22 Buku Rekomendasi Di Tahun 2022

 

2022 masih menjadi tahun bagi kegagalan—sekaligus keberhasilan—moda produksi kapitalisme.
Kita sebut kegagalan karena jelas, sistem ini tak dapat beroperasi tanpa kesakitan.
Kita sebut keberhasilan karena jelas, sistem ini berjalan sebagaimana logika akumulasi kapital.

Berbagai krisis yang disebabkan olehnya, tak kunjung teratasi.
Berkurang pun, juga tidak.
Justru sebaliknya.
Krisis-krisis lain mulai menyusul krisis yang telah ada.

Penggusuran dan perampasan menjadi lumrah.
Bencana alam adalah panen yang melimpah.
Belum selesai satu penyakit, telah datang penyakit yang lain.
Sistem kekebalan tubuh pun seakan berteman baik dengan patogen yang ada di alam.
Manusia menjadi rentan.

Kita memerlukan pengetahuan untuk memahami apa yang terjadi.
Toh pikiran-pikiran yang berkuasa menjadi suksesor kondisi yang ada.***

Kami telah mendaftar beberapa buku yang menginvestigasi kondisi yang ada. Menggugat ide-ide dominan. Menyegarkan kembali semangat Anda untuk perjuangan dengan kisah yang diceritakan. Daftar buku-buku tersebut dibuat dan direkomendasikan secara pribadi oleh kami dan oleh para pembaca perjamuan buku (paperbuk). Ia menjadi daftar yang seharusnya Anda baca ataupun baca-ulang di tahun 2022.

Buku ini begitu cemerlang, dengan kedalaman, jangkauan dan keberanian pemikiran yang luar biasa. Rob Wallace memang unik. Dalam buku “Matinya Epidemiolog” memahami pandemi COVID-19 tidak seperti penelitian lain yang pernah saya temui. Buku ini ditulis dengan pemikiran radikal dalam arti yang paling baik. Ditulis dengan sempurna, dengan penuh kekesalan, kefasihan ala punk-rock, dan dengan amarah.
(Ben Ehrenreich, penulis buku “Desert Notebooks: A Road Map for the End of Time”)

Kemunculan wabah Corona dan wabah lain sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya saat ini—yang berbeda dibandingkan empat abad lalu. Kami akan mengulas bagaimana sistem produksi kapitalis saat ini membentuk dan mempersering kedatangan wabah: entah itu yang menjadi endemi, epidemi, ataupun pandemi.

Lantas, bagaimanakah cara kita memenuhi kebutuhan hidup selama ini? Bagaimana sistem kapitalisme yang disebut-sebut itu, merusak hubungan sosial dan lingkungan kita? Bagaimanakah ia memproduksi wabah, dan apa yang harus kita lakukan? Buku saku ini dengan ringkas akan mendiskusikannya.

Dengan bahasa yang mudah dipahami, Davis menunjukkan tentang peran kunci dari agrobisnis dan industri makanan cepat saji, yang didukung oleh pemerintah korup serta sistem kapitalisme global yang bergerak tanpa kendali, dalam menciptakan prasyarat ekologis bagi kemunculan “pagebluk”. Bagi Davis, datangnya “pagebluk” merupakan buah dari ulah segelintir orang kaya, akan tetapi dampaknya harus ditanggung mayoritas penduduk yang miskin.

“Novel luar biasa ini suatu keharusan, dan barang siapa menyempatkan diri membacanya bisa dijamin takkan kecewa karenanya.” — Análisis

“Novel pendek yang tajam.” — Publisher’s Weekly

Apakah kapitalisme lahir akibat revolusi industri atau justru hasil dari revolusi borjuis di Prancis? Apakah kapitalisme muncul dari daerah perkotaan? Apakah kapitalisme telah ada sejak manusia ada dan kemudian menunjukkan wujudnya ketika terjadi peningkatan skala perdagangan komersial?

