30 Buku yang Bisa Saja Dilarang Beredar Kembali dan Seharusnya Anda Baca

Ambil salah satu atau beberapa dari mereka sebelum terlambat.

Baik di halaman-halaman media sosial, kolom komentar, ataupun situs-situs berita, Anda mungkin memperhatikan tentang meningkatnya pelarangan buku. Itu semua terjadi baik di toko-toko buku, perpustakaan, hingga sekolah. Sensor dan pelarangan buku bukanlah hal baru, namun nampaknya rezim dari waktu ke waktu semakin canggih untuk membersihkan rak-rak dari akses kepada pengetahuan yang dianggap “membahayakan”. Kita tentu masih ingat bagaimana sederet judul dari Fyodor Dostoevsky sempat di larang di Universitas di Itali akibat perang Rusia-Ukraina. Atau jika kita sedikit mundur ke belakang, tentu kita ingat tentang penyitaan buku-buku “kiri” di sejumlah perpustaan dan toko-toko buku di Indonesia oleh aparat.

Di hari ini, sensor dan pelarangan menjadi semakin parah dengan adanya “cancel culture” dengan kacamata kudanya. Sebuah karya mungkin menjadi ejekan dan dibenci di muka umum jika yang melahirkan karya tersebut terlibat skandal; entah secara pandangan ataupun perbuatan.

Itulah kenapa kebebasan; atas akses bacaan misalnya—adalah tugas kita bersama. Terlebih dalam membangun budaya membaca agar mayoritas dari kita tidak tergesa memberikan vonis dengan hanya berdasar prasangka.

Berikut kami telah mendaftar beberapa buku yang pernah atau bahkan masih dilarang dan disalahpahami di beberapa kesempatan. Semuannya dipilih secara pribadi dan diurutkan menjadi daftar yang tak ingin Anda lewatkan.

‘The proletarians have nothing to lose but their chains.’

Marx and Engels’s revolutionary summons to the working classes – one of the most important and influential political theories ever formulated.

Introducing Little Black Classics: 80 books for Penguin’s 80th birthday. Little Black Classics celebrate the huge range and diversity of Penguin Classics, with books from around the world and across many centuries. They take us from a balloon ride over Victorian London to a garden of blossom in Japan, from Tierra del Fuego to 16th-century California and the Russian steppe. Here are stories lyrical and savage; poems epic and intimate; essays satirical and inspirational; and ideas that have shaped the lives of millions.

“Academic and public libraries in the West should expand their collections with Revolutionary Education. It delves into the history and educational praxis of North Korea in a way that is rarely studied in the US as this work counters many of the western media narratives against North Korea. As librarians, it is our duty to build collections with a wide range of ideas and the research in this book presents a challenge to our current institutionalized education systems. Through the study of a socialist pedagogy can we really see that the education of the working class is paramount to our collective liberation.”
—Stephen Lane, Reference and Outreach Archivist, Indiana University-Purdue University of Indianapolis

“Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,” demikian bunyi pembukaan UUD 1945. Namun kemerdekaan dan kapitalisme adalah dua hal yang tidak kompatibel. Dalam karya ini, penulis menjabarkan perspektif Sosialis untuk perjuangan hak penentuan nasib sendiri, bahwa tidak akan ada kemerdekaan yang sejati selama modal dan pasar dunia berkuasa, selama segelintir kapitalis menguasai tuas-tuas ekonomi dan politik.

[. . .]

This book steps into this moment to offer a clear, accessible, informative, and irreverent guide to socialism for the uninitiated. Written by young writers from the dynamic magazine Jacobin, alongside several distinguished scholars, The ABCs of Socialism answers basic questions, including ones that many want to know but might be afraid to ask (“Doesn’t socialism always end up in dictatorship?”, “Will socialists take my Kenny Loggins records?”). Disarming and pitched to a general readership without sacrificing intellectual depth, this will be the best introduction an idea whose time seems to have come again.

