Marx dan Alienasi: Sebuah Gagasan Sederhana dan Powerful

Konsep Alienasi menurut Marx

Marx dan Alienasi: Sebuah Gagasan Sederhana dan Powerful
artwork by Sandi Falconer

Siapa pun yang pernah berdiskusi panjang dengan saya mungkin pernah mendengar saya mengatakan bahwa begitu Kamu mulai membaca Marx, Kamu akan melihat ide-idenya di mana-mana. Saya pikir pengamatan ini sebagian besar disebabkan oleh pendekatan materialis dan dialektisnya serta antisipasinya terhadap begitu banyak aspek kehidupan modern. Terlepas dari alasannya, hasilnya adalah begitu Kamu benar-benar mulai membaca Marx, sulit untuk tidak menyadari betapa intuitifnya sebagian besar argumennya.

Saya pikir salah satu cara untuk membuat lebih banyak orang membaca Marx adalah dengan menunjukkan bagaimana intuivitas ini dapat menghasilkan pemahaman yang mudah yang, mengingat keluhan terhadap gaya argumentatifnya yang sering kali rumit dan prosa yang padat, jarang dikaitkan dengannya. Oleh karena itu, saya memulai seri ini1 untuk mengeksplorasi beberapa konsep inti Marx untuk mengungkapkan, tanpa menghilangkan terlalu banyak, betapa sederhana dan kuatnya ide-idenya.

Karena klub buku saya saat ini sedang membahas secara mendalam konsep Alienasi (atau keterasingan) menurut Marx, saya akan memanfaatkan momen ini dan, untuk tulisan pertama saya dalam seri ini, berfokus pada hal tersebut.

Seri ini mungkin membosankan bagi siapa pun yang sudah mengenal karya Marx dengan baik, jadi saya tidak akan tersinggung jika Anda tidak melanjutkan, tetapi jika Anda melanjutkan dan menyadari bahwa saya telah salah memahami sesuatu (atau menjelaskannya dengan buruk), saya mengundang Anda untuk menunjukkannya di kolom komentar. Harapan saya adalah kita semua, termasuk saya sendiri, dapat memahami Marx dengan lebih baik.

Transisi Menuju Alienasi Materi

Konsep alienasi (keterasingan) Marx adalah gagasan penting yang menjembatani karya filosofis awalnya dengan kritiknya yang matang terhadap ekonomi politik. Perkembangan konsep ini muncul, bagi Marx, sebagai cara yang diperlukan untuk memikirkan keterbatasan gerakan-gerakan pembebasan yang murni bersifat politik dan religius.

Dalam karya-karya awalnya, Marx menggunakan teknik inversi (yang diadopsi dari Ludwig Feuerbach) untuk berargumen bahwa umat manusia terasingkan/teralienasi oleh ciptaannya sendiri, khususnya melalui dua kritik inti.

Pertama adalah Keterasingan Politik: Bermula dari karyanya dalam Kritik Filsafat Hukum Hegel2, Marx mengkritik negara sebagai kekuatan abstrak yang berdiri di atas dan terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Kebebasan politik saja tidak cukup karena membiarkan masyarakat sipil (kehidupan pribadi) didominasi oleh persaingan yang ketat dan konflik kepentingan pribadi.

Kedua adalah Keterasingan Religius: Marx terkenal menyebut agama sebagai ‘candu rakyat,’ yang berfungsi sebagai ‘Matahari ilusi’ di mana umat manusia mengitarinya. Kritik religius tersebut memberikan kerangka kerja untuk analisis ekonominya: sama seperti manusia menciptakan tuhan yang jauh dan mendominasi, kerja sosial menciptakan kekuatan material yang independen dan mendominasi.

Analisis ini membawa pemikiran Marx dari gagasan abstrak ke organisasi material masyarakat. Sumber utama keterasingan manusia, menurut Marx, bukan lagi agama, melainkan ekonomi. Ia melihat uang sebagai berhala baru yang dominan dalam masyarakat, sebuah kekuatan yang diciptakan oleh umat manusia tetapi kini secara independen mendominasi para penciptanya. Kesadaran inilah, bahwa sumber keterasingan tidak terletak pada abstraksi politik atau agama, tetapi pada hubungan konkret produksi ekonomi, yang dikembangkan Marx lebih lengkap dalam Manuskrip Ekonomi dan Filosofis tahun 1844 (EPM)3.

