Teks Musik Pertanian Hari Ini: Sebuah potret dari yang romantis, baladis, banyak ironis tanpa banyak metafora

Pertanian Hari Ini merupakan sebuah album yang berisi lelagu-laguan tentang hiruk pikuk, romantisme, sekaligus hal-hal ironis akut dari kehidupan di tempat tinggal yang (konon) disebut Negeri Agraris. Dengan karyanya ini, Riant Daffa, seorang pemuda asal wilayah administratif Kabupaten Kediri, tidak sekadar berekspresi dalam bentuk musik. Lebih dari itu, Ia sedang mengupayakan sebuah dokumentasi atas fenomena ketercerabutan dan berusaha menghubungkan suatu “akar” yang telah tercerabut itu. Ia mungkin bukan yang pertama, tapi di antara dari yang beberapa.

“Keagungan” kata agraris sebagai sebutan bukanlah sekadar jargon kebyar-kebyar semata. Kata itu menempati posisi esensial, aktivitas mata pencaharian yang mendasari kehidupan yang terbangun di atasnya, termasuk raksasa ekonomi yaitu industrialisasi. Kediri dan beberapa tempat yang Ia tapaki menyuguhkan berbagai dinamika persoalan pertanian mulai dari keugaharian, konflik, sengketa, hingga tragedi kemanusiaan adalah sumber kegelisahan. Ini seharusnya menjadi suatu kewajaran bagi mereka yang melek, dan sosok pemuda seperti Riant Daffa patut diikuti jejaknya: berinteraksi dengan konteks di mana permasalahan mendasar muncul.

Buku ini melengkapi rilisan musik berupa 13 lagu. Di sana dipaparkan penjelasan dan catatan singkat tambahan yang menguatkan gambaran album Pertanian Hari Ini. Riant Daffa hendak menambah bahan pendengaran kita soal pertanian yang pelik ini. Beberapa data hasil penelusurannya juga coba disajikan, membuat lelaguannya menjadi semakin penad.

Samsul Wahab adalah seorang pegiat literasi di komunitas Dul Wahab School Pare. Jika ada panggilan, maka bisa ngajar jadi tutor untuk IPS SMP/Sosio SMA. Punya komunitas bernama Lare Pare Berkebun, terkadang juga berdendang bersama grup musik folk minimalis, Gayung Bersambut. Lebih suka disebut fasilitator pendidikan dan pengembangan komunitas. Kini sedikit beraktivitas di Perjamuan Buku sebagai Little Father.

Jika boleh dibagi, Pertanian Hari Ini ditampilkan dan disampaikan dalam beberapa nuansa. Pertama berisi romantisme aktivitas petani. Aktivitas yang dilakukan dengan dasar jiwa yang dipenuhi ketulusan, keluhuran, ugahari di tengah lingkungan alam yang damai dan permai, dan heroik serta reflektif. Nuansa pertama itu akan kita temukan pada nomor “Petani Pahlawan Negeri”, “Tanam Lagi”, dan “Gubug Harapan”. Romantisme itu akan memberikan sensasi semangat sekaligus kerinduan. Lagu paling menyenangkan di sini, dan direkomendasikan untuk mengawali hari bekerja terutama bagi petani adalah “Tanam Lagi”. Lagu ini asyik, singkat dan gampang didengarkan. Memulai hari ini. Tanam lagi tuk panen nanti. Usir malas mulai bekerja. Menanam. Menjalani hidup ini. Tanam lagi tuk panen nanti. Usah risau mulai bernyanyi. Bersama

Nuansa kedua adalah berisi balada harian dalam bertani, seperti harga input yang mahal, harga jual yang rendah, krisis regenerasi petani, lahan-lahan pertanian yang semakin sempit, ketimpangan kepemilikan maupun akses terhadap lahan, hal-hal di seputar modernisasi pertanian, relasi sosial yang buruk akibat perubahan, dan lain-lain ibarat sebuah drama yang harus dilalui dan dilakukan petani pada setiap waktu yang datang melibas. Perlu dicatat, bahwa normalisasi atas kategori kedua ini sebetulnya kuranglah tepat, namun keterlanjuran menjadi “lagu lama” ini mau tidak mau adalah sebuah realitas yang harus dilalui para petani tersebut.

