Description
Buku Ini menghimpun tiga esai panjang Tan Malaka yang belum pernah dipublikasikan di Indonesia. Teks-teks ini akan jatuh menjadi dokumen sejarah semata jika dibaca sebagai arsip masa lalu. Daya ledaknya justru muncul ketika ia diletakkan di hadapan situasi hari ini, sebagai alat untuk melucuti berbagai bentuk kekuasaan yang masih bekerja. Dari kolonial Hindia Belanda hingga lanskap politik pasca Agustus 2025, wajah politik dan kekuasaan tidak ditemukan pada konstitusi atau pidato kenegaraan yang rapi, tapi dalam kesaksian mereka yang pernah diasingkan, dibuang, dan dipenjara, ketika manusia ditempatkan dalam kondisi yang tidak wajar dan seluruh hidupnya berada di bawah kuasa tanpa batas. Penjara, pengasingan atau pembuangan menjadi cermin paling jernih yang menampilkan wajah negara tanpa kepura-puraan dan tanpa kosmetik.
Zen RS
Di Hongkong. 25 Desember, pukul sebelas malam, setelah saya diberitahu tentang keputusan Pemerintah Belanda, saya melihat sebuah kesempatan, memang sangat kecil, jika saya memutuskan dalam satu jam untuk mengambilnya. Rasanya seperti berdiri di hadapan jembatan sehelai rambut, yang harus dilintasi orang Muslim pada hari penghakiman untuk mencapai ujungnya, surga, tempat para huri, para dara, tinggal dengan mata besar, bulat, seperti mata merpati. Di bawahnya, neraka. Saya berdiri di penjara Inggris. Ujung yang paling ekstrem bisa jadi lebih buruk daripada penjara Inggris.
Esai “Surat dari Seorang Tanpa Negeri dan Negara” (1933)