Mengkontekstualisasikan Manuskrip Ekonomi dan Filosofis tahun 1844

Marx menulis EPM selama masa pengasingan di Paris pada tahun 1844. Ia terpaksa meninggalkan Prusia pada tahun 1843 setelah pemerintah menekan surat kabar radikalnya, Rheinische Zeitung. Di Paris, Marx mendalami pemikiran sosialis Prancis dan ekonomi politik Inggris. Lingkungan intelektual ini, dikombinasikan dengan keputusannya meninggalkan kritik terhadap negara Jerman, menjadikan EPM sebagai momen penting: titik krusial di mana gagasan filosofisnya tentang kebebasan mengkristal menjadi kritik yang utuh terhadap kondisi material kapitalisme.

Terlepas dari signifikansinya yang langsung terasa, EPM tetap tidak dikenal selama hampir satu abad. Manuskrip-manuskrip tersebut baru dikompilasi atau diterbitkan pada tahun 1932, secara anumerta, dalam bahasa Jerman. Penemuan yang terlambat ini secara fundamental mengubah arah pemikiran Marxis, yang sebelum tahun 1932 bergantung pada Kapital dan karya Engels. EPM adalah kumpulan catatan yang beragam yang mencakup ekonomi politik, kritik terhadap Hegel, dan komunisme; namun, ia juga mencakup bagian yang berpengaruh, “Tenaga Kerja yang Terasing,” di mana Marx menguraikan konsep materialnya tentang keterasingan.

Publikasi EPM mengungkap akar filosofis yang dalam dari pemikiran Marx, mengemukakan analisis Hegel yang jauh lebih kompleks daripada interpretasi kaku dan deterministik yang umum pada waktu itu. Dengan menempatkan analisis ekonomi Marx dalam kerangka kerja yang berkaitan dengan esensi dan kesadaran manusia, EPM memasukkan kembali konsep agensi manusia dan antropologi ke dalam Marxisme, mengukuhkan statusnya sebagai Langkah kunci menuju teori sejarah Marx yang matang.

Struktur Terpadu dari Tenaga Kerja yang Terasing (Tenaga Kerja yang Teralienasi)

Dalam EPM, Marx menjelaskan tenaga kerja yang terasing (juga biasa diterjemahkan sebagai kerja yang teralienasi) sebagai proses inti dari masyarakat kapitalis. Secara kritis, alienasi disajikan bukan sebagai serangkaian empat masalah yang berbeda, tetapi sebagai “realitas total Tunggal” yang dilihat dari empat sudut pandang yang saling terkait. Persyaratan mendasar untuk alienasi total ini adalah pemisahan pekerja dari alat produksi.

Marx memulai dengan mencatat bahwa ekonomi klasik mengakui bahwa tenaga kerja adalah “jiwa sejatinya produksi.” Namun, ekonomi klasik tidak memberikan apa pun kepada pekerja, melainkan memberikan ‘segalanya’ kepada pemilik pabrik (hak kepemilikan pribadi). Produk (objek yang mereka buat) menjadi kekuatan eksternal dan bermusuhan yang, berhadapan dengan pekerja. Keterasingan atau keterpisahan dari produk ini bukanlah keseluruhan cerita; sebaliknya, keterasingan dalam produk sesungguhnya merupakan hasil dari keterasingan yang melekat dalam tindakan bekerja itu sendiri.

Penekanan pada proses kerja, bukan produk, inilah yang membedakan Marx dari pemikiran ekonomi klasik. Dengan mengatakan bahwa tindakan bekerja itu sendiri adalah tempat terjadinya dominasi, Marx menegaskan bahwa kerja kapitalis merupakan pelanggaran terhadap kodrat manusia yang esensial (Gattungswesen), yang seharusnya merupakan aktivitas yang bebas dan sadar. Pelanggaran ini merupakan kondisi struktural yang objektif (hilangnya kendali nyata dalam sistem), dan bukan hanya perasaan subjektif.

