
Paulina Flores
Paulina Flores lahir di Santiago, Chili, pada 1988 dan menempuh pendidikan Sastra Hispanik di Universitas Chili serta meraih gelar master di bidang Penulisan Kreatif dari Universitas Pompeu Fabra, Barcelona. Namanya melesat lewat kumpulan cerpen perdananya, Qué vergüenza (2015)—yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Astrid dengan judul Cerita-cerita Hina (Marjin Kiri, 2021)— yang, memenangkan Penghargaan Roberto Bolaño dan masuk dalam daftar sepuluh buku terbaik versi El País.
Pada 2021, ia menerbitkan novel pertamanya, Isla Decepción, yang meraih Penghargaan LINC untuk Buku Terbaik Tahun Ini, dan pada tahun yang sama majalah Granta menyematkannya sebagai salah satu dari dua puluh lima penulis berbahasa Spanyol terbaik di bawah usia tiga puluh lima tahun. Novelnya yang lain berjudul La próxima vez que te vea, te mato (2025), mengangkat isu non-monogami, prekaritas kerja, dan imigrasi dengan latar Barcelona—kota yang kini ia tinggali. Selain aktif sebagai kolumnis di El País, Paulina Flores dianggap sebagai penulis pascaboom yang karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan mendapat pujian kritis dari publikasi internasional seperti The Guardian.
Orang-orang seusia saya sudah melakukan aksi protes sejak usia 15 tahun sampai hari ini. —Paulina Flores


