Pelajaran dari Soviet Georgia

Pelajaran dari Soviet Georgia
Tbilisi, Georgia // Wikimedia Commons

Beberapa tahun yang lalu, saya sedang bersantai bersama teman-teman dan memutuskan untuk bermain sebuah permainan. Permainan ini mirip dengan permainan ‘Malam Mafia’ [atau permainan ‘Werewolf’—penerjemah], namun menggunakan kartu ‘Siapa Hitler-nya?’. Kami membagikan kartu, seseorang menerima kartu Hitler, dan kami harus mencari tahu identitas mereka melalui percakapan. Ini adalah putaran dari permainan ‘Mafia’ klasik yang populer di Georgia. ‘Orang baik’ adalah ‘kaum liberal’, dengan lambang yang mengingatkan kita pada Uni Soviet—tanpa palu dan arit, yang digantikan oleh burung merpati. Permainan ini mempertentangkan kaum liberal dengan kaum fasis yang jahat. Tak satu pun dari anak-anak muda yang bermain ‘Siapa Hitler-nya?’ ini tahu tentang peran sentral Uni Soviet dalam mengalahkan fasisme pada Perang Dunia II. Permainan ini, bersama dengan berbagai bentuk propaganda besar dan halus, berkontribusi pada distorsi dan penulisan ulang sejarah Soviet sejak runtuhnya Uni Soviet. Narasi ini diperkuat melalui individu-individu yang berpengaruh, cerita, narasi, hari libur, buku, film, hingga organisasi non-pemerintah/NGO.

Saya pun sempat terpengaruh oleh sejarah anti-komunis. Uni Soviet sering digambarkan sebagai negara yang sangat besar, tidak manusiawi, dan tidak peduli pada warganya—sebuah penggambaran yang mengingatkan kita pada novel-novel distopia yang tertanam dalam pendidikan kita sejak sekolah menengah di Amerika Serikat. Selain itu, saya telah ‘dilatih’ dalam lingkaran sosialis anti-komunis di Amerika Serikat dan memahami Uni Soviet sebagai proyek yang gagal (kecenderungan-kecenderungan yang saya ikuti menandai tahun-tahun yang berbeda sebagai pengkhianatan terhadap revolusi). Namun, sekembalinya saya ke Georgia dari Amerika Serikat, tempat saya bermigrasi selama perang dan kekerasan di tahun 1990-an, saya menemukan perspektif yang berbeda.

Penduduk lokal Georgia di mana-mana menekankan bagaimana negara saat ini mengabaikan rakyatnya, membandingkannya dengan kepedulian yang diberikan selama era Uni Soviet. Bahkan kaum liberal anti-komunis pun merujuk pada standar dan studi Soviet untuk menentang pembangunan brutal dan kerusakan lingkungan selama aksi protes yang saya ikuti. Mereka mengingat bagaimana, selama era Uni Soviet, membangun gedung lebih tinggi dari tingkat tertentu dianggap merugikan kesehatan masyarakat, dengan menekankan faktor-faktor seperti sinar matahari dan tanah yang stabil. Peraturan yang ketat diberlakukan untuk melindungi warga.

Penelusuran saya di kota-kota pertambangan di Georgia menunjukkan kenyataan yang sangat menyedihkan. Penduduk menunjukkan kepada saya apartemen-apartemen yang tertutup dengan batu bara yang terbakar, anak-anak yang menghirup abu di taman bermain. Awalnya, saya terpengaruh [propaganda anti-komunis—penerjemah] dan menghubungkan hal ini dengan pengabaian Soviet terhadap masyarakat demi hasil industri, tetapi penduduk menolak keras pandangan tersebut. Mereka menjelaskan, di era Uni Soviet, peraturan yang ketat mencegah pembakaran batu bara di dekat area pemukiman, dan praktik penyimpanan terbuka yang umum dilakukan saat ini merupakan tindakan ilegal pada masa itu. Mereka bersikeras bahwa masalah saat ini tidak ada pada masa Soviet.