Empat Momen Alienasi

Marx memecah realitas tunggal tentang kerja yang terasing ini menjadi empat jenis alienasi yang saling terkait. Jenis-jenis ini secara logis bergerak dari hal-hal yang dihasilkan pekerja hingga hubungan antarmanusia.

1. Keterasingan dari Produk/Hasil Kerja

Jenis alienasi pertama berkaitan dengan produk yang diciptakan pekerja. Semakin banyak pekerja menghasilkan, semakin miskin dan lemah mereka dibandingkan dengan dunia yang mereka bangun. Energi dan kehidupan pekerja dicurahkan ke dalam produk, namun produk ini segera bertentangan dengan pekerja, menjadi “kekuatan eksternal yang bermusuhan.” Inilah konsep inversi: ciptaan menjadi tuan dari penciptanya. Pekerja mencurahkan energinya ke dalam objek fisik (komoditas), tetapi segera diambil oleh orang lain (kapitalis) dan digunakan melawan pekerja sebagai modal. Proses ini, yang disebut eksternalisasi, yang berarti pekerja kehilangan produk tersebut selamanya.

2. Keterasingan dari Aktivitas Kerja

Jenis alienasi kedua, dan yang terpenting, adalah pemisahan dari aktivitas bekerja. Marx berpendapat bahwa pekerjaan itu “eksternal bagi pekerja,” artinya pekerjaan itu tidak terasa seperti bagian alami dari diri mereka. Pekerja kehilangan kendali atas aktivitas tersebut, yang berhenti menjadi kebutuhan dasar manusia dan malah menjadi tugas yang dipaksakan dan menghancurkan jiwa. Pekerja melakukan pekerjaan hanya karena itu adalah cara yang dipaksakan untuk memenuhi kebutuhan di luar pekerjaan, seperti bertahan hidup. Akibatnya, pekerja “merasa nyaman hanya ketika [mereka] tidak bekerja, dan ketika [mereka] bekerja [mereka] tidak merasa nyaman.” Ini menunjukkan bahwa alienasi pada dasarnya adalah tentang kehilangan kendali atas diri sendiri, di mana kebutuhan untuk bertahan hidup, yang dibayar melalui upah, menjadi tekanan terakhir dan terbesar.

3. Keterasingan dari Keberadaan-Spesies

Jenis keterasingan ketiga adalah pemisahan dari Keberadaan-Spesies pekerja. Ini adalah istilah Marx untuk sifat dasar manusia: kemampuan unik kita untuk terlibat dalam aktivitas bebas, sadar, dan kreatif. Penting untuk dicatat bahwa ini bukanlah sifat yang tetap dan abstrak, tetapi konsep materialistis yang lahir dari hubungan manusia yang berkembang dengan alam dan kemajuan produksi. Tidak seperti hewan yang hanya memproduksi untuk memenuhi kebutuhan fisik langsung, manusia menghasilkan secara universal (melampaui kebutuhan langsung) dan secara sadar. Namun, kerja yang terasing membalikkan karakteristik yang mendefinisikan ini. Alih-alih memenuhi sifat dasar manusia, kerja membuat keberadaan-spesies individu terasa seperti “makhluk asing bagi [mereka]” dan mereduksinya menjadi sekadar “sarana keberadaan individu [mereka]”. Reduksi ini memaksa pekerja kembali ke fungsi hewani (makan, minum, dan bereproduksi) yang terpisah dari aktivitas manusia yang benar-benar sadar.

Momen ini menjadi standar fundamental bagi kritik Marx. Kapitalisme dikutuk bukan terutama karena tidak adil, tetapi karena menghancurkan struktur dasar kodrat manusia itu sendiri. Oleh karena itu, mengatasi keterasingan menjanjikan perkembangan penuh dari “manusia yang kaya” dan “pembebasan semua indra,” yang mengarah pada kebebasan manusia sepenuhnya yang selaras dengan dunia alam.

4. Keterasingan dari Sesama Manusia

Jenis alienasi keempat adalah akibat sosial langsung dari tiga jenis alienasi sebelumnya. Karena pekerja terasing dari produknya, aktivitasnya, dan sifatnya, mereka pasti terpisah dari semua orang lain. Pemisahan ini menciptakan hubungan yang bermusuhan antara pekerja dan non-pekerja (kapitalis). Alienasi aktif dari pekerja memungkinkan keberadaan kapitalis sebagai individu yang terasing. Ini menunjukkan bahwa kepemilikan pribadi bukan hanya hubungan antara seseorang dan suatu benda, tetapi hubungan sosial yang bermusuhan antara dua kelas.

