkan kemanusiaan itu sendiri. Misalkan atom, nuklir, arsenik dan berbagai penemuan mutakhir untuk kemanusiaan, akhirnya berubah menjadi penemuan menakutkan dan dimonopoli oleh negara-negara kapitalis dalam rangka menjaga nafas kehidupan sistem kapitalisme.
Satu nasib dengan sains, solidaritas antar manusia pada akhirnya menemui hambatan-hambatannya yang cukup jelas. Kehidupan sehari-hari yang kita lalui, akhirnya menjadi kesadaran atas bagaimana kehidupan harus berjalan/berlangsung. Sebuah rahasia umum bersembunyi dalam pikiran kita, bahwa kehidupan harus kita jalani dengan bersaing, saling menikam, mencaplok untuk bisa mendapatkan keuntungan. Dengan demikian, ketika dalam keadaan normal, kita seolah membutuhkan “polisi moral” yang mengawasi dan mengontrol tingkah laku kita. Di sisi lain, terdapat cara yang sangat efektif untuk menyuap “polisi moral” ini, yaitu dengan berbuat baik, berderma, dan sebagainya. Dan sialnya, hanya orang-orang kaya pemilik industri-industri besar, yang dapat menawarkan harga terbaiknya bagi “polisi moral”. Sehingga tidak heran, meskipun industri-industri mereka merusak lingkungan, merusak hubungan sosial, merusak batas-batas kehidupan, akan tetapi selama mereka berderma, mensekolahkan anak-anak manusia, membangun rumah ibadah, mendirikan badan amal dan memberikan santunan ke pesantren, hal tersebut (membuat kerusakan, dan sejenisnya) bukanlah sesuatu pelanggaran hukum bagi “polisi moral”.
Dari sini, sains dan solidaritas bukanlah solusi utama, terlebih dengan hambatan-hambatan yang sekarang dimilikinya. Tetapi kemungkinan atasnya akan selalu ada, yaitu kemungkinan kita bisa melewati “keadaan darurat” ini, bahkan dengan meninggalkan atau malah menciptakan kerusakan dan kehancuran terparah sekalipun. Akan tetapi kenyataan dalam kehidupan yang demikian membawa kita pada kemungkinan lain, yaitu suatu “keadaan darurat” yang lebih ganas, yang lebih buas, yang telah bersiap menjemput kita di masa depan, dan mereka semakin dekat, bahkan lebih dekat dari pada urat nadi kita.
Internasionalisme Pekerja
Untuk menghentikan sebuah pandemi, setiap populasi tidak cukup dengan hanya memperhatikan keberlangsungan kehidupan orang di sekitarnya, di desanya, di kotanya atau bahkan di negaranya, tetapi melampaui semua itu. Saat ini misalnya, ketika terdapat kasus di mana belasan ribu penduduk di Italia meninggal karena terinfeksi Covid-19, harus dilihat sebagai masalah bagi kita yang berada di Indonesia. Begitu juga ketika ribuan penduduk di Tiongkok telah berhasil sembuh dari infeksi Covid-19 adalah sebuah pencapaian yang berarti bagi penduduk di Italia, dan seterusnya.
Dengan demikian, kerangka sempit dalam situasi sebelumnya (situasi yang dianggap normal) mesti segera di ubah. Sebagaimana kita tahu, Covid-19 tidak mengenal identitas warga negara, ia menyerang siapa saja yang ada di hadapannya. Dari sini, jika sebelumnya kita sempat menaruh harapan pada sains dan solidaritas antar manusia, maka untuk bisa berhasil, harapan tersebut mesti di bentangkan selebar mungkin, mendobrak hambatan-hambatan yang ada, seluas daratan dan lautan yang dihuni oleh umat manusia.
Hari ini, kita tidak membutuhkan lagi identitas yang bersekat; Warga Negara Indonesia, Israel, AS, Palestina, Malaysia dan seterusnya. Tetapi yang kita butuhkan adalah kerjasama yang melampaui batasan-batasan “polisi moral”, melampaui kebutuhan administratif yang mengikat – lewat perjanjian dan kesepakatan – setiap anggota sebuah organisasi dunia.
Lantas kerjasama bagaimanakah itu?
Yakni kerjasama yang didasarkan pada kenyataan bahwa untuk bisa hidup, manusia harus saling menopang antara satu dengan lainnya, bukan sebaliknya; saling bersaing berebut oksigen. Sehingga tidak terlalu berlebihan jika mengatakan; kita saat ini adalah warga negara dunia. Hal tersebut tidak dimaksudkan sebagai identitas administratif, tetapi untuk menghilangkan sekat-sekat pembatas yang menjadi salah satu akar permasalahan selama ini. Hal ini berbeda ketika mayoritas menyalahkan globalisasi sebagai akar masalah masifnya penyebaran pandemi ini. Karena dalam kerangka tersebut, terdapat dimensi penolakan atas perkembangan, atau bahkan dorongan untuk mengunci suatu penduduk di dalam wilayah tertentu yang bertransformasi menjadi neraka.
