9 Buku yang Harus Dibaca Rakyat Indonesia: Bacaan Paperbuk

Bulan Agustus membuat kami berpikir tentang buku-buku yang mengubah pemikiran kami; tentang sejarah Indonesia yang menurut kami mestinya berada di rak buku semua orang dan, dibaca oleh mereka, khususnya rakyat Indonesia.

Semua bacaan tersebut mendapat potongan 17% hingga akhir Agustus 2021.

Buku karya Benedict Anderson ini menganalisis secara intensif dan rinci asal mula revolusi Indonesia, dan dengan itu mengungkapkan ciri-ciri penting yang tidak begitu tampak dalam uraian mengenai revolusi-revolusi modern lainnya. Ia memperlihatkan betapa pola sosial-politik revolusi Indonesia itu menyimpang dari pola-pola sosial-politik revolusi modern lainnya, dan bahwa pecahnya revolusi Indonesia tidak dapat diterangkan secara memuaskan melalui analisis Marxis konvensional, maupun dipandang dari segi “alienasi kaum cendekiawan” atau “rasa frustrasi karena harapan-harapan yang kian memuncak”. Ia menjelaskan bahwa pusat daya dorong kekuatan revolusi pada tahap pertama perjuangan merebut kemerdekaan itu terutama, dan bahkan pada taraf yang menentukan, terletak di tangan pemuda Indonesia.

Anderson menerangkan betapa faktor-faktor kebudayaan tradisional dan watak pendudukan Jepang telah memengaruhi kesadaran politik golongan pemuda ini, terutama persepsi mengenai posisi mereka dalam perjuangan nasional dan perubahan sosial.

Dalam narasi sejarah yang populer di Indonesia, Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 lebih sering dipandang semata-mata sebagai kisah sukses Indonesia dalam menggelar sebuah konferensi tingkat dunia. Latar belakang yang kompleks dan perdebatan-perdebatan keras yang berlangsung antar pesertanya justru jarang ditampilkan.

Buku ini bermaksud melihat KAA 1955 secara lebih kritis dan komprehensif dengan menyuguhkan kompleksitas riil konferensi tersebut. KAA diadakan di tengah gelombang dekolonisasi sekaligus Perang Dingin, dan pemikiran yang melandasinya bisa dilacak jauh ke belakang ke aktivitas gerakan-gerakan antikolonialisme dan antiimperialisme Asia dan Afrika awal abad ke-20. Buku ini bermaksud menelusuri asal-usul, momen, dan warisan KAA melampaui warisan institusionalnya, selain untuk menye­diakan analisis dalam melihat respons kekuatan adidaya dan publik Indonesia sendiri terhadap konferensi ini.

Buku klasik tentang sejarah kemunculan ideologi komunisme di Asia dan perannya dalam awal pergerakan kebangsaan Indonesia. McVey berhasil menguraikan secara lengkap lahir dan berkembangnya Partai Komunis Indonesia dalam pergolakan politik perlawanan terhadap kolonialisme serta pertarungan ideologi baik secara internal maupun dalam peta perpolitikan di Indonesia di masa pra-kemerdekaan. Di masa orde baru, buku ini termasuk yang dilarang beredar di Indonesia dan hanya menjadi bacaan terbatas dikalangan akademisi. Catatan terpenting adalah buku ini mendokumentasikan dan menyingkap secara lengkap peristiwa 1926-1927.

Perdebatan dasar negara antara golongan Islam dan golongan Nasionalis Netral Agama sama tuanya dengan umur Republik Indonesia. Perdebatan tersebut kembali mencuat saat pidato Presiden Sukarno di Amuntai pada 27 Januari 1953. Membuat beberapa kalangan, terutama Islam, mempersoalkan pidato tersebut. Buku Menyulut Api di Padang Ilalang ini meneroka beragam protes yang dilancarkan berbagai pihak di beberapa media massa kala itu dan menghadirkan beberapa aktor yang pernah hadir langsung saat pidato akbar Sukarno yang terkenal itu.

Menguak permulaan kebangkitan gerakan perempuan di Indonesia, terutama pada masa awal abad ke-20. Studi Cora ini adalah sebuah refleksi berbagai masalah pergerakan perempuan, ideologi politik sejaman, dan masalah-masalah penting untuk memahami Indonesia. Cora telah mempelajari pergerakan Indonesia dengan cara yang berbeda. Maka, siapa pun yang menulis tentang sejarah modern pergerakan perempuan Indonesia, seharusnya berterima-kasih kepada karya pionir Cora ini.