Pembebasan Indra (the Long-Game)

Akhir dari kritik Marx dalam EPM melampaui sekadar penghapusan kepemilikan pribadi. Kritik ini mengarah pada penaklukan keterasingan secara aktif (transendensi positif dari keterasingan diri), yang berfokus pada kebebasan penuh indra manusia. Negara masa depan ini, komunisme, bukan hanya struktur ekonomi. Ini adalah perkembangan penuh dari “manusia yang kaya,” makhluk yang sepenuhnya terlibat dengan indra dan komunitasnya.

Di bawah kondisi kerja yang teralienasi, indra manusia itu sendiri menjadi teralienasi. Kapitalisme secara struktural menumbuhkan indra yang kasar, terbatas, dan sempit. Karena setiap keinginan dan kebutuhan manusia harus diekspresikan melalui uang, satu-satunya indra yang benar-benar ditegakkan adalah indra kepemilikan (possession). Indra manusia lainnya (seperti kemampuan untuk menghargai keindahan, musik, atau keterampilan kerajinan) menjadi tumpul atau direduksi menjadi sekadar alat. Pekerja begitu miskin dan didominasi oleh kebutuhan untuk bertahan hidup sehingga indra mereka tidak dapat sepenuhnya menghargai dunia; mereka terbatas pada kebutuhan paling mendasar: makan, minum, dan memiliki anak.

Pembebasan indra adalah proses praktik dan material. Manusia yang kaya bukanlah sekadar orang yang kaya, tetapi seseorang yang membutuhkan seluruh rangkaian ekspresi kehidupan manusia dan yang inderanya telah menjadi benar-benar manusiawi.

Dua Perubahan Utama

Pertama, Apresiasi di atas Possession: Indra manusia harus menjadi alat aktif ekspresi diri manusia. Untuk menikmati musik, seseorang harus memiliki bakat musik; untuk mengapresiasi seni, seseorang harus memiliki bakat artistik. Dalam masyarakat yang terbebaskan, fokus bergeser dari memiliki barang-barang ke benar-benar mengalami seni sebagai ciptaan yang unik. Ini menegaskan kejeniusan seniman dan apresiasi yang terpelihara (cultivated) dari penikmat seni.

Kedua, Pengapropriasi Sosial: Penggunaan penuh indra manusia terjadi ketika dunia secara sadar digunakan oleh manusia untuk tujuan manusia. Ini berarti apresiasi saya terhadap suatu objek tidak lagi ditentukan oleh label harganya atau apakah saya mampu membelinya, tetapi oleh kualitas nyata dan objektifnya. Indra penglihatan yang terbebaskan tidak lagi melihat label harga objek, tetapi warna aslinya; indra pendengaran tidak lagi kewalahan oleh kebisingan pabrik tetapi akan dikembangkan untuk menghargai kekayaan sosial suara secara utuh.

Dengan menempatkan solusi terhadap alienasi pada penggunaan konkret dan indrawi dari dunia objek, Marx menyediakan kerangka kerja untuk kebebasan manusia yang utuh dan selaras dengan dunia alam. Tujuan akhirnya adalah kehidupan di mana kebutuhan dan kapasitas manusia tidak lagi terbalik, tetapi ditegaskan melalui keterlibatan langsung, tanpa perantara, dan kaya dengan alam dan orang lain.

Kritik yang Matang: Fetisisme Komoditas dan Reifikasi

Analisis Marx tentang alienasi meletakkan dasar kemanusiaan dalam kritiknya. Karyanya yang kemudian, khususnya Kapital, Volume 1, mengubah konsep tersebut, beralih dari diskusi filosofis tentang kerja yang terasing ke kritik terperinci terhadap sistem kapitalis itu sendiri. Kritik ini menunjukkan bagaimana hubungan produksi yang sebenarnya menyembunyikan dirinya, sebuah fenomena yang oleh Marx disebut Fetisisme Komoditas. Konsep struktural ini kemudian diperluas oleh para teoretikus kritis menjadi gagasan Reifikasi.

