Sastra Klasik: Sejarah dan Perjalanan // Bacaan Paperbuk

 

Sastra tak hanya bercerita, namun juga memberikan berbagai pelajaran. Tak heran jika para pemikir radikal dan pemimpin berpengaruh selalu dekat dengan sastra.

Kami hadirkan daftar sastra klasik tentang sejarah dan perjalanan yang memuat berbagai pelajaran tentang kehidupan dan perjuangan, yang harus Anda baca, setidaknya sekali seumur hidup.

Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan asisten Lebak, Banten, abad 19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin dan menderita. Diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etik dengan mendidik kaum pribumi elit, sebagai usaha ‘membayar’ utang mereka pada pribumi.

Tragis, lucu dan humanis, Max Havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia. Pramoedya Ananta Toer menyebutnya sebagai buku yang ‘membunuh’ kolonialisme. Kemunculannya menggemparkan dan mengusik nurani. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diadaptasi dalam berbagai film dan drama, gaung kisah Max Havelaar masih menyentuh pembaca hingga kini.

Paruh kedua 1930an: masa-masa genting pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di Eropa angin peperangan mulai berhembus. Di Asia, Je­pang menang atas Ru­sia dan konon telah menyebarkan agen-agennya ke sepenjuru Asia. Di dalam negeri sendiri, pemogokan buruh merebak di kota-kota di Jawa. Belum lagi korupsi dan kebejatan moral birokrasi kolonial.

Semua latar internasional itu berpengaruh tanpa disadari kepada kehidupan rakyat jelata di Wlingi, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang menjadi mikrokosmos masyarakat kolonial—dengan strata sosial, rasial, dan kebahasaan yang bertingkat-tingkat. Pesta ulang tahun Ratu Belanda hendak diperingati secara besar-besaran di sana. Masalahnya, sebuah pohon beringin raksasa yang dikeramatkan menghalangi tempat acara dan harus ditumbangkan—keputusan yang menggegerkan warga setempat dan menyulut serangkaian peristiwa menegangkan.

Seorang pemuda Belanda yang nekat ke Jawa untuk mencari ayahnya, seorang perempuan pribumi cantik yang berambisi menjadi nyonya Belanda, seorang sinder korup dengan istrinya yang penjudi, seorang detektif partikelir misterius, dan seorang nona Tionghoa pewaris usaha perkebunan cokelat—semuanya terlibat dalam sebuah jalinan kisah cinta dan tragedi yang memikat di tengah kemelut drama sejarah.

Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Partai meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyhuran.

Tuan dan Hamba adalah kisah perjalanan dari kehidupan menuju kematian, salah satu tema utama Tolstoy yang bertahan sejak Tiga Kematian (1859) dan seterusnya. Kisah ini penuh dengan simbol. Tanpa membuang waktu dalam mengembangkan kengerian yang berdenyut sepanjang cerita, segera setelah Brekhunov dan Nikita meninggalkan desa Kresty, Tolstoy langsung membongkar batas-batas antara alam kehidupan dan alam kematian.

Tuan dan Hamba adalah alegori yang dibuat dengan susah payah. Ia tetap vital meskipun memiliki simbolisme yang berat: karakter-karakternya lebih dari sekadar mewakili kebajikan dan ketamakan. Nikita seorang yang baik dan menyenangkan, tetapi dia juga pemabuk yang memotong pakaian istrinya yang paling berharga. Brekhunov seorang yang penuh kebencian tetapi melihat dirinya sendiri sebagai “dermawan”. Dalam badai salju, mereka terjebak dalam limbo yang bermusuhan antara dunia ini dan dunia kematian.

Ini adalah prosa rumit yang memiliki kesederhanaan sebagaimana pohon telanjang di padang salju

Bagaimana jika segerombolan penguin beragama? Ini diawali seorang misionaris yang terperdaya dan melaut hingga kutub. Dibutakan oleh pantulan cahaya dan tuli oleh gemuruh ombak, ia mengira segerombolan penguin sebagai manusia dan membaptis mereka. Maka dimulailah hikayat para penguin ini, sebuah satir tentang peradaban, dari zaman kegelapan ke masa depan yang penuh kemajuan. Sebuah karya klasik Prancis karya Anatole France yang terbit kali pertama tahun 1908, tapi gaungnya tetap terbawa hingga kini.

Gulag adalah neraka bagi rakyat Uni Sovyet di bawah kekuasaan Stalin yang tersembunyi dari mata dunia. Tak seorang pun mampu luput darinya, termasuk pemuka agama, wanita, bahkan anak-anak. Dengan gaya bertutur yang tangkas dan lincah, kadang berbau satiris, Solzhenitsyn menuturkan operasi penangkapan, kamp kerja paksa, suasana batin dan derita fisik para tahanan, dan orang-orang yang secara mengejutkan memiliki keteguhan moral menghadapi penindasan dan penyiksaan, serta kehidupan di pengasingan. Solzhenitsyn lebih menekankan aspek moral dari persoalan yang diangkatnya ini. Pengungkapan kekejaman dan keculasan yang dilakukan sebuah rezim penguasa tidak cukup hanya dipandang sebagai masalah politik, tetapi juga merupakan masalah moral yang mengantarkan pembaca pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang sifat manusia sendiri: apakah manusia pada dasarnya memang jahat? Ataukah baik? Dan mungkin yang paling penting: mengapa manusia sering kali tidak mampu menentang kejahatan yang terjad di depan matanya sendiri? Melalui versi ringkas The Gulag Archipelago ini, Solzhenitsyn sekali lagi membuktikan bahwa kekuasaan pemerintah memang mampu melakukan berbagai bentuk kekejaman kepada manusia, fisik maupun mental, tapi tidak akan pernah bisa benar-benar memadamkan semangat manusia.

Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.

Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memabukkan. Demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan … walau harus dengan kekerasan.

Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Dianugerahi Retro Hugo Award untuk novela terbaik (1996) dan Prometheus Hall of Fame Award (2011), Animal Farm menjadi mahakarya Orwell yang melejitkan namanya.

Share your thoughts

Open chat
Hai!
Ada yang bisa kami bantu?