Berkaitan dengan kerjasama yang luas, dalam kerangka yang lebih sempit, yang mesti kita uraikan adalah sekat pembatas antara desa dan kota yang selalu disalahartikan. Di mana kota selalu diidentikan dengan kemajuan, sementara desa sebaliknya.
Pada situasi yang sudah kita kenal, kota memiliki hak istimewa dalam mengakses segala kebutuhan dengan segudang fasilitasnya, baik dari desa maupun dari kota lainnya. Sementara desa, meskipun mensuplai banyak kebutuhan di kota, namun ia tidak memiliki akses pada kebutuhan dan fasilitas yang hanya tersedia di kota. Kondisi demikian pada akhirnya meniadakan kerjasama. Jangan dikira rakyat di desa tidak membutuhkan berbagai falisitas yang ada di kota; rumah sakit, transportasi, sekolahan yang layak atau bahkan sinyal dan televisi. Ketiadaan akses terhadapnyalah yang seolah-olah membuat “penduduk desa” tidak membutuhkannya. Sebagai contoh ketika seseorang di desa terinfeksi Covid-19, maka yang ia butuhkan adalah sama dengan kebutuhan orang di kota yang terinfeksi Covid-19. Sehingga yang menjadi masalah, salah satunya adalah akses terhadap fasilitas-fasilitas yang pada kenyataanya hanya bisa didapatkan melalui perjuangan di kota-kota, melalui perjuangan di beberapa negara.
Hal tersebut bukan berarti kita mesti membangun fasilitas-fasilitas di desa persis sebagaimana dengan yang ada di kota. Itu sama dengan mencoba untuk membangun gedung WTC (World Trade Center) di Indonesia atau bahkan Kakbah di AS, Tembok Ratapan di Iran, Wall Street di West Papua, dan seterusnya. Kita tidak membutuhkan produksi ruang-ruang yang sudah ada dan memadai atau bahkan berlebih. Karena hal tersebut adalah salah satu karakter dari sistem yang sekarang diterapkan. Yakni penciptaan/produksi ruang-ruang sosial yang padanya tidak didasarkan pada kebutuhan manusia, akan tetapi orientasi pada laba.25 Yang dibutuhkan adalah akses terhadapnya, seluas-luasnya, yang berdasarkan pada kebutuhan. Sehingga, jika memang pada suatu wilayah membutuhkan adanya saluran air bersih, maka wilayah tersebut harus memilikinya, jika memang membutuhkan rumah sakit, maka rumah sakit tersebut harus tersedia, dan seterusnya. Dengan demikian yang harus dihapuskan adalah ketimpangan antar wilayah yang, pada kenyataanya justru membuat Covid-19 mudah menyebar dan menginfeksi manusia.
Kenyataan juga mengatakan bahwa suatu wilayah atau kota yang “gemuk” misalkan, tidak terjadi tanpa sebab. Jika kita menelusuri dan melihat secara nyata, terdapat fakta bahwa pusat-pusat ekonomi terletak di wilayah-wilayah tertentu. Artinya, mayoritas akan mencapai kesepakatan (anggapan) bahwa kehidupan, atau setidaknya harapan untuk hidup yang lebih baik, berada di wilayah-wilayah tersebut. Sehingga tidak heran jika mobilisasi (urbanisasi) kerap terjadi secara besar-besaran pada periode tertentu.
Dalam kerangka yang lebih luas, kita sering mendengar kabar adanya imigran-imigran dari luar yang mencari kehidupan di negara kita, begitu sebaliknya. Sekali lagi kondisi demikian tidak serta merta terjadi begitu saja. Produksi ruang di negara tertentu mensyaratkan adanya potensi atas laba, sehingga sebuah industri berani mendirikan pabrik-pabriknya, bahkan di wilayah pedalaman sekalipun. Hal ini berkaitan dengan karakter ruang geografis yang menjadi modal awal untuk dapat menjalankan sebuah industri dan membuka pasar.
Dengan demikian, tugas kita adalah, sekali lagi, menghilangkan ketimpangan suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Menghancurkan hambatan-hambatan, mendasarkannya pada kerja sama yang luas yang diorientasikan pada kerangka saling membutuhkan.
Sejalan dengannya, pengawasan secara ketat, harapan dan kepercayaan terhadap sains, sebagai opsi untuk perang melawan Covid-19, hanya bisa dan optimal dilakukan jika di dalamnya kita mendapatkan akses seluas-luasnya. Artinya seluruh penduduk dunia bisa mendapatkan segala sesuatu berdasarkan kebutuhannya dan, jika itu memang dibutuhkan.
