Membaca Sastra Kemarau Juni-Juli

Bekali diri Anda dengan pelajaran berharga dari Zorbas, Djing Fei atau kehidupan para tokoh revolusioner yang disajikan dalam bentuk sastra. Untuk kembali belajar dari sejarah dan peristiwa penting. Semua buku dalam kategori Sastra dan Budaya diskon 17% hingga akhir Juli 2021.

3 Juni

Pada bulan Juni-Juli, berbagai peristiwa sejarah penting terjadi. Termasuk peristiwa yang turut serta mempengaruhi arah dan tujuan Revolusi Agustus. Sekarang, kita dihadapkan dengan momen-momen yang bisa digunakan untuk membaca peristiwa tersebut dan mengambil pelajaran darinya. Beberapa kejadian dituturkan dan/ ditulis langsung oleh para pelaku sejarah dalam bentuk sastra. Hal itu dipengaruhi situasi sulit di mana informasi yang terang dan benar, tidak bisa disajikan secara terbuka karena dianggap sebagai ancaman bagi kelas yang berkuasa. Itulah kenapa sastra dan budaya tak bisa lepas dari kepentingan kelas.

Kehidupan Zhou Enlai adalah sejarah Tiongkok modern. Melalui lensa pengalamannya, kita melihat bagaimana dekade berubah dramatis, terkadang penuh kekerasan: pendirian Partai Komunis Tiongkok, Long March yang mencengangkan, kejatuhan sosial dari Lompatan Jauh ke Depan, ekses kekerasan dari Revolusi Kebudayaan, dan hubungan diplomatik dengan Barat pada tahun 1970-an. Han Suyin menyusun episode yang menentukan ini dengan permadani historis yang kaya.

Dengan tulisan yang meyakinkan, unik dalam perspektifnya, karya ini adalah sejarah sosial yang sangat bagus dan potret seorang pemimpin legendaris yang warisan politiknya terus mempengaruhi jalannya Tiongkok modern hari ini.

Awal Uzhara berangkat ke Moskow pada tahun 1958 untuk belajar di institut sinematografi tertua di dunia. Terbayang dengan begitu jelas di pikiran Uzhara: selesai studi di Uni Soviet, ia akan pulang dan membagikan ilmu perfilmannya di tanah air. Namun apa daya, pergolakan politik 1965-66 membuatnya tidak bisa kembali. Paspornya dicabut dan Awal Uzhara menggelandang di negeri orang selama hampir enam puluh tahun. Meski tidak bisa pulang, kerinduannya pada Indonesia tidak pernah sirna. Di sana, Uzhara mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia pada mahasiswa-mahasiswi Rusia sambil menyimpan rasa pahit dan getir. Buku ini merupakan catatan perjalanan hidup Awal Uzhara yang ditulis oleh Syarif Maulana saat Awal Uzhara berhasil pulang ke Indonesia tahun 2012. Sebelum meninggal dunia tahun 2017, Uzhara menitip pesan agar kisah hidupnya diketahui banyak orang sehingga tidak lagi terulang: hancurnya mimpi anak manusia oleh sebuah rezim.

Rasa terhina dan harga diri. Kenangan dan balas dendam. Kesepian dan kerinduan.

Inilah dunia kontemporer Cile yang ditangkap dengan tajam, jeli, dan peka oleh Paulina Flores, penulis muda Amerika Latin yang berbeda dari kanon penulisan generasi sebelumnya. Dari kampung nelayan miskin sampai tangga gelap rusun urban, inilah gambaran generasi yang tumbuh dengan penetrasi budaya pop, musik Inggris, restoran Amerika, anime Jepang, media sosial dan pornografi, di tengah ketimpangan ekstrem akibat warisan sosial kediktatoran.

