Sejarah Bicara: Belajar dari mereka yang dibisukan

Sejarah Bicara: Bacaan Paperbuk

Daftar buku pilihan yang tak ingin dilewatkan oleh Pembaca Perjamuan Buku (Paperbuk).

Dunia dikejutkan oleh bangkitnya wacana kiri di kalangan muda. Ia menjadi alternatif saat pengetahuan (liberal) yang saat ini dominan tak dapat menjawab persoalan-persoalan yang mengantre untuk timbul ke permukaan. Di Indonesia sendiri, wacana kiri ngeri kini tengah digandrungi meskipun ia telah dikubur dan dijadikan musuh negara. Dari sini menjadi penting untuk mengetahui apa yang sedang terjadi hari ini dan di masa lalu. Melalui “mereka” yang telah dilupakan kita menggali pengetahuan sebagai bahan pertimbangan atas apa-apa yang terjadi dan merumuskan pilihan (solusi). Kami telah merilis daftar bacaan yang dapat digunakan atasnya. Dari mereka yang dibungkam dan diceritakan secara mengerikan oleh penguasa, kita belajar tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Berikut daftar bacaan yang ditulis sebagai memoar, sejarah, biografi, dan novel. Semuanya direkomendasikan secara pribadi oleh Paperbuk.

Buku ini selain berisikan riwayat perjalanan hidup, ada yang kiranya lebih penting lagi, yaitu semacam “kesaksian” Rewang seputar G30S, tentang perjuangan bersenjata di Blitar Selatan, dan mengenai bagaimana proses lahirnya “Otokritik Politbiro CC PKI”.

Proses penulisan buku ini sendiri telah dilakukan jauh sebelum Rewang wafat 29 Oktober 2011 di Solo karena sakit tua.

 

Meskipun buku ini berangkat dari pengalaman hidup Tan Swie Ling, seorang eks tapol G30S, tetapi penulis tidak cerita sedikit pun tentang orangtua, tempat kelahiran, sekolah, aktivitas-aktivitas politiknya ketika masih muda, dsb. Riwayat hidupnya “dimulai” pada 1 Oktober 1965, ketika dia dapat berita tentang G30S. Saat dia harus mulai sembunyi dan membantu mencari tempat aman untuk Ketua PKI terakhir, Sudisman.

Lantas akhir tahun 1966, keduanya ditangkap karena dikhianati Ketua Komisi Verifikasi PKI dan anggota CC, Sujono Pradigdo yang takut disiksa. Selama 13 tahun, dia dipenjara sambil disiksa secara buas dan sadis. Setelah lepas, dia–seperti eks tapol lainnya–harus mengalami segala macam penghinaan, diskriminasi, ancaman dan pemerasan. Tetapi dia tak patah hati, otaknya tidak ambruk, semangat dan disiplinnya tetap utuh. Dan inilah refleksinya atas G30S, awal dari kehancuran nasionalisme Indonesia dan Indonesia itu sendiri.

Buku Pembuangan Pulau Buru ini merupakan bagian kedua dari memoar penulis selama menjadi tapol rezim Orba, Oktober 1965 sampai Desember 1978. Bagian pertama terbit dengan judul Banten Seabad Setelah Multatuli (Ultimus, 2013) mengisahkan latar belakang pendidikannya sampai ia ditangkap ketika bekerja di proyek baja Cilegon, Banten, selanjutnya sebagai pekerja paksa yang berakhir ketika kapal yang membawa para tapol mendarat di Namlea, Pulau Buru.

“Sebagai sebuah sumber sejarah, memoar semacam ini sama kedudukannya dengan arsip-arsip ‘resmi’ yang selama ini menjadi sumber utama penulisan sejarah.”
Grace Leksana, sejarawan, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI)

Thomas Najoan adalah pemimpin sosialis generasi pertama. Ia ikut pertemuan para pemimpin PKI di Prambanan, 25 Desember 1925 yang menghasilkan Putusan Prambanan yang mencetuskan pemberontakan fisik melawan pemerintah kolonial pada tahun berikutnya.

Ada dua hal penting dalam riwayat hidup Najoan. Pertama, kegiatan sosialis Najoan dalam gerakan buruh radikal sebagai bagian dari pergerakan nasional. Kedua, perlawanan Najoan yang unik di Digoel yang salah salah satunya berupa pelarian dirinya, ketabahan yang penuh senyum dari Boven Digoel.

 

KEKALAHAN selalu mendatangkan kritik, sebaliknya kemenangan mendatangkan pujian. Tidak mengherankan bahwa kekalahan yang diderita Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemberontakannya tahun 1926—1927 oleh seorang ilmuwan dikatakan kacau pengorganisasiannya dan karenanya mudah dikalahkan oleh pemerintah. Oleh sebagian orang yang ikut dibuang ke Boven Digoel di tengah rimba raya Irian sendiri pemberontakan itu juga dikecam. Banyak di antara mereka yang kemudian berbalik gagang memusuhi jajarannya dan berpihak pada Pemerintah Hindia Belanda yang sebelumnya ikut diberontakinya. …

Buku sejarah ini dibuat untuk mengingatkan siapa pun yang lupa, seolah-olah hanya harus mengingat kemenangan dan keberhasilan.