Ellen Meiksins Wood dalam buku “Asal-usul Kapitalisme” menyatakan tidak untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas. Wood dalam buku ini menjelaskan secara kritis kelahiran kapitalisme, imperialisme, dan negara-bangsa modern. Ia secara presisi menunjukkan bahwa kapitalisme bukanlah konsekuensi alami yang tak terelakan dari kodrat manusia. Kapitalisme pada kenyataannya adalah produk dari kondisi sejarah yang spesifik, yang kemudian menciptakan transformasi besar dalam hubungan sosial dan hubungan antara manusia dengan alam. Corak produksi ini tidak lahir di perkotaan tetapi dalam kawasan pertanian di perdesaan Inggris. Oleh karena kapitalisme tidak selalu ada dalam kehidupan manusia, maka sistem ini tidaklah permanen.

Telah tiba waktunya bagi semua pihak yang peduli akan nasib bumi untuk menghadapi kenyataan: hubungan mendasar antara manusia dan bumi harus diubah. Dengan kata lain: penting untuk memutus diri dari sistem yang didasari oleh motif akumulasi kapital terus-menerus (dalam wujud pertumbuhan ekonomi tanpa akhir). Pemutusan ini merupakan kondisi yang perlu bagi terciptanya peradaban ekologi baru.

“Seraya ekosistem planet ini dan perekonomian lokal serta nasional memburuk, bergerak melampaui PDB menjadi suatu keharusan demi bertahan hidup […] Fioramonti memperkenalkan kita kepada inisiatif-inisiatif baru untuk mengukur kekayaan riil beserta kesejahteraan dan kebahagiaan.” — Vandana Shiva

Korok hidup di desa kecil suku Gondi di negara bagian Odisha, India. Bocah putus sekolah yang masih berusia belasan ini sehari-hari bekerja sebagai tukang kebun yang terampil. Sedangkan Anchita, putri seorang pejabat pindahan, menempati rumah tempat kebun yang dirawat Korok berada.

Suatu hari mereka berdua mendengar rencana perusahaan dan pemerintah untuk menambang bukit yang disakralkan oleh suku Gondi. Orang-orang desa menentang rencana penambangan ini, tetapi mereka harus berhadapan dengan aparat keamanan.

Apakah yang bisa diperbuat tukang kebun remaja yang tak tahu banyak tentang dunia luar, bersama seorang gadis remaja dengan komputer, untuk menghadapi orang-orang dewasa yang paling berkuasa ini?

Asia Tenggara memiliki sejarah gerakan kiri yang panjang dan kaya. Gerakan kiri dan para aktivisnya ini berjuang melawan kolonialisme, berkontribusi bagi kemerdekaan dan pembangunan negeri, dan meng­hadirkan perubahan dalam konfigurasi politik di kawa­san. Walau kontribusi sosial-politik para aktivis kiri ini telah banyak diteliti, tetapi karya-karya tulis mereka belum banyak dikaji. Buku ini mengulas sejumlah karya dari sosok-sosok yang pernah aktif dalam gerakan kiri di Asia Tenggara sebagai cara untuk memikirkan kembali kemajuan politik dan identitas nasional di luar sejarah resmi negara-negara.

The hidden story of the wanton slaughter — in Indonesia, Latin America, and around the world — backed by the United States.

In 1965, the U.S. government helped the Indonesian military kill approximately one million innocent civilians. This was one of the most important turning points of the twentieth century, eliminating the largest communist party outside China and the Soviet Union and inspiring copycat terror programs in faraway countries like Brazil and Chile. But these events remain widely overlooked, precisely because the CIA’s secret interventions were so successful.

In this bold and comprehensive new history, Vincent Bevins builds on his incisive reporting for the Washington Post, using recently declassified documents, archival research and eye-witness testimony collected across twelve countries to reveal a shocking legacy that spans the globe. For decades, it’s been believed that parts of the developing world passed peacefully into the U.S.-led capitalist system. The Jakarta Method demonstrates that the brutal extermination of unarmed leftists was a fundamental part of Washington’s final triumph in the Cold War.

