Mukadimah Perjamuan Buku



***Pengetahuan telah berkembang dengan pesat. Ia melesat dan turut menyusun perkembangan kekuatan produktif dalam sejarah manusia. Sayangnya, ia hanya dapat dijangkau oleh beberapa kalangan saja, lebih-lebih para borjuis radikal.***

Perjamuan Buku merupakan media yang digunakan untuk mengedarkan literatur, bacaan; buku dan pamflet progresif-revolusioner (baca: kiri). Dikelola secara individu oleh seorang programmer dari Indonesia.

Media ini dibangun atas keprihatinan terhadap minimnya buku-buku kiri yang beredar di Indonesia. Memang, ada banyak sekali faktor yang membuat literatur berkualitas kesulitan untuk sampai pada pembaca. Selain karena sulitnya “akses” dan klaim atas rendahnya minat membaca di Indonesia, nampaknya mayoritas toko-buku yang ada telah terjebak dalam logika akumulasi yang berorientasi pada laba dan mengharuskan mereka untuk terus tumbuh. Sehingga memaksanya untuk menjual berbagai literatur, buku dan pamflet yang, hanya untuk memuaskan hasrat membaca. Hal itu bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi ia mendukung dan meningkatkan minat membaca, namun di sisi lain ia turut mendukung kejahatan yang telah terjadi—meskipun ini tidak disadari. Beberapa literatur yang ada justru menyeleweng dan penuh dengan tujuan politik untuk melanggengkan tatanan kelas dalam struktur sosial yang penuh ketimpangan ini—bukan bermaksud book shaming, ilmu pengetahuan memang jarang berposisi netral karena ia (mayoritas) adalah produk dari "pengetahuan yang berkuasa".

Lantas, bagaimana kami bertahan agar tidak jatuh sebagai toko-buku yang mengedarkan "kucing dalam karung"?

Kami memiliki kapasitas programming and design. Dengan kapasitas tersebut, kami bekerja, atau tepatnya, menghasilkan nilai. Sebagai buruh lepas (freelance) kami bekerja tanpa tunjangan maupun jaminan. Parahnya, meskipun freelance, kami tetap tak bisa bebas dari menjadi sekrup kapitalisme. Sehingga satu-satunya cara untuk bebas dari kapitalisme adalah dengan menumbangkannya dan, untuk menumbangkan kapitalisme serta menciptakan sistem produksi reproduksi yang lebih emansipatoris, bukanlah dengan "tidak bekerja" dan/ menolak hidup "mapan", tetapi dengan memahami bagaimana cara manusia bekerja, cara manusia memenuhi kebutuhan materiil.

Berangkat dari kesadaran tersebut, kami ingin mengajak para buruh di mana pun, terutama Indonesia, untuk menyadari realitas objektif. Untuk bersama melihat dan memahami kapitalisme dengan seluruh panca indra kita, kritik atasnya bukanlah sebuah teori usang dan juga bukan hal “mewah” yang hanya bisa dikonsumsi oleh para intelektual borjuis radikal. Sehingga untuk mencapai tujuan awal tersebut, juga dibutuhkan literatur yang tepat, di mana ia juga sampai di hadapannya.

Kami menyisihkan sebagian kecil dari upah kami sebagai modal untuk membeli beberapa literatur, dan sisanya (dari sebagian upah tersebut), serta sebagian rabat yang diberikan oleh penerbit-penerbit buku untuk menambal biaya pengiriman paket ke seluruh Indonesia.

Dengan cara seperti itu, kami mencoba untuk mendistribusikan berbagai literatur untuk menunjang edukasi demi memajukan cita-cita politik terwujudnya mode produksi reproduksi yang lebih emansipatoris—sosialisme ilmiah.***

Demikian, kami amat menyadari akan pertarungan kelas dan buasnya pasar bebas dalam mode produksi kapitalisme. Kami pun tidak mengetahui sampai kapan utopia ini akan berlangsung. Namun selama sang bintang masih bersinar, kami akan terus melakukan berbagai usaha untuk menunjang dan memajukan agenda-agenda politik kelas buruh. Karena kami tahu, kami tidaklah sendirian. Di luar sana, beragam jenis dari umat manusia yang lain, juga sedang berjuang bersama untuk cita-cita seluruh kelas buruh.

“Emansipasi kaum buruh, adalah tugasnya kaum buruh itu sendiri”—Karl.



Perjamuan Buku
The Godfather of Perjamuan Buku