[. . .]

Di tengah-tengah kesalehan global yang bersemangat, di atas lautan luas kesakralan, Denmark dan Swedia mengapung layaknya perahu kecil kehidupan sekuler yang bertahan, yang di dalamnya sebagian besar adalah orang yang tidak religius dan tidak menyembah Yesus atau Wisnu, tidak memuja naskah-naskah suci, tidak beribadah, serta tidak memercayai dogma esensial agama-agama besar di dunia. Orang-orang di dalamnya menunjukkan bahwa penyembahan Tuhan bisa melemah, doa bisa berhenti, dan lnjil bisa tidak dipelajari, tetapi manusia tetap bisa memperlakukan orang lain dengan sopan, sekolah dan rumah sakit masih bisa berjalan lancar, kejahatan bisa tetap minim, bayi-bayi dan lansia bisa menerima semua perawatan dan perhatian yang mereka butuhkan, perekonomian bisa berkembang, polusi bisa tetap diminimalisir, denda tilang bisa dibayar, dan anak-anak bisa dicintai dalam rumah yang aman dan hangat.

Buku ini menelusuri dengan Iebih mendalam dan berusaha menjelaskan bagaimana dan mengapa masyarakat tertentu tidak religius di dunia yang saat ini sangat religius.

Nalar yang Memberontak adalah sebuah karya yang menjabarkan filsafat materialisme dialektis (Marxisme) dari sudut pandang sains modern. Pertama kali dirumuskan oleh Marx dan Engels, Materialisme Dialektis adalah sebuah metodologi komprehensif yang menjelaskan hukum-hukum yang mengatur alam dan masyarakat, dari evolusi sampai ke teori chaos, dari fisikan nuklir sampai ke perkembangan kanak-kanak. Setiap penemuan sains sampai hari ini telah memberikan konfirmasi terhadap filsafat Marxisme. Seperti kata Engels, “Pada analisa terakhir, Alam belerja secara dialektik.”

Buku ini (Nalar yang Memberontak) adalah buku yang luar biasa… Buku ini saya taruh di samping tempat tidur saya dan saya membacanya setiap malam. Saya telah membacanya sampai ke bab “Proses Mokuler dan Revolusi.” -Hugo Chavez

Dengan menggali tulisan-tulisan anarkis Nietzsche, Foucault, dan Baudrillard, dan menjelajahi fiksi cyberpunk William Gibson dan Bruce Sterling, ahli teori Lewis Call meneliti arus filosofis baru di mana anarkisme bertemu postmodernisme. Aliran teoretis ini bergerak melampaui serangan konvensional anarkisme terhadap modal dan negara dengan mengkritik bentuk-bentuk rasionalitas, kesadaran, dan bahasa yang secara implisit mengampu semua kekuatan ekonomi dan politik. Call berargumen bahwa pengaruh postmodemisme telah memperbaharui anarkisme, membuatnya relevan dengan budaya politik milenium baru.

Bangsa Indonesia memandang bahwa apa yang terjadi di dunia ini dipengaruhi oleh kekuatan keramat di alam gaib. Cara pandang ini, disebut-sebut oleh Tan Malaka sebagai logika mistika. Logika ini melumpuhkan karena ketimbang menangani sendiri permasalahan yang dihadapi, lebih baik mengharapkan kekuatan-kekuatan gaib itu sendiri. Karena itu, mereka (masyarakat Indonesia) mengadakan mantra, sesajen, dan doa-doa. Melihat kenyataan bangsanya yang masih terkungkung oleh logika mistika itu, Tan Malaka melahirkan Madilog.

Keep the Aspidistra Flying merupakan kisah klasik yang ditulis George Orwell sebelum dua karya besarnya Animal Farm dan 1984. Karya ini menyuguhkan rangkaian kritik dan sinisme terhadap sistem kapitalisme melalui sudut pandang penyair miskin, yang mungkin saja merupakan kepingan masa muda Orwell.

