12% off!

Di Bawah Lentera Merah

Riwayat Syarekat Islam Semarang (1917-1920)

Rp66,000.00

Available on backorder

Description

Jika bangsa Indonesia setiap tahun memperingati tanggal 20 mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional, maka seyogyanya juga tertuju kepada momentum sejarah seperti yang dilukiskan Soe Hok Gie Di Bawah Lentera Merah ini. Persepsi yang menyederhanakan kebangkitan nasional hanya dengan Budi Utomo, terang terlalu sempit, tidak demokratis, dan sesungguhnya sudah lama tidak masuk akal. Begitupun sebaliknya, misalnya, hanya menomorsatukan Islam atau tokoh-tokohnya sebagaimana yang telah diupayakan beberapa orang, akan membawa kita juga ke jurang persepsi yang tidak demokratis. Adapun alasannya, sebagian akan Anda pahami ketika membaca karya ringkas ini.

Generasi baru bangsa ini sudah sepantasnya dapat menggunakan akal dan citarasanya sekreatif mungkin, agar mereka mampu mengemban tugas sejarahnya dengan suatu peradaban (termasuk peradaban politiknya) yang seimbang bagi zamannya. Maka itu, menakut-nakuti bangsa ini dengan hantu-hantu komunisme, Islam fundamentalis, ateisme, sekularisme, dan militerisme, menjadi bertentangan dengan kepentingan kemajuan bangsa ini. Bangsa yang sebenarnya sudah lama pandai mengambil apa yang ia butuhkan bagi kebangkitan, pertumbuhan, dan kemenangannya. Anda dapat melihat kilasan kearifan bangsa itu pada karya besar ringkas Soe Hok Gie ini. Karya ini bahkan akan mengungkapkan betapa pemberontakan, di sini dan di mana saja, tidak pernah akan terjadi karena satu orang, satu pihak atau satu golongan. (Frantz Fanon Foundation)
***

Di Bawah Lentera Merah menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan, antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920an dan wawancara autentik yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa, penulisnya mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia, apa gagasan substansialnya, serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917an.

Di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan kaum menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu menjadi sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia karena menjadi tonggak kelahiran gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.

Pertimbangan lain mengapa “Di Bawah Lentera Merah” menjadi penting adalah karena buku ini memotret bagaimana gagasan transformasi modernisasi berproses dari wacana tradisional ke wacana modern. Lebih khusus lagi Soe Hok Gie, melalui buku ini, mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh tradisional lokal tahun 1917an mencoba menyikapi perubahan pada abad ke-20 yang dalam satu dan lain hal, punya andil menjadikan wajah bangsa Indonesia seperti sekarang ini.

Additional information

Weight 0.3 kg
Dimensions 14 × 20 cm
Author(s)

Format

Language

Indonesia

Pages

122

Publisher

ISBN

978-979-947-128-4