Description
Lebih dari 160 tahun lalu, dengan nama pena Multatuli, Eduard Douwes Dekker mengguncang dunia sastra dan politik kolonial melalui mahakaryanya, Max Havelaar (1860). Novel tersebut memprotes ketidakadilan sistem Tanam Paksa dan penindasan yang dialami rakyat Lebak, Banten, baik oleh penguasa kolonial maupun penguasa feodal lokal. Namun, bagai- mana jejak dan warisan Multatuli di Lebak hari ini?
Fotografer, videografer, dan penulis Arjan Onderdenwijngaard, yang telah merekam Indonesia selama lebih dari 30 tahun, melakukan perjalanan dokumenter yang mendalam ke jantung Kabupaten Lebak.
Buku ini bukan sekadar refleksi sejarah, melainkan sebuah potret sosiologis dan budaya tentang bagaimana sosok Multatuli dan karyanya bertransformasi dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia modern.
Review
Dalam bukunya yang kaya warna, [Onderdenwijngaard] tidak hanya menggambarkan aktivitas dan pertemuannya di Indonesia, tetapi juga sejarah terbitnya Max Havelaar dan terjemahannya ke bahasa Indonesia.
– Liesje Schreuders, Over Multatuli