Asia Tenggara memiliki sejarah gerakan kiri yang panjang dan kaya. Gerakan kiri dan para aktivisnya ini berjuang melawan kolonialisme, berkontribusi bagi kemerdekaan dan pembangunan negeri, dan meng­hadirkan perubahan dalam konfigurasi politik di kawa­san. Walau kontribusi sosial-politik para aktivis kiri ini telah banyak diteliti, tetapi karya-karya tulis mereka belum banyak dikaji. Buku ini mengulas sejumlah karya dari sosok-sosok yang pernah aktif dalam gerakan kiri di Asia Tenggara sebagai cara untuk memikirkan kembali kemajuan politik dan identitas nasional di luar sejarah resmi negara-negara.

In this bold and comprehensive new history, Vincent Bevins builds on his incisive reporting for the Washington Post, using recently declassified documents, archival research and eye-witness testimony collected across twelve countries to reveal a shocking legacy that spans the globe. For decades, it’s been believed that parts of the developing world passed peacefully into the U.S.-led capitalist system. The Jakarta Method demonstrates that the brutal extermination of unarmed leftists was a fundamental part of Washington’s final triumph in the Cold War.

“Prashad menulis buku sejarah dalam gaya sastrawi. Momen-momen dikerangkai dalam cara yang memudahkan untuk membayangkan latarnya […] efektif untuk menyampaikan poin utama buku ini: perjuangan demi perjuangan terhubung lintas ruang dan waktu manakala ada organisasinya.” —Citizens’ Press

Belakangan ini nama Samin Surosentiko sedang menjadi topik perbincangan hangat di masyarakat. Bahkan sang tokoh sedang digadang-gadang untuk ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Para pengikut ajaran Samin yang dikenal sebagai Sedulur Sikep pun tersebar di beberapa daerah seperti Blora, Bojonegoro, Rembang, dan Pati. Kalau dulu orang dilarang untuk meneliti suku Samin, sekarang ketika zaman sudah berubah mulai banyak orang menelitinya seperti dari Perancis, Belanda, Jepang, dll dan bahkan sudah ada Doktor yang meniliti khusus tentang Samin.

Namun, siapa yang menyangka kalau novel yang menceritakan tentang Samin sudah ada sejak lima puluh tahun silam. Buku itu berjudul Dunia Samin namun karena situasi dan kondisi zamannya, maka judul buku itu berubah menjadi Suka Duka si Pandir yang diterbitkan oleh N.V. Nusantara pada tahun 1963. Adalah Soesilo Toer, orang pertama yang menulis buku novel tentang Samin.

Tan Malaka menulis buku Dari Penjara ke Penjara dalam dua jilid terpisah. Jilid pertama menuturkan tentang pergulatannya di penjara Hindia-Belanda dan Filipina. Sedangkan jilid kedua menceritakan tentang perjalanan-nya dari Shanghai, Hongkong, hingga kembali ke tanah air. Dalam buku ini, kedua jilid tersebut dirangkum menjadi satu.

Meski berada di balik jeruji, Tan Malaka tetap berusaha mendobarak semangat perjuangan rakyat Indonesia. Baginya, barang siapa yang ingin menikmati hakikat kemerdekaan secara utuh, maka harus ikhlas dan tulus menjalani pahit serta getirnya hidup terpenjara.

Buku Dari Penjara ke Penjara yang ditulis tahun 1948 ini ditahbiskan oelh majalah Tempo sebagai salah satu buku yang paling berpengaruh atau memberikan kontribusi terhadap gagasan kebangsaan.