Di sisi lain, akses seluas-luasnya berarti seluruh penduduk dunia memperoleh hak yang sama untuk berperan dalam kerja-kerja perjuangan melawan Covid-19 berdasarkan kapasitas (kemampuan) yang dimiliki secara nyata. Seorang ilmuwan di AS misalkan, ia bisa mendapatkan akses terhadap penelitian terkait Covid-19 dari ilmuwan di Inggris, Tiongkok, Kuba, Israel, Indonesia dan di wilayah-wilayah lainnya, begitu juga sebaliknya.
Dengan demikian, seluruh hambatan-hambatan yang menjadi pembatas saat ini, yang mana sains tidak bisa dikembangkan untuk kemanusiaan secara luas, kekhawatiran akan munculnya rezim pengawasan totaliter karena akses informasi yang hanya terbatas pada segelintir, atau bahkan ketakutan akan adanya sekelompok serikat (monopoli; kartel, sindikat dsj.) kapitalis yang mengambil keuntungan dalam krisis global ini, dapat di musnahkan.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah; Bagaimana hal tersebut menjadi mungkin untuk diwujudkan?
Sebuah Perjalanan yang Panjang
Sebelum lebih jauh kita mecoba untuk masuk dan menjawab pertanyaan tersebut, sekali lagi, alangkah baiknya kita melihat premis di bagian pertama pada tulisan ini –hal tersebut juga dimaksudkan untuk menghindarkan kita dari berangan-angan akan sebuah resep membuat kue di masa depan, atau bahkan membuat sebuah buku “pedoman” yang melampaui zamannya.**
Sebagaimana banyak disinggung pada beberapa bagian sebelumnya, perkembangan kapitalisme telah membawa bersamanya kemajuan-kemajuan di segala bidang. Namun bersamaan dengannya, himpunan masalah di dalamnya bersiap bahkan sudah naik ke atas panggung kehidupan. Memang benar bahwa dalam “keadaan darurat” berbagai anomali (ketidaknormalan) dalam kehidupan bisa diberlakukan. Akan tetapi, seberapa besar kuantitasnya untuk dapat bertahan dan bertransformasi menjadi kualitas, atau justru seberapa besar dampak/kerusakan yang diakibatkan dari anomali tersebut.
Di dalam “keadaan darurat”, kita dipaksa untuk mentolerir sebuah rezim pengawasan totaliter atas nama kemanusiaan. Tetapi, setelah “keadaan darurat” dilalui, yang manakah yang akan terus bertahan (rezim pengawasan totaliter atau kemanusiaan)? Jika kita bertolak dari premis dasar di awal, maka jawabannya adalah kemungkinan yang pertama. Namun jika kemungkinan itu tidak terjadi, maka kemungkinan kita kembali ke kehidupan “sebelumnya” dengan tanpa rencana, akan menjadi bencana berbarengan dengan segudang kehancuran atau “perubahan-aneh” yang disisakan oleh “keadaan darurat”.
Sementara itu, solidaritas antar manusia (kemanusiaan) yang luas tidak bisa terjadi secara alami, atau bahkan tiba-tiba turun dari langit. Bersamaan dengannya, kita mendapati kenyataan bahwa, selama puluhan atau bahkan ratusan tahun, manusia telah dipasung dan dipenjara oleh sistem yang mendasarkan dirinya pada laba dan persaingan bebas—kapitalisme. Dengan demikian, bagamaimana bisa kemanusiaan yang pada dasarnya tidak berorientasi laba dapat terjadi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa melihat dan belajar pada apa yang telah dilakukan dan dilalui oleh Kuba.
Ketika pandemi ini menerjang penduduk dunia, lebih dari 25.000 dokter profesional beserta petugas kesehatan dari Kuba dikirim ke lebih dari 50 negara di dunia – termasuk negara-negara “miskin” di Amerika Latin dan Afrika – untuk membantu para penduduk melawan Covid-19 di sana.26 Kuba memang terkenal dengan kemajuannya di sektor kesehatan, termasuk dengan melimpahnya jumlah dokter profesional yang dimilikinya. Bahkan, setiap ada bencana yang membutuhkan pertolongan medis dalam skala besar, Kuba selalu siap dengan tentara dokternya.
Pada tahun 2006 misalnya, ketika Yogyakarta dihantam oleh gempa, Fidel Alejandro Castro Ruz – pemimpin Kuba – lantas menawarkan bantuannya. Tak perlu administrasi yang rumit dan segudang perjanjian yang mencekik27, kurang dari 3 hari para dokter itu tiba di negara kita. Tidak hanya itu, ketika tsunami Aceh (2004), atau ketika El Savador diserang demam berdarah (2000), gempa bumi di Haiti (2010) dan berbagai krisis serta bencana lainnya di dunia, jika dibutuhkan, para tentara dokter Kuba siap membantunya. Yang menjadi pertanyaan adalah; bagaimana Kuba bisa melakukan hal seperti itu?
