Panduan Memilih Bacaan Januari-Februari 2021

Akhiri kesulitan Anda dalam memilih bacaan dengan panduan dari kami! Mulai dari teori yang dianggap sukar, hingga penjabaran paling sederhana untuk mengisi kebutuhan dalam melawan kapitalisme. Anda akan menemukan bacaan tentang sejarah berdirinya negara buruh pertama di dunia, penghapusan kekaisaran hingga perdebatan alot tentang sosialisme.

Bagi Anda yang tertarik dengan sastra, bacaan yang menyajikan kehidupan masyarakat di masa kolonial dan perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari juga bisa menjadi pilihan, atau bagaimana kemajuan kekuatan produktif mampu menyingkirkan hambatan-hambatan yang ada di depannya termasuk manusia.

Sebar dan bagikan dengan orang-orang yang Anda cintai, ide-ide progresif-revolusioner yang menantang realitas di sekitar Anda, menginterogasi pemikiran yang telah ada dan mendominasi.

Pahami bersama kekacauan kehidupan yang diciptakan oleh kapitalisme, tentang bagaimana kehidupan kapital menciptakan kesadaran kapital. Cari tahu akar penyebab krisis Covid-19 dan apa yang harus dilakukan. Jangan lewatkan isolasi mandiri Anda tanpa belajar!

Apakah kapitalisme lahir akibat revolusi industri atau justru hasil dari revolusi borjuis di Prancis? Apakah kapitalisme muncul dari daerah perkotaan? Apakah kapitalisme telah ada sejak manusia ada dan kemudian menunjukkan wujudnya ketika terjadi peningkatan skala perdagangan komersial?

Ellen Meiksins Wood dalam buku “Asal-usul Kapitalisme” menyatakan tidak untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas. Wood dalam buku ini menjelaskan secara kritis kelahiran kapitalisme, imperialisme, dan negara-bangsa modern. Ia secara presisi menunjukkan bahwa kapitalisme bukanlah konsekuensi alami yang tak terelakan dari kodrat manusia. Kapitalisme pada kenyataannya adalah produk dari kondisi sejarah yang spesifik, yang kemudian menciptakan transformasi besar dalam hubungan sosial dan hubungan antara manusia dengan alam. Corak produksi ini tidak lahir di perkotaan tetapi dalam kawasan pertanian di perdesaan Inggris. Oleh karena kapitalisme tidak selalu ada dalam kehidupan manusia, maka sistem ini tidaklah permanen.

Buku ini begitu cemerlang, dengan kedalaman, jangkauan dan keberanian pemikiran yang luar biasa. Rob Wallace memang unik. Dalam buku “Matinya Epidemiolog” memahami pandemi COVID-19 tidak seperti penelitian lain yang pernah saya temui. Buku ini ditulis dengan pemikiran radikal dalam arti yang paling baik. Ditulis dengan sempurna, dengan penuh kekesalan, kefasihan ala punk-rock, dan dengan amarah.
(Ben Ehrenreich, penulis buku “Desert Notebooks: A Road Map for the End of Time”)

Paruh kedua 1930an: masa-masa genting pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di Eropa angin peperangan mulai berhembus. Di Asia, Je­pang menang atas Ru­sia dan konon telah menyebarkan agen-agennya ke sepenjuru Asia. Di dalam negeri sendiri, pemogokan buruh merebak di kota-kota di Jawa. Belum lagi korupsi dan kebejatan moral birokrasi kolonial.

Semua latar internasional itu berpengaruh tanpa disadari kepada kehidupan rakyat jelata di Wlingi, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang menjadi mikrokosmos masyarakat kolonial—dengan strata sosial, rasial, dan kebahasaan yang bertingkat-tingkat. Pesta ulang tahun Ratu Belanda hendak diperingati secara besar-besaran di sana. Masalahnya, sebuah pohon beringin raksasa yang dikeramatkan menghalangi tempat acara dan harus ditumbangkan—keputusan yang menggegerkan warga setempat dan menyulut serangkaian peristiwa menegangkan.

Seorang pemuda Belanda yang nekat ke Jawa untuk mencari ayahnya, seorang perempuan pribumi cantik yang berambisi menjadi nyonya Belanda, seorang sinder korup dengan istrinya yang penjudi, seorang detektif partikelir misterius, dan seorang nona Tionghoa pewaris usaha perkebunan cokelat—semuanya terlibat dalam sebuah jalinan kisah cinta dan tragedi yang memikat di tengah kemelut drama sejarah.

Sesudah Uni Soviet runtuh, kapitalisme sempat disanjung sebagai keniscayaan sejarah. Namun krisis demi krisis di abad ke-21 menyadarkan banyak orang bahwa cita-cita sosialisme tidak berakhir dengan Uni Soviet. Semangat Revolusi Oktober nyatanya terus menginspirasi perjuangan demi dunia yang lebih adil. Inilah revolusi yang membuktikan bahwa kelas bu­ruh dan tani bisa menggulingkan pemerintah auto­kratik dan membentuk pemerintahan sendiri dalam rupa gambarannya.

Buku ini bukan kajian komprehensif, melainkan buku kecil dengan harapan besar: menjelaskan kekuatan Revolusi Oktober bagi emansipasi negara-negara jajahan.

 

“Brilian dan mengusik pikiran, titik awal penting untuk memahami kompleksitas komunisme internasional selama abad lalu.“ — Communist Review

Menggabungkan metode penulisan riwayat diri dengan telaah pemikiran, buku ini menyajikan Rosa Luxemburg sebagai pejuang Demokrasi Sosial dalam gaya naratif yang mudah dicerna dan dinikmati.

Buku pertama dari rencana dua jilid buku ini mengkhususkan diri pada pembahasan isu-isu seputar demokrasi dan sosialisme yang relevan dengan perkembangan dunia saat ini, saat ide-ide sosialisme kembali dipeluk anak-anak muda sedunia di tengah kebangkrutan tatanan yang ada.

Akan kita temukan pemikiran Rosa Luxemburg mengenai Demokrasi Sosial sebagai leburan antara sosialisme dengan gerakan kelas pekerja, termasuk uraiannya tentang kapan persisnya aksi-aksi demonstrasi dan pemogokan bisa digunakan secara tepat; bagaimana seharusnya sosialisme menyikapi agama, baik umat maupun pemukanya; sikapnya yang anti terorisme politik; beserta kecenderungan internasionalisnya dalam perjuangan demokrasi.

Tak heran bila sejak jauh-jauh hari para pendiri bangsa ini seperti Sutan Sjahrir, Kasman Singodimedjo, maupun Tan Malaka menyuruh kita agar mempelajari dan bertauladan kepada Rosa Luxemburg.

“Novel Soe Tjen Marching merupakan salah satu narasi penting tentang bagaimana perempuan, begitu juga gerakannya, dihancurkan dengan keji oleh militerisme di Indonesia. Berlatar sejarah, dengan detail yang belum pernah diungkap selama ini.” — Martin Aleida, sastrawan, penulis Tanah Air yang Hilang

 

“Novel ini adalah catatan tentang penindasan dan ketidakadilan yang tak terelakkan akibat identitas rasial, pilihan akan Tuhan, dan kepentingan politik. Pada akhirnya, kisah dalam novel ini kembali mengingatkan bahwa cara terbaik menghadapi segala luka dan trauma adalah mengingat dan mengisahkannya kembali dengan sepenuh kesadaran.” — Okky Madasari, novelis, penulis Entrok

Share your thoughts