Description
“Masih adanya orang yang hidup dalam tawanan ‘Politik-phobi’ atau ‘Partai-phobi’ adalah sangat menyedihkan dan menunjukkan masih adanya keterbelakangan fikiran di kalangan bangsa kita.”
Sebuah dokumen langka: Ketua PKI berceramah di depan jenderal dan komisaris polisi tentang revolusi, Manipol, dan tempat aparat negara dalam masyarakat baru.
Buku ini menghimpun tiga ceramah D.N. Aidit di hadapan para perwira dan mahasiswa kepolisian pada tahun 1962-1963—masa puncak Demokrasi Terpimpin. Di tengah suasana ketika “Komunisto-phobi” masih menjadi warisan kolonial, Aidit justru menerima undangan resmi dari Menteri/Kepala Kepolisian Negara untuk berbicara tentang fungsi partai revolusioner, peran polisi dalam alam Manipol, serta hubungan antara aparat keamanan dan rakyat.
Dengan tegas Aidit menyatakan: kekuasaan politik di Indonesia memiliki dua aspek—aspek pro-rakyat dan aspek anti-rakyat. Polisi, sebagai alat negara, harus memilih berpihak kepada rakyat dan revolusi, bukan menjadi alat mati yang buta politik. Ia mengajak aparat kepolisian untuk memahami pokok-pokok Revolusi Agustus 1945 menurut Manipol, mengenali musuh bersama (imperialisme dan kaki tangannya), serta menjadikan Panca Program Front Nasional sebagai pedoman kerja.
Buku ini juga memuat pandangan Aidit tentang rituling kepartaian sebagai model bagi rituling aparatur negara, bantahan terhadap propaganda “Malaysia lebih makmur”, serta seruan tegas bahwa partai-partai revolusioner tidak bisa dibubarkan karena mereka adalah alat revolusi sejak sebelum revolusi pecah.
Bagi sejarawan, aktivis, dan siapa pun yang ingin memahami relasi rumit antara gerakan komunis dan aparat negara di Indonesia pada awal 1960-an—buku ini adalah saksi sejarah yang tak tergantikan.