Kuba sendiri memang terkenal dengan sistem kesehatannya yang maju, bahkan sejak masa rezim diktator Fulgencio Batista y Zaldívar. Hal tersebut karena sistem pendidikan kesehatan di Kuba mengadopsi sistem di AS. Namun, sebagaimana yang terjadi juga pada negara-negara kapitalis, dokter di Kuba pada rezim Batista hanyalah seorang profesional yang ingin bekerja dan mendapatkan gaji yang besar. Mereka hanya melayani orang-orang kaya dan borjuis-borjuis di kota. Sehingga orang-orang miskin di desa, tidak mendapatkan pelayanan yang memadai.28 Akan tetapi, pasca Batista digulingkan dan Fidel naik ke tampuk pemerintahan, beberapa hal mengalami perubahan. Adalah Ernesto Lynch, atau yang kita kenal dengan Ernesto Che Guevara, rekan Fidel sekaligus Menteri Perindustrian dan Manajer Ekonomi yang berjasa merubah cara pandang para dokter di Kuba.
Perjalanan “kemanusiaan” di Kuba tidaklah mudah dan singkat. Para dokter yang terbiasa hidup berkecukupan, mampu mengakses fasilitas mewah, dan mendapatkan gaji besar pada rezim Batista, tidak bisa serta merta menerima kenyataan atas perubahan yang terjadi pada rezim Fidel. Saat itulah Fidel dan Che menyadari bahwa para dokter Kuba hanya berorientasi pada keuntungan dan cenderung individualistik. Akhirnya Kuba memberlakukan beberapa kebijakan. Di antaranya mengganti kurikulum dan metode pendidikan yang sebelumnya tidak sesuai dengan kehidupan nyata di Kuba. Selain itu, beberapa hal juga dilakukan, seperti memberlakukan pendidikan kesehatan gratis bagi semua.29
Pada masa awal, banyak dokter Kuba yang pergi (eksodus) dari negara miskin itu. Terlebih ketika pemerintah Kuba mengakomodasi jaminan pelayanan kesehatan seluruh rakyat secara gratis. Inilah fase-fase sulit yang dilalui oleh Kuba. Akan tetapi, setelah melalui masa-masa sulit, akhirnya Kuba berhasil menumbuhkan, atau setidaknya menanamkan benih “kemanusiaan” pada kehidupan rakyatnya.
Dari situ kita belajar bahwa realitas kehidupan (kehidupan nyata di sekitar kita), mempengaruhi cara kita melihat sesuatu. Lebih jauh mempengaruhi kesadaran kita. Para dokter Kuba yang sebelumnya (di rezim Batista) yang hanya berorientasi pada profit, mendapati dirinya pada masa pemerintahan Fidel, dipaksa untuk turun ke desa-desa, ke gubuk-gubuk reyot, untuk mengobati para penduduk di sana. Akan tetapi hal tersebut sebanding dengan apresiasi “penghormatan” yang di dapatkannya. Terlebih, para dokter Kuba tersebut, selanjutnya tidak harus menebus biaya pendidikan dokter yang terkenal mahal. Sehingga dari pengalaman tersebut, merubah pola pikir rakyat Kuba; kehidupan dan kerja sosial tidak semestinya didasarkan pada orientasi profit, akan tetapi pada kebanggaan atas pelayanan yang diberikan bagi kehidupan sesama manusia.
Berkaitan dengan pandemi ini, para dokter Kuba sendiri tidaklah kebal terhadap Covid-19. Bahkan di Kuba juga terdapat kasus infeksi Covid-19.30 Namun hal tersebut tidak membuat Kuba menolak untuk melakukan solidaritas bahkan dengan resiko yang nyata.31
Inilah salah satu dari sekian banyak pelajaran berharga yang diungkap oleh Covid-19 ke depan dunia. Memang, Kuba adalah negara kecil dan miskin (diukur dengan ukuran-ukuran/instrumen kapitalisme) jika dibandingkan dengan negara-negara kapitalis seperti AS ataupun Inggris. Terlebih, Kuba harus berhadapan dengan berbagai sanksi dan embargo ekonomi dari AS.32 Akan tetapi hal tersebut nampaknya tidak menjadi halangan bagi tumbuh dan berkembangnya kemanusiaan di Kuba, dan menyebarluaskannya ke berbagai penjuru dunia.
Dari pengalaman Kuba tersebut, terdapat pertanyaan pokok; apa yang harus dilakukan di hari-hari ke depan?
