Merah Sejarah: Bacaan September Paperbuk

Bulan September membuat kami berpikir tentang buku-buku yang mampu memberikan penjelasan tentang sejarah. Khususnya yang berkaitan dengan luka sejarah Indonesia. Buku-buku yang memuat pelajaran sejarah yang berbeda dari versi penguasa, di mana ia dapat membuka kabut misteri yang menyelimuti sejarah selama ini.

Kami hadirkan daftar bacaan yang tak ingin Anda lewatkan. Mereka harus Anda baca dan berada di rak buku Anda.

Buku klasik tentang sejarah kemunculan ideologi komunisme di Asia dan perannya dalam awal pergerakan kebangsaan Indonesia. McVey berhasil menguraikan secara lengkap lahir dan berkembangnya Partai Komunis Indonesia dalam pergolakan politik perlawanan terhadap kolonialisme serta pertarungan ideologi baik secara internal maupun dalam peta perpolitikan di Indonesia di masa pra-kemerdekaan. Di masa orde baru, buku ini termasuk yang dilarang beredar di Indonesia dan hanya menjadi bacaan terbatas dikalangan akademisi. Catatan terpenting adalah buku ini mendokumentasikan dan menyingkap secara lengkap peristiwa 1926-1927.

Buku ini dicap sebagai “bacaan berbahaya” sejak per­tama kali terbit dalam bahasa Swedia 30 tahun lalu. Tetapi sebagai karya, daya tariknya bukan hanya pada bagaimana kekuasaan Orba begitu takut pada buku ini, melainkan cara Törnquist menempatkan pokok pembahasan atas Peristiwa G30S 1965. Törnquist mengupas persoalan yang hampir tidak pernah dicermati sungguh-sungguh di dalam karya-karya para peneliti maupun pelaku peristiwa G30S 1965. Apakah penyebab kegagalan PKI? Apakah keterlibatan pemimpin PKI dalam G30S cuma sial dan keliru langkah seorang Aidit atau itulah pilihan jalan PKI untuk menyingkirkan “strategi borjuis” seraya menggenjot partai memobilisasi petani? Sejauh mana Aidit mengkhianati partai dan terlibat petualangan rahasia serta elitis? Apakah PKI terlalu doktriner sehingga salah membaca kondisi sehingga mudah dihancurkan dan sejauh ini gagal bangkit kembali?

Yang disajikan di dalam buku ini merupakan buah hati serta buah pikirannya selama Asahan mengembara seantero dunia. Dan hikmahnya banyak bagi pembaca Indonesia sekarang. Banyak dari sejarah ini belum diketahui masyarakat Indonesia. Lebih-lebih lagi, inilah karya yang menuntut respons, malah menggoda reaksi, dari pembacanya. Dalam gaya khasnya Asahan yang kontroversial dan yang tak kunjung padam.
— Emeritus Professor David T. Hill, Asia Research Centre, Murdoch University

Meskipun buku ini berangkat dari pengalaman hidup Tan Swie Ling, seorang eks tapol G30S, tetapi penulis tidak cerita sedikit pun tentang orangtua, tempat kelahiran, sekolah, aktivitas-aktivitas politiknya ketika masih muda, dsb. Riwayat hidupnya “dimulai” pada 1 Oktober 1965, ketika dia dapat berita tentang G30S. Saat dia harus mulai sembunyi dan membantu mencari tempat aman untuk Ketua PKI terakhir, Sudisman.

Lantas akhir tahun 1966, keduanya ditangkap karena dikhianati Ketua Komisi Verifikasi PKI dan anggota CC, Sujono Pradigdo yang takut disiksa. Selama 13 tahun, dia dipenjara sambil disiksa secara buas dan sadis. Setelah lepas, dia–seperti eks tapol lainnya–harus mengalami segala macam penghinaan, diskriminasi, ancaman dan pemerasan. Tetapi dia tak patah hati, otaknya tidak ambruk, semangat dan disiplinnya tetap utuh. Dan inilah refleksinya atas G30S, awal dari kehancuran nasionalisme Indonesia dan Indonesia itu sendiri.

Buku ini selain berisikan riwayat perjalanan hidup, ada yang kiranya lebih penting lagi, yaitu semacam “kesaksian” Rewang seputar G30S, tentang perjuangan bersenjata di Blitar Selatan, dan mengenai bagaimana proses lahirnya “Otokritik Politbiro CC PKI”.

Proses penulisan buku ini sendiri telah dilakukan jauh sebelum Rewang wafat 29 Oktober 2011 di Solo karena sakit tua.

Cetakan kedua ini memuat Laporan Akhir panel hakim Pengadilan Rakyat Internasional 1965 tentang Kejahatan terhadap Kemanusiaan dan Genosida 1965–66 dalam versi bahasa Indonesia setelah sebelumnya pada cetakan pertama diterbitkan dalam versi dwibahasa (Inggris dan Indonesia).

Penerbitan versi bahasa Indonesia, adalah untuk memenuhi permintaan dari masyarakat luas khususnya komunitas korban dan kalangan generasi muda yang ingin mengetahui dan mempelajari hasil keputusan panel hakim Pengadilan Rakyat Internasional yang telah bersidang pada tanggal 10–14 November 2015 yang lalu di Den Haag, Belanda.

Asia Tenggara memiliki sejarah gerakan kiri yang panjang dan kaya. Gerakan kiri dan para aktivisnya ini berjuang melawan kolonialisme, berkontribusi bagi kemerdekaan dan pembangunan negeri, dan meng­hadirkan perubahan dalam konfigurasi politik di kawa­san. Walau kontribusi sosial-politik para aktivis kiri ini telah banyak diteliti, tetapi karya-karya tulis mereka belum banyak dikaji. Buku ini mengulas sejumlah karya dari sosok-sosok yang pernah aktif dalam gerakan kiri di Asia Tenggara sebagai cara untuk memikirkan kembali kemajuan politik dan identitas nasional di luar sejarah resmi negara-negara.

“Novel Soe Tjen Marching merupakan salah satu narasi penting tentang bagaimana perempuan, begitu juga gerakannya, dihancurkan dengan keji oleh militerisme di Indonesia. Berlatar sejarah, dengan detail yang belum pernah diungkap selama ini.” — Martin Aleida, sastrawan, penulis Tanah Air yang Hilang

Share your thoughts

Open chat
Hai!
Ada yang bisa kami bantu?