Buku ini membahas hubungan politik antara Indonesia dengan Tiongkok, dan Sukarno dengan Mao Tse Tung beserta sebab musababnya hingga implikasinya terhadap pembentukan negara Indonesia. Buku ini lebih memfokuskan pada citra Tiongkok yang kompleks dan berubah-ubah selama era Sukarno.

Pada 1958, Sukarno menyatakan tegas penolakannya terhadap senjata nuklir: “Tjara agar kita tidak meng­alami peperangan dunia peperangan atom ialah semua sen­djata atom dilemparkan ke dalam laut dan djangan membuat sendjata atom lagi!” Namun memasuki 1965, pandangan Sukarno berubah drastis. Proyek riset nuklir di Indonesia yang awalnya digunakan untuk tujuan-tujuan non-militer kini tampak diarahkan untuk persenjataan: “Persiapan Indonesia untuk meledakkan bom atomnja jang pertama berdjalan lantjar dan berdjalan terus tanpa menunggu kekuat­an-kekuatan internasional dan iklim politik.” Memperkuat pernyataan Presiden, petinggi Angkatan Darat menyatakan bahwa 200 orang ilmuwan Indonesia sedang bekerja menggarap bom atom tersebut.

Apa yang sesungguhnya terjadi di balik perubahan pandangan ini? Buku tipis ini bermaksud mengeksplorasi gagasan Sukarno terkait teknologi nuklir dan manfaatnya bagi Indonesia dan dunia. Buku ini berargumen bahwa pemanfaatan teknologi nuklir membawa konsekuensi besar terhadap perubahan sosial dan politik di Indonesia pada 1960an. Negara-negara Barat menunjukkan sikap waspada terhadap ambisi nuklir Sukarno yang tampak di­dukung kuat oleh Republik Rakyat Cina.

Melalui eksplorasi atas dokumen-dokumen dalam dan luar negeri, sedikit banyak buku ini berupaya untuk ikut serta me­nyumbang sekelumit bahasan terkait alasan terjadinya gejolak politik September 1965, yang dipandang bukan semata-mata perihal perseteruan ideologi, me­lainkan juga jegal-menjegal dalam persaingan penguasaan teknologi semasa Perang Dingin.

Orde Baru sukses dalam memelintir sejarah kiri di Indonesia untuk mencitrakannya sebagai ideologi iblis yang menjadi ancaman terbesar bagi negara. Terbukti, jauh sesudah Orde Baru jatuh, anti-komunisme tetap bercokol kuat dalam masyarakat Indonesia. Buku ini menjelajahi kembali faktor-faktor yang membentuk dan memelihara ideologi anti-komunis itu, bukan saja sebagai hasil dari kampanye politik, melainkan juga hasil dari agresi kebudayaan, terutama melalui pembenaran atas kekerasan yang dialami oleh anggota dan simpatisan komunis pada 1965-1966.

Buku ini menganalisis upaya pemerintah Orde Baru beserta agen-agen kebudayaannya dalam memanfaatkan produk-produk budaya untuk melegitimasi pembantaian 1965-1966. Dengan bukti-bukti empiris ditunjukkan bahwa intervensi langsung CIA kepada para penulis dan budayawan liberal Indonesia untuk membentuk ideologi anti-komunisme bukanlah isapan jempol belaka. Siapa saja penulis yang terlibat? Bagaimana metodenya? Sebagai tambahan, buku ini juga menganalisis perlawanan kelompok-kelompok kebudayaan Indonesia kontemporer terhadap warisan anti-komunisme Orde Baru itu.

Pada awal berdirinya Orde Baru, musuh besar penguasa ternyata bukan hanya komunisme, melainkan juga… rambut gondrong!

Persoalan yang sepertinya sepele ini ternyata menyita perhatian khusus penguasa. Petinggi militer mengeluarkan radiogram pelarangan rambut gondrong, bahkan Pangkopkamtib bicara mengenainya di TVRI. Instansi publik menolak melayani orang-orang berambut gondrong. Pelajar, mahasiswa, artis, dan pesepak bola dilarang gondrong. Razia dan denda digelar di jalan-jalan, melibatkan anggota pasukan teritorial bersenjatakan gunting, bahkan pernah dibentuk Bakorperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong).

Pertanyaannya adalah: mengapa? Mengapa Orde Baru begitu cemas terhadap rambut gondrong?

Dengan apik buku ini menelusuri kembali episode menggelikan sekaligus mengenaskan dalam sejarah Indonesia, awal dari sikap paranoid rezim yang selalu melihat rakyatnya sendiri sebagai ancaman.

Lihat bacaan tentang sejarah Indonesia lainnya di sini.

Share your thoughts

Open chat
Hai!
Ada yang bisa kami bantu?