“Buku karya Wildan Sena Utama ini memberikan tinjauan terkini tentang studi mengenai KAA dan menempat­kannya dalam konteks historisnya. Yang lebih penting lagi, risetnya didasarkan pada penelitian arsip multinasional. Selain dokumen yang pernah diterbitkan, Wildan telah melakukan penelitian di Institut Internasional Sejarah Sosial di Belanda dan Arsip Nasional Republik Indonesia. Penggunaan dokumen-dokumen Indonesia secara khusus memberikan wawasan baru mengenai kebijakan negara tuan rumah—dan de­ngan demikian mengembalikan peran Indonesia dalam sejarah internasional abad ke-20.” — Jürgen Dinkel

Melalui eksplorasi atas dokumen-dokumen dalam dan luar negeri, sedikit banyak buku ini berupaya untuk ikut serta me­nyumbang sekelumit bahasan terkait alasan terjadinya gejolak politik September 1965, yang dipandang bukan semata-mata perihal perseteruan ideologi, me­lainkan juga jegal-menjegal dalam persaingan penguasaan teknologi semasa Perang Dingin.

“Walaupun resmi dilarang beredar di Indonesia, buku ini amat laris difotokopi dan disebarluaskan dari tangan ke tangan, frekuensi dikutipnya oleh para sarjana sangat tinggi ketimbang buku-buku tentang politik Indonesia lainnya. Karya Robinson ini adalah klasik dalam kepustakaan tentang politik dan perubahan sosial di Indonesia.” – Vedi Hadiz, Pakar Sosial Politik Indonesia

Buku ini menyajikan paparan lengkap mengenai munculnya kelas kapitalis di Indonesia. Selain itu, mematahkan tesis umum bahwa tak ada borjuasi di Indonesia. – M.F. Mukthi, Jurnalis Historia.id

Didasarkan pada riset lapangan yang intens dan panjang, buku ini menyuguhkan analisis  komprehensif mengenai hubungan yang berubah antara kelompok-kelompok ini dengan pihak berwenang dan kekuasaan politik pasca Orde Baru. Dalam mengonsolidasi kuasa kewilayahan mereka di tingkat lokal, kelompok-kelompok ini pada taraf tertentu berhasil merebut legitimasi yang tidak semata-mata dilandaskan pada tindak pemalakan dan kekerasan. Dalam konteks demokrasi elektoral di Indonesia, mereka pun berhasil menjadi perantara antara politik informal jalanan dengan politik formal parlemen. Bagaimana mereka memanfaatkan posisi ini untuk meningkatkan daya tawar mereka, dan bagaimana dunia politik formal memanfaatkan “layanan” mereka akan sangat memengaruhi masa depan kehidupan sosial-politik di Indonesia.

“Novel Soe Tjen Marching merupakan salah satu narasi penting tentang bagaimana perempuan, begitu juga gerakannya, dihancurkan dengan keji oleh militerisme di Indonesia. Berlatar sejarah, dengan detail yang belum pernah diungkap selama ini.” — Martin Aleida, sastrawan, penulis Tanah Air yang Hilang

Pada 1776, Adam Smith menuliskan kutipan terkenal: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan-diri mereka sendiri-sendiri.” Bagi Smith, kepentingan-dirilah yang menggerakkan tindakan manusia, dan keyakinan tentang homo economicus ini (manusia sebagai makhluk yang memaksimalkan pemenuhan kepentingan-dirinya) akan melandasi seluruh bangunan ilmu ekonomi liberal sesudahnya. Namun benarkah?

Bagi Katrine Marçal, sungguh ironis bahwa pernyataan tersebut keluar dari Adam Smith yang hampir sepanjang hayat hidup bersama ibunya, dirawat dan disiapkan makan oleh kebaikan hati ibunya. Buku Marçal ini adalah serangan feminis yang tajam, cerdas, dan kocak terhadap konsepsi manusia ekonomi dan ideologi ekonomi dominan yang telah membawa dunia dari satu krisis ke krisis berikutnya.