Pak Siauw selama dalam penjara menjadi ilmuwan sosial, mewawancarai berbagai tahanan dan melakukan analisa sekitar Peristiwa G30S. Catatan-catatan, kumpulan cerita yang didapatkan Pak Siauw dalam penjara Salemba, RTM, dan Nirbaya dari wawancara dengan para tahanan di situ, ternyata menjadi bahan dasar dari tulisan John Roosa dalam bukunya Dalih Pembunuhan Massal. Karena catatan-catatan dan cerita-cerita dari percakapan para tahanan yang diwawancarai itu merupakan bahan yang lengkap dan meyakinkan, mengungkap banyak hal, termasuk Biro Khusus, siapa saja yang berperan di situ.— Asvi Warman Adam

“Satu-satunya buku tentang PKI yang serius, sangat rinci,
tanpa prasangka, dan objektif. Saya kagum benar.”
– Ben Anderson, Professor Emeritus Cornell University

 

“Kajian yang paling mendalam mengenai PKI hingga 1926–1927, dan memuat banyak bahan tentang gerakan-gerakan politik lainnya pada periode itu, khususnya Sarekat Islam.”
– M.C. Ricklefs, Sejarawan Monash University

Buku ini dicap sebagai “bacaan berbahaya” sejak per­tama kali terbit dalam bahasa Swedia 30 tahun lalu. Tetapi sebagai karya, daya tariknya bukan hanya pada bagaimana kekuasaan Orba begitu takut pada buku ini, melainkan cara Törnquist menempatkan pokok pembahasan atas Peristiwa G30S 1965. Törnquist mengupas persoalan yang hampir tidak pernah dicermati sungguh-sungguh di dalam karya-karya para peneliti maupun pelaku peristiwa G30S 1965. Apakah penyebab kegagalan PKI? Apakah keterlibatan pemimpin PKI dalam G30S cuma sial dan keliru langkah seorang Aidit atau itulah pilihan jalan PKI untuk menyingkirkan “strategi borjuis” seraya menggenjot partai memobilisasi petani? Sejauh mana Aidit mengkhianati partai dan terlibat petualangan rahasia serta elitis? Apakah PKI terlalu doktriner sehingga salah membaca kondisi sehingga mudah dihancurkan dan sejauh ini gagal bangkit kembali?

Buku ini mengisahkan persekutuan “aneh” di Australia antara pejabat Belanda di Papua dengan para tahanan komunis yang mereka buang di Boven Digoel. Ini dimulai pada 1943 karena mereka memiliki musuh bersama yang ditakuti yaitu kekuatan fasis Jepang yang menguasai Hindia Belanda. Van der Plas adalah tokoh utama Belanda yang berharap dapat memanfaatkan orang-orang komunis. Ia membujuk para tahanan Boven Digoel untuk pindah ke Australia dengan iming-iming akan membebaskan mereka. Ia juga menutup mata dengan harapan dibantu menghalau fasis Jepang ketika para tahanan komunis itu membentuk organisasi SIBAR yang secara terbuka mengkritik Belanda dan mencita-citakan kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, kaum komunis di SIBAR menganggap Belanda dapat membantu mencapai kemerdekaan Indonesia. Sejarawan terkemuka Harry A. Poeze mengungkapnya dengan terperinci dalam buku ringkas namun sarat informasi ini perihal bagaimana persekutuan “aneh” tersebut berjalan.

Siapakah Sukarno? Nasionalis? Islamis? Atau marxis? Sukarno sendiri mengakui bahwa Marx, Engels dan Lenin adalah tiga tokoh yang berpengaruh besar dalam pemikirannya. Lebih jauh ia menjadi anak sungai besar yang mengalirkan paham yang kemudian sohor disebut kiri dalam arus sejarah Indonesia. Sukarno memandang pemikiran kiri adalah api pembakar Revolusi Indonesia. Namun, apakah benar paham ini yang menjadi penyebab Revolusi Indonesia? Apakah Revolusi Indonesia adalah revolusi kiri? Sejauh mana paham kiri ini mendapat halangan dan tantangan serta peran seperti apakah yang dimainkan Sukarno dalam menembus itu semua?

