Description
Hidup mati Amir Sjarifuddin dirangkai oleh Rudolf Mrázek sebagai perkisahan pahlawan yang mungkin, utopia konkret dan runtuhnya revolusi. Sosoknya lahir di tepian kerajaan yang hampir roboh pada zaman ketika segalanya berubah. Dipenjarakan Belanda karena antikolonial dan di masa Jepang sempat divonis hukuman mati karena antifasis. Ketika Republik Indonesia berdiri, dia segera ditunjuk menjadi perdana menteri.
Namun, ia bergerak ke kiri lantaran kecewa terhadap arah elite politik pascakemerdekaan. Tengah malam 19 Desember 1948, Amir dieksekusi tentara Republik di tengah berlangsungnya suatu peristiwa yang punya peluang menjadi revolusi. Perjalanan Amir mencerminkan idealisme dan kontradiksi dunia antikolonial dan pascaperang abad ke-20. Mrázek menulis buku ini kepada orang-orang yang insyaf bahwa perubahan besar diperlukan, tetapi terus gagal.

