Kita memang tidak perlu untuk mencontoh (meng-copy) Kuba secara keseluruhan. Namun kita mesti belajar, secara mendasar dari beberapa periode yang telah dilalui oleh Kuba. Dan membandingkannya dengan beberapa negara-negara kapitalis lainnya di mana mereka berdiri di atas penjajahan atas negara yang lain. Dari sini, yang perlu diketahui oleh umum adalah, bahwa pelajaran-pelajaran dasar tersebut, saat ini telah dibuang dari negara kita, dijauhkan, dan dinistakan oleh para penguasa, oleh para kapitalis, dan oleh para pemuka agama yang kolot dan anti-sains. Sebagaimana yang disampaikan pada pengantar di awal tulisan ini, pelajaran (sains) berharga tersebut diubah menjadi momok yang menakutkan, dan hal tersebut diwariskan pada kita.
Sehingga hari ini, yang perlu kita lakukan adalah membuang ketakutan itu dan mengambil “berkas” pelajaran tersebut, serta membersihkannya dari puing-puing reruntuhan. Menyingkirkannya dari doktrin-doktrin tidak berdasar yang selama ini diproduksi/diciptakan dan disebarkan dengan penuh kengerian. Lebih lanjut, mempelajari dan memahami akar masalah yang saat ini terjadi, akar ketimpangan sosial, korupsi, pertikaian, dan sebagainya, hingga berbagai krisis alam teramasuk Covid-19.
Dengan mempelajari dan memahaminya, kita akan mengetahui bahwa segala permasalahan, termasuk ketimpangan sosial yang terjadi bukan hanya didasarkan pada perbedaan kekayaan/pendapatan. Akan tetapi lebih dalam kita dapat melihat pondasi dasarnya, di mana “mata air” itu mengalir dan memberikan dahaga hanya pada segelintir manusia. Adalah kepemilikan atas alat-alat produksi (sains, teknologi, mesin-mesin, tambang, tanah, dan sebagainya), salah satu dasar dari ketimpangan kita, yang merupakan sumber mata air yang di klaim sebagai hak milik oleh para kapitalis. Dengan demikian, bagaimana bisa kita bersolidaritas atau lebih jauh berbicara kemanusiaan sementara hak kontrol atas alat produksi terpusat pada segelintir manusia. Dan fakta tersebutlah yang membuat kita, mayoritas manusia, harus menggantungkan hidup pada pemilik alat produksi melalui upah/gaji bulanan. Dan sialnya, kita hanya akan mendapatkannya, selama kerja kita mampu memperbesar laba.
Kenyataan demikianlah yang membuat kerja kita, para buruh, menjadi tidak berarti. Lebih jauh, tidak ditujukan untuk kerja kemanusiaan. Para buruh yang bekerja di laboratorium (ilmuwan) misalnya, apakah mereka memiliki kontrol atas alat produksi? Apakah kerja mereka didasarkan untuk membantu kehidupan seluruh manusia? Tidak ingatkah kita apa yang mendasari pertanyaan yang diajukan pada Jonas Salk33? Atau kita sendiri, kenapa kita harus bekerja, membuat rokok, membuat baju, makanan, besi, minyak, dst., yang begitu melimpah melebihi kebutuhan, akan tetapi sangat mudah kita temukan orang-orang kelaparan, tidak sekolah, tidak punya rumah, mengemis, dan seterusnya?
Dengan demikian, tanpa kontrol atas alat produksi oleh kita, oleh seluruh umat manusia, tidak ada tujuan lain dari seluruh kerja kita selain menumpuk kekayaan pada segelintir manusia. Sehingga tidak heran, produksi reproduksi terjadi secara signifikan tanpa mempedulikan dampaknya pada lingkungan, pada makhluk, pada manusia, pada kita. Dari sini, tugas kita adalah membangun solidaritas di antara para pekerja, di antara seluruh buruh yang ada. Tidak hanya sebatas di desa atau di kota-kota, akan tetapi, solidaritas harus di bentangkan seluas-luasnya, ke seluruh buruh, ke seluruh manusia yang ada di atas dunia, sebagaimana yang telah di contohkan oleh Kuba.
Sehingga, perjuangan melawan Covid-19, terintegrasi juga dengan perjuangan untuk menanamkan kemanusiaan pada kehidupan kita. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh kita, oleh para pekerja, para ilmuwan, para sopir, kuli, karyawan industri, buruh ekspedisi, buruh tani dan seluruh buruh di dunia, yang mana tuas-tuas produksi, pencapaian-pencapaian sains, perkembangan teknologi dan sebagainya, ada dalam genggamannya, bukan pada segelintir elit, pemodal bahkan penguasa. Dengan begitu, diperlukan sebuah intervensi secara radikal atas alat-alat produksi tersebut. Tanpanya (intervensi secara radikal), adalah suatu kemustahilan untuk berharap lahirnya sebuah kehidupan yang memanusiakan manusia, yang tidak merusak lingkungan, yang tidak menghancurkan ruang hidup anak cucu kita. Dan tanpanya, sebuah aktivitas produksi yang terencana, yang diatur dan dikelola secara bersama, yang didasarkan untuk memenuhi kebutuhan kita, kebutuhan manusia, dan kebutuhan lingkungan tidak mungkin bisa dilakukan.