Kepribadian Oei Tjoe Tat mencerminkan kekuatan idealisme dalam mengatur kehidupan seseorang. Idealisme Oei Tjoe Tat terutama bertumpu pada keinginannya untuk melihat Indonesia yang mampu menampung semua golongan yang tinggal dalam kawasan teritorialnya, dengan memberikan perlakuan yang adil dan peluang yang sama bagi semua varga negara untuk mewujudkan cita-cita mereka. Dengan demikian, Indonesia yang diimpikannya adalah Indonesia yang pluralistik, yang tidak membeda-bedakan warga negaranya berdasarkan asal-usul, agama, rasial, budaya, bahasa, dan pandangan politik mereka.
—K.H. Abdurachman Wahid.

Dengan ini saya mengaturkan cerita hal serikat buruh pada saudara-saudara kaum Buruh Hindia (terkarang sebelum nama Indonesia menjelma). Bukan maksud kita menceritakan hal ini dengan ilmiah, tapi saya sengaja mengarang secara gampang, supaya semua kaum Buruh mengerti dengan segera apa maksudnya buku ini.

Terutama buat propaganda, dan buat kaum Buruh yang belum punya kumpulan serikat atau serikat buruhnya belum teratur beres, maka buku ini akan mendatangkan faedahnya kalau dipikir dan diusahakan betul oleh kaum Buruh.

Ganefo atau Games of New Emerging Forces yang diselenggarakan pada 10-22 November 1963 itu adalah jawaban Indonesia bahwa negeri jajahan bisa menyelenggarakan sebuah pergelaran olahraga dengan partisipasi luas yang bersandar pada kesetiakawanan politik. …

Untuk pertama kali buku tersebut diterbitkan penerbit Akar di Yogyakarta tahun 2009. Kini, Ultimus dengan syahdu memutuskan untuk menerbitkan ulang sebagai pengingat bahwa pada suatu waktu, nyaris setengah abad lalu, senjata dan hati yang buta pernah melebihi dan mempermalukan kuasa Tuhan, manakala sebaris doa yang pendek saja untuk mengiringi kematian adalah sebuah cita-cita yang harus digapai di daratan yang jauh. Sejumlah cerita pendek dan beberapa kajian mengenai karya penulis memperkaya edisi kedua Mati Baik-Baik, Kawan ini.

“Buku Hong Liu bukan buku sejarah biasa dan bukan pula buku populer yang mudah dibaca. Akan tetapi, hal-hal yang dipaparkannya sangat penting bagi intelektual Indonesia, karena melalui kajiannya tersebut, kita bisa melihat kembali cita-cita kebangsaan kita, kesalahan-kesalahan masa lalu yang kita buat, serta kemungkinan-kemungkinan masa depan yang bisa kita rangkai kembali sebagai sebuah visi nasional.”
– Dr. Thung Ju Lan, Jurnal Masyarakat & Budaya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Inilah roman cinta yang berlatar kisah nyata dan menggetarkan. Bukan sembarang kisah, melainkan sebuah pengalaman hidup yang dahsyat. Pelaku utama novel ini adalah seorang bekas aktivis Partai Nasional Indonesia (PNI), partai terbesar pada masa Presiden Soekarno. Akan tetapi, ia dituduh terlibat dalam pemberontakan komunis tahun 1965. Ia ditahan di Nusakambangan selama 4 tahun.
Ahmad Tohari, Penulis Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Generasi ini menyikapi kekerasan dan pengejaran yang dilakukan oleh negara dalam bentuk yang berbeda-beda.

Buku ini merupakan koleksi cerita yang sangat mengharukan tentang bagaimana anak-cucu para korban 1965 menderita karena ketidak-hadiran para orang tua dalam hidup dan bagaimana mereka melihat para orang tuanya melalui trauma karena pengalaman pahitnya.

 

Penulis buku ini termasuk seorang tapol yang mujur dalam arti memiliki kesempatan menulis buku harian selama beberapa tahun (1966—1971). Ketika itu ia bersama ratusan tapol lain dijadikan romusa modern melakukan kerja rodi di daerah Banten dalam proyek Angkatan Darat yang disebut “Operasi Bhakti Siliwangi”. Kesempatan menulis buku harian merupakan barang langka, bahkan suatu kemewahan bagi seorang tapol G30S.
—Harsutejo

Sekitar 12.000 orang dibuang ke Pulau Buru oleh pemerintah Orde Baru secara bertahap mulai tahun 1969 sampai 1976, tidak pernah menjalani proses pengadilan. Ratusan orang tahanan meninggal di pulau ini.

Sebuah memoar yang menggambarkan wajah kamp konsentrasi pembuangan tapol G30S Pulau Buru, dilengkapi dengan 75 gambar sketsa dari penulisnya.

Yang paling menarik perhatian saya dari tulisan-tulisan Bung Siauw adalah komitmen Bung Siauw terhadap rule of law. Tulisannya bersandar atas Indonesia sebagai negara hukum. Sekilas, hal ini tidak memerlukan sorotan apa-apa. Penegakan hukum sering dianggap sebagai topik yang membosankan dan kuno, sesuatu yang sebenarnya lebih baik dibahas oleh orang-orang konservatif yang berhubungan dengan kegiatan hukum dan ketertiban. Akan tetapi dalam konteks Indonesia di mana penegakan hukum merupakan pengecualian, ia adalah sebuah masalah yang penting dan mendesak.— John Roosa

Temukan daftar bacaan lainnya yang direkomendasikan secara pribadi oleh Perjamuan Buku untuk Anda di sini

Open chat
Hai PAPERBUK!
Ada yang bisa kami bantu?