Lagu-lagu dalam kategori kedua itu bisa didengar dari nomor “Suara Dari Lahan”, “Oh Tuan Oh Nona”, “Ladang Hutang”, “Traktor Sawah”, “Desa yang Damai Tak Damai Lagi”, “Musim Semi yang Sunyi”, dan “Sepetak Sawah di Tengah Kota”. Terakhir, nuansa ketiga berisi hal-hal ironis dan tragis yang tentu menjadi masalah yang luar biasa berupa degradasi lingkungan dan peristiwa yang tidak manusiawi. Nomor “Hijau Kini Hilang Entah Kemana”, “Tanah yang Subur tak Subur Lagi”, dan paling tragis adalah “Tangis Petani” yang menceritakan sepasang suami-istri petani dari Kediri yang diberitakan melakukan bunuh diri bersama di tengah lahan dengan menenggak pestisida akibat jeratan hutang. Ketiga lagu terakhir itu menunjukkan suatu dampak paling parah dari buruknya pengelolaan sistem pertanian secara menyeluruh sehingga mengorbankan ruang hidup juga kehidupan manusia di dalamnya.

Semenjak nuansa yang pertama sekalipun, potret tidak mengenakkan sudah tergambar. Seperti dalam “Gubug Harapan”, Sebuah harapan di gubug sawah. Hijau berseri menari-nari. Air melimpah penuhi ladang. Menghitung mendung Panen Menjelang. Dari situ dapat kita ambil romantisme akan aktivitas bertani yang indah. Bait terakhirnya menampilkan hal yang ironis atau sebaliknya akan kepemilikan dan finansial petani, Namun harapan tinggal harapan. Ku hanya penggarap di ladang orang. Sawah tak punya hutang melimpah. Sedangkan biaya hidup terus meningkat.

Praktis, potret sektor produksi pangan telah didominasi oleh sebuah realitas yang sama sekali tidak ideal dari nilai guna mendasar akan pangan bagi keberlangsungan kehidupan. Dari alam yang rusak, relasi sosial yang buruk, kesejahteraan yang terpuruk, tak terwujudnya kondisi kedaulatan pangan sebuah bangsa agraris, hingga tragedi kematian pelakunya sendiri yaitu petani. Refleksi untuk memurnikan niat dan menimbulkan sikap yang tetap ugahari selain menampakkan kekuatan petani, justru juga menampilkan peristiwa yang ironis. Petani yang sedemikian gigihnya masih dipaksa untuk bersikap nerimo karena paksaan sistemik dan terstruktur.

Sehingga boleh jadi, Riant Daffa secara kreatif menyediakan berbagai alternatif sebagai pintu masuk yang beragam dalam memahami dunia pertanian. Teks-teks yang sederhana, lugas, serta tidak begitu rumit akan metafora menjadikannya dekat, mudah dikonsumsi oleh semua lapisan dan didendangkan bersama.

Sebagai generasi muda yang dituntut menjadi kosmopolit, tak pelak bias “kota” akan memapar. Dengan demikian, gambaran mengenai desa juga kehidupan pertanian yang lekat juga akan jauh. Hal ini dapat kita ambil dari sebuah sudut pandang yang menarik yang berhasil ditampilkan dalam “Sepetak Sawah di Tengah Kota” yaitu keberadaan sawah-sawah yang masih sempat ada di sekitar riuhnya megapolitan. Kota raksasa yang perekonomiannya sudah bertradisi angka kelayakan hidup yang berwujud Upah Minimum Kawasan (UMK)/ Upah Minimum Regional (UMR), masih menyimpan cerita pekerjaan kuno berupa pengolahan lahan pertanian.

Dan itulah yang coba dibawakan Riant Daffa sebagai “insan agraris” yang berpihak. Berkampanye di setiap ruang-ruang yang dimasukinya, serta aksi-aksi yang melibatkannya. Pertanian Hari Ini layak kita nikmati, karena memang asyik untuk didendangkan bersama, kita peras maknanya lalu kita pahami, menjadikan masalah ini bersama secara sadar, selanjutnya berjuang secara nyata untuk perubahan menuju kedaulatan.

Open chat
Hai PAPERBUK!
Ada yang bisa kami bantu?