Fetisisme Komoditas

Kritik dalam Capital, Volume 1 berfokus pada bagaimana nilai tampaknya bekerja di pasar (lingkup pertukaran), tidak banyak berfokus pada bagaimana perasaan pekerja (inti dari EPM) dan lebih berfokus pada penipuan (deception) objektif dan sistematis yang tertanam dalam pasar. Penipuan ini muncul dari cara sosial yang aneh di mana tenaga kerja diorganisir. Karena produk dibuat oleh banyak bisnis terpisah, tenaga kerja mereka hanya menjadi bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan melalui penjualan produk tersebut. Ini menciptakan pembalikan besar-besaran realitas sosial di mana hubungan manusia tampak sebagai hubungan antar objek. Komoditas seolah-olah memiliki kualitas magis yang melekat, yang membuat orang hanya berfokus pada nilai yang tampak dari barang itu sendiri.

Reifikasi

Fetisisme Komoditas memberikan dasar bagi para pemikir Marxis selanjutnya untuk memperluas kritik terhadap alienasi hingga mencakup seluruh struktur sosial dan budaya. Penting untuk mencatat ironi sejarah yang menarik: Georg Lukács menciptakan teori Reifikasi (atau “pembendaan” tek asli”thing-ification”) hampir satu dekade sebelum EPM diterbitkan pada tahun 1932. Rekonstruksi yang berhasil ini menunjukkan bahwa konsep alienasi adalah kritik struktural inheren yang tersembunyi dalam analisis ekonomi Marx yang matang

Reifikasi adalah proses di mana proses sosial dan hubungan esensial antar manusia diubah menjadi benda-benda (things) yang berdiri sendiri. Hal ini memperluas fetisisme komoditas melampaui pasar hingga mencakup seluruh masyarakat kapitalis, termasuk birokrasi, hukum, dan kesadaran itu sendiri. Lukács menegaskan bahwa mengatasi reifikasi membutuhkan kesadaran kelas kolektif bagi para pekerja. Dengan demikian, reifikasi berfungsi sebagai jembatan konseptual antara ekonomi klasik dan Teori Kritis Barat, menggeser fokus ke arah pemahaman-diri yang dibutuhkan untuk kebebasan manusia.

Sintesis dan Relevansi yang Abadi

Teori alienasi Marx mewakili jalur kritis yang tak terputus. Teori ini berkembang dari filsafat abstrak kaum Hegelian Muda menjadi analisis konkret dan material tentang bagaimana kapitalisme menghasilkan barang. Hal ini berpuncak pada EPM, di mana ia menetapkan mekanisme intinya: kerja yang teralienasi secara struktural menghancurkan sifat dasar manusia (Keberadaan-Spesies): kapasitas kita untuk aktivitas sadar dan kreatif. Konsep-konsep selanjutnya seperti Fetisisme Komoditas dan Reifikasi bukanlah penyimpangan dari teori awal ini, melainkan versi struktural dan generalisasinya.

Relevansi abadi dari kerangka konseptual ini terletak pada landasan normatifnya yang kuat. Dengan berargumen bahwa kapitalisme merupakan pelanggaran struktural terhadap potensi manusia untuk “aktivitas bebas dan sadar,” Marx memberikan landasan bagi proyek pembebasan yang berpusat pada “humanisme yang berkembang sepenuhnya.” Hingga hari ini, analisis struktural tentang alienasi tetap vital untuk menganalisis isu-isu modern seperti kontrol teknologi, birokrasi yang tidak responsif, dan kuantifikasi kehidupan sosial.

Artikel ini sebelumnya terbit di Substack dan MROnline dengan judul Marx and Alienation: A Simple and Powerful Idea. Melalui korespondensi dengan penulis, kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh redaksi PB dan diterbitkan di sini untuk bahan belajar.

Saran dan kritik yang membangun, tulis di halaman kontak.

Catatan

  1. Catatan penerjemah: tulisan lainnya dalam seri yang dimaksud dapat dilihat di tautan berikut: https://beerandfreedom.substack.com/
  2. Critique of Hegel’s Philosophy of Right
  3. Economic and Philosophical Manuscripts of 1844—EPM

Share your thoughts