Tragisnya, banyak kematian yang sebenarnya dapat dicegah disebabkan oleh praktik pertambangan pasca-Soviet. Beberapa ledakan tambang telah merenggut nyawa, dan wawancara dengan para penambang telah mengungkapkan kebenaran. Daerah tertentu yang sering mengalami ledakan dalam beberapa tahun terakhir ini, aktivitasnya pertambangannya sudah pernah ditutup pada tahun 1970-an di bawah pemerintahan Uni Soviet. Tidak ada penambangan yang diizinkan di sana karena dianggap terlalu berbahaya. Namun, perusahaan swasta yang memilikinya saat ini membuka kembali area tersebut, yang menyebabkan konsekuensi fatal. Kematian-kematian ini sepenuhnya dapat dicegah—karena ia akibat dari kelalaian dalam mengejar akses mudah ke batu bara.

Di kota pertambangan emas Kazreti, penduduk setempat melukiskan gambaran suram tentang kehidupan mereka saat ini. Awalnya, saya menduga bahwa status kota ini sebagai pusat pertambangan dari era Uni Soviet dapat menjelaskan rasa bosan, kerja yang berlebihan, dan paparan polusi yang tinggi, tetapi penduduk setempat menggambarkan kehidupan yang lebih indah dan semarak pada masa Uni Soviet. Mereka mengenang kehidupan malam yang meriah dan menyenangkan, acara olahraga yang bermacam-macam, dan kemampuan untuk bepergian dengan harga terjangkau ke Tbilisi dan ke seluruh Uni Soviet. Olahraga memiliki tempat yang berarti dalam komunitas mereka, dengan berbagai acara yang terus berlangsung—dari kota-kota kecil hingga kota-kota besar. Perguruan tinggi teknik di kota-kota ini membawa keragaman dan tambahan penduduk, menciptakan tatanan sosial yang dinamis.

Menurut para penduduk, orang-orang tidak hanya aktif secara sosial, tetapi juga lebih sehat dan kuat secara fisik selama era Soviet. Mereka menyoroti penyediaan makanan dan nutrisi tambahan untuk setiap pekerja, mengakui tantangan pertambangan pada tubuh. Makanan dan nutrisi menjadi perhatian utama, dengan upaya khusus untuk memastikan makanan yang tepat bagi para pekerja dan anak-anak. Kontras antara masa lalu dan masa kini menggarisbawahi perubahan signifikan dalam kualitas hidup kota dari waktu ke waktu.

Di kota pertambangan mangan ini, para penambang harus menjalani shift kerja selama dua belas jam yang melelahkan, berbeda dengan era Soviet, di mana peraturan yang ketat membatasi waktu kerja hingga tujuh jam, karena menyadari dampak buruk terhadap tubuh setelah bekerja dalam waktu yang lama di dalam tambang. Langkah perlindungan yang bertujuan untuk memprioritaskan kesejahteraan para pekerja telah dirusak saat ini dan sistem kuota membawa pada jam kerja yang panjang. Seorang istri penambang berkata, “Mereka ingin kami memenuhi kuota seperti di Uni Soviet, tetapi mereka tidak memberi kami tunjangan dan manfaat seperti di masa Uni Soviet.”

Seorang pekerja yang bertanggung jawab untuk meledakkan tambang batu bara menceritakan sebuah insiden traumatis yang membuatnya kehilangan lengannya. Dia mengungkapkan waktu respons paramedis yang sangat lambat, yang membutuhkan waktu satu jam penuh untuk tiba. Perjalanan selanjutnya ke rumah sakit terdekat, yang kini lokasinya jauh karena penutupan rumah sakit yang terkait dengan privatisasi, memperpanjang penderitaannya selama berjam-jam kemudian. Runtuhnya standar kesehatan dan keselamatan kerja selama liberalisasi pasca-Soviet muncul sebagai pola lain yang menyedihkan dalam percakapan saya.

