
Mahfud Ikhwan
Mahfud Ikhwan lahir di Lamongan, Jawa Timur, dan menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada, pada 2003. Setelah lima tahun bekerja sebagai buruh di penerbitan buku sekolah, ia memutuskan menjadi penulis penuh waktu sejak novel pertamanya, Ulid Tak Ingin ke Malaysia, terbit pada 2009. Namanya mulai terkenal lewat Kambing dan Hujan: Sebuah Roman (2015)—pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014—disusul Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (Marjin Kiri, 2017), yang meraih Kusala Sastra Khatulistiwa dan telah diterjemahkan ke bahasa Arab dan Inggris.
Karya-karya Mahfud konsisten menoleh ke dunia desa, kelompok-kelompok di pinggiran arus utama, serta pergulatan Islam dan masyarakat Jawa—jejak dari skripsinya tentang Kuntowijoyo yang menariknya masuk ke kajian sosiologi dan antropologi. Selain fiksi, ia menulis esai-esai lepas soal sepak bola, film India, dan dangdut, yang menegaskan posisinya sebagai penulis yang tumbuh dari kegemaran budaya pop kelas pekerja, bukan dari menara gading sastra.
Menurut saya, manipulasi kapitalisme berupa sepakbola adalah manipulasi terbaik yang terjadi di Indonesia. [Bahkan] Mungkin di dunia.







