PEMENANG THE S.E.A. WRITE AWARD 2019 “Percuma kau punya ladang atau sawah, cepat atau lambat negara akan merampasnya darimu. Juga rumah. Juga tanah. Bahkan negara bisa mengambil paksa suamimu kapan pun mereka mau.” Di balik pertunjukan sirkus monyet dan siksaan tanpa akhir, seekor monyet belajar untuk menjadi manusia. Ia percaya cinta menunggunya di sana, dalam…
Dalam penulisan sejarah selama ini, pahlawan nasional Indonesia Ernest François Eugène Douwes Dekker, atau yang nanti mengganti nama menjadi Danudirja Setiabudi, lebih dikenal sebagai tokoh nasionalis. Ki Hajar Dewantara, salah satu kawan seperjuangannya dalam “Tiga Serangkai”, menyebut Ernest sebagai Bapak Pergerakan Nasional Indonesia. Sementara Sukarno mengaku belajar nasionalisme politik darinya. Yang tampaknya luput dalam historiografi…
Keberadaan geng, preman, dan milisi telah menjadi ciri yang melekat dalam kehidupan sosial-politik di Indonesia. Selama masa Orde Baru, mereka digunakan sebagai alat untuk menegakkan tertib sosial versi negara dan melanggengkan kekuasaan rezim, misalnya “kewenangan” yang dimiliki organisasi pemuda untuk menggebuk para pengkritik rezim dengan mengatasnamakan Pancasila. Demokratisasi pasca 1998 tidak mengakibatkan lenyapnya kelompok-kelompok ini,…
Heart Lamp adalah kumpulan cerpen monumental karya Banu Mushtaq, pengacara, aktivis, dan pejuang hak-hak perempuan Muslim dari India Selatan—sekaligus pemenang The International Booker Prize 2025. Buku ini merupakan karya perdana Mushtaq yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, setelah sebelumnya pertama kali terbit dalam bahasa Kannada. Melalui kisah-kisah yang berangkat dari pengalaman hidup sehari-hari, Heart Lamp menghadirkan…