Kota yang dulunya semarak ini kini berubah menjadi lanskap pertambangan yang tidak aman, polusi, dan masyarakat yang dipaksa untuk melakukan tindakan putus asa. Penduduk terpaksa melakukan pengeboran mangan di halaman belakang rumah mereka sendiri, menunjukkan akan kondisi ekonomi yang mengerikan dan tingkat polusi yang tinggi. Runtuhnya industri-industri lain di luar pertambangan, yang dulunya pernah berkembang pesat telah membuat kota ini bergulat dengan konsekuensi privatisasi yang tak terkendali yang berdampak besar pada kesejahteraan dan keselamatan penduduknya.

Peran spesialis penyakit akibat kerja telah direduksi menjadi sekadar simbolis sejak liberalisasi radikal pada tahun 2000-an. Periode ini ditandai dengan penghancuran total lembaga-lembaga ketenagakerjaan dan sosial, pelarangan pajak progresif, dan kriminalisasi komunisme dan simbol-simbol komunis. Selama era Uni Soviet, sekitar dua ratus diagnosis penyakit akibat kerja dibuat setiap tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada diagnosis. Direktur dari Institut Ahli Ketenagakerjaan yang tersisa mengungkapkan bahwa ia membuat dua diagnosis beberapa tahun yang lalu dan menghadapi ancaman dari perusahaan karena melakukannya. Lembaga yang dulunya sangat penting ini, yang sekarang sudah tidak berfungsi, telah melakukan penelitian selama puluhan tahun mengenai keselamatan dan kondisi kerja. Tetapi saat ini tidak dapat membagikan temuan-temuan lamanya, melakukan penelitian baru, ataupun mendiagnosa orang.

Direktur tersebut dengan jujur menyatakan, “Anda mungkin mengira saya gila, tetapi kesehatan dan keselamatan kerja terbaik ada di bawah rezim komunisme.” Saya meyakinkannya bahwa saya tidak menganggapnya gila. Berjuang dengan hilangnya tujuan profesional mereka dan didorong oleh keterkaitan dengan identitas mereka melalui pekerjaan, para spesialis ini berkumpul di sebuah bangunan reyot untuk minum kopi dan berbicara tentang masa lalu.

Namun, ada juga orang-orang yang memiliki pandangan berbeda tentang sejarah Georgia dan masa lalu Soviet, baik warga lokal maupun orang asing yang terlibat dalam percakapan bernuansa dan berbasis bukti tentang Uni Soviet. Terutama, mereka yang datang untuk membahas proyek-proyek sejarah yang dipicu oleh narasi hiper-nasionalis. Sayangnya, diskusi-diskusi ini sulit menembus saluran komunikasi utama, meskipun masyarakat bersedia dan siap untuk diskusi yang lebih bernuansa tentang Uni Soviet.

Sejumlah besar, jika bukan mayoritas, dari mereka yang tumbuh besar di Uni Soviet memiliki pandangan yang positif, bahkan sangat menyayangi masa lalu mereka. Namun, sentimen ini sering kali dipinggirkan dan ditepis oleh propaganda yang berlaku di Georgia. Setiap kali seseorang mencoba untuk berbagi aspek positif dari Uni Soviet, mereka dengan hati-hati melihat sekeliling untuk memastikan bahwa kata-kata mereka tidak menarik perhatian yang tidak diinginkan. Selama beberapa dekade, orang-orang yang mengekspresikan sentimen semacam itu telah mengalami kritik dari kaum liberal dan konservatif yang bersatu dalam anti-komunisme yang menganggap perasaan mereka sebagai ‘nostalgia’ belaka, dan memperlakukan mereka seperti anak-anak yang naif.