Dari sini, perjuangan terdekat kita dalam melawan Covid-19 yang juga terintegrasi dengan perjuangan pada hari-hari setelahnya adalah melakukan uji coba tersebut, melakukan praktik atas pelajaran-pelajaran yang telah kita ambil tadi, yang telah kita singkirkan dari doktrin-doktrin ketakutan atasnya. Melakukan pengujian atas teori-teori yang akan, dan telah kita pelajari di dalamnya. Yang kesemuanya itu dilakukan dengan solidaritas di antara buruh secara luas (internasionalisme), untuk tujuan meraih kehidupan yang disandarkan pada; kerja sama oleh seluruh manusia berdasarkan kapasitasnya (kemampuannya), dan distribusi (pemberian-penyaluran) barang kebutuhan pada seluruh manusia berdasarkan kebutuhannya.
Kawan, tidak tertarik kah engkau untuk bergabung bersama kami dalam perjuangan ini?***
Catatan
- Spekulan istilah untuk menyebut individu atau perusahaan yang, sebagaimana namanya, berspekulasi (menerka) bahwa harga sekuritas (sebuah surat berharga –instrumen keuangan) akan naik atau turun dan memperdagangkan sekuritas berdasarkan spekulasi mereka.
- Engels, Frederich. 2016. “Sosialisme Utopis dan Sosialisme Ilmiah” Marxist Internet Archives. Terjemahan: Ted Sprague. Marx & Engels Collected Work, Volume 24, hal 281-325. Lih. https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1880/utopi-ilmu/index.htm (diakses 28 Maret 2020).
- Harari, Yuval Noah. 2020. “Yuval Noah Harari: the world after coronavirus”. Financial Times. https://www.ft.com/content/19d90308-6858-11ea-a3c9-1fe6fedcca75 (diakses 30 Maret 2020).
- Loc.cit.
- Pemerintah Spanyol dan Irlandia kabarnya melakukan nasionalisasi semua penyedia layanan kesehatan termasuk Rumah Sakit. Lih. Henley, John. Kim Willsher., dan Ashifa Kassam. 2020. “Coronavirus: France imposes lockdown as EU calls for 30-day travel ban”. The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2020/mar/16/coronavirus-spain-takes-over-private-healthcare-amid-more-european-lockdowns (diakses 30 Maret 2020). dan Democracynow. 2020. “British PM Boris Johnson Sickened with COVID-19; Ireland to Nationalize Hospitals”. Democracy Now. https://www.democracynow.org/2020/3/27/headlines/british_pm_boris_johnson_sickened_with_covid_19_ireland_to_nationalize_hospitals (diakses 30 Maret 2020)
- Trotsky, Leon. 2010. “Revolusi yang Dikhianati: Sebab-sebab Kebangkrutan Uni Sovyet”. Yogyakarta: Resist Book. Hal. 26. Dampak dari fenomena tersebut masih bisa kita lihat sampai sekarang, yang mana negara-negara di kapitalisme pusat, mengalokasikan anggaran dalam jumlah besar untuk terus disuntikkan dalam pengembangan militer/pertahanan.
- Yuan, Shawn. 2020. “How China is using AI and big data to fight the coronavirus”. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2020/03/china-ai-big-data-combat-coronavirus-outbreak-200301063901951.html (diakses 29 Maret 2020).
- Yuval Noah. Loc.cit.
- Ananda, Aria. 2020. “Jurus Jokowi Lawan Virus Corona dengan Diskon Tiket Pesawat”. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200226091352-532-478192/jurus-jokowi-lawan-virus-corona-dengan-diskon-tiket-pesawat (diakses 25 Maret 2020) dan Friana, Hendra. 2020. “Jokowi: Diskon Tiket Pesawat Tak Tambah Penyebaran Corona COVID-19”. Tirto.id. https://tirto.id/jokowi-diskon-tiket-pesawat-tak-tambah-penyebaran-corona-covid-19-eCo2 (diakses 25 Maret 2020).
- Jayani, Dwi Hadya. 2020. “Anggaran Jokowi Rp 405 Triliun untuk Melawan Corona. Katadata. https://katadata.co.id/infografik/2020/04/02/anggaran-jokowi-rp-405-triliun-untuk-melawan-corona (diakses 2 April 2020).
