Bangkit dari Sensor

author❨s❩ J. M. Coetzee

translated by Ageng Indra

Kenapa penulis yang hidup di bawah rezim sensor justru sering menghasilkan karya paling tajam, bukan yang paling tumpul? Sensor itu cuma soal negara membungkam suara, atau ada dinamika psikologis yang membuat penulis dan penyensor saling terjebak dalam pertarungan yang makin lama makin sengit? Kalau Orde Baru dulu doyan membredel buku dan menahan penulis, apa yang sebenarnya berubah dari cara sensor bekerja di Indonesia hari ini — dari negara ke platform, dari pembredelan ke report massal?

Rp42.000

Produk ini ada di Pusat Distribusi. Pesan sekarang dan akan dikirim dalam 2-3 hari.

Categories: , , Brand: Tags: , , , , , , , , , , ,
Tanyakan sesuatu

Description

Sebanyak 17 cerita dalam buku ini lima di antaranya disertakan dalam terbitan pertama, 1971 berkisah tentang kehidupan di Jakarta setelah Belanda mengakui kedaulatan RI pada 1949. Kehidupan yang disorot terutama kocak-getir kehidupan para seniman muda di kawasan Pasar Senen, Jakarta. Dari kawasan inilah produksi film nasional dan teater nasional berputar.

Pada masa itu Pasar Senen menjadi pusat berkumpulnya seniman asli maupun orang-orang yang bergaya seniman. Bermacam gaya dan ulah mereka kemudian dicatat dan digubah menjadi cerita oleh Misbach Yusa Biran.

Di sini ada kisah lukisan yang sengaja dipasang terbalik untuk mengolok pelukisnya, eh malah dianggap sebagai adikarya seni dan dibeli dengan harga tinggi.

Meski kisah ini mengenai kehidupan 50 tahun yang silam, kocak-getir kehidupan Seniman Senen tetap nikmat dibaca pada abad ke-21. Boleh jadi kegenitan seniman masa itu menjadi cermin sosial kehidupan seniman-seniman muda pada awal dasawarsa 2000-an.

Additional information

Weight0,2 kg
Author(s)

Translator(s)

Format

Language

Publisher(s)

Year Published