Narasi anti-Soviet yang dominan di Georgia berlaku seperti mantra yang memikat, memengaruhi semua orang, dengan nuansa dan fakta yang tampaknya hanya diperuntukkan bagi para profesional atau populasi terpinggirkan yang terisolasi. Sementara itu, para ahli dan akademisi memiliki potensi untuk melawan narasi hiper-nasionalis yang destruktif, terutama dalam konteks Georgia saat ini. Mengingat bahwa propaganda tersebut didukung oleh berbagai lembaga, dana hibah, politik memori yang disponsori negara, organisasi internasional dan regional, dapat dimengerti jika mereka enggan untuk mempertaruhkan status mereka dalam lingkaran yang penuh pesona ini. Mari kita hadapi kenyataan: para akademisi tidak terkenal karena keberanian mereka. Di sinilah kita, sebagai kaum sosialis, harus berani menghadapi tantangan.

Meskipun sudah menjadi hal yang umum bagi kaum sosialis Barat (Western socialists) untuk secara terbuka menjauhkan diri mereka dari Uni Soviet (“Tidak, kami bukan sosialis seperti itu!”), tugas penting untuk mengklarifikasi sejarah Uni Soviet berdasarkan realitas lama dan baru tetap ada. Penting juga untuk menganalisis pengalaman orang-orang yang hidup di masa itu, serta konsekuensi yang menyertainya, bukan hanya memoir-memoar yang dipilih secara sembarangan yang dijadikan senjata selama Perang Dingin.

Uni Soviet merupakan ancamanterbesar bagi kapitalisme karena melambangkan visi nyata dan inspiratif (penyadaran dan membuat orang-orang melihat kebenaran) tentang dunia lain yang mungkin terjadi—sebuah konsep yang sekarang sering terasa seperti slogan protes kosong. Meskipun inisiatif ini gagal di Uni Soviet pada berbagai kesempatan, keberadaannya mengilhami proyek-proyek utopis yang lebih berani di tempat lain.

Uni Soviet adalah sponsor utama dekolonisasi, dan kepergiannya dirasakan di seluruh dunia. Saat ini, narasi pembangunan yang dominan tidak memberikan alternatif, memperkuat dualitas hubungan antara pusat dan pinggiran. Kesenjangan ini memengaruhi sastra, seni, musik, dan hubungan antarmanusia serta geopolitik. Warga negara bekas Uni Soviet terpisah, tanpa kesempatan atau sarana untuk terhubung kembali, dan Dunia Ketiga tidak lagi tumpang tindih (terhubung) dengan kehadiran Soviet yang pernah dominan. Skenario saat ini menunjukkan bahwa para elit pasca-Soviet hanya terhubung dengan Eropa, memisahkan diri mereka dari sebagian besar masyarakat umum.

Ada banyak sekali eksperimen sukses di Uni Soviet yang layak untuk dilihat kembali dan dikaji, meskipun dalam imajinasi populer, eksperimen Soviet telah direduksi menjadi kekerasan dan penindasan. Wajar jika ingatan akan Uni Soviet semakin dijelek-jelekkan (difitnah) dan didistorsi (diputarbalikkan), terbukti dengan adanya peringatan-peringatan, hari-hari, yang baru saja diciptakan seperti Hari Pita Hitam dan perbandingan yang tidak adil dengan fasisme di seluruh Eropa. Yang sangat krusial, di mana para pejuang yang tak terhitung jumlahnya—seperti kakek-kakek saya—yang mengorbankan hidup mereka untuk mengalahkan fasisme, justru disamakan secara tidak adil dengan kaum fasis itu sendiri. Fasisme, yang awalnya muncul sebagai oposisi terhadap sosialisme, secara paradoks telah dibingkai ulang sebagai lawan historis dari liberalisme, bukannya teman tidurnya.