- Nytimes. 2020. “Trump Signs $2 Trillion Bill as U.S. Virus Cases Pass 100,000”. The New York Times. https://www.nytimes.com/2020/03/27/world/coronavirus-live-news-updates.html (diakses 3 Maret 2020).
- Buku ini (https://archive.org/details/fp_Naomi_Klein-The_Shock_Doctrine/mode/2up/search/shock+doctrine+is –akses 30 Maret 2020) selanjutnya digugat oleh beberapa penulis liberal, dengan menyerang paragraf-paragraf yang disajikan oleh Klein. Adalah Johan Norberg salah satu sejarawan terkemuka dan dikenal sebagai penulis In Defense of Global Capitalism and Progress: Ten Reason to Look Forward to the Future yang juga menulis gugatan terhadap Klein dengan judul The Klein Doctrine: The Rise of Disaster Polemics (https://www.cato.org/sites/cato.org/files/pubs/pdf/bp102.pdf –akses 30 Maret 2020)
- Solis, Marie. 2020. “Coronavirus Is the Perfect Disaster for ‘Disaster Capitalism’”. Vice. https://www.vice.com/en_us/article/5dmqyk/naomi-klein-interview-on-coronavirus-and-disaster-capitalism-shock-doctrine (diakses 30 Maret 2020).
- Pada tahap ini, kita mengenalnya dengan istilah “imperialisme”. Sebuah tahapan khusus, yang mana kapitalisme yang tidak bisa matang sempurna, justru kelewat matang bersama permasalahan (kontradiksi) internalnya dan “membusuk”. Sehingga konsentrasi kapital dan produksi mendorongnya – di dalam dirinya sendiri, bersatu padu dengan kapital finansial yang, juga mengalami konsentrasi kapital – untuk melakukan akumulasi dengan dengan menjajah, tidak hanya di wilayah-wilayah baru, di negeri-negeri kapitalisme pinggiran, tetapi juga di negeri-negeri kapitalisme pusat, di jantung-jantung wilayah termaju sekalipun. Lih. Lenin, V. I. 2005. “Imperialism, the Highest Stage of Capitalism”. Lenin Internet Archives. Bab VII (hal. 265) https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1916/imp-hsc/ (diakses 31 Maret 2020). Versi Indonesia (2011) https://www.marxists.org/indonesia/archive/lenin/1916/1916-tahapankhusus.htm (diakses 31 Maret 2020)
- Bahkan di negara-negara yang katanya maju sekalipun, hal semacam ini dapat kita jumpai pada tokoh-tokoh terbaiknya. Lih. Milman, Oliver. 2020. “Trump’s devaluing of science is a danger to US coronavirus response, experts warn”. The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2020/mar/06/coronavirus-trump-administration-brain-drain-impeding-response (diakses 1 April 2020).
- Mulyanto, Randy dan Febriana Firdaus. 2020. “Why are there no reported cases of coronavirus in Indonesia?”. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2020/02/reported-cases-coronavirus-indonesia-200218112232304.html (diakses 1 April 2020) dan Syakriah, Ardila dkk. 2020. “Experts warn against complacency as Indonesia reports zero cases of coronavirus”. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/news/2020/01/27/experts-warn-against-complacency-as-indonesia-reports-zero-cases-of-coronavirus.html (diakses 31 Maret 2020).
- Seorang dokter di Italia menggambarkan dampak Covid-19 sebagai tsunami, yakni gelombang air laut dalam skala besar yang – saat ini – tak dapat dicegah. Lih. Winfield, Nicole. 2020. “‘Not a wave, a tsunami.’ Italy hospitals at virus limit”. Public Broadcasting Service (PBS). https://www.pbs.org/newshour/health/not-a-wave-a-tsunami-italy-hospitals-at-virus-limit (diakses 27 Maret 2020).
- Bagaimana sains berperan dan meyelesaikan beberapa wabah dalam sejarah manusia, selengkapnya lihat; Hickok, Kimberly. 2020. “How does the Covid-19 pandemic compare to the last pandemic?”. Livescience. https://www.livescience.com/covid-19-pandemic-vs-swine-flu.html (diakses 1 April 2020).
- Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada bahan genetik, atau dengan kata lain perubahan dalam urutan Asam Deoksiribonukleat (DNA). DNA sendiri adalah biomolekul (senyawa-senyawa organik sederhana yang bersifat khas) yang menyimpan dan mengenkripsi perintah-perintah genetika setiap organisme dan berbagai virus. Lih. Collins, Francis S. “Mutation”. National Institutes of Health: National Human Genome Research Institue. https://www.genome.gov/genetics-glossary/Mutation (diakses 25 Maret 2020).
