10 Rekomendasi Buku Cerpen Indonesia // Edisi Februari 2026

10 Rekomendasi Buku Cerpen Indonesia // Edisi Februari 2026

Daftar bacaan berikut menghadirkan sepuluh buku kumpulan cerpen karya penulis Indonesia yang merekam beragam wajah kehidupan—dari yang sehari-hari terasa akrab hingga yang ganjil, menginvestigasi pengetahuan umum dan menggugat sejarah arus utama. Melalui gaya bertutur yang khas, para pengarang menelusuri tema cinta, kekerasan, ingatan, politik, spiritualitas, sampai absurditas hidup, menjadikan cerpen sebagai ruang refleksi yang ringkas namun menghunjam.

Berikut daftar bacaan (kumpulan cerpen) yang dapat menjadi pintu masuk untuk menikmati kekayaan sastra Indonesia sekaligus menemukan suara-suara yang tetap relevan dengan pengalaman pembaca hari ini.

  • BOBOT-DOSA-FCover

Dalam cerita-cerita pendek Indah Darmastuti, masa lalu hampir selalu hadir secara traumatis menghantui si tokoh. Realisme, fantasi, dan khayalan psikologis membaur dan sesekali melebur.

Sepasang sepatu yang dikembalikan ke pensiunan tentara pemiliknya setelah puluhan tahun. Kakak-beradik yang memiliki kenangan buruk akan piring porselen bapaknya. Penggali kubur yang kinerjanya ber- gantung pada besar kecilnya dosa jenazah… Cerita-cerita pendek Indah Darmastuti membawa pembaca ke semesta yang tampak akrab sekaligus ganjil.

Bagaimana perasaanmu jika harus membunuh gajah kesayanganmu? Bagaimana jadinya jika pelaku kekerasan seksual tak diadili hanya karena ia pemimpin sekte akhir zaman yang memiliki kesaktian? Apa rasanya jika kau terus mencintai orang yang sudi menjualmu, tega melukaimu, dan merampas hasil karyamu dalam lingkaran takdir tak berkesudahan? Apa yang harus kau lakukan jika orang yang kau sayang mendapat kekerasan berulang dari pasangan, tetapi ia tetap tak ingin meninggalkannya? Lantas, mengapa ibu mencabuti sayap kupu-kupu?

‘Kakek dalam Kucing-Kucing Takamoto’ berisi sebelas cerita pendek karya Bagus Dwi Hananto. Seluruhnya mengusung latar Jepang sebagai pusat narasi. Tokoh-tokoh dalam kumpulan ini seolah hendak mengondisikan kegagalan sebagai situasi wajar. Seperti seorang pengangguran tulen yang memilih menjadi peramal malas, atau seorang lelaki yang berkali-kali mencoba bunuh diri meski tak beroleh nyali. Bagus juga tekun menyisipkan personifikasi dari lanskap alam.

Ada elegi mengharukan dari sebatang pohon shidarezakura yang ditinggalkan pemiliknya, atau ngeong polos seekor kucing hitam yang berusaha menyelamatkan penulis novel dari hari-hari kelam.

Kumpulan cerita ini menggelitik, menyusup masuk ke sari pati keberagamaan masa kini. Aneka rupa tema dan cerita—suara dari alam kematian yang menggemparkan kampung di Jakarta, kiai yang hidup kembali setelah wafat, dilema bakso terenak di dunia, pelukis yang ingin melukis Tuhan, malaikat yang mencintai dengan pedih, negeri Tuantu yang dilanda mitos dan pandemi, juga seorang yang mengaku musuh Nabi menyandera petugas kelurahan. Jenaka, juga mengharukan.

Sentimentalime Calon Mayat memberikan pengalaman bercerita yang luwes, bagaimana teror dalam teks bekerja dan tertuang di sekujur cerita. Dalam buku cerita ini, kita akan melihat hantu Orde Baru yang terlihat-tapi-tidak dan sebaliknya. Delapan cerita dalam buku ini ditutup oleh esai Afrizal Malna yang membuka mata batin kita pada Orde Baru yang sejatinya hanya berjarak sejengkal, serta kemungkinan baru bagi cerita-cerita spekulatif yang digarap Sony.

Jose telah lama mengubur masa lalunya—hingga suatu hari, seorang pemuda datang membawa pesan dari seseorang yang nyaris ia lupakan. Ali Mundini, mantan serdadu berpangkat kopral, lelaki yang merenggut segalanya dari Jose kecil. Invasi militer Indonesia ke Timor Timur telah memisahkan dirinya dari keluarga, menghanguskan kampung halamannya, dan menggiringnya ke kehidupan tanpa kepastian di tanah asing. Janji manis Ali tentang tempat tinggal dan pendidikan layak di Indonesia hanyalah omong kosong. Yang tersisa hanyalah luka batin dan keterasingan yang terus menghantui. Mampukah seorang korban perang menemukan kedamaian di antara reruntuhan kenangan? Ataukah luka lama memang tak pernah benar-benar bisa sembuh?

Kekerasan oleh adat dan tradisi. Kekerasan oleh negara dan aparatus kekuasaan. Kekerasan oleh ekspansi kapital. Kekerasan berbasis gender. Kekerasan seksual dalam lingkungan terdekat…

Armin Bell dalam cerpen-cerpen yang mayoritasnya berlatar di wilayah Flores dan sekitarnya menggambarkan pergulatan manusia-manusia dari beragam profesi, taraf sosial, dan usia yang seakan tak bisa lepas dari pusaran kekerasan keseharian yang membelitnya.

Keenam cerita dalam buku ini menempati celah-celah yang ditinggalkan sejarah tertulis.

Pembaca akan bertemu hantu-hantu yang menakut-nakuti kapten sebuah kapal pengangkut rempah, Harimau sakti yang melindungi seorang pangeran, tiga pemuda yang menjadi buron karena mengkritik penguasa, Benteng yang menyaksikan akhir hayat seorang pemberontak, peneliti Prancis dalam ekspedisinya untuk berburu buaya di suatu wilayah di Hindia Timur, hingga pelaut berkebangsaan Prancis yang mengalami kesialan bertubi-tubi.

Cerita dari Digul merupakan kumpulan tulisan karya para eka-Digulis. Mereka pernah dibuang sebagai tahanan politik semasa pemerintahan kolonial hindia-belanda. Berbagai cerita itu, yang sungguh-sungguh terjadi, mengisahkan suka-duka mereka dalam mempertahankan hidup di tanah buangan Digul, Papua Barat. Getir dan mengharukan.

Di balik setiap wajah yang kita jumpai, ada kisah yang nyaris tak pernah terucap. Melalui Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya, Reda Gaudiamo merangkai tiga puluh satu cerita pendek yang mengingatkan kita, bahwa hidup tidak pernah benar-benar biasa. Di tangan Reda, cerita orang-orang biasa berubah menjadi potret kehidupan yang hangat, lucu, dan terkadang menyayat—serta membuat kita sadar, mungkin kita pun salah satunya.

Share your thoughts