“Buku Hong Liu bukan buku sejarah biasa dan bukan pula buku populer yang mudah dibaca. Akan tetapi, hal-hal yang dipaparkannya sangat penting bagi intelektual Indonesia, karena melalui kajiannya tersebut, kita bisa melihat kembali cita-cita kebangsaan kita, kesalahan-kesalahan masa lalu yang kita buat, serta kemungkinan-kemungkinan masa depan yang bisa kita rangkai kembali sebagai sebuah visi nasional.”
– Dr. Thung Ju Lan, Jurnal Masyarakat & Budaya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

“Walaupun resmi dilarang beredar di Indonesia, buku ini amat laris difotokopi dan disebarluaskan dari tangan ke tangan, frekuensi dikutipnya oleh para sarjana sangat tinggi ketimbang buku-buku tentang politik Indonesia lainnya. Karya Robinson ini adalah klasik dalam kepustakaan tentang politik dan perubahan sosial di Indonesia.” – Vedi Hadiz, Pakar Sosial Politik Indonesia

Buku ini menyajikan paparan lengkap mengenai munculnya kelas kapitalis di Indonesia. Selain itu, mematahkan tesis umum bahwa tak ada borjuasi di Indonesia. – M.F. Mukthi, Jurnalis Historia.id

Buku dengan gaya penulisan populer namun bertungkus lumus dengan teori-teori besar ini adalah semacam ajakan untuk berdialog secara dewasa tentang seksualitas, pornografi, dan kecabulan masa kini. Dari halaman pertama buku ini, Anda akan diajak menyusuri jejak pornografi dan seks dalam beragam bentuk, menganalisis berbagai imajinasi hingga pada akhirnya Anda “dipaksa” untuk melihat dan menyadari betapa kompleksnya seksualitas manusia dan manusia itu sendiri yang tidak bisa diberangus dalam satu dua kategori begitu saja seperti yang dikehendaki oleh wacana dominan.

Dalam edisi baru yang diperluas ini, tambahan dua bab baru membahas pornografi melalui perspektif pascahumanisme dan ekonomi.

Tiga kisah panjang ini menyeret kita dalam kehidupan tiga perempuan, melewati masa-masa muda, menghadapi krisis yang tak terduga-duga. Ada perempuan tercabik-cabik perselingkuhan suaminya, ada yang lambat laun tertekan karena perilaku sang anak, dan ada yang frustasi serta gusar dalarn kesendiriannya. Apakah menjadi perempuan berarti menjadi masalah itu sendiri? Bahkan jika sang perempuan meraih sukses dalam karier, keuangan, dan kehidupan intelektual? Sebagai fiksi, kisah-kisah ini memikat, menggelar wawasan yang luar biasa dari de Beauvoir untuk perempuan. Inilah persembahan terbaik penulis legendaris tentang perempuan.

“Walaupun aku bersikap malu-malu di depan tuanku, sebenarnya aku berani mengatakan apa saja asal aku mau. Tapi, kenapa aku tidak bisa menyapa Pak Okada?”

Otama memperoleh harapan hidup yang baik saat berencana menikah dengan seorang polisi, yang ternyata sudah beristri dan kemudian membuangnya. Ibarat keluar dari mulut buaya dan masuk ke mulut harimau, Otama lepas dari si polisi untuk menjadi gundik seorang rentenir. Satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki hanyalah fantasi tentang seorang mahasiswa tampan bernama Okada, yang sering lewat di depan rumahnya, dan tampaknya juga mengagumi Otama dari jauh.

The Cleft merupakan eksplorasi terhadap sesuatu yang purba, sebuah dunia yang telah lama hanya berisi sekumpulan perempuan—dihuni oleh makhluk-makhluk malas, komunal, seperti lumba-lumba—dan kekacauan yang terjadi ketika mereka, tanpa bisa dipahami, mulai melahirkan anak laki-laki.

