
Jam menunjukkan pukul 22.00. Seorang pekerja pabrik di Badas baru saja turun shift, keringatnya masih belum mengering di baju. Di waktu yang sama, seorang guru honorer sedang berkutat dengan laptop, memasukkan dan menyesuaikan nilai-nilai siswanya agar tidak keterlaluan menurut standar budaya yang berlaku. Tiga puluh menit berlalu, seorang karyawan swasta masih membalas pesan kerja di grup WhatsApp, pesan yang membuatnya tak kunjung tidur meski tubuhnya sudah terbaring di kamar. Tak jauh dari situ, seorang Gen Z yang baru lulus kuliah menyelesaikan tugasnya sebagai kurir online setelah mengalami magang tanpa bayaran. Dan seorang Boomer yang sudah 28 tahun bekerja duduk termenung di teras sambil menghitung tagihan bulan depan.
Mereka berbeda generasi, beda jenis kerja, tapi satu hal yang sama, yaitu lelah. Pertanyaannya, sudahkah rasa lelah itu terbayar dengan kehidupan yang layak?
Lelah itu wajar. Tapi yang aneh adalah di zaman serba canggih begini, produktivitas naik, teknologi membantu banyak hal, mengapa rasa lelah kita tidak berkurang? Malah bagi sebagian orang justru bertambah.
Coba kita lihat sekeliling. Seorang pekerja pabrik dulu mungkin cukup bekerja 8 jam sehari. Sekarang, lembur menjadi sesuatu yang sifatnya sukarela tapi wajib. Seorang pekerja kantoran membawa laptop ke mana mana, cuti pun tetap harus membalas chat atasan. Generasi milenial yang kini seolah mapan, harus menghadapi kenyataan bahwa penghasilannya habis untuk cicilan, biaya anak, dan kebutuhan dapur, sementara tuntutan di tempat kerja tidak pernah berkurang. Gen Z yang katanya melek teknologi ternyata banyak yang magang tanpa gaji sambil berharap dilihat oleh perusahaan. Boomer yang dulu yakin masa pensiun adalah masa tenang, sekarang cemas karena nilai uang yang tak menentu dan anak-anaknya masih menjadi beban finansial.
Kalau kita jujur, di sinilah letak keganjilannya. Kita semua, apa pun generasinya, bekerja. Tapi hasil kerja kita seperti tidak kembali kepada kita. Ada yang mengalir ke tempat yang entah. Ke kantong siapa? Ke sistem apa?
Hari Buruh sering diisi dengan tuntutan menaikkan gaji. Itu penting. Tapi mari kita maju selangkah. Coba tanyakan bukan hanya berapa upah kita, tapi siapa yang menentukan upah itu. Mengapa kenaikan harga BBM, listrik, dan kebutuhan pokok seolah bisa terjadi kapan saja, tapi urusan kenaikan upah selalu terasa rumit dan alot?
Di situlah kita mulai menyentuh apa yang disebut ekonomi politik. Istilah tersebut memang terdengar berat, tapi sederhananya begini; semua aturan tentang kerja, mulai dari upah minimum, jam kerja, jaminan sosial, hingga pajak, semuanya lahir dari keputusan politik. Ada yang memilih, ada yang melobi, ada yang diuntungkan, dan ada yang dirugikan.
Dan pertanyaan besarnya adalah dalam proses pembuatan keputusan itu, suara pekerja, generasi apapun, apakah cukup didengar? Atau hanya sekadar menjadi pelengkap demo setiap 1 Mei, lalu besoknya kembali lupa?
Kita tidak harus menjadi akademisi atau aktivis untuk bertanya. Cukup menjadi pekerja yang sadar bahwa keringat kita punya nilai. Dan nilai itu tidak semestinya ditentukan secara sepihak oleh mereka yang duduk di kursi nyaman sambil membuat kebijakan yang tidak pernah mereka rasakan sendiri.
Maka di Hari Buruh ini, mari mulai dengan satu pertanyaan kecil, yang bisa kita bisikkan sendiri setelah pulang kerja nanti.
“Dari semua kerja keras yang sudah aku lakukan, seberapa besar bagianku yang benar benar kembali untuk hidupku?”
Lalu biarkan pertanyaan itu tumbuh. Bukan untuk memberontak tanpa arah, tapi agar kita tidak lagi bekerja dalam ketidaktahuan yang nyaman.
Selamat Hari Buruh. Mari bertanya.