 

“Debut yang mengesankan […] Flores menyulut empati dengan perhatian yang cermat pada detail. Umat manusia, dia tegaskan, diikat oleh kerentanan bersama.”
The Guardian

“Kendati penekatan Paulina Flores radikal secara politis, cerita-ceritanya menggali sebuah dunia yang penuh nuansa dan kompleksitas, menjadi hidup oleh pencarian tak kenal lelah oleh penulisnya atas kemanusiaan tiap-tiap tokohnya.”
El Español

“Ini kisah yang sebenarnya belum lama terjadi. Sebuah kisah kelabu penuh darah. Hanya seumuran dua kali coblosan lurah; tidak berselang lama dari saat, untuk pertama kalinya di daerah sini, Golkar menang dari Petiga dengan mudah.”

 

Demikianlah Warto Kemplung mengawali kisahnya kepada siapa saja yang sudi mendengarnya di warung kopi: kisah asmara antara Mat Dawuk dan Inayatun, dua sejoli yang dipandang miring oleh masyarakat, berlatar kehidupan sosial sebuah desa Jawa yang berubah oleh tanaman komoditas dan kerja menjadi buruh migran, dibalut dengan humor, laga, dan dendang film India.

Masalahnya, sejauh mana cerita Warto itu sungguh-sungguh terjadi; atau hanya bualan untuk menutupi masa lalunya sendiri?

Sejak kecil, Karla merasa diperlakukan tidak adil oleh ibunya yang ia anggap misterius. Namun tak ada seorang pun dalam keluarga yang membelanya. Inilah yang membuat Karla tak mempunyai pilihan selain menjauh dari keluarganya. Berpuluh tahun sesudahnya, barulah satu demi satu rahasia itu mulai terkuak baginya—bukan hanya rahasia yang menggelayuti keluarganya, tetapi juga banyak manusia lainnya.

 

“Novel Soe Tjen Marching merupakan salah satu narasi penting tentang bagaimana perempuan, begitu juga gerakannya, dihancurkan dengan keji oleh militerisme di Indonesia. Berlatar sejarah, dengan detail yang belum pernah diungkap selama ini.” — Martin Aleida, sastrawan, penulis Tanah Air yang Hilang

“Mama menemukan surat ancaman di bawah bantalnya: jika Demodov dan mahasiswa lain tak memperoleh pengampunan, Papa akan ikut atau mendahului kematian mereka. Itu peringatan terakhir untuknya.”

 

Ancaman pembunuhan datang kepada Sang Gubernur, di tengah keputusannya menutup perkuliahan di universitas setelah pembangkangan mahasiswa yang memprotes penangkapan profesor yang mereka hormati. Untuk melindungi sang suami, istrinya menyewa sekretaris sekaligus pengawal, yang malah memberi masalah baru: salah satu anak perempuannya jatuh cinta kepada sang pengawal, yang justru diselundupkan oleh kelompok revolusioner ke rumah tersebut. Sebuah novel epistolary politik yang mencekam, di mana tahap demi tahap rencana pembunuhan tersembunyi di balik penggalan kisah hubungan adik-kakak dan ayah-ibu-anak di musim panas penghabisan mereka.

Digarap dalam rentang waktu tiga belas tahun, delapan cerita dalam kumpulan ini dipetik Lu Xun dari dongeng-dongeng dan legenda Cina kuno, lalu ditulis ulang dalam gayanya yang khas dengan imbuhan-imbuhan baru. Dengan memadukan realisme dan romantisisme, Lu Xun “memakai barang lama untuk membuat satir dari masa kini.” Cerita-cerita indah yang kerap jenaka dan sarkastis, menampakkan semangat jiwa penulisnya yang militan dan bergelora.

 

“Lu Xun adalah suara bangsa dan rakyatnya. Ia adalah perwujudan dari kebangkitan jiwa yang penuh dengan harapan-harapan mulia bagi manusia. Ia bukan cuma berharap; ia menempuh metode yang paling baik dan paling tepat—kesusastraan—dalam perjuangan mewujudkan cita-citanya.” — Pramoedya Ananta Toer, pidato pada Konferensi Peringatan 20 Tahun Wafatnya Lu Xun (1956)

Temukan buku-buku lainnya dalam kategori Sastra dan Budaya yang menarik dan memberikan pengetahuan baru untuk Anda.

Open chat
Hai!
Ada yang bisa kami bantu?