Harold Bloom pernah menuduh Lessing sedang melakukan ‘perang salib melawan laki-laki’, tapi Lessing menolak label sebagai novelis feminis dengan alasan bahwa dia tidak punya sentimentalitas terhadap perempuan sebagaimana ia tak punya sentimentalitas terhadap lelaki, dan ia tidak takut akan ketidaktepatan sikap politiknya. Tak diragukan lagi, ada cukup banyak—para pendukung agama monoteis besar, misalnya, di mana keutamaan laki-laki menjadi unsur kunci—yang mempunyai pandangan seperti Bloom tentang The Cleft sebagai semacam saluran feminis. Namun, pada kenyataannya, ini adalah novel yang tidak memiliki keterikatan politik. Dia menunjukkan bahwa, kemampuan untuk berlaku kejam dan membela diri, terkandung dalam diri perempuan seperti halnya dalam diri laki-laki.

Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Partai meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyhuran.

Jurnalis investigasi Lydia Cacho menelusuri jalur perdagangan manusia global, bepergian dari Meksiko ke Turki, Thailand ke Israel, Jepang ke Spanyol, untuk menguak kaitan tersembunyi jaringan perdagangan manusia ini dengan bisnis wisata dan hiburan malam, pornografi, penyelundupan narkoba dan organ tubuh, pencucian uang, bahkan terorisme. Cacho juga menggugat keras bagaimana perdagangan bebas yang digencarkan oleh negara-negara maju justru memperkuat jaringan kriminal dan perekonomian bawah tanah ini.

Pada akhirnya, gender seperti fixed-idea-nya Stirner, hantu yang tak layak kita layani; gender serupa tuhannya Nietzsche, ia pantas untuk kita bunuh; dan gender adalah alasan kita untuk melakukan bunuh diri filosofisnya Camus. Maka, marilah kita lakukan bunuh diri kita. Bunuh diri gender. Bersama-sama.

Menguak permulaan kebangkitan gerakan perempuan di Indonesia, terutama pada masa awal abad ke-20. Studi Cora ini adalah sebuah refleksi berbagai masalah pergerakan perempuan, ideologi politik sejaman, dan masalah-masalah penting untuk memahami Indonesia. Cora telah mempelajari pergerakan Indonesia dengan cara yang berbeda. Maka, siapa pun yang menulis tentang sejarah modern pergerakan perempuan Indonesia, seharusnya berterima-kasih kepada karya pionir Cora ini.

Dalam kobaran api Tragedi Mei 1998 di Jakarta yang bersimbah darah
Martabat keperempuannya dijarah para lelaki bedebah
Masuk ke liang lahat berkafan hitam-kelamnya sejarah
Ia menunggu keadilan dalam membusuk jasad yang berarwah gentayangan resah

Jabang bayi yang dikandungnya lahir berayah siapa, entah
Kini ia tumbuh kembang menjadi gadis berlabel haram jadah
Menyusuri setiap kelok jalan untuk mencari tahu jejak ibunya yang berair mata nanah
Untuk apa hidup jika hanya dicekik dan dicabik derita yang tak pernah sudah?
KARENA, PEREMPUAN ITU BUKAN SAMPAH
PEREMPUAN ITU RAHIM GENERASI YANG MEMBANGUN BANGSA DAN NEGERI MEGAH
Maka, selayaknya mendapat ruang hak hidup untuk eksis berkiprah.

Novel ini terinspirasi oleh ekses kemelut menjelang Era Reformasi Mei 1998 yang memperjuangkan perubahan bidang politik, sosial, ekonomi dan hukum yang terkungkung selama empat windu pemerintahan Orde Baru. Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam novel ini fiktif belaka.

Temukan daftar bacaan lainnya berdasarkan tema tertentu di sini. Atau kunjungi bookmap untuk mencari bacaan lain yang direkomendasikan.

Open chat
Hai PAPERBUK!
Ada yang bisa kami bantu?