MANIFESTO EFFECT (174 Tahun Manifesto): Rekomendasi Buku Merah

Manifesto Effect

“Tak ada teks lain yang ditulis pada pertengahan abad kesembilan belas yang dapat bertahan sebaik Manifesto tahun 1848 oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Bahkan apa yang telah mereka kerjakan pada 1848, saat ini seluruh teks paragraf di dalamnya lebih sesuai dengan realitas kontemporer dibandingkan [ketika ia disusun] pada 1848. …”
— Samir Amin

Kami telah mendaftar buku-buku untuk direkomendasikan kepada Anda. Mereka menjadi daftar alternatif pada agenda #redbooksday yang dapat membantu Anda dalam memilih bacaan ataupun hadiah untuk orang terdekat Anda.

Simpan dan bagikan daftar berikut ke orang-orang yang Anda sayangi!

‘The proletarians have nothing to lose but their chains.’

 

Marx and Engels’s revolutionary summons to the working classes – one of the most important and influential political theories ever formulated.

This book brings to mind the infinite instances in which Washington Bullets have shattered hope.
—Evo Morales Ayma, former President of Bolivia

Like his hero Eduardo Galeano, Vijay Prashad makes the telling of the truth lovable; not an easy trick to pull off, he does it effortlessly.
—Roger Waters, Pink Floyd

An impressively detailed, exceptionally well presented, thoughtful and thought-provoking expose of American imperialism that has led to the misery and death of millions around the world, Washington Bullets: A History of the CIA, Coups, and Assassinations is a critically important and unreservedly recommended addition to every community, college, and university library International Political Science collection.
Midwest Book Review

The hidden story of the wanton slaughter — in Indonesia, Latin America, and around the world — backed by the United States.

In 1965, the U.S. government helped the Indonesian military kill approximately one million innocent civilians. This was one of the most important turning points of the twentieth century, eliminating the largest communist party outside China and the Soviet Union and inspiring copycat terror programs in faraway countries like Brazil and Chile. But these events remain widely overlooked, precisely because the CIA’s secret interventions were so successful.

In this bold and comprehensive new history, Vincent Bevins builds on his incisive reporting for the Washington Post, using recently declassified documents, archival research and eye-witness testimony collected across twelve countries to reveal a shocking legacy that spans the globe. For decades, it’s been believed that parts of the developing world passed peacefully into the U.S.-led capitalist system. The Jakarta Method demonstrates that the brutal extermination of unarmed leftists was a fundamental part of Washington’s final triumph in the Cold War.

 

“Prashad menulis buku sejarah dalam gaya sastrawi. Momen-momen dikerangkai dalam cara yang memudahkan untuk membayangkan latarnya […] efektif untuk menyampaikan poin utama buku ini: perjuangan demi perjuangan terhubung lintas ruang dan waktu manakala ada organisasinya.” — Citizens’ Press

 

“Brilian dan mengusik pikiran, titik awal penting untuk memahami kompleksitas komunisme internasional selama abad lalu.“ — Communist Review

Asia Tenggara memiliki sejarah gerakan kiri yang panjang dan kaya. Gerakan kiri dan para aktivisnya ini berjuang melawan kolonialisme, berkontribusi bagi kemerdekaan dan pembangunan negeri, dan meng­hadirkan perubahan dalam konfigurasi politik di kawa­san. Walau kontribusi sosial-politik para aktivis kiri ini telah banyak diteliti, tetapi karya-karya tulis mereka belum banyak dikaji. Buku ini mengulas sejumlah karya dari sosok-sosok yang pernah aktif dalam gerakan kiri di Asia Tenggara sebagai cara untuk memikirkan kembali kemajuan politik dan identitas nasional di luar sejarah resmi negara-negara.

  • We Are Cuba!

    Author(s)

    3% off!
    Original price was: Rp420.000.Current price is: Rp407.400.

The extraordinary account of the Cuban people’s struggle for survival in a post-Soviet world

In the aftermath of the fall of the Soviet Union, Cuba faced the start of a crisis that decimated its economy. Helen Yaffe examines the astonishing developments that took place during and beyond this period. Drawing on archival research and interviews with Cuban leaders, thinkers, and activists, this book tells for the first time the remarkable story of how Cuba survived while the rest of the Soviet bloc crumbled.

Yaffe shows how Cuba has been gradually introducing select market reforms. While the government claims that these are necessary to sustain its socialist system, many others believe they herald a return to capitalism. Examining key domestic initiatives including the creation of one of the world’s leading biotechnological industries, its energy revolution, and medical internationalism alongside recent economic reforms, Yaffe shows why the revolution will continue post-Castro.

This is a fresh, compelling account of Cuba’s socialist revolution and the challenges it faces today.

Apakah kapitalisme lahir akibat revolusi industri atau justru hasil dari revolusi borjuis di Prancis? Apakah kapitalisme muncul dari daerah perkotaan? Apakah kapitalisme telah ada sejak manusia ada dan kemudian menunjukkan wujudnya ketika terjadi peningkatan skala perdagangan komersial?

Ellen Meiksins Wood dalam buku “Asal-usul Kapitalisme” menyatakan tidak untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas. Wood dalam buku ini menjelaskan secara kritis kelahiran kapitalisme, imperialisme, dan negara-bangsa modern. Ia secara presisi menunjukkan bahwa kapitalisme bukanlah konsekuensi alami yang tak terelakan dari kodrat manusia. Kapitalisme pada kenyataannya adalah produk dari kondisi sejarah yang spesifik, yang kemudian menciptakan transformasi besar dalam hubungan sosial dan hubungan antara manusia dengan alam.