- Kupferschmidt, Kai. 2020. “Genome analyses help track coronavirus’ moves”. Science | AAAS. https://science.sciencemag.org/content/367/6483/1176 (diakses 27 Maret 2020).
- Lowe, Derek. 2020. “Covid-19 Biologic Therapies Reviewed”. Science Translation Medicine. https://blogs.sciencemag.org/pipeline/archives/2020/03/09/covid-19-biologic-therapies-reviewed (diakses 27 Maret 2020)
- Hingga tulisan ini disusun, proyek vaksin Covid-19 masih menemui beberapa kendala, misalnya keamanan dalam pengujian klinis. Lih. Spinney, Laura. 2020. “When will a coronavirus vaccine be ready?”. The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2020/apr/03/when-will-a-coronavirus-vaccine-be-ready (diakses 3 April 2020).
- Evolusi adalah perubahan karakteristik suatu spesies selama beberapa generasi dan bergantung pada proses seleksi alam. Lebih jauh, Evolusi bergantung pada adanya variasi genetik dalam suatu populasi yang mempengaruhi karakteristik fisik (fenotip) dari suatu organisme. Lih. Yourgenome. “What is evolution?”. Yourgenome.org. https://www.yourgenome.org/facts/what-is-evolution (diakses 26 Maret 2020).
- Eronen, Markus I., dkk. 2018. “Levels of Organization in Biology”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2018 Edition). https://plato.stanford.edu/entries/levels-org-biology/ (diakses 30 Maret 2020).
- Putri, Perdana. 2016. “Penjarahan Ruang dalam Kapitalisme”. IndoProgress. https://indoprogress.com/2016/09/penjarahan-ruang-dalam-kapitalisme/ (diakses 26 Maret 2020).
- Augustin, Ed. 2020. “Cuba sends doctors worldwide in coronavirus fight”. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2020/03/cuba-sends-doctors-worldwide-coronavirus-fight-200330091411271.html (diakses 1 April 2020).
- Dunia juga memiliki organisasi kesehatan; World Heath Organization (WHO). Namun dalam perannya, organisasi ini cenderung lebih banyak merugikan melalui skandal yang terjadi, monopoli vaksin dan sebagainya. Lih. Firman, Tony. 2019. “Sejatah WHO, dari Wabah Kolera Hingga Sorotan Tudingan Skandal”. Tirto.id. https://tirto.id/sejarah-who-dari-wabah-kolera-hingga-sorotan-tudingan-skandal-dk2E (diakses 1 April). Lihat juga: Neale, Tood. 2010. “World Health Organization Scientists Linked to Swine Flu Vaccine Makers: Investigation raises questions about WHO’s handling of pandemic”. ABC News. https://www.abc.net.au/news/2009-07-18/govt-created-monopoly-on-swine-flu-vaccine/1357990 (diakses 1 April 2020).
- Pontoh, Coen Husain. 2013. “Kesehatan Buat Semua”. IndoProgress. https://indoprogress.com/2013/06/kesehatan-buat-semua/ (diakses 27 Maret 2020).
- Loc.cit.
- Lih. Miyared, Jorge Ruiz (Ed). 2020. “Case 4 of Coronavirus diagnosed in Cuba”. Radio Havana Cuba http://www.radiohc.cu/en/noticias/salud/216666-case-4-of-coronavirus-diagnosed-in-cuba%C2%A0 (diakses 27 Maret 2020).
- Lih. Augustin, Ed. 2020. “British coronavirus-hit cruise ship docks in Cuba”. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2020/03/british-coronavirus-hit-cruise-ship-docks-cuba-200319103304910.html (diakses 30 Maret 2020).
- Lih. State.gov. “Cuba Sanction”. U.S. Department of State. https://2009-2017.state.gov/e/eb/tfs/spi/cuba/index.htm (diakses 2 April 2020), lihat juga; LeoGrande, William M. 2019. “Trump declares economic war on Cuba”. The Conversation. https://theconversation.com/trump-declares-economic-war-on-cuba-115672 (diakses 2 April 2020).
- Pada April 1955, Jonas Edward Salk, penemu vaksin Polio, suatu ketika ditanya oleh Edward R. Murrow mengenai hak paten atas vaksin yang ia temukan. Dan jawaban Salk mengejutkan banyak borjuis waktu itu; “[…] Tidak ada paten, bisakah anda mematenkan matahari?”. Akan tetapi, para borjuis dan corong medianya bahkan menganggap keputusan Salk adalah hal bodoh. Lih. Palmer, Brian. 2014. “Jonas Salk: Good at Virology, Bad at Economics”. Slate. https://slate.com/technology/2014/04/the-real-reasons-jonas-salk-didnt-patent-the-polio-vaccine.html (diakses 2 April 2020).