Kurangnya diskusi tentang Uni Soviet menjadi sekadar nostalgia adalah konsekuensi dari masalah yang lebih dalam. Sayangnya, diskusi yang lebih kuat dan bernuansa tentang Uni Soviet kini hanya terbatas pada ranah para ahli. Ketika individu-individu mendapati diri mereka tidak dapat memanfaatkan pengetahuan mereka yang berlimpah dan berkontribusi pada rekonstruksi masyarakat baru— yang dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang akan memudar—satu-satunya tempat berlindung adalah percakapan pribadi dengan teman dan kolega. Isolasi dari partisipasi aktif dalam membentuk masa depan ini membuat mereka terbatas pada berbagi kenangan dan wawasan dalam lingkaran yang lebih kecil dan lebih personal. Hal ini mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam mengintegrasikan kearifan dan pengalaman masa lalu ke dalam narasi kemajuan masyarakat yang sedang berlangsung.

Sebagai respon terhadap marjinalisasi mereka, para pecinta nostalgia Soviet –anggota masyarakat yang sering kali tidak diberi hak/terpinggirkan –melakukan perlawanan melalui pelestarian memori Uni Soviet secara pribadi. Dengan pengetahuan dan pengalaman mereka yang terdesak ke pinggir, hal ini menjadi sebuah tindakan pembangkangan yang halus. Ini adalah cara untuk mempertahankan visi masa lalu yang memiliki lebih dari sekadar nostalgia; ini adalah protes diam-diam terhadap keterpinggiran masyarakat. Ini adalah pernyataan tak terucap mereka tentang nilai dalam membentuk narasi, bahkan jika terbatas pada interpersonal. Banyak grup dan halaman Facebook yang didedikasikan untuk mengenang masa-masa indah di Uni Soviet. Sentimen yang sering digaungkan adalah “Tbilisi used to be a relationship” (Tbilisi dulunya adalah sebuah hubungan), yang menangkap esensi dari kasih sayang antarmanusia di ibu kota Soviet Georgia. Itu bukan hanya lokasi geografis; itu adalah hubungan yang tulus dan penuh perhatian, sangat kontras dengan masa kini.

Orang-orang sering kali menyerahkan kekuasaan mereka karena percaya bahwa mereka tidak memilikinya. Ketakutan akan komunisme dan potensinya untuk memobilisasi orang demi dunia yang transformatif terlihat jelas dalam pemberlakuan undang-undang antikomunis yang berlangsung selama restorasi kapitalis. Meskipun ada upaya selama tiga puluh tahun untuk mengubur dan menjelek-jelekkan kenangannya, ketahanan komunisme tetap tak terkalahkan. Upaya-upaya yang tak kunjung usai ini mencerminkan kekhawatiran yang mendasari di antara para pendukung ideologi kapitalis yang mengakui kekuatan dan daya tarik abadi dari sebuah visi yang menantang status quo. Kaum sosialis seharusnya tidak menganggap seluruh eksperimen Soviet sebagai sebuah kegagalan. Menyadari pentingnya mendefinisikan kembali Soviet Georgia lebih dari sekadar nostalgia, Bryan Gigantino dan saya meluncurkan podcast Reimagining Soviet Georgia. Tujuan kami bukan untuk mengubur Soviet Georgia di masa lalu, melainkan untuk menyegarkannya kembali, menjadikannya kekuatan dinamis dalam membentuk visi baru bagi dunia. Podcast ini berusaha untuk menginspirasi, mengklarifikasi era Soviet dari fitnah dan asosiasi tak berdasar dengan fasisme. Kami menganjurkan pergeseran melampaui diskusi akademis dan menambahkan sisi lain selain mengenang masa lalu Soviet yang hanya di meja makan.

Tentang penulis

sofiya-dzhaparidze

Sopo Japaridze (Sofiya Dzhaparidze) adalah koordinator Solidarity Network, sebuah serikat pekerja perawatan independen (care worker) di Georgia. Ia juga turut mendirikan sebuah inisiatif sejarah Georgia Soviet serta podcast Reimagining Soviet Georgia.

Artikel ini sebelumnya terbit dengan judul “Why Reimagine Soviet Georgia?“. Melalui korespondensi dengan penulis, kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rahmat MRH dan diterbitkan di sini untuk bahan belajar.

Saran dan kritik yang membangun, tulis di halaman kontak.

Share your thoughts