Gerakan transformasi gender tidak sekadar memperbaiki status perempuan yang indikatornya menggunakan norma laki-laki, tetapi memperjuangkan martabat dan kekuatan perempuan. Kekuatan yang bukan dimaksudkan untuk mendominasi yang lain, melainkan kekuatan internal untuk mengontrol hidup dan jasad, serta kemampuan meraih akses atas alokasi sumber-sumber material maupun non-material. Tugas utama analisis gender adalah memberikan makna, konsepsi, ideologi, dan praktik hubungan antara perempuan dan laki-laki serta implikasinya terhadap aspek-aspek kehidupan yang lebih luas.

Jurnalis investigasi Lydia Cacho menelusuri jalur perdagangan manusia global, bepergian dari Meksiko ke Turki, Thailand ke Israel, Jepang ke Spanyol, untuk menguak kaitan tersembunyi jaringan perdagangan manusia ini dengan bisnis wisata dan hiburan malam, pornografi, penyelundupan narkoba dan organ tubuh, pencucian uang, bahkan terorisme. Cacho juga menggugat keras bagaimana perdagangan bebas yang digencarkan oleh negara-negara maju justru memperkuat jaringan kriminal dan perekonomian bawah tanah ini.

Feminisme sebagai sebuah gerakan dan teori sosial memiliki sejarah perkembangan yang panjang. Pada setiap zaman dan gelombang, ia saling berdialog, mengkritik, dan menciptakan arus-arus pemikiran baru yang berperan untuk membedah ketidakadilan gender yang masih bertahan hingga saat ini.

Sebagai seorang sejarawan feminis, Nadya Karima Melati turut memberikan sumbangan pemikiran yang khas mengenai perkembangan feminisme di Indonesia. Ia juga merelevansikan dan menautkan benang merah sejarah sehingga saling terhubung dengan berbagai permasalahan gender kontemporer.

Perumahan yang tidak terjangkau, upah murah, perawatan kesehatan yang tidak memadai, kebijakan yang berpihak pada modal, perubahan iklim, pekerjaan rumah tangga yang tak dibayar—bukan ini yang biasa kamu dengar dari perbincangan para feminis. Tapi bukankah itu masalah terbesar bagi sebagian besar perempuan di seluruh dunia?

Mengambil inspirasi dari gelombang baru militansi kaum feminis yang telah meluas secara global, manifesto ini menyerukan bahwa feminisme tidak boleh dimulai—atau dihentikan—agar 1 persen perempuan menduduki kursi puncak perusahaan. Oleh karena, keterwakilan itu tidak akan pernah membebaskan perempuan kelas pekerja dari belenggu ketidakadilan, karena dengan pandangan liberalnya, mereka justru menjadi kepanjangan tangan kekuasaan modal. Bertekad untuk memutus aliansi nyaman antara feminisme liberal dan modal keuangan, manifesto ini mengusulkan bentuk feminisme yang lain, yaitu Feminisme untuk 99 persen. Feminisme yang melakukan operasi penyelamatan dan pengoreksian arah perjuangan feminis untuk menjadi feminisme yang anti-kapitalis, anti-rasis, internasionalis, dan ekososialis demi mencapai dunia yang adil.

Pakar perbukuan dan perpustakaan asal Venezuela, Fernando Báez, tengah berada di Irak saat pasukan Amerika Serikat menggempur Bagdad pada Mei 2003. Ia saksikan secara langsung bagaimana peradaban dihancurkan lewat pembakaran buku dan perusakan museum-museum.

Terhantui oleh pertanyaan “Mengapa manusia menghancurkan buku?”, ia pun menyusun kajian ini. Merentang dari awal peradaban tulis hingga kasus-kasus kontemporer, inilah kajian sejarah global pertama tentang bibliosida (penghancuran buku) dari masa ke masa.

Bertentangan dengan pendapat umum, Báez menemu­kan bahwa buku-buku dihancurkan bukan oleh ketidaktahuan awam atau kurangnya pendidikan, melainkan justru oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing.

Kisah tak terlupakan tentang dunia sastra, perpustakaan, dan kecintaan akan buku. Sebuah novel untuk dibaca ulang berkali-kali.
Critiques Libres

Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.
New York Times

Temukan daftar bacaan lainnya yang direkomendasikan secara pribadi oleh Perjamuan Buku untuk Anda di sini

Open chat
Hai!
Ada yang bisa kami bantu?