A consensus-shattering account of automation technologies and their effect on workplaces and the labor market

Silicon Valley titans, politicians, techno-futurists and social critics have united in arguing that we are living on the cusp of an era of rapid technological automation, heralding the end of work as we know it. But does the much-discussed “rise of the robots” really explain the jobs crisis that awaits us on the other side of the coronavirus?

In Automation and the Future of Work, Aaron Benanav uncovers the structural economic trends that will shape our working lives far into the future. What social movements, he asks, are required to propel us into post-scarcity, if technological innovation alone can’t deliver it? In response to calls for a universal basic income that would maintain a growing army of redundant workers, he offers a counter-proposal.

 

Christian Fuchs dalam buku “Membaca Kembali Marx di Era Kapitalisme Digital” menggali gagasan Marx dalam tulisan-tulisannya yang paling berpengaruh. Fuchs kemudian menggunakan gagasan Marx tentang mesin, teknologi, komunikasi, dan ideologi untuk menganalisis kapitalisme kontemporer. Buku ini hadir dengan pertanyaan: Mengapa pemikiran Marx masih relevan hingga hari ini? Bagaimana kita dapat memahami Marx di era kapitalisme digital dan komunikatif?

Yang paling menarik perhatian saya dari tulisan-tulisan Bung Siauw adalah komitmen Bung Siauw terhadap rule of law. Tulisannya bersandar atas Indonesia sebagai negara hukum. Sekilas, hal ini tidak memerlukan sorotan apa-apa. Penegakan hukum sering dianggap sebagai topik yang membosankan dan kuno, sesuatu yang sebenarnya lebih baik dibahas oleh orang-orang konservatif yang berhubungan dengan kegiatan hukum dan ketertiban. Akan tetapi dalam konteks Indonesia di mana penegakan hukum merupakan pengecualian, ia adalah sebuah masalah yang penting dan mendesak.— John Roosa

“Ditulis dengan cermat, disajikan dengan gamblang dan didokumentasikan secara luas, buku ini merupakan karya cendekia yang brilian.”
– Gerald. S. Maryanov, Ahli Politik Northern Illinois University

 

“Karya yang memiliki otoritas besar dan tak ada keraguan sedikit pun akan kekuatan buku ini.”
– J.D. Legge, Sejarawan Monash university

Buku ini ditulis berdasarkan kenangan lama yang masih tercatat dalam ingatan Tatiana_anak sulung M.H. Lukman (anggota Politbiro Partai Komunis Indonesia)_ yang menjadi eksil sejak 1965, berpindah-pindah di negeri orang, dari Tiongkok, Kuba, Perancis, dan terakhir menetap di Belanda. Panta Rhei mencoba menguak kembali kenangan Tatiana dari tanah air, kisah hidup selama eksil di luar negeri, dan penjalanan napak tilas mencari jejak leluhur keluarganya.

Naskah ini pertama kali dibukukan tahun 2008, lalu dengan beberapa revisi diterbitkan ulang oleh Pustaka Sempu tahun 2014.

Untuk mengenal sejarah gerakan kiri di Indonesia tentu tidak bisa dipisahkan dari sejarah 65 yang kelam itu: tentang Peristiwa G30S dan tentang pembantaian massal tahun 1965–66. Lalu kenapa buku ini tidak fokus membahas sejarah 65 saja? Sebab, membicarakan sejarah tidak bisa sepotong-sepotong. Sebuah peristiwa sejarah, apalagi sedahsyat Peristiwa 65 yang mengubah arah perjalanan bangsa Indonesia dari yang tadinya menuju Sosialisme Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno menjadi bangsa yang mengekor nekolim di bawah kepemimpinan orde baru, harus dilihat dari peristiwa-peristiwa sejarah yang mendahuluinya, dan juga perkembangan sejarahnya kemudian. Lagipula, sudah banyak sejarawan yang fokus penelitiannya adalah soal-soal mendalam tentang Peristiwa 65. Itu memang tugas sejarawan.

Kemunculan wabah Corona dan wabah lain sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya saat ini—yang berbeda dibandingkan empat abad lalu. Kami akan mengulas bagaimana sistem produksi kapitalis saat ini membentuk dan mempersering kedatangan wabah: entah itu yang menjadi endemi, epidemi, ataupun pandemi.

Lantas, bagaimanakah cara kita memenuhi kebutuhan hidup selama ini? Bagaimana sistem kapitalisme yang disebut-sebut itu, merusak hubungan sosial dan lingkungan kita? Bagaimanakah ia memproduksi wabah, dan apa yang harus kita lakukan? Buku saku ini dengan ringkas akan mendiskusikannya.

Buku ini begitu cemerlang, dengan kedalaman, jangkauan dan keberanian pemikiran yang luar biasa. Rob Wallace memang unik. Dalam buku “Matinya Epidemiolog” memahami pandemi COVID-19 tidak seperti penelitian lain yang pernah saya temui. Buku ini ditulis dengan pemikiran radikal dalam arti yang paling baik. Ditulis dengan sempurna, dengan penuh kekesalan, kefasihan ala punk-rock, dan dengan amarah.
(Ben Ehrenreich, penulis buku “Desert Notebooks: A Road Map for the End of Time”)

Temukan daftar bacaan lainnya di sini. Atau kunjungi bookmap untuk mencari bacaan lain yang direkomendasikan. Semua diurutkan berdasarkan tema dan topik yang tak ingin Anda lewatkan.